Metodologi

Dialog Seri 0: 2

 

Tilmidzi: “Mengapa penjelasan tentang agama-Nya (Islam) dan manusia yang hidup di bumi ini dengan tanya jawab?”

 

Mudariszi: “Karena orang yang ingin mengetahui suatu perkara yang berkaitan dengan kehidupannya dan agama-Nya (Islam) adalah dengan bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Penjelasan dari orang yang mengetahuinya itu lalu dipikirkannya hingga kemudian dapat menimbulkan pertanyaannya yang lain, tujuannya agar dia mengetahui (memahami) perkara tersebut dengan benar. Demikian pula dengan Al Qur’an yang sebagian ayat-ayatnya berupa pertanyaan, tujuannya yaitu agar manusia memikirkannya dengan bertanya kepada dirinya atau kepada orang yang mengetahuinya supaya mengetahuinya (memahamnyai) dengan benar. Contoh seperti firman-Nya berikut ini:

 

Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? (Al ‘Alaq 11-13)

 

Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka? Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (Asy Syu’araa’ 205-207)

 

Orang yang ingin mengetahui perkara yang tidak diketahuinya itu sebenarnya dapat mengetahuinya dengan benar dari Al Qur’an itu sendiri jika dia membaca Al Qur’an dan memikirkannya dengan sungguh-sungguh, karena Allah SWT berfirman:

 

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqarah 147)

 

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 3-5)

 

Perantaraan kalam dalam firman-Nya di atas adalah perantaraan ayat-ayat Al Qur’an. Itu menunjukkan bahwa ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan perkara yang tidak diketahui atau dipikirkan oleh manusia. Dengan demikian, tanya jawab terjadi karena adanya suatu perkara yang dipikirkan untuk diketahui; dan akibat dari tanya jawab itu dapat menimbulkan pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, tujuannya untuk mengetahui (memahami) perkara tersebut dengan benar. Hal itu menunjukkan bahwa penjelasan melalui tanya jawab tersebut telah mengikuti perintah-Nya ini:

 

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan bukti-bukti dalam penjelasan ini?”

 

Mudariszi: “Bukti-bukti (dalil-dalil) dari penjelasan ini diambil dari Al Qur’an, karena mengikuti perintah-Nya ini:

 

Dan Al Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Al An’aam 155)

 

Dan diambil dari sunnah Rasulullah (As Sunnah), karena juga mengikuti perintah-Nya ini:

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya), dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)

 

Mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) karena Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah SWT kepada beliau dan beliau diajarkan-Nya dengan Al Qur’an, sehingga beliau merupakan hamba-Nya yang paling mengetahui tentang Dia, tentang Al Qur’an dan tentang agama-Nya (Islam). Allah SWT berfirman:

 

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dia-lah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (Al Furqaan 59)

 

Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (An Nisaa’ 113)

 

Dan Rasulullah SAW pula menjelaskan hal tersebut di atas sebagai berikut:

 

Dari Musa bin Thalhah dari ayahnya, dia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma dan beliau ber­sabda: “Jika pekerjaan itu bermanfaat bagi mereka, maka kerjakanlah, sesungguhnya itu hanya perkiraanku saja. Kalian jangan mengikuti perkiraan itu. Tetapi jika aku berbicara tentang Allah, maka ikutilah. Se­sungguhnya aku tidak mungkin berdusta mengenai Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.” (HR Muslim)

 

Dari Rafi bin Khadij, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan kehidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Al Qur’an dalam menjelaskan suatu perkara juga dengan memberikan bukti?”

 

Mudariszi: “Ya! Contohnya seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi itu atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al Ahqaaf 4)

 

Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Ash Shaaffaat 151-157)

 

Penjelasan yang tanpa bukti itu adalah dugaan atau persangkaan, yaitu pendapat (pemikiran) yang tanpa bukti. Penjelasan yang hanya berdasarkan pendapat saja tidak akan membawa kepada kebenaran sehingga tidak akan pernah benar. Dan Allah SWT telah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya ini:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. (Yunus 36)

 

Tilmidzi: “Apakah semua perkara dalam Al Qur’an yang tidak diketahui oleh manusia itu dijelaskan dalam tanya jawab ini?”

 

Mudarisizi: “Topik-topik (perkara-perkara) yang dibahas dalam tanya jawab ini hanyalah perkara-perkara yang dirasakan perlu untuk diketahui saja. Akan makan waktu yang panjang jika menjelaskan semua perkara yang tidak diketahui, karena Al Qur’an dan As Sunnah itu sebagai berikut:

 

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (ilmu-Nya dan hikmah-Nya). (Luqman 27)

 

Dan Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus dengan kata-kata yang singkat tapi padat isinya.” (HR Bukhari)

 

Sehingga, jika ada perkara yang belum dipahami (diketahui), maka hendaknya dibaca kembali apa yang telah dicatat (dijelaskan) dan dibaca pula kitab tafsir Al Qur’an, hadis, sejarah Nabi dan para sahabat, dan kitab para ulama terdahulu yang ditunjuki-Nya. Jika dirasakan ada perbedaan pendapat akibat dari pengambilan bukti (dalil) Al Qur’an dan As Sunnah, maka perbedaan itu sebaiknya diluruskan tanpa harus diperdebatkan. Karena ilmu dan hikmah Al Qur’an itu sangat luas, dan Allah SWT menganugerahkan hikmah dan ilmu kepada setiap hamba-Nya tidaklah sama. Allah SWT berfirman:

 

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)

 

Dan hanya Allah SWT saja yang paling mengetahui orang-orang yang berniat baik atau jahat, yang berfikir dengan benar, yang bertaubat dan memperbaiki dirinya, yang beriman, yang bertakwa dan yang memahami Al Qur’an, As Sunnah dan agama-Nya (agama Islam). Allah SWT berfirman:

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)

 

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (Al Mu’min 56)

 

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut Ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An Najm 32)

 

Wassalamu’alaikum.