Dialog Seri 20: 65
Tilmidzi: “Apakah agama penduduk kota Mekkah dan sekitarnya sebelum dan ketika Al Qur’an diturunkan kepada mereka?”
Mudariszi: “Agama bangsa Arab di Jazirah Arab termasuk penduduk di Mekkah dan di sekitarnya ketika Al Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah agama yang menyembah patung berhala, yaitu menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT. Mereka itu orang-orang (kaum) musyrik. Mereka tidak berbeda dengan kaum-kaum penyembah berhala terdahulu yang dimusnahkan-Nya. Hanya sedikit dari bangsa Arab ketika itu memeluk agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:
Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. (Huud 109)
Nenek moyang dalam firman-Nya di atas yaitu orang-orang terdahulu yang menyembah patung berhala. Patung-patung berhala di Jazirah Arab tersebut tidak berbeda dengan patung-patung di awal penyembahan berhala, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wudd milik Suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di Suku Hudzail. Yaghuts milik Suku Murad kemudian milik Suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba’. Adapun Ya’uq milik Suku Hamadan. Naser adalah milik Suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaithan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: “Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala, dan berilah nama berhala-berhala itu dengan nama–nama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala tersebut tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah penduduk di Jazirah Arab termasuk di Mekkah dan di sekitarnya itu beragama menyembah tuhan berhala karena syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah memusnahkan kaum-kaum musyrik terdahulu, sehingga seharusnya tidak ada lagi penyembah berhala. Tapi karena kepandaian syaitan dalam menipu manusia tentang Allah SWT, maka penyembah patung berhala itu kembali ada di Jazirah Arab termasuk di Mekkah dan di sekitarnya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk). (An Nahl 63)
Dari ‘Iyaadl bin Himar Al Mujasyi’iy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: “Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: “Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba–Ku dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” (HR Muslim)
Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)
Tilmidzi: “Apakah tujuan kaum musyrik dengan menyembah tuhan (patung) berhala?”
Mudariszi: “Kaum musyrik menyembah patung (tuhan) itu karena mereka beranggapan sebagai berikut:
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar 3)
Padahal dugaan mereka itu tidak mungkin terjadi, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu(-Nya), sekali-kali tidak mungkin!” (Saba’ 27)
Tuhan-tuhan kaum musyrik itu tidak mungkin dapat mendekatkan mereka kepada Allah SWT (seperti dijelaskan firman-Nya di atas), karena Dia tidak mempunyai sekutu (tuhan lain) atau anak (keluarga) dalam menciptakan dan memelihara semesta alam dan apa yang ada di semesta alam. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu melalui Rasulullah SAW sebagai berikut:
Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’ 22)
Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong.” (Al Israa’ 111)
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al Ikhlash 1-4)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa tidak ada patung atau tuhan apapun (siapapun) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Sehingga dugaan kaum musyrik tersebut di atas adalah mustahil dan tidak benar.”
Tilmidzi: “Apakah kaum musyrik mempunyai kitab agamanya?”
Mudariszi: “Kaum musyrik mempunyai kitab agamanya, tapi kitab agamanya itu bukan dari Allah SWT. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. (Saba’ 44)
Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)
Kitab agama mereka itu dibuat oleh manusia yaitu oleh pemuka agama mereka menurut anggapannya sendiri. Contoh, mereka menetapkan tuhan-tuhannya, anak-anak tuhan, nama-nama tuhan-tuhannya, yaitu sebagai berikut:
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. (Yusuf 40)
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? (An Najm 19-21)
Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekkah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?” Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Ash Shaaffaat 149-157)
Pertanyaan dalam firman-Nya di atas itu bertujuan agar kaum musyrik mau memikirkan kebenaran tuhan-tuhan mereka dalam kitab agamanya. Karena dengan mereka tetap membenarkan dugaannya (amggapannya) yang salah itu, berarti mereka telah berdusta dan akan berakibat kepada kerugian bagi dirinya sendiri. Jika mereka mau memikirkan Tuhan yang benar, mereka tidak seharusnya membaca kitab yang dibuat oleh manusia, karena mustahil manusia dapat mengetahui Tuhannya yang ghaib dengan benar. Tetapi mereka seharusnya membaca kitab dari Tuhannya yang menjelaskan tentang Dia, yaitu Al Qur’an, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)
Tilmidzi: “Apakah syariat agama mereka juga ditetapkankan menurut anggapan mereka sendiri?”
Mudatiszi: “Ya! Syariat agama mereka juga dibuat oleh pemuka agama mereka menurut anggapannya sendiri. Adapun contoh syariat agamanya yang mereka tetapkan sendiri menurut anggapannya, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahirah, saaibah, washilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (Al Maa-idah 103)
Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengatakan: ”Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami”, dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 138-139)
Semua perkara di atas bukan dari Allah SWT tapi dari manusia yang dikatakannya nenek moyangnya.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kaum musyrik itu beragama menurut anggapannya?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, patung-patung yang dikatakannya sebagai tuhannya itu tidak ada satupun yang serupa; itu terjadi karena bentuk patung itu dibuat menurut khayalan (anggapan) setiap penyembahnya. Begitu pula dengan nama tuhan-tuhannya. Mereka mengetahui semua itu berdasarkan anggapannya, tetapi mereka tetap melakukannya. Contoh, mereka memberikan makanan untuk Allah SWT dan untuk tuhan-tuhannya. Mereka mengetahui makanan itu tidak akan sampai kepada Allah SWT dan tuhan-tuhan mereka, karena mereka mengetahui makanan itu tetap di tempatnya sampai hancur. Allah SWT menjelaskan hal itu agar mereka memahaminya, melalui firman-Nya ini:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan oleh Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka. (Al An’aam 136)
Mereka beranggapan tentang kehidupan bagi manusia itu sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jaatsiyah 24)
Sehingga, kaum musyrik beragama menyembah tuhan (patung) berhala hanya karena menurut anggapannya saja. Padahal anggapan (persangkaan) yang tidak berdasarkan pengetahuan dan bukti-bukti yang jelas itu adalah anggapan yang tidak akan membawa kebenaran baginya tetapi justru akan merugikan dirinya sendiri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus 36)
Wallahu a’lam.