Dialog Seri 31: 3
Tilmidzi: “Apakah orang yang Ihsan itu dapat diketahui?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan Ihsan itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Lalu lanjut Jibril: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” (HR Muslim)
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Qaaf 32-34)
Firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa orang yang Ihsan itu orang yang takut kepada Allah SWT, Tuhan yang tidak terlihat olehnya, sehingga dia mentaati syariat agama Islam ketika dia menjalani hidupnya. Orang yang Ihsan itu tidak dapat diketahui karena orang yang Ihsan tidak mengetahui dirinya Ihsan. Orang yang mengatakan dirinya Ihsan, maka dia bukan Ihsan, karena orang yang Ihsan itu tidak mau berbohong atau mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Orang yang Ihsan takut kepada Allah SWT yang melarang manusia berbohong, sebagai berikut:
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (An Nahl 105)
Dari Abil Khair, dia mendengar Abdullah bin Amr bin Al Ash berkata: “Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Orang Islam manakah yang paling baik?” Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Muslim)
Selain itu, mengatakan dirinya Ihsan, berarti dia menyombongkan atau membangga-banggakan dirinya. Perbuatan itu tidak disukai-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An Nisaa’ 36)
Orang yang Ihsan tidak berani melakukan semua perbuatan tersebut di atas karena dia takut kepada Allah SWT yang mengetahui hati manusia. Allah SWT berfirman:
Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (Al Maa-idah 99)
Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. (An Naml 74)
Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. (Al Baqarah 235)
Dengan demikian, orang yang Ihsan itu tidak dapat diketahui. Jika ada orang yang dikatakan Ihsan, maka itu hanya pendapat atau perkiraan dari orang-orang yang memperhatikan ilmu, ucapan dan perbuatan orang yang dikatakan Ihsan tersebut. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui orang yang Ihsan.”
Tilmidzi: “Apakah orang yang memelihara semua peraturan-peraturan-Nya karena takut kepada-Nya (dalam firman-Nya di atas) itu adalah orang yang bertakwa?”
Mudariszi: “Ya! Orang yang takut kepada azab-Nya di akhirat, maka dia berusaha untuk tidak melanggar perintah dan larangan yang Allah SWT tetapkan dalam agama Islam ketika dia menjalani hidupnya. Dia menjaga perbuatannya agar selalu mengikuti peraturan-peraturan-Nya (syariat agama Islam) dan dia memelihara syariat dan hukum-hukum agama Islam agar tetap murni seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu). (Faathir 18)
(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al Anbiyaa’ 49)
Ketaatannya mengikuti peraturan-peraturan-Nya (syariat agama Islam) ketika menjalani hidupnya di dunia itu yang lalu membuatnya menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT jelaskan tentang orang yang bertakwa?”
Mudariszi: “Allah SWT jelaskan orang yang bertakwa itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujuraat 13)
Jika orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa, maka orang yang mulia di sisi-Nya yaitu orang yang bertakwa.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang yang bertakwa itu dapat dikatakan orang yang Ihsan?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan salah satu contoh orang yang bertakwa itu sebagai berikut:
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Yunus 62-64)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang yang bertakwa kepada-Nya itu adalah wali Allah. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka (wali-wali Allah) dan tidak pula mereka bersedih hati (dalam firman-Nya di atas) dapat berarti wali-wali Allah itu tidak harus takut (khawatir atau bersedih hati) kepada-Nya. Sehingga, wali Allah, yaitu orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya tersebut dapat dikatakan orang yang Ihsan.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang takut kepada-Nya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang takut kepada-Nya itu sebagai berikut:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir 28)
Ulama adalah orang-orang yang berilmu agama yaitu agama Islam. Ulama meyakini Al Qur’an itu dari Allah SWT, sehingga mereka dijelaskan-Nya sebagai berikut:
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj 54)
Dengan demikian, ulama itu adalah orang-orang yang takut kepada Allah SWT, beriman dan bertakwa kepada-Nya. Ulama tidak berbeda dengan malaikat yang taat dan takut kepada-Nya, hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran 18)
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (Al Anbiyaa’ 26-28)
Dengan demikian, ulama dapat pula dikatakan orang-orang yang Ihsan.”
Tilmidzi: “Apakah wali-wali Allah dan ulama tersebut dapat diketahui?”
Mudariszi: “Tidak berbeda dengan orang yang Ihsan yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, wali-wali Allah dan ulama itu tidak dapat diketahui, karena mereka tidak mengetahui dirinya wali Allah atau ulama. Hanya Allah SWT saja yang mengetahui tingkat ketakwaan dan kesucian seseorang, dan hal itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut Ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An Najm 32)
Dengan demikian, tidak ada yang mengetahui wali Allah dan ulama kecuali Allah SWT.”
Tilmidzi: “Apakah orang yang Ihsan atau yang takut kepada Allah SWT itu orang yang mencintai-Nya?”
Mudariszi: “Orang yang Ihsan atau yang takut kepada Allah SWT dapat dikatakan orang yang mencintai Allah SWT. Karena orang yang Ihsan atau yang takut kepada Allah SWT itu adalah orang yang bertakwa kepada-Nya. Ketakwaannya itu akibat dari ketaatannya mengikuti syariat agama Islam atau mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika dia menjalani hidupnya. Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang mencintai-Nya itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran 31-32)
Tilmidzi: “Apakah orang yang Ihsan, wali Allah, ulama itu masuk surga?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (An Nuur 52)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (An Nisaa’ 13)
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 88-89)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Ihsan, wali-wali Allah, ulama, yaitu orang-orang yang bertakwa dan takut kepada Allah SWT itu orang-orang yang mendapat kemenangan yang besar dan akan dimasukkan-Nya ke dalam surga ketika di akhirat. Allah SWT menegaskan kembali hal tersebut melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Al Mu’minuun 57-61)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al Bayyinah 7-8)
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (An Naazi’aat 40-41)
Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (Ar Rahmaan 46)
Tilmidzi: “Apakah ada contoh orang yang Ihsan, wali Allah atau ulama?”
Mudariszi: “Contohnya dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 100)
Dengan Allah SWT ridha kepada orang-orang pertama dari Muhajirin dan Anshar yang masuk Islam (dalam firman-Nya di atas), maka itu menunjukkan mereka adalah orang-orang yang Ihsan atau wali-wali Allah atau ulama. Mereka juga ridha kepada Allah SWT karena setelah Rasulullah SAW wafat, mereka dan para sahabat lainnya melanjutkan penyampaian Al Qur’an kepada manusia di belahan bumi dan menegakkan dan meluaskan agama Islam hingga ke belahan Timur dan Barat bumi. Mereka seperti orang-orang yang dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hadiid 25)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7)
Tilmidzi: “Apakah ada contoh pemimpin yang Ihsan atau wali Allah atau ulama?”
Mudariszi: “Keempat Khalifah Rasyidin adalah orang-orang yang Ihsan, wali-wali Allah atau ulama, karena mereka semua takut dan bertakwa kepada-Nya dan berilmu agama yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka memelihara peraturan-peraturan agama yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW agar agama Islam tetap tegak dan murni seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Mereka melakukan hal itu karena mereka mengetahui Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam yang lahir kemudian untuk mengikuti mereka (setelah mengikuti Rasulullah SAW) ketika menjalani hidupnya, yaitu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Zaidah dari Abdul Malik bin Umair dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ikutilah dua orang Khalifah sesudah kami, yaitu Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi)
Dari Muhammad bin Suqah dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Urnar, ia berkata: “Umar berkhutbah kepada kami di Al-Jabiyah lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri di tengah-tengah kamu seperti berdirinya Rasulullah SAW di tengah-tengah kami lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar mengikuti jejak para sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Di antara keempat Khalifah itu, Umar bin Khathab dapat dikatakan sebagai orang yang paling takut kepada Allah SWT. Karena Umar peringatkan para sahabat untuk berhati-hati dalam menyampaikan hadis-hadis Rasulullah, yaitu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amir Al Yahshubiy, ia berkata: “Aku pernah mendengar Mu’awiyah berkata: “Berhati-hatilah kalian terhadap hadis-hadis, kecuali hadis yang ada di zaman Umar. Sebab, Umar selalu menakuti orang-orang dalam hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim)
Umar yang paling berilmu dan hal itu dijelaskan pula oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Hamzah bin Abdullah bin Umar bin Al Khattab dari Bapaknya dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat sebuah bejana berisi susu dihidangkan kepadaku. Aku pun meminumnya sampai-sampai kesegerannya merasuk pada kuku-kukuku. Sisanya aku berikan kepada Umar bin Al Khattab.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana penafsiran Anda mengenai mimpi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Itu adalah ilmu.” (HR Muslim)
Umar yang berilmu dan takut kepada Allah SWT tersebut lalu membuat dia sangat bertakwa kepada-Nya, sehingga syaitan tidak dapat mengganggunya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Sa’ad bin Abi Waqqas dari Ayahnya, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Berhentilah berbicara, wahai Ibnu Khaththab. Demi Tuhan yang menguasai diriku, setan tidak pernah menemuimu sama sekali di saat engkau melalui jalan yang luas, kecuali ia melalui jalanan luas selain jalanmu.” (HR Bukhari)
Dan karena syaitan tidak dapat mengganggu Umar, maka tidak ada fitnah ketika Umar menjadi Khalifah. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Hudzaifah, ia berkata: “Umar berkata: “Bukan itu yang kumaksud, tapi masalah fitnah (cobaan) yang menyebabkan timbulnya kegoncangan bagaikan gelombang besar di lautan.” Hudzaifah berkata: “Aku berkata kepada Umar: “Tidak ada fitnah bagimu, wahai Amirul Mu’minin, karena antara engkau dan fitnah bagaikan pintu yang tertutup.” Umar berkata: “Apakah kiranya pintu itu tidak dapat dirusak atau dibuka?” Hudzaifah berkata: “Pintu itu dapat dirusak.” Umar berkata: “Jika pintu itu dapat dirusak tentu tidak mungkin untuk ditutup selama-lamanya.” Hudzaifah berkata: “Aku memberitahukan bahwa memang demikian keadaannya (yakni jika sudah dirusak dan terbuka, tentu tidak dapat ditutup lagi).” Abu Wail berkata: “Kita semua yang pada saat itu dekat dengan Umar, mereka takut menanyakan kepada Hudzaifah, lalu siapakah yang menjadi pintunya (yakni siapakah yang sebenarnya yang memulai menimbulkan fitnah). Kami lalu berkata kepada Masruq: “Bertanyalah kepada Hudzaifah!” Kemudian Masruq bertanya kepada Hudzaifah tentang siapa yang menjadi pintunya, lalu Hudzaifah berkata: “Umar.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah ada contoh orang yang Ihsan atau wali Allah atau ulama yang bukan dari sahabat?”
Mudariszi: “Contohnya dijelaskan sunnah Rasululah berikut ini:
Dari Umar bin Al Khattab, dia berkata: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baiknya para tabi’in ialah seseorang yang bernama Uwais. Ia mempunyai seorang Ibu. Ia sendiri menderita sakit kusta. Temuilah dia dan mintalah supaya dia mau memohonkan ampun buat kalian.” (HR Muslim)
Dari Asir bin Jabir, dia berkata: “Ketika datang rombongan penduduk Yaman kepada Umar bin Al Khattab, dia bertanya kepada mereka: “Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?” Umar mendekati orang yang dicarinya itu dan bertanya: “Kamu bernama Uwais bin Amir?” Uwais menjawab: “Benar.” Umar bertanya: “Kamu dari Murad kemudian dari Qaran?” Uwais menjawab: “Benar.” Umar bertanya: “Kamu menderita penyakit kusta dan kamu sudah sembuh darinya kecuali tempat dirham?” Uwais menjawab: “Benar.” Umar bertanya: “Kamu memiliki seorang Ibu?” Uwais menjawab: “Benar.” Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepadamu Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman dari Murad, kemudian dari Qaran. Dia menderita penyakit kusta dan sudah sembuh kecuali pada tempat dirham. Ia masih punya seorang Ibu, dan ia selalu berbuat baik padanya. Seandainya dia bersumpah pada Allah, niscaya Allah masih membenarkannya. Kalau kamu bisa membuat Uwais mau memohonkan ampunan kepadamu, maka lakukanlah.” Sekarang mohonkan ampun untukku.” Uwais pun menuruti permintaan Umar tersebut. Selanjutnya Umar bertanya kepada Uwais: “Kamu mau ke mana?” Uwais menjawab: “Ke Kuffah.” Umar mengajukan tawaran: “Bolehkah aku berkirim surat kepada penguasa Kuffah untuk menyambutmu?” Uwais menjawab: “Tidak usah. Aku lebih suka berbaur dan berkumpul dengan orang banyak.” Pada musim haji tahun berikutnya, salah seorang tokoh penduduk Yaman menunaikan ibadah haji. Ketika bertemu dengan Umar, dia ditanya mengenai si Uwais. Dia menjawab: “Aku tinggalkan si Uwais di sebuah perkampungan kumuh.” Umar lalu berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qaran. Dia menderita penyakit kusta namun sudah sembuh, kecuali pada tempat dirham. Dia masih mempunyai seorang Ibu, dan dia selalu berbuat baik pada Ibunya itu. Seandainya dia bersumpah pada Allah, maka Allah masih mau membenarkannya. Apabila kamu bisa membuat Uwais mau memohonkan ampunan bagi kamu, maka lakukanlah.” Tokoh Yaman itu lalu menemui Uwais. Dia berkata kepada Uwais: “Mohonkanlah ampunan untukku.” Uwais berkata: “Kamu tentu baru saja melakukan suatu perjalanan yang baik, sehingga kamu berkata seperti itu.” Tokoh Yaman itu berkata lagi: “Mohonkanlah ampunan untukku.” Uwais berkata: “Kamu tentu baru saja melakukan suatu perjalanan yang baik, sehingga kamu berkata seperti itu.” Selanjutnya Uwais bertanya: “Kamu bertemu dengan Umar?” Tokoh Yaman ini menjawab: “Benar.” Uwais lalu memohonkan ampunan untuknya. Saat itulah orang-orang baru mengerti siapa Uwais sebenarnya. Dia lalu pergi entah ke mana.” Kata Asir: “Aku memakaikan burdah (semacam selimut) padanya. Setiap kali ada orang melihatnya, pasti bertanya-tanya: “Dari mana Uwais mendapatkan burdah ini?” (HR Muslim)
Rasulullah SAW mengetahui tentang Uwais Al Qarni bin Amir tersebut dari Jibril. Uwais tidak pernah bertemu dengan Rasulullah SAW sehingga dia tidak termasuk sahabat beliau. Walaupun demikian, Uwais tetap taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) ketika menjalani hidupnya. Rasulullah SAW menjelaskan kepada Umar untuk meminta kepada Uwais berarti Uwais itu orang yang bertakwa dan takut kepada-Nya, sehingga dia dapat dikatakan orang yang Ihsan atau wali Allah atau ulama. Ketakwaan Uwais menunjukkan dia berilmu sekalipun ilmunya tidak sedalam ilmu keempat Khalifah Rasyidin.”
Tilmidzi: “Apakah ada contoh orang yang Ihsan atau wali Allah atau ulama yang hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW dan para sahabat?”
Mudariszi: “Contohnya dijelaskan sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah datang ke pekuburan, beliau bersabda: “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin; dan kami, insya Allah, akan menyusulmu. Aku senang andaikata bisa bertemu dengan saudara-saudaraku.” Para sahabat bertanya: “Bukankah kami saudara-saudara anda ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kamu adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang tidak datang sesudahku.” Mereka berkata lagi: “Bagaimana anda bisa mengenal orang dari umat anda yang tidak datang sesudah anda?” Beliau bersabda: “Tahukah kamu, andaikata ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka serta kaki dan tangannya, kuda itu berada di antara kuda-kuda yang hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya?” Mereka menjawab: “Tentu saja dapat wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah serta kaki dan tangannya bersinar karena bekas wudhu, dan aku mendahului mereka datang ke telaga.” (HR Muslim)
Saudara-saudara Rasulullah tersebut hidup di masa puluhan atau ratusan atau ribuan tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW dan para sahabat, hingga kiamat. Rasulullah SAW senang bisa berjumpa dengan mereka yang tidak pernah bertemu dengan beliau dan para sahabat, karena mereka menjalani hidupnya seperti para sahabat menjalani hidupnya, yaitu taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (As Sunnah) dan berjihad di jalan-Nya dengan berperang, berdakwah atau berbuat amar ma’ruf nahi munkar dalam menegakkan dan membela agama Allah (agama Islam) dengan jiwa dan hartanya. Dengan demikian, di antara mereka akan ada orang yang Ihsan atau wali Allah atau ulama. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Jabir bin Samurah dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “Agama ini akan senantiasa tegak, mengingat ada sekelompok kaum muslimin yang membelanya sampai hari kiamat.” (HR Muslim)
Dari Abdurrahman bin Syumasah Al Mahri dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Adapun aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang selalu siap berperang membela agama Allah. Mereka akan berlaku keras terhadap musuh-musuh mereka. Mereka tidak merasa gentar terhadap orang yang menyalahi mereka. Dan sampai kiamat kelak sekalipun mereka tetap bersikap begitu.” (HR Muslim)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Fath 29)
Wallahu a’lam.