Apakah Menyembah Patung Berarti Menyembah Syaitan?

Dialog Seri 20: 66

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kesalahan kaum musyrik dalam beragama itu melalui Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan kepada kaum musyrik tentang Dia dan agama-Nya melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Tujuannya agar kaum musyrik memikirkan dan mengetahui Tuhannya dan agama-Nya yang benar, karena agama apapun yang mereka ikuti akan berakibat kepada perbuatan mereka di dunia dan keadaan mereka di akhirat. Allah SWT berfirman:

 

Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan Bapak-Bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. (Az Zukhruf 29)

 

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-Rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang Bapak-Bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yaasiin 2-6)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy Syuura 7)

 

Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW tentang tuhan mereka dengan cara yang mudah agar dipahaminya, contoh sebagai berikut:

 

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku tanpa memberi tangguh (kepadaku). Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (Al A’raaf 191-198)

 

Dan Allah SWT menegaskan lagi tentang tuhan-tuhan selain Dia itu sebagai berikut:

 

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (Al Hajj 73)

 

Tilmidzi: “Jika tuhan (patung berhala) yang disembah oleh kaum musyrik itu bukan Allah SWT, lalu siapakah tuhan yang disembah oleh kaum musyrik?”

 

Mudariszi: “Dengan kaum musyrik beragama menuruti anggapannya, maka itu berarti mereka memutuskan sesuatu dengan menuruti hawa nafsunya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An Najm 23)

 

Padahal nafsu itu dijelaskan oleh Allah SWT adalah sebagai berikut:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Sedangkan kejahatan dan anggapan manusia tentang Allah SWT yang tidak diketahui oleh manusia itu dijelaskan-Nya sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Anggapan kaum musyrik tentang tuhan-tuhannya yang belum tentu benar itu, lalu oleh syaitan (melalui bisikannya) dijadikan sebagai pandangan dan perbuatan mereka yang baik. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu. (Al Fath 12)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Sehingga mereka lalu menganggap patung berhala itulah tuhan mereka yang benar. Itu berarti mereka menyembah patung berhala karena menuruti anggapannya dan hawa nafsunya yang dari syaitan (bisikan syaitan). Dengan demikian, mereka berarti menuruti (mengikuti) syaitan. Sehingga, dengan mereka menyembah patung berhala, berarti mereka menyembah syaitan. Dan hal itu dijelaskan pula dalam firman-Nya ini:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Dengan demikian, kaum musyrik sebenarnya menyembah syaitan yaitu musuh manusia, karena syaitan ingin agar manusia bersama-sama dengannya menjadi penghuni neraka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 6)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kaum musyrik membuat patung tuhannya, menamakan tuhan-tuhannya dan memberikan makanan kepada tuhannya itu dari syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Perbuatan kaum musyrik yang selalu menuruti syaitan (bisikan syaitan) itu membuat syaitan mengetahui keadaan kaum musyrik tersebut. Syaitan mengetahui bahwa kaum musyrik mengira bisikan syaitan itu benar dan syaitan mengetahui bahwa kaum musyrik mengira bisikan syaitan itu petunjuk tuhan. Sehingga syaitan mengetahui bahwa kaum musyrik mengira syaitan itu tuhan dan pelindungnya. Allah SWT berfirman:

 

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 30)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Dengan syaitan mengetahui keadaan kaum musyrik itu, maka mudah bagi syaitan untuk menyuruh mereka membuat patung tuhannya, menamakan tuhannya, memberikan makanan kepada tuhannya, menetapkan hukum-hukum agama. Mereka (kaum musyrik) akan melakukan semua perintah syaitan (bisikan syaitan) tersebut termasuk melakukan perbuatan keji. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merubahnya.” Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An Nisaa’ 118-119)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan dengan Al Qur’an tentang Dia dan agama-Nya kepada kaum musyrik tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menghendaki manusia termasuk kaum musyrik menjadi penghuni neraka bersama-sama dengan syaitan. Karena itu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada kaum musyrik agar menyembah-Nya saja, sebagai berikut:

 

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar Ra’d 30)

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Shaad 65-66)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya yang merupakan agama untuk manusia termasuk untuk kaum musyrik, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada kaum musyrik agar taat mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya supaya mereka selamat di dunia dan di akhirat, sebagai berikut:

 

Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. (Yunus 105-106)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. (Az Zumar 11-14)

 

Dan Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada kaum musyrik yang beliau dilarang menyembah (mengikuti) tuhan-tuhan atau agama mereka, sebagai berikut:

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (Al Mu’min 66)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika aku berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al An’aam 55-56)

 

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman. (Yunus 104)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply