Bagaimana Kaum Musyrik Atas Agama Allah (Agama Islam)?

Dialog Seri 20: 64

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum musyrik terhadap agama-Nya yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik heran dengan agama-Nya yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Shaad 4-5)

 

Mereka seharusnya memikirkan agama Allah yang hanya menyembah satu Tuhan saja dan membandingkannya dengan agama mereka yang menyembah lebih dari satu Tuhan agar mereka mengetahui agama Tuhan yang benar, jika mereka ingin mengetahuinya. Tapi jika mereka langsung mengatakan Rasulullah SAW berdusta, maka mereka jelas tidak mau mengetahuinya, sehingga wajar mereka langsung menuduh Rasulullah SAW ingin menyesatkan mereka dari agamanya. Dan wajar pula mereka menyuruh kaumnya untuk tetap menyembah tuhan-tuhannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya. (Al Furqaan 41-42)

 

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (meng-Esakan Allah) tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (Shaad 6-7)

 

Mereka tetap tidak mau memikirkan (mengetahui) agama-Nya meskipun Rasulullah SAW dan Al Qur’an telah menjelaskan kepada mereka bahwa kitab agama mereka itu bukan dari Allah SWT tapi dibuat oleh manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur’an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? (Az Zukhruf 21)

 

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. (Saba’ 44)

 

Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)

 

Jika mereka mau mengetahui agama-Nya melalui penjelasan Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka akan mengetahui kitab agama mereka itu dibuat oleh manusia. Hal itu dapat membuat mereka berfikir yaitu, bagaimana manusia (pembuat kitab agama itu) dapat menjelaskan tentang Tuhan dan agama-Nya padahal Tuhan yang ghaib tersebut tidak menurunkan kitab kepada mereka. Penolakan mereka terhadap agama-Nya itu tidak berbeda dengan penolakan kaum musyrik di masa Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW terhadap agama-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati Bapak-Bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati Bapak-Bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (Az Zukhruf 23-25)

 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maa-idah 104)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum musyrik ketika mereka diajak untuk menyembah Allah SWT saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan tuhan (patung) lain?”

 

Mudariszi: “Ketika kaum musyrik diajak untuk hanya menyembah Allah SWT saja, maka mereka mengatakan sebagai berikut:

 

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan Bapak-Bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakan kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. (Al An’aam 148-149)

 

Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. (Az Zukhruf 20)

 

Kaum musyrik menolak ajakan untuk menyembah Allah SWT saja, karena mereka tidak mau, sehingga mereka tidak akan memikirkannya dengan benar kecuali hanya menuruti hawa nafsunya. Mereka menyamakan cara berfikir Allah SWT dengan cara berfikir mereka, sehingga mereka beranggapan kehendak Allah SWT itu seperti kemauan mereka. Misal, jika mereka melakukan perbuatan keji atau menetapkan hukum-hukum, maka mereka menganggap itu terjadi karena Allah SWT, yaitu sebagai berikut:

 

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Al A’raaf 28)

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus 59)

 

Mereka menganggap bahwa apapun yang mereka lakukan, baik dalam menyembah-Nya atau berbuat baik atau berbuat jahat, maka itu karena Tuhan. Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan tentang kaum musyrik tersebut sebagai berikut:

 

Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami yang tetap berlaku sampai hari kiamat, sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu? Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar. (Al Qalam 36-41)

 

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (Al Furqaan 33)

 

Allah SWT menghendaki dengan penjelasan-Nya yang berupa pertanyaan-pertanyaan di atas, agar kaum musyrik itu kembali berfikir dengan benar.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang kaum musyrik lakukan terhadap Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada mereka?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: “Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu (ayat-ayat Al Qur’an) padahal kamu menyaksikan?” (Al Anbiyaa 2-3)

 

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu. (Saba’ 43)

 

Sebagian lagi kaum musyrik itu melakukan perbuatan sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat 26)

 

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (Al An’aam 26)

 

Ada pula kaum musyrik yang memperolok-olokan Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

     

    Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.” (Al Anfaal 31)

     

    Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan. (Al An’aam 5)

     

    Karena itu Allah SWT mengancam mereka dengan firman-Nya ini:

     

    Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (Al Hijr 95-96)

     

    Tilmidzi: “Apakah tanggapan kaum musyrik terhadap Allah SWT dan agama-Nya serta tuduhan mereka terhadap Rasulullah SAW itu karena pengaruh (bisikan) syaitan?”

     

    Mudariszi: “Ya! Kaum musyrik itu adalah orang-orang yang menyembah patung berhala atau yang menyekutukan Allah SWT dengan tuhan berhala. Syaitan (atau jin-jin kafir) mengetahui Rasulullah SAW menjelaskan agama-Nya dengan Al Qur’an dari Allah SWT. Syaitan tidak ingin kaum musyrik itu mengikuti agama-Nya dengan beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Karena itu syaitan menghalang-halangi kaum musyrik dari mendengarkan Rasulullah SAW dan Al Qur’an agar mereka tidak mengetahuinya hingga tidak menyukainya. Usaha syaitan itu berhasil, yaitu diketahui dari tanggapan, tuduhan (ucapan), perbuatan dari kaum musyrik yang buruk terhadap Allah SWT, Al Qur’an, Rasulullah SAW dan agama-Nya. Contoh perbuatan kaum musyrik yang buruk itu karena syaitan, yaitu sebagai berikut:

     

    Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (Adz Dzaariyaat 52-53)

     

    Allah SWT bertanya dalam firman-Nya di atas yaitu, apakah mereka saling berpesan, adalah syaitan yang menghasut kaum musyrik hingga mereka mengatakan tuduhan buruk yang sama terhadap semua Rasul, yaitu ahli sihir dan orang gila. Kaum musyrik yang telah mati tidak mungkin dapat berpesan kepada kaum musyrik yang hidup di masa Rasulullah SAW. Dengan kaum musyrik tidak mengikuti Rasulullah SAW dan Al Qur’an, maka mereka tidak menyembah Allah SWT atau tidak mengikuti agama-Nya tapi tetap menyekutukan-Nya. Syaitan terus menipu mereka dengan bisikan-bisikan jahatnya agar mereka tetap tidak dapat berfikir dengan benar dan tetap membenarkan ucapan dan perbuatan mereka yang buruk itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

     

    Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (Al ‘Ankabuut 38)

     

    Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

     

    Ucapan dan perbuatan kaum musyrik yang buruk itu menjadi bukti bahwa mereka telah mengingkari Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, dan menjadi bukti pula bahwa mereka mengikuti syaitan, karena mereka tetap menyembah tuhan (patung) berhala atau menyekutukan-Nya. Sehingga mereka itu merupakan (menjadi) orang-orang kafir, dan Allah SWT menjelaskan tentang mereka, sebagai berikut:

     

    Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad 14)

     

    Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? (Al Qalam 35)

     

    Wallahu a’lam.

     

    Leave a Reply