Dialog Seri 2: 5
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menciptakan segala sesuatu termasuk langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi dengan ukuran waktu?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. (Ar Ruum 8)
Allah SWT menetapkan ukuran-ukuran bagi segala sesuatu itu termasuk ukuran-ukuran bagi langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi. Ketetapan ukuran itu termasuk ketetapan ukuran waktu hidup, sehingga langit dan bumi dan setiap makhluk di langit dan di bumi memiliki ukuran (jangka) waktu hidup di dunia.”
Tilmidzi: “Jika demikian, bukankah langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi akan mati?”
Mudariszi: “Ya! Langit dan bumi dan semua apa yang ada (termasuk semua makhluk) di langit dan di bumi akan mati. Hanya Allah SWT saja yang tidak mati. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Qashash 88)
Kehancuran semesta alam atau langit dan bumi beserta apa yang ada di langit dan di bumi itulah kiamat yang waktunya hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)
Dengan terjadinya kiamat atau matinya langit dan bumi dan semua yang ada di langit dan di bumi, maka berakhir kehidupan dunia (tidak ada lagi semesta alam).”
Tilmidzi: “Jika demikian, untuk apakah Allah SWT menciptakan langit dan bumi beserta apa yang ada di langit dan di bumi jika pada akhirnya semuanya mati?”
Mudariszi: “Matinya langit dan bumi dan semua makhluk di langit dan di bumi itu bukan berarti berakhirnya kehidupan mereka. Kehidupan dunia memang berakhir bagi semua makhluk di dunia, tapi kehidupan dunia itu akan diganti oleh Allah SWT dengan kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (An Najm 47)
Dalam kehidupan akhirat itu Allah SWT akan mengulang penciptaan langit dan bumi dan membangkitkan (menghidupkan) semua makhluk di langit dan di bumi yang telah mati. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali.” (Yunus 34)
Tilmidzi: “Untuk apakah Allah SWT mengulang kembali penciptaan langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi itu dalam kehidupan akhirat?”
Mudariszi: “Pada hari setelah semua makhluk dibangkitkan-Nya, mereka semua akan dikumpulkan di padang Mahsyar menghadap kehadirat Allah SWT Tuhannya. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim 48)
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam 93)
Tujuan dikumpukannya mereka semua, yaitu agar mereka menyaksikan Allah SWT menghisab (mengadili) perbuatan manusia ketika di dunia, hingga Dia membalas manusia atas perbuatannya itu. Allah SWT berfirman:
Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)
Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu. (Yunus 30)
Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). (An Nuur 25)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT harus menghisab perbuatan manusia di dunia?”
Mudariszi: “Karena Allah SWT meminta pertanggungan jawaban manusia atas amanah yang telah bersedia dipikulnya dalam menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (Al Ahzab 72)
Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Ahzab 15)
Tilmidzi: “Apakah balasan dari Allah SWT atas perbuatan manusia di dunia itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At Taghaabun 9-10)
Orang-orang yang selama di dunia berbuat kebaikan (beramal saleh) dengan mengikuti ayat-ayat-Nya (peraturan agama-Nya), maka mereka dibalas-Nya dengan ditempatkan di surga. Sedangkan orang-orang yang berdosa yaitu yang berbuat kejahatan karena mengingkari ayat-ayat-Nya, maka mereka dibalas-Nya dengan ditempatkan di neraka. Allah SWT berfirman:
(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, maka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 81-82)
Kehidupan manusia di surga dan di neraka itulah kehidupan akhirat dan mereka hidup kekal di tempatnya masing-masing.”
Tilmidzi: “Apakah kekal tinggal di surga atau neraka dalam firman-Nya di atas itu berarti manusia hidup di tempatnya tanpa mati-mati lagi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. (Ad Dukhaan 51-57)
Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (Al A’laa 11-13)
Rasulullah SAW pula menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat maut didatangkan berupa seperti kambing gibas yang belang (Abu Kuraib dalam periwayatannya menambahkan: lalu dihentikan di antara surga dan neraka) kemudian diserukan: “Hai ahli surga, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan memandang lalu berkata: “Ya, itu adalah maut.” Kemudian diserukan: “Hai ahli neraka, apakah kalian mengenali ini?” Mereka mendongak dan melihat lalu berkata: “Ya, itu maut.” Lantas diperintahkan agar maut itu disembelih, lalu diserukan: “Hai ahli surga, kalian tetap kekal, tidak akan mati; dan hai ahli neraka, kalianpun kekal, tidak akan mati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, yaitu ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak pula beriman.” (surat Maryam ayat 39). Kemudian beliau menunjuk dunia dengan tangan beliau.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kehidupan dunia itu hanya kehidupan sementara dan bukan tujuan hidup yang sebenarnya bagi manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 20)
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Tilmidzi: “Apakah surga dan neraka sudah diciptakan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan surga dan neraka sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Lihatlah ke surga dan apa yang telah Aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu malaikat Jibril berangkat ke surga dan melihatnya dan apa yang telah di persiapkan oleh Allah bagi penghuninya.” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Jibril pulang menghadap Allah dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorang pun mendengarnya melainkan ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan surga lalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan Dia berfirman: “Kembalilah ke surga lalu lihatlah ia dan apa yang telah aku persiapkan bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Jibril kembali ke surga ternyata telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu ia kembali kepada–Nya, dan berkata: “Demi keagungan–Mu sungguh aku khawatir tidak seorangpun memasukinya.” Allah berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Surga dan nereka yang belum berpenghuni yang dilihat oleh Jibril dalam sunnah Rasulullah di atas, menunjukkan surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Dan sunnah Rasulullah berikut ini pula menjelaskan surga dan neraka telah diciptakan-Nya:
Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Jika demikian, dimanakah surga itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan luas surga melalui firman-Nya ini:
Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al Hadiid 21)
Firman-Nya di atas menunjukkan surga berada di luar langit, yang berarti di luar bumi pula, karena bumi berada dalam ruang langit. Ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj, beliau dibawa ke Sidratul Muntaha yang berada di atas langit ke tujuh, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku dibawa naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana aku menemukan Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur (Ka’bah). Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur itu dan mereka tidak kembali lagi kesana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku.” (HR Bukhari)
Allah SWT membenarkan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah dengan Jibril itu dan Dia membenarkan beliau pula telah melihat surga dari Sidratul Muntaha, melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (An Najm 13-15)
Firman-Nya dan sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa surga itu berada di luar langit, yaitu di atas langit ke tujuh atau di atas langit.”
Tilmidzi: “Lalu dimanakah neraka itu?”
Mudariszi: “Setelah penghisaban perbuatan manusia selesai, orang-orang yang menuju ke surga dari padang Mahsyar akan melalui jembatan (sirath), seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan beliau bersabda: “Kemudian dibentangkan jembatan (sirath) di atas neraka Jahannam dan syafa’at diperbolehkan. Mereka mengucap: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Ada yang menanyakan: “Ya Rasulullah, apakah jembatan itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkait itu. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang bagai kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok: selamat tidak kurang suatu apa, terkoyak-koyak tapi bisa bebas, dan terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” (HR Muslim)
Orang-orang yang berdosa (atau orang-orang munafik) akan jatuh ke bawah, yaitu ke neraka, ketika melalui jembatan itu. Sebagian orang yang akan memasuki surga tertahan di atas Al A’raaf. Selama tertahan di Al A’raaf, mereka melihat neraka di bawahnya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun‘alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.” (Al A’raaf 46-47)
Jika Al A’raaf merupakan pembatas antara penghuni surga dan penghuni nereka (dalam firman-Nya di atas) dengan neraka di bawah surga, maka neraka itu merupakan tempat langit dengan tujuh langit. Karena ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dan mengunjungi Sidratul Muntaha, surga itu di atas langit atau di atas langit ke tujuh (seperti yang telah dijelaskan di atas). Dengan demikian, neraka itu berada di langit dan bumi atau dekat dengan langit dan bumi. Neraka berarti berada dalam kehidupan dunia, tapi tidak terlihat oleh manusia karena telah diubah oleh Allah SWT dengan dikelilingi oleh perkara-perkara yang menyenangkan, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Penjelasan Rasulullah berikut ini juga menunjukkan bahwa neraka berada di dunia atau dekat dengan dunia (langit dan bumi):
Dari Abu Sa’id, dia berkata: “Bersabda Rasulullah SAW: “Akhirkanlah shalat Zhuhur (hingga sengatan panas di siang hari telah menghilang), sesungguhnya sengatan panas itu adalah dari uap Jahanam.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Kami sedang bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau mendengar suara benda jatuh, maka beliau bertanya: “Tahukah kamu, apakah yang jatuh itu?” Kami berkata: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh musim, ia meluncur turun di neraka, sekarang sampai di dasarnya.” (HR Muslim)
Bahkan langit dan bumi yang awalnya bersatu dan merupakan asap, seperti firman-Nya ini:
Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiyaa’ 30)
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi. (Fushshilat 11)
Maka asap dalam firman-Nya di atas bukan tidak mungkin merupakan asap dari api neraka, karena semua makhluk termasuk manusia yang hidup di dunia yang berasal dari partikel-partikel asap tersebut, dapat menjalani hidupnya di neraka. Sehingga itu menunjukkan pula bahwa neraka berada di kehidupan dunia (langit dan bumi) atau dekat dengan kehidupan dunia.”
Wallahu a’lam.