Bagaimana Makhluk Hidup Di Bumi Diurus Allah SWT?

Dialog Seri 2: 8

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengurus makanan untuk semua makhluk hidup di bumi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan ketika menciptakan bumi dan penghuninya (semua makhluk hidup) dan menetapkan kadar makanan bagi penghuni bumi, melalui firman-Nya ini:

 

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Fushshilat 10)

 

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Al Hijr 19)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup telah ditetapkan kadar makanannya ketika hidup di bumi, sehingga tidak ada makhluk yang tidak mendapatkan makanan. Allah SWT lalu berfirman:

 

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al Anbiyaa’ 30)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa semua makhluk hidup di bumi yaitu, tumbuh-tumbuhan, binatang (hewan), manusia membutuhkan air ketika menjalani hidupnya.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjediakan air untuk semua makhluk hidup di bumi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menyediakan air dengan menjadikan laut-laut, sungai-sungai, danau-danau di bumi. Allah SWT menjadikan air sungai dan air danau berasa tawar untuk semua makhluk hidup di darat, di dalam tanah dan di atas bumi. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar. (Al Mursalaat 27)

 

Allah SWT menjadikan air laut dan air danau berasa asin dan tawar untuk semua makhluk hidup di laut dan di danau. Allah SWT mengadakan pemisah di laut agar air tawar dan air asin tidak bersatu (bercampur). Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (Al Furqaan 53)

 

Tilmidzi: “Apakah di dalam tanah atau di bawah laut dan sungai itu ada air?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah. (Al Kahfi 41)

 

Firman Allah di atas menunjukkan bahwa di dalam tanah terdapat air. Air yang terlihat di laut, di sungai, di danau adalah air yang tidak dapat lagi surut ke dalam tanah karena tanah telah dipenuhi air. Penuhnya air dalam tanah mendorong sebagian air keluar ke atas tanah membentuk mata air-mata air di bumi (tanah) yang airnya mengalir ke tempat-tempat yang rendah hingga ke sungai-sungai dan ke laut. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air. (Al Qamar 12)

 

Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. (Al Baqarah 74)

 

Semua air yang berada di tempatnya masing-masing itu merupakan persediaan air bagi semua makhluk hidup di bumi.”

 

Tilmidzi: “Bukankah persediaan air di bumi dapat habis pada suatu waktu karena digunakan oleh semua makhluk hidup?”

 

Mudariszi: “Ya! Hal itu dapat terjadi, apalagi jika jumlah pertambahan semua makhluk hidup yang lahir lebih banyak daripada jumlah yang mati. Karena itu, agar air selalu tersedia di bumi, Allah SWT lalu menjadikan air hujan, yaitu air yang turun dari langit ke bumi. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan. (Luqman 34)

 

Dan Kami turunkan air hujan dari langit. (Luqman 10)

 

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan 48)

 

Air hujan yang berasa tawar itu turun dan jatuh di darat dan di laut. Air hujan yang jatuh di darat, akan jatuh di sungai-sungai dan di danau-danau, dan sebagian lagi jatuh di tanah yang airnya lalu mengalir ke tempat-tempat yang rendah. Allah SWT berfirman:

 

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. (Ar Ra’d 17)

 

Sebagian air hujan yang jatuh di tanah akan masuk ke dalam tanah dan tersimpan di tempat yang Dia tetapkan. Tempat penyimpan air dalam tanah itu hanya diketahui oleh Allah SWT saja; Dia akan mengeluarkan air tersebut pada waktunya menurut ukuran (kadar) yang Dia tetapkan, melalui danau-danau atau mata air-mata air hingga mengalir ke sungai-sungai dan ke laut. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20

 

Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al Hijr 22)

 

Adanya air hujan dari langit yang selalu turun ke bumi dan adanya penyimpanan air dalam tanah, menjadikan air di bumi selalu tersedia untuk semua makhluk hidup.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjadikan turunnya air hujan itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan matahari bersuhu panas hingga memancarkan cahaya (sinar) yang bersuhu panas pula. Sinar matahari yang panas itu menyinari bumi pada waktu yang tetap. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar. (Yunus 5)

 

Dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. (Thaahaa 119)

 

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Yaasiin 38)

 

Sinar matahari itu mengandung partikel-partikel. Ketika sinar matahari masuk ke bumi, partikel-partikel sinar matahari bersatu dengan partikel-partikel di bumi membentuk udara. Sinar matahari itu membuat sebagian bumi memiliki suhu udara panas dan suhu udara dingin pada bumi yang tidak terkena atau sedikit terkena sinar matahari. Adanya udara panas dan dingin itu membuat adanya tekanan udara yang berbeda-beda di belahan bumi. Contoh, suhu dan tekanan udara di siang hari berbeda dengan suhu dan tekanan udara di malam hari karena penerimaan sinar matahari. Allah SWT berfirman:

 

Dan Dia menjadikan malammya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. (An Naazi’aat 29)

 

Allah SWT menjadikan luas air (laut, sungai, danau) di bumi lebih luas daripada luas daratan. Sinar matahari yang selalu menyinari bumi pada waktu yang tetap itu membuat air di laut, di sungai, di danau menjadi panas hingga airnya menguap. Penguapan air di laut, di sungai, di danau itu tidak berbeda dengan penguapan air yang mendidih hingga berasap dan asapnya naik ke atas. Allah SWT berfirman:

 

Seperti mendidihnya air yang sangat panas. (Ad Dukhaan 46)

 

Penguapan air karena panas sinar matahari itu membuat partikel-partikel (ringan) air laut, sungai, danau, naik ke atas udara yang bertekanan rendah, yaitu udara yang memuai (karena panas sinar matahari). Partikel-partikel air yang naik ke atas itu lalu bertemu dengan partikel-partikel air laut, sungai, danau yang lainnya hingga bersatu dan membentuk awan, yaitu awan yang mengandung partikel-partikel air. Allah SWT berfirman:

 

Dan awan yang mengandung hujan. (Adz Dzaariyaat 2)

 

Awan-awan yang terus bertemu dan bersatu tersebut lalu menjadikan partikel-partikel air di awan bertambah banyak. Awan menjadi terbebani oleh partikel-partikel air yang banyak dan berat, sehingga ketika terbentur dengan kumpulan partikel-partikel udara, awan itu terpecah (terurai) dan menumpahkan bebannya yang berupa partikel-partikel air ke bumi sebagai air hujan. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. (An Naba’ 14)

 

Air hujan yang turun ke bumi itu lalu masuk ke dalam tanah dan mengalir ke danau-danau dan ke sungai-sungai hingga ke laut. Air di danau, di sungai, di laut kembali menguap karena panas sinar matahari, dan partikel-partikel airnya naik ke atas membentuk awan dan lalu turun kembali ke bumi sebagai hujan. Demikian air hujan itu terjadi berulang-ulang, sehingga air selalu tersedia di bumi dan semua makhluk hidup di bumi tidak kekurangan air. Allah SWT berfirman:

 

Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? (Al Waaqi’ah 68-69)

 

Tilmidzi: “Bagaimana awan sampai dapat membawa partikel-partikel air yang banyak?”

 

Mudariszi: “Awan yang terdiri dari partikel-partikel air itu terjadi karena angin membawa partikel-partikel air hingga bertemu dan bersatu menjadi awan. Angin terjadi karena adanya perubahan tekanan udara, yaitu tekanan udara tinggi dan rendah. Perubahan tekanan udara terjadi karena udara memuai akibat dari panas sinar matahari. Pemuaian udara membuat partikel-partikel udara bergerak pindah ke tekanan udara yang rendah. Perpindahan partikel-partikel udara itulah angin. Allah SWT berfirman:

 

Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Tekanan udara di darat lebih tinggi daripada tekanan udara di atas bumi, sehingga partikel-partikel udara akan naik ke atas karena udara memuai. Jika partikel-partikel udara di atas meningkat dan di darat berkurang, partikel-partikel udara di atas kembali turun ke tempat yang tekanan udaranya rendah. Perpindahan partikel-partikel udara itulah angin. Di malam hari yang tanpa sinar matahari, membuat suhu udaranya dingin sehingga udara memadat dan bertekanan tinggi. Partikel-partikel udara di malam hari akan bergerak ke tempat yang udara yang bertekanan rendah karena panas sinar matahari. Sehingga waktu siang dan malam itu menimbulkan adanya perubahan tekanan udara dan adanya angin. Allah SWT berfirman:

 

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Al Jaatsiyah 5)

 

Ketika partikel-partikel udara bergerak atau terjadi angin, awan yang berada di partikel-partikel udara itu menjadi ikut terbawa yaitu terbawa oleh angin. Allah SWT befirman:

 

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan. (Faathir 9)

 

Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar Ruum 48)

 

Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui udara tersebut bertekanan tinggi atau rendah?”

 

Mudariszi: “Udara sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup termasuk manusia, dan mereka tidak dapat hidup jika tidak ada udara. Makin tinggi dari permukaan bumi, udara makin berkurang atau tekanan udara menjadi rendah, dan keadaan itu membuat semua makhluk hidup susah bernafas. Allah SWT berfirman:

 

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. (Al An’aam 125)

 

Dada sesak dari firman-Nya di atas yaitu susah bernafas. Allah SWT tidak menghendaki semua makhluk hidup termasuk manusia menjalani hidupnya di bumi dengan kesulitan, karena itu Dia menjadikan bumi disinari oleh matahari dengan ukuran yang Dia tetapkan dan demikian pula dengan air hujan yang Dia turunkan ke bumi. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al Qashash 71-73)

 

Tilmidzi: “Apakah terjadinya hujan es juga seperti turunnya air hujan biasa?”

 

Mudariszi: “Terjadinya hujan es atau salju tidak berbeda dengan hujan biasa, perbedaannya hujan es terjadi di dataran tinggi. Di dataran tinggi, tekanan udaranya rendah karena tinggi dari permukaan laut dan juga karena banyaknya tumbuh-tumbuhan sehingga membuat udara di sekitarnya bersuhu dingin. Awan yang melintasi udara yang bersuhu dingin akan membuat partikel-partikel air di awan membeku. Jika awan itu berbenturan dengan kumpulan partikel-partikel udara, maka awan itu akan terurai menumpahkan bebannya ke bumi berupa butiran-butiran es. Allah SWT berfirman:

 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An Nuur 43)

 

Tilmidzi: “Apakah awan mendung di langit itu terjadi karena awan-awan bersatu?”

 

Mudariszi: “Awan-awan yang terbawa oleh angin hingga bersatu itu membentuk awan yang luas hingga menghalang sinar matahari masuk ke bumi. Tidak adanya sinar matahari membuat tempat itu menjadi gelap. Keadaan langit yang tertutup oleh awan hingga menggelapkan tempat di bumi itulah awan mendung. Alah SWT berfirman:

 

Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung. (Al A’raaf 57)

 

Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. (Ar Ra’d 12)

 

Tilmidzi: “Apakah angin yang terjadi ketika hujan turun itu juga karena tekanan udara?”

 

Mudariszi: “Pada waktu hujan turun, sinar matahari terhalang masuk ke bumi oleh awan sehingga udara di permukaan bumi memadat dan bertekanan tinggi. Keadaan tersebut membuat sebagian udara bergerak, yaitu angin, menuju ke tempat yang bertekanan rendah yang disinari oleh matahari. Angin sering timbul ketika terjadi hujan atau ketika mendung, baik angin itu bertiup dengan kuat atau lambat, tergantung penerimaan sinar matahari di tempat-tempat itu. Allah SWT berfirman:

 

Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. (Ar Ruum 48)

 

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (ke-Esaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al Baqarah 164)

 

Tilmidzi: “Apakah cahaya kilat dan suara petir di udara sebelum dan ketika hujan turun itu terjadi karena awan-awan?”

 

Mudariszi: “Dalam keadaan cuaca di udara terlihat mendung, kadangkala terlihat cahaya kilat di udara yang diikuti dengan suara petir yang keras. Kilat terjadi sebelum hujan karena awan yang membawa partikel-partikel air dalam jumlah dan tenaga yang besar berbenturan dengan kumpulan partikel-partikel di udara dalam jumlah dan tenaga yang besar pula. Benturan dua tenaga besar itu menimbulkan cahaya dan suara keras. Cahaya dan suara terjadi karena awan dan udara mengandung partikel cahaya, partikel suara dan partikel tenaga. Cahaya yang terlihat dari bumi itulah kilat dan suara keras yang terdengar di bumi itulah petir. Semua makhluk di bumi melihat kilat dan mendengar petir karena mereka dan udara di bumi (darat) juga mengandung partikel cahaya, partikel suara dan partikel tenaga. Tapi karena benturan itu terjadi jauh di atas bumi, maka suara petir terdengar di bumi setelah terlihat cahaya kilat. Suara petir terdengar hingga ke darat itu turun mengikuti partikel suara. Di antara petir itu, ada suara petir yang dapat merusak makhluk-makhluk di darat, karena besarnya tenaga awan yang terbentur. Allah SWT berfirman:

 

Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. (Ar Ra’d 12)

 

Kilat dan petir juga terjadi ketika hujan turun. Awan mendung yang membawa partikel-partikel air dalam jumlah dan tenaga yang besar berbenturan dengan kumpulan partikel-partikel udara dalam jumlah dan tenaga yang besar pula. Masing-masing berusaha melepaskan diri sehingga terjadi kilat yang diikuti oleh petir. Awan yang membawa partikel-partikel air tidak dapat menguasai udara yang luas dan besar tenaganya, sehingga awan terurai menurunkan partikel-partikel air ke bumi atau air hujan. Selama hujan, awan mendung terus bergerak terbawa angin dan berbenturan lagi dengan kumpulan partikel-partikel udara yang lalu menimbulkan kembali kilat dan petir. Allah SWT berfirman:

 

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. (Al Baqarah 19)

 

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. (Al Baqarah 20)

 

Kilat dapat mencapai bumi (darat), tergantung besarnya tenaga awan yang terbentur. Kilat turun ke bumi mengikuti alur partikel cahaya dan partikel tenaga dari udara di atas hingga ke udara di darat. Semua makhluk di bumi dapat tersambar kilat karena semua makhluk mengandung partikel cahaya dan partikel tenaga di tubuhnya. Jika ada yang tersambar kilat, maka makhluk itu akan mati hangus terbakar. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. (Ar Ra’d 13)

 

Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. (Adz Dzaariyaat 44)

 

Kilat yang bertenaga besar itu hanya akan terhenti pada tanah karena tanah (dan dalam tanah) tidak berisikan udara. Allah SWT berfirman:

 

Dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. (Al Kahfi 40)

 

Tilmidzi: “Apakah air hujan itu turun menurut waktunya?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menjadikan matahari, bulan dan bumi beredar di orbitnya masing-masing pada waktu yang tetap. Karena itu pula musim panas dan musim hujan terjadi di bumi pada waktu yang tetap. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya). (Al Furqaan 50)

 

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 33)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah dengan air hujan itu Allah SWT mengatasi semua makhluk hidup yang kekurangan air (membutuhkan air)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dengan air hujan itulah Allah SWT menjadikan air selalu tersedia di bumi untuk semua makhluk hidup. Air itu akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan termasuk mengeluarkan buah-buahan dan lain-lain. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya kamu tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat. (An Naba’ 14-16)

 

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. (Faathir 27)

 

Air juga menjadi kebutuhan hidup manusia dan binatang. Apa yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan menjadi makanan (kebutuhan hidup) bagi manusia dan binatang. Binatang pula menjadi makanan (kebutuhan hidup) bagi manusia. Allah SWT berfirman:

 

Adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. (Yunus 24)

 

Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. (An Nahl 10)

 

Angin pula mengawinkan tumbuh-tumbuhan dan menerbangkan burung-burung yang membawa biji tumbuh-tumbuhan hingga jatuh ke tanah menumbuhkan tumbuhan yang sebagiannya menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Allah SWT berfirman:

 

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al Hijr 22)

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. (Al Mulk 19)

 

Allah SWT menggunakan air hujan itu untuk menghidupkan makhluk-makhluk hidup di daerah yang tandus atau kekurangan air. Allah SWT berfirman:

 

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya.. (An Nahl 65)

 

Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. (Al Furqaan 48-49)

 

Allah SWT menurunkan air hujan di daerah-daerah yang tandus dengan menggunakan angin yang menghalau awan-awan ke daerah-daerah tandus itu. Allah SWT berfirman:

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (As Sajdah 27)

 

Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. (Al A’raaf 57)

 

Allah SWT menurunkan air hujan menurut ukuran dan masuk ke dalam tanah di tempat penyimpanan yang Dia tetapkan untuk menumbuhkan (menghidupkan) makhluk-makhluk di daerah yang tandus.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply