Bagaimana Kaum Musyrik Atas Al Qur’an Dan Rasulullah SAW?

Dialog Seri 20: 63

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum musyrik terhadap Allah SWT yang turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik heran dengan Tuhan yang turunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mengapa Al Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita? (Shaad 8)

 

Menurut kaum musyrik, Rasulullah SAW hanya manusia biasa yang bukan pemuka kaum sehingga mereka berpendapat Tuhan seharusnya menurunkan Al Qur’an kepada salah satu dari pemuka kaum. Mereka tidak memahami tentang Tuhan dan mereka menuruti hawa nafsunya dalam berfikir dan memutuskan. Mereka menyamakan Tuhan seperti manusia (mereka), yaitu sama-sama penguasa. Allah SWT berfirman:

 

Dan mereka berkata: “Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif)?” (Az Zukhruf 31)

 

Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:

 

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az Zukhruf 32)

 

Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui firman-Nya di atas agar mereka berfikir dengan benar dan mengetahui bahwa Allah SWT adalah Tuhan Pencipta dan Pemilik semesta alam beserta apa yang ada di semesta alam, sehingga Dia berhak menetapkan dan memutuskan segala sesuatu terhadap ciptaan-Nya. Allah SWT menghendaki mereka berfikir dengan benar agar mereka tidak lagi menetapkan tuhan dan agama menurut hawa nafsunya (keinginannya).”

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum musyrik terhadap Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasuluillah SAW?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik menganggap Al Qur’an itu sihir yang diada-adakan (dibuat) oleh manusia, sehingga mereka lalu mengingkarinya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. (Al Muddatstsir 18-25)

 

Dan mereka berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (Saba’ 43)

 

Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan Bapak-Bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. Dan tatkala kebenaran (Al Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata: “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya. (Az Zukhruf 29-30)

 

Mereka tidak dapat memikirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan tata bahasanya yang teratur dan padat dengan makna kebenaran, sehingga mereka lalu menyimpulkan Al Qur’an itu menurut hawa nafsunya yaitu, Al Qur’an adalah sihir.”

 

Tilmidzi: “Jika kaum musyrik mengatakan Al Qur’an itu dibuat oleh manusia, apakah mereka menuduh Rasulullah SAW sebagai pembuat Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Kaum musyrik menuduh Al Qur’an dibuat oleh Rasulullah SAW dengan dibantu oleh orang-orang lain. Allah SWT berfirman:

 

Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” (As Sajdah 3)

 

Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.” (Al Furqaan 4)

 

Dan yang mengakibatkan orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab).” (Al An’aam 105)

 

Karena mereka menganggap itu perbuatan Rasulullah SAW, maka mereka lalu menuduh beliau sebagai berikut:

 

Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah. (Asy Syuura 24)

 

Allah SWT kemudian perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya ini kepada mereka sebagai bantahan terhadap semua anggapan dan tuduhan mereka itu:

 

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam (bahasa Arab yang sedikit), sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. (An Nahl 103)

 

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Huud 13)

 

Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Qur’an).” Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahqaaf 8)

 

Dan Allah SWT menegaskan kembali kepada mereka, sebagai berikut:

 

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. (Al Haaqqah 44-47)

 

Penjelasan Allah (firman-firman-Nya) yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tersebut di atas bertujuan agar kaum musyrik berfikir dengan benar tanpa harus menuruti hawa nafsunya sebelum menuduh atau memutuskan sesuatu tanpa bukti-bukti yang jelas.”

 

Tilmidzi: “Jika kaum musyrik mengatakan Al Qur’an itu sihir, apakah mereka menuduh Rasulullah SAW sebagai ahli sihir?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata. (Yunus 2)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik menuduh Rasulullah SAW sebagai orang gila?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.” (Al Hijr 6)

 

Padahal kaum musyrik mengetahui bahwa Rasulullah SAW itu seorang yang jujur dan tidak gila, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (Al A’raaf 184)

 

Alasan yang sebenarnya kaum musyrik mengatakan Rasulullah SAW itu orang gila yaitu, sebagai berikut:

 

Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.” Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran. (Al Mu’minuun 70)

 

Mereka seharusnya mengakui semua kesalahan mereka yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Penjelasan Al Qur’an dan Rasulullah SAW itu bukan untuk mencela dan menghukum mereka, tapi untuk kebaikan mereka dalam memperbaiki dirinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Jika mereka tidak mau mengakui kesalahannya, mereka cenderung akan berbuat kesalahan lainnya. misalnya, mereka menuduh lagi Rasulullah SAW sebagai penyair gila. Mereka menuduh demikian, karena mereka mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu seperti syair. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran. (Ash Shaaffaat 36-37)

 

Karena itu Allah SWT lalu membantah tuduhan mereka itu melalui firman-Nya ini:

 

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi peringatan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (Yaasiin 69-70)

 

Allah SWT lalu kuatkan hati Rasulullah SAW dan perintahkan beliau sebagai berikut:

 

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (Ath Thuur 29)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik meminta hal-hal yang ganjil kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh, kaum musyrik meminta kepada Rasulullah SAW untuk merubah ayat-ayat Al Qur’an yang sesuai dengan keinginannya. Sehingga Allah SWT menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.” (Al A’raaf 203)

 

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).” (Yunus 15)

 

Contoh lain, mereka meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau mendatangkan mu’jizat-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam Kitab-Kitab yang terdahulu? (Thaahaa 133)

 

Bahkan mereka berkata (pula): “(Al Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat sebagaimana Rasul-Rasul yang telah lalu diutus.” (Al Anbiyaa 5)

 

Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? (Al ’Ankabuut 50-51)

 

Tidak puas dengan penjelasan-Nya di atas, mereka lalu meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendatangkan malaikat dan Allah SWT. Hingga Allah SWT kemudian menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?” (Al Hijr 6-7)

 

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. (Al Furqaan 21)

 

Pada akhirnya mereka kemudian meminta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk mendatangkan azab-Nya untuk membuktikan kebenaran Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT lalu menjelaskan tentang perkara itu kepada mereka melalui firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang (sebahagian dari) mereka meminta ampun. (Al Anfaal 32-33)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang zalim.” (Al An’aam 57-58)

 

Dan Allah SWT kemudian menjelaskan kepada mereka dengan firman-Nya ini:

 

Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mu’jizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya. (Asy Syu’araa’ 4)

 

Allah SWT menjelaskan seperti firman-Nya di atas, karena manusia mengetahui ketika mereka terkena bencana, yaitu hati mereka akan terguncang hebat karena takut.”

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply