Apakah Pemuka Kaum Mekkah Terima Allah SWT & Al Qur’an?

Dialog Seri 20: 62

 

Tilmidzi: “Bagaimana pendapat para pemuka kaum di Mekkah terhadap Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Hampir seluruh penduduk Mekkah beragama menyembah patung-patung berhala, sehingga mereka tidak mengerti Allah SWT Tuhan manusia. Karena itu Allah SWT mengutus Rasulullah SAW dengan menjelaskan Al Qur’an untuk mereka. Contoh, mereka tidak mengetahui sifat-sifat Tuhan mereka yang benar, sehingga Allah SWT dan Rasulullah SAW lalu menjelaskan hal itu kepada mereka, sebagai berikut:

 

Dari Abil Aliyah dari Ubai bin Kaab, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah SAW: Sebutkan sifat-sifat Tuhanmu kepada kami”, lalu Allah menurunkan ayat: Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Dia adalah Tuhan yang ber­gantung kepadaNya segala sesuatu dan Dia tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. (surat Al ­Ikhlash ayat 1-4). Dia berkata: Sifat-sifat Allah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu, Allah tidak dilahirkan karena tidak ada sesuatu yang dilahirkan selain akan mati, tidak ada sesuatu yang mati selain akan diwaris dan sesung­guhnya Allah tidak mati dan tidak diwaris dan tidak ada satupun yang setara denganNya.” Dia berkata: Tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya dan tidak ada seseorang yang menyamai-Nya dan tidak ada sesuatu yang menyamaiNya.” (HR Tirmidzi)

 

Tapi mereka tidak mau mempelajarinya lebih lanjut dari Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Mereka tetap mengikuti (menyembah) tuhan-tuhan mereka yang banyak itu, sehingga Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. (Al Kaafiruun 1-6)

 

Tilmidzi: “Bagaimana pendapat pemuka penduduk Mekkah terhadap Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu dikatakan oleh para pemuka kaum di Mekkah sebagai sihir. Mereka tidak mengerti Allah SWT dan agama-Nya karena mereka mengikuti syaitan dan mengetahui syaitan mengajarkan sihir. Sehingga sesuatu yang tidak mereka ketahui tapi bermanfaat bagi orang banyak lalu dikatakannya sebagai sihir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. (Al Muddatstsir 18-25)

 

Mereka tidak ada keinginan untuk mengetahui kebenaran Al Qur’an dan penjelasan Rasulullah SAW. Syaitan yang diikutinya (disembahnya) telah membuat mereka selalu memandang benar (dan baik) perbuatannya yang buruk. Allah SWT berfirman:

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 43)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah berbuat kesalahan dalam menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya itu kepada penduduk Mekkah?”

 

Mudariszi: “Tidak mungkin Rasulullah SAW tidak pernah berbuat kesalahan ketika menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah. Hal itu mungkin karena beliau sendiri masih belum menguasai Al Qur’an dan agama-Nya dengan benar dan beliau mendapat rintangan dari penduduk Mekkah yang menolak beliau, Al Qur’an dan agama-Nya. Misalnya, Rasulullah SAW lebih mengutamakan penyampaian kepada pemuka kaum agar mereka beriman, dan mereka lalu akan diikuti oleh kaumnya. Hal itu membuiat beliau kurang memperhatikan pengajaran kepada orang biasa, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Said bin Yahya bin Said Al-Umawi berkata: Ayahku menceri­takan kepada kami, dia berkata: Hadits ini adalah yang aku bacakan ke­pada Hisyam dari Aisyah berkata: Diturunkan ayat: Dia bermuka masam dan berpaling. (surat ‘Abasa ayat 1), mengenai Ibnu Maktum. Ia datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, ajarilah pelajaran agama kepadaku, sedang di sisi Rasulullah ada seorang dari pemuka orang-orang musyrik, lalu Rasulullah berpaling dari Ibnu Maktum dan menghadap kepada yang lain dan beliau bersabda kepa­danya: Apakah kamu menjumpai kesulitan terhadap apa yang aku ka­takan? Ia menjawab: Tidak. Dalam kejadian ini diturunkan ayat itu.” (HR Tirmidzi)

 

Karena itu Allah SWT lalu menegur Rasulullah SAW melalui firman-Nya ini:

 

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. (‘Abasa 1-16)

 

Pengalaman dan teguran Allah dalam firman-Nya di atas lalu menjadi pengajaran bagi Rasulullah SAW dalam memahami Al Qur’an dan agama-Nya serta menyampaikan dan menjelaskannya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana contoh rintangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW ketika menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya?”

 

Mudariszi: “Salah satu rintangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW yaitu penolakan suatu kaum terhadap Al Qur’an dan agama-Nya yang beliau sampaikan. Contoh, ketika beliau menyampaikan kepada kaum di Mina di luar kota Mekkah, sebagai berikut:

 

Dari Urwah bin Zubair, sesungguhnya Aisyah isteri Rasulullah SAW bercerita kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, apakah Anda pernah meng­alami ada suatu hari yang lebih berat melebihi hari pertempuran Uhud? Rasulullah SAW menjawab: Ya. Waktu itu aku ketemu kaummu Qu­raisy. Tetapi yang paling berat lagi ialah ketika aku berada di Mina sedang mengajak manusia masuk Islam. Mereka bukannya memenuhi ajakanku itu, melainkan malah menyakitiku. Aku ajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal untuk ikut aku. Namun dia enggan memenuhi ajakanku tersebut. Aku lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa tahu arah mana yang selanjutnya harus aku tuju. Aku tidak tahu kemana langkahku, namun yang jelas aku sampai di daerah Qarnu Tsaalib. Aku meng­angkat kepalaku ke atas langit, dan saat itulah aku melihat segumpal awan menaungiku. Ketika aku perhatikan lebih cermat, ternyata dalam awan tersebut ada Jibril yang memanggil-manggilku: Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadap­mu. Allah telah mengutus malaikat penunggu gunung untukmu, dan kamu tinggal menyuruhnya untuk melakukan apa yang kamu inginkan terhadap mereka. Tidak lama kemudian ganti malaikat penunggu gu­nung yang memanggil-manggilku. Setelah mengucap salam kepadaku, dia berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah sudah mendengar jawaban kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penung­gu gunung. Aku telah diutus Tuhanmu untuk siap melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Apa yang kamu inginkan? Jika kami ingin mereka dijepit oleh kedua gunung di Makkah itu, niscaya segera aku laksanakan. Rasulullah SAW bersabda kepada malaikat penung­gu gunung itu: Tidak. Sebaliknya aku malah berharap mudah­-mudahan Allah berkenan menampilkan dari diri mereka orang yang mau menyembah kepada Allah semata, dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada kaum dari luar kota Mekkah yang beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an hingga memeluk agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Entah berapa lama Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah, maka penyampaian beliau oleh itu akhirnya didengar pula oleh kaum-kaum di luar kota Mekkah. Di antara kaum-kaum itu ada yang ingin mengetahui Al Qur’an dan agama-Nya, sehingga mereka mendatangi Rasulullah SAW di Mekkah dengan susah payah karena dihalang-halangi oleh penduduk Mekkah yang menentang Rasulullah SAW. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdullah bin Shamit, dia berkata: Abu Dzar pernah mengatakan: Aku keluar dari kaumku Ghiffar. Merekalah yang pernah menghalalkan bulan haram. Kami keluar ditemani oleh sau­daraku Unais dan Ibuku. Kami sempat mampir di rumah paman kami. Kami dihormati dan diberlakukan dengan baik sekali. Namun kaum pa­manku menghasut kami. Mereka mengatakan: Kalau sampai kamu ke­luar meninggalkan keluargamu, maka Unais akan menentang mereka. Rupanya pamanku telah termakan dan terpengaruh oleh hasutan mereka itu. Pamanku datang dan mengatakan apa yang dikatakan kepadanya itu. Aku katakan kepada pamanku: Mengenai kebaikan yang telah An­da berikan itu, ternyata Anda rusak sendiri. Dan setelah ini sudah tidak ada lagi kompromi dengan Anda. Kami lalu menuju ke unta kami dan naik ke atasnya. Kami lihat paman kami menangis seraya menutupi wajahnya dengan secarik kain. Kami berangkat sampai tiba di Makkah. Unais kemudian mendahului aku sendirian. Sedang Ibuku ikut bersama­nya. Keduanya menemui seorang paranormal. Rupanya paranormal itu cenderung simpati kepada Unais. Unais kemudian menemuiku kembali dengan untaku dan seekor unta lain yang sepertinya. Kata Abu Dzar lebih lanjut: Saudaraku itu mengatakan: Aku sudah sembahyang tiga tahun lalu sebelum aku bertemu dengan Rasulul­lah SAW wahai saudaraku. Aku bertanya: Untuk siapa Anda sem­bahyang? Dia menjawab: Untuk Allah. Aku bertanya lagi: Kemana Anda menghadap? Dia menjawab: Aku jelas menghadap ke arah mana Tuhanku menghadap aku. Pernah aku sembahyang Isya’ pada tengah malam terakhir. Aku terlempar seolah-olah aku tersembu­nyi sampai matahari menyengatku. Saudaraku Unais berkata kepadaku: Aku punya keperluan di Makkah. Tolong bantulah aku. Maka berangkatlah Unais ke Makkah. Lama sekali dia baru kembali kepadaku. Aku bertanya: Apa yang kamu lakukan disana dan kamu dapat pengalaman apa? Unais men­jawab: Di Makkah sana aku bertemu dengan seorang laki-laki yang se­agama denganmu. Dia mengaku bahwa dia diutus oleh Allah. Aku ber­tanya: Lantas apa kata orang-orang? Dia menjawab: Mereka me­ngatakan bahwa laki-laki itu adalah seorang penyair, seorang paranormal dan sekaligus seorang tukang sihir. Saudaraku Unais sendiri adalah salah seorang penyair. Selanjutnya Unais mengatakan: Sesungguhnya aku sendiri sering mendengar ucapan paranormal. Namun aku yakin dia tidak seperti yang mereka tuduhkan. Rasanya dia bukan seorang penyair biasa. Demi Allah, dia adalah orang yang jujur, dan merekalah yang dusta. Lalu aku katakan padanya: Sekarang tolonglah aku. Aku ingin pergi kesana hendak melihatnya sendiri. Sesampainya di Makkah aku menemui orang yang paling lemah di antara penduduknya. Aku ber­tanya padanya: Dimana orang yang kamu anggap beragama Shabiah itu? Orang itu malah melemparku dengan tanah liat dan tulang sampai aku jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian aku baru bisa bangkit kem­bali. Aku lihat tubuhku dan meminum airnya. Di sekitar sumur itulah aku tinggal selama sebulan. Siang malam tidak ada yang aku makan se­lain daripada meminum air zamzam. Tetapi anehnya tubuhku malah bertambah gemuk sehingga perutku kelihatan buncit. Pada suatu malam purnama yang sangat cerah, aku lihat para penduduk Makkah malah sama tidur nyenyak. Tidak ada seorang pun dari mereka yang terlihat sedang melakukan thawaf di sekitar Kabah. Tiba-tiba saja pandangan­ku tertumbuk pada dua sosok orang wanita dari penduduk setempat yang tengah memanggil kesana kemari sembari melakukan thawaf. Aku goda mereka dengan ucapan-ucapan yang kotor. Dan mereka kelihatan marah. Ketika hendak beranjak meninggalkan tempat tersebut, Rasulul­lah SAW dan Abu Bakar menyambutnya, dan bertanya: “Apa yang ter­jadi dengan kalian? Mereka menjawab: Seorang yang beragama Shabiah berada di sekitar Kabah itu. Rasulullah SAW bertanya: Apa yang dia katakan kepada kalian? Mereka menjawab: Dia mengucapkan ucapan-ucapan yang kotor kepada kami. Rasulullah SAW dan Abu Bakar kemudian memegang hajar aswad. Mereka lalu melakukan thawaf diteruskan dengan sembahyang. Selesai sembahyang, buru-buru aku menemui beliau. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan dijawabnya. Selanjutnya beliau mulai mena­nyakan: Siapa kamu? Aku jawab: Aku adalah orang dari kaum Ghiffar.” Sejenak beliau mengusapkan tangannya ke wajah. Dalam batin aku berkata sendiri: Sejatinya tidak pantas bagiku mengaku dari kaum Ghiffar. Aku lalu mendekat beliau dan memegang tangannya. Tapi maksudku itu dihalangi oleh Abu Bakar. Sambil mengangkat kepalanya beliau bertanya kepadaku: Kapan kamu mulai berada di tempat ini? Aku menjawab: Sudah kira-kira sebulan yang lalu. Beliau bertanya: Lalu siapa yang memberimu makan? Aku menjawab: Tidak ada yang aku makan selain hanya minum air zamzam. Tetapi nyatanya tubuhku gemuk bahkan perutku kelihatan buncit. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkah dan memberikan kekuatan seperti makanan. Abu Bakar mengatakan: Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memberinya makan malam ini. Rasulullah SAW dan Abu Bakar ke­mudian meninggalkan tempat tersebut, dan aku pun ikut bersama me­reka. Abu Bakar membuka pintu rumah. Begitu keluar dia membawa se­genggam kismis (anggur kering) dari Thaif untukku. Itulah makanan pertama yang sempat aku nikmati semenjak aku tiba di kota Makkah. Kemudian aku menemui Rasulullah SAW. Beliau bersabda kepadaku: Aku tahu ada sebuah daerah yang banyak menghasilkan kurma, yaitu Yatsrib atau Madinah. Bersediakah kamu menyampaikan hal itu kepada kaummu? Mudah-mudahan saja Allah menolong mereka lewat jasamu dan memberikan imbalan kepadamu. Aku kemudian kembali dan menemui Unais. Dia bertanya padaku: Apa yang telah kamu lakukan disana? Aku jawab: Aku telah masuk Islam dan aku telah membenarkan suara hatiku. Bukannya aku benci pada agamamu. Tetapi terus terang aku katakan bahwa aku telah masuk Islam dan aku membenarkan kata hatiku. Rupanya saudaraku Unais ikut masuk Islam. Ketika aku temui Ibuku dan aku katakan terus terang padanya bahwa aku telah masuk Islam, ia pun ikut masuk Islam. Demikian pula dengan separuh dari kaumku. Mereka pun ikut masuk Islam. Mereka dipimpin oleh Aima bin Rahadhah Al Ghiffari. Dialah pemimpin mereka. Separuh lainnya mengatakan: Kalau Rasulullah SAW mau datang berkunjung ke Madinah, maka kami akan masuk Islam. Begitu beliau datang ke Madinah, mereka pun akhirnya masuk Islam. Selanjutnya datang kabilah Aslam. Mereka mengatakan: Wahai Rasulullah, mereka itu adalah saudara-saudara kami. Kami harus ikut masuk Islam bersama mereka. Praktis semuanya lalu masuk Islam. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Kepada kabilah Ghiffar mudah-mudahan Allah mengampuni mereka, dan kepada kabilah Aslam mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan. (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply