Bagaimanakah Ihsan?

Dialog Seri 31: 1

 

Tilmidzi: “Apakah Ihsan itu?

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.” Kembali orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.” Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Lalu lanjutnya: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat.” Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut lebih tahu ketimbang orang yang bertanya.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kambing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Muslim)

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan Jibril mengajarkan pokok-pokok agama Islam yang terdiri dari Islam, Iman dam Ihsan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat. Ihsan mengikuti sunnah Rasulullah di atas, sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Lalu Jibril lanjutkan: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menjelaskan tentang orang yang menyembah Tuhan yang tidak terlihat, sebagai berikut:

 

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Qaaf 32-34)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang yang menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan dia menjaga semua peraturan-peraturan-Nya (syariat agama Islam) hingga dia masuk surga itu adalah orang yang takut kepada-Nya. Sehingga Ihsan atau orang yang menyembah Tuhan yang tidak terlihat itu adalah orang yang beriman dan takut kepada-Nya. Orang yang Ihsan itu menjalani hidupnya di dunia dengan taat menyembah (beribadah) kepada-Nya mengikuti syariat agama Islam (yang terdiri dari pokok-pokok agama dan mu’amalah) yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT itu Tuhan yang tidak terlihat tetapi Dia dapat melihat manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)

 

Dia dalam firman-Nya di atas itu adalah Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang yang Ihsan dapat mengetahui Tuhan yang tidak terlihat itu adalah Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Orang yang Ihsan mengetahui Tuhan yang tidak terlihat itu Allah SWT dari Kitab Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah Yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 2-6)

 

Tuhan semesta alam yang menurunkan Al Qur’an (dalam firman-Nya di atas) itulah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan manusia, Tuhan yang tidak terlihat tapi dapat melihat semua yang ada di semesta alam. Allah SWT berfirman:

 

Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu’min 64)

 

Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Az Zumar 1)

 

Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)

 

Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhan kamu. (Az Zukhruf 64)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT turunkan Al Qur’an untuk manusia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an untuk manusia dengan kebenaran dan berdasarkan pengetahuan-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (Al Kahfi 1)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. (Al A’raaf 52)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT jelaskan tentang Dia dalam Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. (Al Hajj 74)

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Allah SWT mengetahui manusia tidak mengetahui banyak perkara dalam kehidupan yang dijalaninya, sehingga Dia mengajarkan dan menjelaskan kepada manusia semua perkara yang tidak diketahuinya itu melalui Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an itu menjelaskan agama Islam dan penyembahan kepada Allah SWT mengikuti syariat agama Islam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan agama-Nya sebagai berikut:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Al Mu’minuun 52)

 

Agama Islam itu agama Allah, karena Dia telah meridhai agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)

 

Selain menjelaskan agama Islam itu agama Allah, Al Qur’an menjelaskan pula perintah Allah kepada manusia yang menjalani hidupnya di dunia untuk menyembah Dia saja tanpa menyekutukan-Nya dengan tuhan lain sampai ajalnya (mati), yaitu sebagai berikut:

 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu. (Al Baqarah 21)

 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)

 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)

 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 99)

 

Menyembah Allah SWT dalam firman-Nya di atas yaitu beribadah (menyembah) kepada Allah SWT dengan taat mengikuti syariat agama Islam yang Dia dan Rasulullah SAW tetapkan. Allah SWT perintahkan manusia melalui Rasulullah SAW untuk bertakwa atau taat beribadah (menjalankan agama) kepada-Nya, melalui firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (Az Zumar 11-12)

 

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Az Zumar 14)

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar 10)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT perintahkan manusia agar mentaati Rasulullah SAW dalam menyembah-Nya atau beribadah kepada-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT memerintahkan itu sebagai berikut:

 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hasyr 7)

 

Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)

 

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran 32)

 

Allah SWT perintahkan manusia agar mentaati Rasulullah SAW (atau As Sunnah) karena Dia menurunkan dan menjelaskan Al Qur’an kepada beliau dan beliau yang lalu menjelaskan Al Qur’an, agama Islam dan syariat agama Islam tersebut kepada manusia. Allah SWT berfirman:

 

Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul selain daripada menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An Nahl 35)

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)

 

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al Ahzab 45-46)

 

Allah SWT lalu menetapkan bagi manusia yang menjalani hidupnya di dunia untuk tidak mendahului Allah SWT dan Rasulullah SAW dan tidak mendurhakai syariat agama Islam atau tidak mendurhakai Allah SWT (ayat-ayat-Nya atau Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah). Mengikuti atau mendurhakai Allah SWT dan Rasulullah SAW akan berakibat kepada balasan-Nya ketika di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Hujuraat 1)

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Tirmidzi: “Apakah penyebab orang yang Ihsan takut kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Orang yang Ihsan itu takut kepada Allah SWT karena dia takut kepada azab-Nya di dunia dan di akhirat. Supaya tidak diazab-Nya, dia berusaha sebaik-baiknya agar tidak melanggar syariat agama Islam atau tidak mendurhakai Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu). (Faathir 18)

 

(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al Anbiyaa’ 49)

 

Tilmidzi: “Apakah penyebab orang yang Ihsan itu takut kepada azab-Nya hingga dia tidak mau melanggar syariat agama Islam?”

 

Mudariszi: “Karena adanya Iblis yang ingin menyesatkan manusia supaya manusia diazab-Nya ketika di akhirat. Iblis (syaitan) itu yang  menyulitkan manusia dalam menyembah Allah SWT dengan tidak menyekutukan-Nya atau dengan tidak melanggar syariat agama Islam ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:

 

Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)

 

Iblis (syaitan) menyulitkan manusia menyembah Allah SWT yaitu dengan menghalang-halanginya dari jalan-Nya yang lurus, dengan membisikkan janji-janji indah atas apa yang ada di kehidupan dunia ke hati manusia. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)

 

Syaitan dapat melakukan hal tersebut di atas, karena syaitan dapat melihat manusia tapi manusia tidak dapat melihat syaitan. Hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan Ibu Bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

 

Janji-janji indah syaitan yang tidak terlihat itu seringkali membuat manusia mengambil keputusan yang salah hingga mereka menempuh jalan syaitan yang tidak menyembah Allah SWT atau melanggar syariat agama Islam. Banyak orang menempuh jalan yang dipikirnya benar karena terlihat baik, padahal jalan itu salah karena di kemudian hari akan menyesatkan dirinya dan orang lain. Lalu syaitan membuat mereka mengira perbuatannya yang buruk itu sebagai perbuatan yang baik. Selanjutnya syaitan membuat mereka beranggapan bahwa mereka telah diberikan petunjuk oleh tuhan. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Sekalipun manusia tidak dapat melihat Allah SWT dan syaitan, tapi manusia tidak seharusnya terlalu mudah ditipu oleh syaitan, karena Allah SWT berjanji kepada manusia dengan memberikan bukti nyata dan jelas yaitu Al Qur’an dan Rasulullah SAW, sedangkan syaitan berjanji dengan tidak ada bukti nyata. Orang-orang yang pandai (berakal) banyak tertipu oleh syaitan, membuktikan pandainya syaitan dalam menipu manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)

 

Perbuatan syaitan itu yang membuat orang yang Ihsan menjadi takut kepada Allah SWT dan kepada azab-Nya; dia takut tertipu oleh syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah sulit bagi manusia untuk lolos dari penyesatan syaitan?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa manusia tidak dapat lolos dari penyesatan syaitan jika tanpa pertolongan-Nya, sebagai berikut:

 

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (An Nisaa’ 83)

 

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Jika tidak lolos dari penyesatan syaitan, maka manusia akan diazab-Nya di dunia dan di akhirat, karena Allah SWT telah menjelaskan perkara itu semua kepada manusia melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Apakah syaitan-syaitan itu tidak takut kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Iblis dan syaitan-syaitan takut kepada Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya berikut ini:

 

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Al Hasyr 16)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT lindungi manusia dari penyesatan syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Tapi Allah SWT hanya melindungi orang-orang yang mengikuti-Nya saja, sebagai berikut:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)

 

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir 15)

 

Allah SWT melindungi orang-orang yang mengikuti-Nya itu dengan menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. (Al Lail 12)

 

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (A Nahl 9)

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu jalan kebajikan dan jalan kejahatan). (Al Balad 10)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)

 

Meskipun Allah SWT hanya melindungi orang-orang yang mengikuti-Nya saja, tapi Dia peringatkan manusia atas syaitan yang menggunakan kehidupan dunia dalam menipu manusia agar manusia tidak tertipu hingga menjadi pengikut syaitan, sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)

 

Tilmidzi: “Apakah jalan Allah yang lurus tersebut?”

 

Mudariszi: “Jalan Allah yang lurus itu adalah sebagai berikut:

 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)

 

Jalan-Nya yang lurus itu adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman, yang menyembah Allah SWT, yang taat mengikuti syariat agama Islam ketika mereka menjalani hidupnya. Mereka tidak menempuh jalan yang mengingkari syariat agama Islam agar tidak dimurkai-Nya dan tidak menjadi sesat. Jalan-Nya yang lurus merupakan bagian dari agama Islam yang dijelaskan oleh Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah). Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai-Nya itulah jalan yang bengkok, jalan yang sesat yang diada-adakan oleh syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengajarkan manusia kepada jalan yang lurus ketika hidup di dunia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 101)

 

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)

 

Pengajaran Allah itu menjadikan orang yang Ihsan berusaha agar taat mengikuti Rasulullah (As Sunnah) ketika menjalani hidupnya supaya selalu ditunjuki-Nya dan dilindungi-Nya, sehingga dia tidak tertipu oleh syaitan dan tidak tertimpa azab-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An Nuur 63)

 

Orang yang Ihsan berhati-hati dengan perbuatannya, agar selalu ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, karena dia mengetahui Allah SWT melihat dan mengawasi semua perbuatannya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa’ 1)

 

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (Al Fajr 14)

 

Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka. (Asy Syuura 6)

 

Orang yang Ihsan mengetahui dia sebagai pengganti orang-orang yang telah meninggal dunia, tapi dia tidak mengetahui apa yang Allah SWT akan perbuat terhadapnya seperti Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang Dia perbuat terhadap beliau ketika menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam. Allah SWT berfirman:

 

Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus 14)

 

Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. (Ath Thalaaq 1)

 

Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-Rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.” (Al Ahqaaf 9)

 

Semua penjelasan di atas membuat orang yang Ihsan semakin takut kepada Allah SWT karena dia mengetahui sedang dilihat-Nya dan diawasi-Nya ketika dia beribadah atau menyembah-Nya dan berbuat.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply