Dialog Seri 31: 2
Tilmidzi: “Apakah setiap orang dapat menjadi Ihsan?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. (Ar Rahmaan 1-4)
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 3-5)
Kalam dalam firman-Nya di atas yaitu wahyu-wahyu Allah atau Al Qur’an. Sehingga Allah SWT mengajarkan Al Qur’an kepada manusia dengan perantaraan kalam adalah Dia mengajarkan Al Qur’an kepada manusia dengan Al Qur’an. Allah SWT mengajarkan Al Qur’an itu termasuk mengajarkan agama-Nya yaitu agama Islam, karena agama Islam dijelaskan dalam Al Qur’an. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura 13)
Dari Ibnu Syihab dari Humaid Abdurrahman, ia berkata: “Saya mendengar Mu’awiyah sewaktu ia berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia memberi (pemahaman).” (HR Bukhari)
Orang-orang yang dikehendaki-Nya (dalam firman-Nya di atas) untuk Dia tunjuki dan ajarkan Al Qur’an dan agama Islam yaitu orang-orang yang bertaubat dan yang ingin kebaikan bagi dirinya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (Al Insaan 29)
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yunus 107
Allah SWT akan menganugerahkan Al Hikmah kepada orang yang sungguh-sungguh belajar Al Qur’an dan agama Islam ketika dia diajarkan oleh Allah SWT. Adapun Al Hikmah itu adalah sebagai berikut:
Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah 269)
Al Hikmah atau kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah dalam firman-Nya di atas itu termasuk kepahaman tentang agama Islam dan syariat agama Islam yang terdiri dari pokok-pokok agama dan mu’amalah. Mu’amalah merupakan interaksi manusia dengan makhluk-makhluk di langit dan di bumi akibat dari ketetapan Allah yang menundukkan semua makhluk di langit dan di bumi untuk manusia (untuk keperluan hidup manusia). Karena itu manusia ketika menjalani hidupnya wajib mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan dalam agama Islam agar tidak terjadi kerusakan pada bumi. Dan semua itu dijelaskan dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)
Dengan demikian, setiap orang dapat menjadi Ihsan selama dia bertaubat dan ingin kebaikan bagi dirinya. Allah SWT akan mengajarkannya Al Qur’an dan agama Islam dengan Al Qur’an dan menunjukinya dengan Al Qur’an sampai dia menjadi Ihsan.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT ajarkan manusia tentang Al Qur’an dan agama Islam dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Orang pertama yang diajarkan Al Qur’an dan agama Islam dengan Al Qur’an oleh Allah SWT adalah Rasulullah SAW. Itu terjadi karena Rasulullah SAW ditugaskan-Nya untuk menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia. Sebelum Al Qur’an turun kepada Rasulullah SAW, beliau tidak mengetahui Allah SWT, Kitab-Nya (Al Qur’an) dan Iman kepada-Nya (agama Islam), seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)
Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW melalui Jibril; Dia mengajarkan beliau cara membaca, menghafal, memahami Al Qur’an dengan benar. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 3-5)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)
Janganlah kamu (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (Al Qiyaamah 16-19)
Selama Al Qur’an diturunkan, Rasulullah SAW diajarkan tentang peraturan (syariat) agama Islam termasuk hukum-hukum yang Dia tetapkan. Hukum-hukum agama itu harus dijalankan ketika mengadili dan memutuskan perkara di antara manusia. Allah SWT berfirman:
Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Yunus 37)
Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (Al Baqarah 242)
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. (An Nisaa’ 58)
Semua ucapan dan perbuatan Rasulullah ketika menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an (termasuk hikmah-hikmah Al Qur’an) dan agama Islam (termasuk syariat dan hukum-hukum) kepada manusia itu dicatat oleh para sahabat hingga menjadi As Sunnah.”
Tilmidzi: “Apakah penjelasan Rasulullah kepada manusia itu merupakan pengajaran beliau kepada manusia tentang Al Qur’an dan agama Islam dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW melalui Jibril, seperti dijelaskan firman-Nya berikut ini:
Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (An Nisaa’ 113)
Rasulullah SAW lalu menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam itu kepada manusia dengan mengikuti apa yang Allah SWT ajarkan kepada beliau. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. (Al Maa-idah 4)
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)
Rasulullah SAW juga menjelaskan dan menjalankan syariat agama Islam dan hukum-hukum agama kepada manusia dalam mengadili dan memutuskan perkara di antara manusia ketika mereka semua menjalani hidupnya. Dan Rasulullah SAW lalu memperingatkan mereka dengan firman-Nya ini:
Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 229)
Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Ath Thalaaq 1)
Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. (Al Baqarah 231)
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Al Maa-idah 5)
Penjelasaan dan perbuatan Rasulullah kepada manusia tentang Al Qur’an dan agama Islam mengikuti penjelasan Allah kepada beliau itu merupakan pengajaran beliau kepada manusia. Sehingga, jika Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an melalui Jibril, maka Allah SWT mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia dengan Al Qur’an melalui Rasulullah SAW. Karena itu Allah SWT lalu perintahkan umat Islam untuk mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) dan tidak mendahului-Nya dan Rasulullah SAW ketika mereka menjalani hidupnya, sebagai berikut:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hasyr 7)
Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An Nisaa’ 80)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. (Al Hujuraat 1)
Tilmidzi: “Apakah dengan pengajaran Al Qur’an dan agama Islam tersebut lalu manusia telah beriman?”
Mudariszi: “Pengajaran Allah tentang Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia dengan Al Qur’an itu belum menjadikan mereka telah beriman, tapi baru membuat mereka tunduk kepada agama Islam. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu.” (Al Hujuraat 14)
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al Hujuraat 17)
Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui keimanan atau iman tersebut masuk ke hati seorang muslim?”
Mudariszi: “Iman masuk ke hati seorang muslim dapat diketahui dari ucapan dan perbuatannya yang dijalankannya di jalan yang lurus, yaitu ucapan dan perbuatan yang mengikuti perintah dan larangan yang Allah SWT tetapkan dalam agama Islam yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Adapun jalan yang lurus itu sebagai berikut:
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)
Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka (dalam firman-Nya di atas) adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan. Mereka itulah orang-orang yang ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus. Sedangkan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (dalam firman-Nya di atas) adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan melanggar perintah dan larangan yang Dia tetapkan. Mereka berbuat demikian karena dihalang-halangi oleh syaitan yang tidak ingin mereka menempuh jalan yang lurus agar mereka tidak ditunjuki-Nya hingga menjadi sesat. Allah SWT berfirman:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Keinginan Iblis akan menyesatkan manusia itu lalu menghendaki Allah SWT berjanji akan menjaga manusia dari kejahatan syaitan (Iblis) dan akan memberikan petunjuk kepada manusia kepada jalan yang lurus. Jika manusia telah ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan yang lurus, maka syaitan tidak akan dapat menyesatkannya. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. (Al Lail 12)
Karena itu Allah SWT perintahkan manusia melalui firmanNya ini:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. (Al An’aam 153)
Sehingga, ketika seorang muslim meminta kepada Allah SWT agar ditunjuki kepada jalan yang lurus, itu berarti iman kepada Allah SWT telah masuk ke dalam hatinya karena dia telah mengikuti perintah-Nya. Permintaannya itu juga permintaan agar Allah SWT menjaganya dari syaitan yang menggodanya setiap saat. Allah SWT berfirman:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al Faatihah 1-6)
Sebaliknya, muslim yang menjalani hidupnya dengan melanggar perintah dan larangan yang Allah SWT tetapkan, maka iman kepada Allah SWT belum masuk ke hatinya, sekalipun dia pandai Al Qur’an dan agama Islam. Pelanggarannya itu menunjukkan dia berpaling dari pengajaran Allah kepadanya (tentang Al Qur’an dan agama Islam), sehingga dia tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus dan tidak dilindungi-Nya dari syaitan. Akibatnya itu memudahkan syaitan untuk menyesatkannya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 36-37)
Tilmidzi: “Lalu, apakah Allah SWT menunjuki manusia ke jalan yang lurus juga dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (Yunus 108)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT tunjuki manusia dengan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW merupakan orang pertama yang ditunjuki oleh Allah SWT kepada jalan yang lurus dengan Al Qur’an. Allah SWT menunjuki Rasulullah SAW dengan memerintahkan beliau agar berbuat (beramal) mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan ketika beliau menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia. Jika terdapat orang yang salah dalam menyembah Allah SWT, salah dalam beribadah pokok dan bermu’amalah, maka Rasulullah SAW memperbaikinya mengikuti Al Qur’an. Perbuatan Rasulullah itu membuat ada yang menyukai dan ada yang membenci Al Qur’an dan agama Islam, sehingga ada yang membela (membantu) beliau dan ada pula yang menzalimi (menghalang-halangi) beliau. Pihak yang tidak menyukai Rasulullah SAW, Al Qur’an, agama Islam hingga menghalang-halangi beliau itu adalah syaitan dari golongan jin dan manusia (orang-orang kafir dan munafik), yaitu syaitan yang tidak ingin manusia mengetahui dan menempuh jalan-Nya yang lurus. Allah SWT berfirman:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu; Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Hajj 52)
Allah SWT membiarkan syaitan itu mengganggu Rasulullah SAW agar beliau mengambil pelajaran darinya hingga beliau memahami cara-cara syaitan menyesatkan manusia dan memahami larangan-Nya dalam Al Qur’an. Akibatnya, Rasulullah SAW tidak dapat disesatkan oleh syaitan ketika menyampaikan Al Qur’an. Itu berarti Rasulullah SAW tidak pernah melanggar perintah dan larangan yang Dia tetapkan, dan tiada siapapun yang dapat menyesatkan orang yang Dia telah tunjuki ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:
Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (An Nisaa’ 113)
Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. (Az Zumar 37)
Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Az Zumar 23)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menunjuki Rasulullah SAW kepada jalan yang lurus dengan Al Qur’an itu bersamaan dengan ketika Dia mengajarkan beliau tentang Al Qur’an dan agama Islam?”
Mudariszi: “Ya! Bersamaan ketika Rasulullah SAW diajarkan tentang Al Qur’an dan agama Islam oleh Allah SWT dengan Al Qur’an, maka beliau juga ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus dengan Al Qur’an. Pengajaran Allah itu membuat Rasulullah SAW lalu memahami Al Qur’an dan agama Islam, serta sekaligus beriman dan bertakwa kepada-Nya. Pengajaran Allah itu juga membuat Rasulullah SAW berada di jalan yang lurus dan menunjuki jalan yang lurus kepada manusia ketika menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (Asy Syuura 52-53)
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 43-44)
Perbuatan dan ucapan Rasulullah kepada manusia ketika beliau menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam, lalu menjadi hikmah Al Qur’an atau As Sunnah, dan itu menjadi pengajaran dan petunjuk beliau kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al Jumu’ah 2)
Rasulullah SAW mensucikan mereka dalam firman-Nya di atas yaitu beliau mengajarkan manusia tentang jalan untuk menghilangkan dosa-dosa mereka yaitu dengan taat beribadah (menyembah) atau bertakwa kepada Allah SWT ketika menjalani hidupnya. Allah SWT lalu perintahkan manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW (As Sunnah) dan Al Qur’an agar ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, melalui firman-Nya berikut ini:
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab 21)
Orang yang menjalankan perintah-Nya di atas itulah orang yang ingin menempuh jalan yang lurus, hingga dia menjadi orang yang dikehendaki-Nya untuk diberikan-Nya petunjuk kepada jalan yang lurus dengan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (At Takwiir 27-28)
Dan Kami memberi kamu taufik ke pada jalan yang mudah, oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Al A’laa 8-11)
Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (Al An’aam 39)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berikan petunjuk kepada manusia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak dapat memberikan petunjuk kepada manusia. Petunjuk kepada manusia hanya diperoleh dari Allah SWT dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah 272)
Maksud Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada manusia yaitu beliau menjelaskan dan mengajarkan manusia kepada jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an dan sunnah beliau. Itupun Rasulullah SAW hanya dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dijelaskan-Nya ini:
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah khabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Yaasiin 11)
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum 53)
Rasulullah SAW sebelum ditunjuki-Nya dengan Al Qur’an tidak berbeda dengan manusia lainnya, yaitu sama-sama tidak mengetahui jalan yang lurus. Rasulullah SAW mengetahui jalan yang lurus setelah diajarkan dan ditunjuki oleh Allah SWT dengan Al Qur’an ketika menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam kepada manusia dengan mengikuti perintah dan larangan yang Dia tetapkan. Ucapan dan perbuatan Rasulullah di jalan yang lurus itu lalu menjadi pengajaran dan petunjuk beliau kepada manusia. Sehingga, orang yang mengikuti Rasulullah SAW berarti dia mengikuti perbuatan beliau. Ketaatannya mengikuti perbuatan Rasulullah itu lalu menghendaki Allah SWT menunjukinya kepada jalan yang lurus dengan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (An Nuur 54)
Tilmidzi: “Bagaimana jika terdapat perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Dalam perkara pokok-pokok agama, tidak akan ada perbuatan (ibadah) manusia yang berbeda dengan Rasulullah SAW. Tetapi dalam perkara mu’amalah, mungkin terdapat perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Itu terjadi karena perubahan lingkungan dan sarana kehidupan di masa Rasulullah SAW dan di masa kemudiannya. Untuk mengatasi perbedaan itu, Rasulullah SAW mengizinkan umat Islam untuk berijtihad dan memutuskannya dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu sebagai berikut:
Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata: “Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ke Yaman. Beliau bersabda: “Bagaimana kamu memutus?” (Mu’adz menjawab): “Saya memutus dengan hukum yang berada di dalam Kitab Al Qur’an.” Rasulullah SAW bersabda: “Kalau hukum itu tidak terdapat di Kitab Allah?” Mu’adz berkata: “Saya akan memutus dengan sunnah Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Kalau hukum itu tidak terdapat dalam sunnah Rasulullah?” Mu’adz menjawab: “Saya berijtihad dengan pendapatku.” Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah.” (HR Tirmidzi)
Dari Amr bin Al Ash, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan menggunakan ijtihad kemudian dia benar, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan kalau hakim itu memutuskan perkara dengan menggunakan ijtihad lalu dia keliru, maka dia memperoleh satu pahala.” (HR Muslim)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(–Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang ditunjuki-Nya akan berbuat (beramal) langsung di jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Allah SWT menunjuki manusia kepada jalan yang lurus menurut tingkat ilmu setiap orang, sehingga orang yang ditunjuki-Nya itu tidak langsung akan berada di jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali ‘Imran 101)
Memegang teguh agama Islam akan mendorong orang yang ditunjuki-Nya itu mempelajari agama Islam dengan membaca dan mempelajari Al Qur’an. Al Qur’an yang menjelaskan tentang Rasulullah SAW yang menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam yang dibantu oleh para sahabat dan diperkuat oleh kisah Nabi-Nabi, mendorong orang itu untuk mempelajari As Sunnah dan kisah Nabi-Nabi. Para sahabat yang melanjutkan penyampaian Al Qur’an dan perluasan agama Islam di bumi dengan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, juga dipelajariya. Para alim ulama (setelah para sahabat) yang ditunjuki-Nya yang memudahkan manusia mempelajari Al Qur’an dan agama Islam juga dipelajarinya. Secara bertahap orang itu menjadi berilmu dan lalu memperbaiki dirinya dengan taat menjalankan perintah dan larangan yang Dia tetapkan. Perubahan perbuatannya itu karena pengajaran dan petunjuk Allah kepadanya dengan Al Qur’an yang sebagiannya berisi ancaman dari-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (Thaahaa 113)
Musuh Allah dan musuh orang-orang beriman yang tidak menyukai agama Islam yang dijelaskan di Al Qur’an juga dipelajari oleh orang itu hingga dia berhati-hati ketika menjalani hidupnya. Ujian musibah atau harta yang Dia berikan juga dihadapinya dengan hati-hati dan sabar, karena semua itu berakibat kepada perbuatannya yaitu di jalan yang lurus atau di jalan yang sesat. Semua itu juga akan menambah ilmunya, imannya dan ketakwaannya jika dijalaninya dengan taat mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga dia di jalan-Nya yang lurus itu menurut tingkat ilmunya dan ketakwaannya:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (At Taghaabun 16)
Dari Aisyah, ia berkata: “Apabila Rasulullah menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan. Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni engkau terhadap dosa yang terdahulu dan terkemudian.” Lalu beliau marah sehingga kemarahan itu diketahui (tampak) di wajah beliau, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling tahu tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya.” (HR Bukhari)
Pengajaran dan petunjuk Allah itu akan membuatnya menjadi orang yang Ihsan, yaitu dia beriman dan bertakwa dengan dia selalu berjihad di jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia hingga dia sampai kepada Allah SWT di akhirat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujuraat 15)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Wallahu a’lam.