Apakah Hanya Allah SWT Pencipta Semesta Alam?

Dialog Seri 2: 2

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menciptakan semesta alam tanpa pembantu atau sekutu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia yang menciptakan semesta alam atau langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi. Dengan demikian, hanya Allah SWT saja Pencipta semesta alam, Tuhan semesta alam. Allah SWT membantah orang-orang yang mengatakan ada tuhan selain Dia dalam menciptakan semesta alam, melalui firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit?” (Faathir 40)

 

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. (Saba’ 22)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang mengatakan ada tuhan selain Allah SWT yang ikut menciptakan semesta alam itu memiliki bukti?”

 

Mudariszi: “Orang-orang yang mengatakan ada tuhan selain Allah SWT yang ikut menciptakan semesta alam itu seharusnya memiliki bukti. Tapi mustahil mereka memiliki bukti, karena mereka sendiri tidak mengetahui tuhan mereka itu dan mereka tidak pula mengetahui Allah SWT yang tidak dapat dilihatnya dan tidak dapat diajaknya berbicara. Allah SWT berfirman:

 

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (Al An’aam 103)

 

Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An Naba’ 37)

 

Dengan sifat-sifat Allah dalam firman-Nya di atas, maka mereka tidak mungkin dapat mengatakan ada tuhan selain Allah SWT, sehingga mereka tidak akan pernah dapat membuktikan ada tuhan selain Dia yang ikut menciptakan semesta alam. Di lain pihak, dengan mereka mengatakan ada tuhan selain Allah SWT dalam menciptakan semesta alam, maka mereka berarti menyembah tuhan selain Dia itu. Dan hal itu juga dibantah oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi itu atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al Ahqaaf 4)

 

Mereka tidak akan pernah dapat membuktikan ada tuhan selain Allah SWT yang ikut menciptakan semesta alam dan yang mereka sembah, karena ucapan mereka itu hanya berdasarkan dugaannya (persangkaannya). Padahal persangkaan (dugaan) manusia itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT berikut ini:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Karena hanya berdasarkan dugaannya, maka ucapan mereka ada tuhan selain Allah SWT pasti tidak akan benar. Dengan demikian, mereka berbohong (bersalah) dengan mengatakan kepada orang lain, karena mereka sendiri hanya menduga tanpa meyakininya. Dan orang-orang yang mempercayai mereka juga menjadi bersalah karena menerima saja tanpa meneliti kebenarannya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika tuhan selain Allah SWT yang dikatakan oleh mereka itu adalah anak Tuhan?”

 

Mudariszi: “Sekalipun dikatakan tuhan selain Allah SWT itu adalah anak Tuhan, maka anak Tuhan itu tetap tidak mungkin ikut menciptakan semesta alam, karena anak Tuhan itu tidak  akan dapat menciptakan salah satu dari apa yang ada di semesta alam ini. Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (Al Hajj 73)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa tiada siapapun yang ada di semesta alam ini yang dapat menciptakan salah satu dari apa yang ada di semesta alam, sekalipun dia itu anak Tuhan. Di samping itu, jika ada tuhan (atau anak Tuhan) selain Allah SWT yang ikut menciptakan semesta alam, maka tuhan itu berarti memiliki andil dalam penciptaan semesta alam. Sehingga tuhan itu berhak menuntut haknya ketika memelihara dan mengurus ciptaannya di semesta alam. Jika hak tuhan itu tidak diperolehnya, maka akan timbul kekacauan, keributan, kerusakan pada semesta alam hingga merugikan makhluk-makhluk di semesta alam. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya; kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. (Al Mu’minuun 91)

 

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (Al Anbiyaa’ 22)

 

Padahal, hingga saat ini tidak pernah terjadi kekacauan dan kerusakan pada semesta alam dan tidak ada makhluk di langit atau di bumi yang rusak atau dirugikan. Dengan demikian, tidak ada tuhan (atau anak Tuhan) selain Allah SWT dalam menciptakan semesta alam, sehingga tidak mungkin ada tuhan (atau ada anak Tuhan) selain Dia di semesta alam ini, dan hanya Dia saja yang menciptakan semesta alam ini, yang memeliharanya dan yang mengurusnya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara. (An Nisaa’ 171)

 

Tilmidzi: “Tapi apakah Allah SWT mempunyai anak?”

 

Mudariszi: “Orang-orang yang mengatakan Allah SWT mempunyai anak adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang Dia, karena mereka menyombongkan dirinya dengan tidak mau membaca ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) yang Dia turunkan untuk manusia. Kesombongan mereka itu menjadikan mereka mendurhakai (mengingkari) ayat-ayat-Nya yang berarti mendurhakai Allah SWT karena ayat-ayat-Nya itu dari Allah SWT. Karena tidak mengetahui Allah SWT Tuhannya, maka mereka mengatakan tentang Dia hanya menuruti dugaannya dan nafsunya. Hal itu menambah keingkarannya kepada Allah SWT sehingga mereka menjadi orang-orang kafir. Mereka mengatakan tentang Allah SWT sebagai berikut:

 

Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak. (Al Baqarah 116)

 

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (Maryam 88)

 

Dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. (Al An’aam 100)

 

Ucapan mereka seperti dalam firman-Nya di atas menunjukkan mereka mengatakan tentang Dia hanya karena menuruti dugaannya, padahal Allah SWT telah menjelaskan tentang Dia dalam Al Qur’an sebagai berikut:

 

Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. (Al An’aam 101)

 

Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (Al Jin 3)

 

Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. (Al Ikhlash 3)

 

Selain menuruti dugaannya, mereka juga menuruti nafsunya dengan mengatakan Tuhan mempunyai (mengambil) anak. Karena jika Allah SWT berkehendak mengambil anak, maka Dia yang paling berhak menentukannya dan bukan orang-orang kafir itu. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. (Az Zumar 4)

 

Semua yang ada di semesta alam ini adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, sehingga jika Dia menghendaki anak atau isteri, maka hanya Dia saja yang paling berhak untuk menetapkannya. Manusia yang hanya makhluk ciptaan-Nya tidak ada hak apapun untuk menetapkan urusan Tuhannya. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (Al Anbiyaa’ 17)

 

Karena itu Allah SWT lalu mempertanyakan cara berfikir orang-orang kafir itu melalui firman-Nya ini:

 

Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Ash Shaaffaat 154-157)

 

Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui? (Yunus 68)

 

Dan karena itu pula Allah SWT menjelaskan bahwa mereka telah berbohong melalui firman-Nya ini:

 

Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (Ash Shaaffaat 151-152)

 

Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Maryam 89-93)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir itu berarti telah menjadikan makhluk ciptaan-Nya sebagai bagian daripada Allah SWT dengan mengatakan Dia mempunyai anak?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. (Az Zukhruf 15)

 

Padahal Allah SWT telah menjelaskan tentang Dia dalam Al Qur’an sebagai berikut:

 

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash 2)

 

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 4)

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (Asy Syuura 11)

 

Berdasarkan sifat-sifat Allah dari firman-Nya di atas, maka mustahil makhluk ciptaan-Nya dapat menjadi bagian daripada Allah SWT. Contoh makhluk-Nya atau hamba-Nya yang dijadikan oleh mereka sebagai bagian daripada Allah SWT, dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.” Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan. (Al Anbiyaa’ 26)

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah”, dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. (At Taubah 30)

 

Mereka menetapkan sendiri anak Tuhan menurut kesukaannya atau nafsunya. Allah SWT menjelaskan itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (An Nahl 57)

 

Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekkah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?” (Ash Shaaffaat 149-150)

 

Ketika di akhirat, orang-orang kafir itu akan mengakui kebohongannya dan kesesatannya, karena telah menetapkan tuhannya dengan mengikuti (menuruti) nafsunya. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:

 

Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam. (Asy Syu’araa’ 97-98)

 

Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan kepada manusia melalui firman-Nya ini:

 

Dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. (Al Mu’minuun 91)

 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku. (Thaahaa 14)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mempunyai pembantu dalam memelihara kerajaan-Nya dan dalam mengurus semua urusan ciptaan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:

 

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong. (Al Israa’ 111)

 

Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan. (Al Kahfi 26)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT tidak mempunyai pembantu atau anak atau sekutu dalam memelihara kerajaan-Nya dan dalam mengurus semua urusan ciptaan-Nya di semesta alam. Allah SWT menjelaskan tentang kekuasaan-Nya dalam memelihara kerajaan-Nya dan dalam mengurus semua urusan ciptaan-Nya di semesta alam, melalui firman-Nya ini:

 

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya). (Al Furqaan 2)

 

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Baqarah 255)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana Allah SWT memelihara kerajaan-Nya dan mengurus semua urusan ciptaan-Nya di semesta alam ini?”

 

Mudariszi: “Dalam mengurus semua urusan dari setiap ciptaan-Nya di semesta alam ini, Allah SWT menciptakan makhluk malaikat yang diberikan tugas untuk mengurus semua urusan dari setiap ciptaan-Nya. Para malaikat itu merupakan makhluk yang patuh dan taat kepada perintah Allah. Para malaikat itu bukan pembantu-Nya, tetapi hanya makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. (Faathir 1)

 

Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (Al Anbiyaa’ 26-27)

 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Al Ma’aarij 4)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply