Dialog Seri 3: 2
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjadikan malaikat Jibril?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan malaikat Jibril sebagai berikut:
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Jumlah sayap Jibril adalah seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Zirr bin Hubaisy mendengar Abdullah bin Mas’ud yang membaca (surat An Najm ayat 18): “Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” Abdullah berkata: “Rasulullah SAW telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki enam ratus sayap.” (HR Muslim)
Kebesaran Jibril dengan enam ratus sayapnya itu menutup ruang antara langit dan bumi seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Masruq, dia berkata: “Aisyah berkata: “Aku adalah orang pertama dari umat ini yang menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Itu adalah Jibril. Aku tidak melihatnya dalam bentuk aslinya kecuali dua kali ini. Aku melihatnya turun dari langit, kebesaran bentuknya menutupi ruang antara langit sampai ke bumi.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW melihat JIbril?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW melihat Jibril dalam bentuknya yang asli sebanyak dua kali. Yang pertama seperti yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah di atas dan yang kedua dijelaskan dalam firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (An Najm 13-18)
Rasulullah SAW melihat Jibril di Sidratil Muntaha ketika beliau melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj hingga ke atas langit ke tujuh yang dibawa oleh Jibril seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi Buraq. Lalu aku menungganginya sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan shalat dua raka’at disana. Setelah itu aku keluar. Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu. Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah (Islam dan istiqamah).” Lalu Jibril membawaku naik ke langit.” (HR Muslim)
Tilmidzi: ”Bagaimana Rasulullah SAW dapat melihat malaikat Jibril padahal malaikat itu ghaib?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini”
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.” (An Naml 65)
Firman-Nya di atas menunjukkan semua makhluk di langit dan di bumi tidak mengetahui yang ghaib. Tapi Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jin 26-27)
Rasulullah SAW termasuk Rasul yang diridhai-Nya, sehingga beliau dizinkan-Nya dapat melihat malaikat Jibril yang ghaib dalam bentuk aslinya. Allah SWT berfirman:
Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (At Takwiir 22-24)
Dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia (Jibril) mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya (Muhammad) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (An Najm 6-11)
Tilmidzi: “Bagaimana kedudukan Jibril di sisi Allah SWT dan di antara para malaikat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)
Kedudukan Jibril yang tinggi di sisi-Nya itu ditunjukkan-Nya dengan Dia mengutus Jibril ke surga dan ke neraka, seperti dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Lihatlah ke surga dan apa yang telah Aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu malaikat Jibril berangkat ke surga dan melihatnya dan apa yang telah di persiapkan oleh Allah bagi penghuninya.” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Jibril pulang menghadap Allah dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorang pun mendengarnya melainkan ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan surga lalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan Dia berfirman: “Kembalilah ke surga lalu lihatlah ia dan apa yang telah aku persiapkan bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Jibril kembali ke surga ternyata telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu ia kembali kepada–Nya, dan berkata: “Demi keagungan–Mu sungguh aku khawatir tidak seorangpun memasukinya.” Allah berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Mengapa Jibril berhubungan dengan hamba-hamba-Nya (manusia)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya berikut ini:
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy Syuura 51)
Malaikat yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya itu adalah Jibril. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
(Dia-lah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). (Al Mu’min 15)
Contoh Rasul yang menerima wahyu-wahyu-Nya yang disampaikan oleh Jibril adalah Rasulullah SAW, dan wahyu-wahyu-Nya itu adalah Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)
Tilmidzi: “Apakah Jibril juga menjelaskan wahyu-wahyu-Nya yang disampaikan kepada Rasul-Rasul?”
Mudariszi: “Ya! Contoh Jibril menjelaskan dan mengajarkan Rasulullah SAW membaca Al Qur’an hingga dipahami dan dihafal oleh beliau. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, tentang firman: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya)”, katanya: “Adalah Rasulullah SAW apabila Jibril turun membawa wahyu dan dia (wahyu) termasuk sesuatu yang dapat menggerakkan lidah dan kedua bibirnya, sehingga wahyu itu menjadi sulit baginya, dan ia dikenal oleh beliau. Lantas Allah menurunkan ayat yang terdapat dalam (surat Al Qiyaamah): “Aku bersumpah dengan hari kiamat.” (surat Al Qiyaamah ayat 1). “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami–lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami–lah penjelasannya (dengan bahasamu).” (surat Al Qiyaamah ayat 16-19). Ibnu Abbas berkata: “Adalah Jibril ketika datang kepada Rasulullah SAW, maka beliau menundukkan kepala (berdiam diri). Maka apabila Jibril sudah pergi, maka beliau membacakannya sebagaimana apa yang telah Allah janjikan kepadanya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, katanya: “Adalah Jibril menyodorkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW pada setiap tahun satu kali. Kemudian mengajukan kepada beliau dua kali pada tahun menjelang beliau wafat. Dan beliau setiap tahun i’tikaf sepuluh kali. Kemudian dua puluh kali pada tahun menjelang beliau wafat.” (HR Bukhari)
Demikian pula Jibril mengajarkan ibadah shalat kepada Rasulullah SAW seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Ibnu Syihab, sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz pada suatu hari menangguhkan sembahyang. Lalu Urwah bin Zubair menemuinya seraya mengabarkan kepadanya bahwa Mughirah bin Syubah pada suatu hari juga pernah menangguhkan sembahyang ketika dia tengah berada di Kuffah. Lalu masuklah menemuinya Abu Mas’ud Al Anshari seraya mengatakan: “Apa-apaan ini, hai Mughirah! Bukankah kamu sudah tahu sesungguhnya Jibril turun dan bersembahyang, lantas bersembahyanglah Rasulullah SAW. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Kemudian Jibril bersembahyang lagi, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang lagi pula. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Berdasarkan hal itulah aku diperintah.” Umar berkata kepada Urwah: “Pikirkan apa yang kamu ceritakan itu, wahai Urwah! Ataukah sesungguhnya Jibril yang mengiqamati untuk Rasulullah SAW pada waktu sembahyang?” Urwah menjawab: “Begitulah Basyir bin Abu Mas’ud mendapatkan cerita dari ayahnya.” (HR Bukhari)
Dengan memahami Al Qur’an setelah dijelaskan (diajarkan) oleh Jibril, maka mudah bagi Rasulullah SAW menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya (Islam) kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 2-6)
Tilmidzi: ”Apakah Jibril mendatangi Rasulullah SAW dalam bentuk manusia ketika menyampaikan wahyu-wahyu-Nya?”
Mudariszi: “Dengan kelebihan dan kecerdasan yang dianugerahkan oleh Allah SWT, Jibril dapat mendatangi Rasulullah SAW dalam bentuk manusia ketika menyampaikan wahyu-wahyu-Nya dan mengajarkan beliau. Hal tersebut dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Aisyah, dia berkata: “Sesungguhnya Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW: “Bagaimanakah wahyu itu datang kepada engkau?” Beliau bersabda: “Dan sewaktu-waktu malaikat (Jibril) menjelma orang laki-laki (seperti Dihyah) lalu dia berbicara kepadaku, maka aku menjaga apa yang dikatakannya.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu bertanya kepada Rasulullah SAW. Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Jibril menjelaskan dan mengajarkan Rasul-Rasul lain?”
Mudariszi: “Ya! Nabi Musa diajarkan dan dijelaskan oleh Jibril, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Aisyah, isteri Rasulullah SAW menceritakan: “Kemudian Khadijah mengajak beliau untuk datang kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza, saudara misan Khadijah. Dia adalah seorang yang sudah menjadi Nasrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis dari Kitab Injil dengan tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: “Paman, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini.” Waraqah bin Naufal berkata: “Hai anak saudaraku, apa yang engkau alami?” Rasulullah SAW menceritakan semua peristiwa yang beliau alami. Mendengar penuturan itu, Waraqah berkata: “Ini adalah Namus (Jibril) yang dulu diturunkan kepada Musa. Oh, kalau saja di masa kenabianmu itu aku masih muda belia. Oh, kalau saja aku masih hidup pada saat engkau diusir oleh kaummu.” Rasulullah SAW menegas: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Ya! Setiap orang yang datang dengan mengemban tugas sepertimu, pasti dimusuhi. Jika harimu itu sempat kualami, tentu aku akan membelamu mati-matian.” (HR Muslim)
Khadijah istetri Rasulullah SAW membawa beliau kepada Waraqah seorang Ahli Kitab yang alim (dalam sunnah Rasulullah di atas) karena beliau gelisah setelah didatangi oleh Jibril yang tidak dikenalnya menyampaikan wahyu Allah yang pertama. Demikian pula ketika Nabi Musa meminta kepada Allah SWT agar mengutus Jibril kepada Nabi Harun untuk bersama beliau menghadap Fir’aun, dalam firman-Nya ini:
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku, maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” (Asy Syu’araa’ 12-14)
Permintaan Nabi Musa dalam firman-Nya di atas menunjukkan Jibril telah dikenal oleh Nabi Musa karena telah mendatangi beliau. Jibril membantu Nabi Musa dari pengejaran Fir’aun dan membuat Fir’aun mati dalam kekafiran ketika ditenggelamkan di laut dan dicabut nyawanya, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Allah tenggelamkan Fir’aun, Fir’aun berkata: “Saya percaya bahwasanya tiada Tuhan kecuali Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil” (surat Yunus ayat 90), Jibril berkata: “Hai Muhammad, kalau kamu melihatku ketika itu saya mengambil lumpur laut, saya jejalkan lumpur itu di mulutnya, karena saya khawatir ia mendapatkan belas kasihan.” (HR Tirmidzi)
Demikian pula ketika Jibril diutus oleh Allah SWT kepada Nabi ‘Isa. Jibril membantu Nabi ‘Isa dengan mu’jizat-mu’jizat-Nya. Jibril yang cerdas dan kuat itu memperkuat Nabi ‘Isa dalam melaksanakan mu’jizat-mu’jizat-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. (Al Baqarah 253)
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai ‘Isa putera Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada Ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan Ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al Maa-idah 110)
Nabi ‘Isa tidak dapat melaksanakan mu’jizat-mu’jizat-Nya jika tanpa Jibril, karena beliau hanya manusia. Sedangkan Jibril diciptakan-Nya dengan dianugerahkan kecerdasan dan kekuatan melebihi manusia. Ruhul Qudus dalam firman-Nya di atas adalah Jibril, yaitu Ruhul Qudus (Jibril) yang menurunkan (menyampaikan) Al Qur’an (wahyu-wahyu-Nya) kepada Rasulullah SAW, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (An Nahl 102)
Tilmidzi: “Apakah Jibril menyampaikan wahyu-Nya (kalimat-Nya) kepada hamba-hamba-Nya yang lain dalam bentuk manusia juga?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, Jibril mendatangi Nabi Zakaria dalam bentuk manusia untuk menyampaikan kalimat-Nya (wahyu-Nya) atas kelahiran seorang anak melalui isterinya yang mandul. Allah SWT berfirman:
Disanalah Zakariya mendo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” Berkata Zakariya: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Ali ‘Imran 38-40)
Contoh lain, Jibril mendatangi Maryam dalam bentuk manusia untuk menyampaikan kalimat-Nya (wahyu-Nya) atas kehamilan Maryam tanpa perkawinan hingga melahirkan seorang anak laki-laki yang menjadi Rasul. Allah SWT berfirman:
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah, Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.“ (Maryam 16-21)
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali ‘Imran 45-47)
Tilmidzi: “Apakah mungkin Allah SWT mengutus Jibril kepada orang beriman?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan Jibril hanya diutus kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki; tapi jika Dia mencintai seorang hamba, maka Dia perintahkan Jibril untuk mencintai hamba itu, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Luhur ketika mencintai kepada seorang hamba, tentu berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai kepada si polan, maka cintailah dia.” Jibril lalu mencintai kepada si polan itu. Kemudian Jibril mengumumkan di kalangan langit: “Sesungguhnya Allah mencintai kepada si polan, maka cintailah dia.” Maka penghuni langit mencintai si polan itu dan bisa diterima oleh penduduk bumi ini.” (HR Bukhari)
Jibril tidak mendatangi hamba yang dicintai-Nya itu karena Jibril mengikuti perintah-Nya, yaitu untuk mencintai hamba yang dicintai-Nya tersebut. Allah SWT berfirman:
Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam 64)
Hamba yang dicintai oleh Allah SWT tersebut adalah orang yang beriman kepada-Nya, tidak memusuhi-Nya dan tidak pula memusuhi Jibril, karena Dia berfirman:
Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (Al Baqarah 98)
Wallahu a’lam.