Apakah Manusia Masih Perlu Beramal Jika Telah Ditakdirkan?

Dialog Seri 6: 2

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menghendaki manusia beriman kepada takdir?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT menghendaki agar manusia tidak terlalu senang atau sedih dengan apa yang Dia telah takdirkan (berikan) baginya, misal diberikan bentuk tubuh yang bagus atau cacat, laki-laki atau perempuan, pandai atau bodoh, kaya atau miskin. Allah SWT tidak menghendaki manusia larut kepada perasaannya, karena itu berakibat kepada ketaatannya mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:

 

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Hadiid 23-24)

 

Tilmidzi: “Apakah perasaan manusia berpengaruh kepada perbuatannya?”

 

Mudariszi: “Perbuatan manusia terjadi karena keinginan hatinya. Sedangkan keinginan hatinya terjadi karena rasa-rasa yang timbul di hatinya. Sehingga perasaan manusia, seperti terlalu merasa senang atau sedih, berpengaruh dan berakibat kepada perbuatannya dan ketaatannya kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku. (Al Fajr 15-16)

 

Allah SWT menetapkan takdir bagi manusia (setiap orang) untuk mengujinya agar diketahui amal perbuatannya ketika melaksanakan amanah (menjalani hidup) di dunia dengan karunia-Nya di bumi dan dengan agama-Nya. Allah SWT tidak memandang apa yang Dia telah berikan (takdirkan) kepada manusia, tapi apa yang dilakukan oleh manusia dengan pemberian-Nya (takdir-Nya) itu. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Saba’ 37)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang pada bentuk dan harta bendamu, tetapi Allah memandang pada hati dan amal-amalmu.” (HR Muslim)

 

Orang yang mulia di sisi Allah SWT bukan orang yang berilmu, berharta, berkuasa, tapi orang yang bertakwa kepada-Nya atau yang taat mengikuti peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Al Hujuraat 13)

 

Tilmidz: “Jika demikian, apakah manusia yang terkena bencana dapat mempengaruhi perbuatannya?”

 

Mudariszi: “Bencana dapat membuat manusia mati, cacat atau jatuh miskin. Perubahan diri manusia akibat bencana itu berpengaruh kepada ketaatannya kepada Allah SWT. Karena itu Allah SWT menghendaki manusia agar beriman kepada takdir supaya mengetahui jika bencana yang menimpanya itu akibat dari takdir makhluk-makhluk lain yang Dia telah tetapkan. Allah SWT berfirman:

 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (Al Hadiid 22)

 

Allah SWT tidak menghendaki manusia menjadi kecil hati atau putus asa setelah tertimpa bencana yang merubah keadaan dirinya dan kehidupannya. Dengan beriman kepada takdir, mereka akan dilindungi-Nya ketika tertimpa bencana agar tetap menjalani hidupnya dengan mengikuti peraturan agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” (Al Ahzab 17)

 

Orang yang beriman kepada takdir akan dekat kepada Allah SWT karena cenderung ingat peringatan-Nya ini:

 

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Luqman 34)

 

Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (An Najm 24-25)

 

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah. (Al Kahfi 23-24)

 

Dan orang yang beriman kepada takdir cenderung akan senantiasa meningkatkan ketakwaannya dan berdoa kepada Allah SWT agar tidak menjadi termasuk orang yang ditakdirkan celaka di akhirat.”

 

Tilmidzi: “Jika Allah SWT telah mentakdirkan orang-orang yang bahagia dan celaka (penghuni surga dan neraka), bukankah perbuatan manusia di dunia menjadi sia-sia?”

 

Mudariszi: “Allah SWT memang telah mentakdirkan orang-orang yang bahagia atau celaka (penghuni surga dan neraka), tapi Dia tidak menjelaskan orang-orang tersebut. Itu menunjukkan tidak ada seorangpun yang mengetahui takdirnya di akhirat. Allah SWT hanya menetapkan takdir bagi setiap orang dan memerintahkan setiap orang untuk beriman kepada takdir, karena Rasulullah SAW menjelaskan takdir itu sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang tidak beriman dengan sempurna sehingga beriman kepada qadar, baik maupun buruk, sehingga dia meyakini bahwa yang pasti menimpanya tidak akan meleset menimpanya dan bahwa apa yang meleset menimpanya tidak akan menimpanya.” (HR Tirmidzi)

 

Sehingga takdir tidak dapat dijadikan alasan oleh manusia untuk tidak beramal (berbuat) ketika menjalani hidupnya, karena manusia tidak mengetahui takdirnya. Jika ada orang yang tetap tidak mau beramal karena alasan itu, maka dia bukan tidak mungkin justru termasuk orang yang ditakdirkan akan menjadi celaka, karena Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Muhammad bin Abi Humaid dari Ismail bin Muhammad bin Saad bin Abi Waqqash dari ayahnya dari Saad berkata: Rasulullah SAW bersabda: Termasuk tanda kebahagiaan anak cucu Adam adalah dia senang terhadap apa yang telah diputuskan Allah kepadanya, dan termasuk tanda celakanya anak cucu Adam adalah dia meninggalkan pilihan Allah dan termasuk celakanya anak cucu Adam adalah dia marah terhadap apa yang diputuskan Allah kepadanya.” (HR Tirmidzi)

 

Celakanya orang itu bukan karena takdir, tapi karena dia sendiri yang tidak mau beramal ketika di dunia. Jika celakanya sesuai dengan takdirnya, maka itu bukan karena Allah SWT. Allah SWT telah mengetahui jika dia akan berbuat itu sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya. Allah SWT mendiamkan orang itu dengan hanya mencatat perbuatannya dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh) dan lalu menetapkan takdir celaka baginya.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT menetapkan takdir amal manusia dengan memperhatikan isi hatinya?”

 

Mudariszi: “Ya! Contohnya perbuatan Nabi Adam yang mendurhakai perintah-Nya hingga beliau diturunkan ke bumi. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Yazid alias Ibnu Hurmuz dan Abdurrahman bin Al A’raj, mereka mengatakan: Kami pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Adam dan Musa ber­debat di depan Tuhannya. Namun Adam bisa mengalahkan Musa. Kata Musa: Kamu adalah Adam. Allah menciptakan kamu dengan tangan­Nya. Allah meniupkan rohNya ke dalam dirimu, memerintahkan malai­katNya untuk bersujud kepadamu, dan mempersilahkan kamu men­diami surga-Nya. Tetapi kemudian kamu turunkan manusia ke bumi gara-gara kesalahanmu. Adam membalas: Kamu adalah Musa. Allah memilihmu untuk membawa risalah dan kalamNya. Allah memberimu isyarat yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu. Bahkan Allah juga telah menyelamatkan kamu. Berapa lama kamu mendapati Allah menurunkan Taurat sebelurn aku diciptakan Musa menjawab: Empat puluh tahun.” Adam mengatakan: “Selama itu apakah kamu sudah mendapati firman Allah yang berbunyi: Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia? Musa kemudian menjawab: Ya. Adam lalu berkata: Jadi tidak perlu kamu mencerca aku karena aku melakukan suatu perbuatan yang telah ditentukan oleh Allah empat puluh tahun sebelum aku diciptakan. Rasulullah SAW bersabda: Akhirnya Adam mampu mengalahkan Musa.” (HR Muslim)

 

Perbuatan Nabi Adam tersebut telah ditakdirkan dan dicatat dalam Kitab Induk (lauh Mahfuzh) dan Kitab-Kitab yang Dia turunkan kepada Rasul-Rasul-Nya termasuk Kitab Taurat. Allah SWT mentakdirkan perbuatan Nabi Adam itu bukan sengaja agar beliau mendurhakai perintah-Nya, tapi karena Dia mengetahui isi hati beliau yang tidak berkeinginan kuat untuk mentaati perintah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thaahaa 115)

 

Sehingga itu menunjukkan Allah SWT menetapkan takdir perbuatan manusia setelah memperhatikan isi hatinya, karena apa yang ada dalam hati manusia berpengaruh dan berakibat kepada perbuatannya. Dan karena itu Allah SWT memperhitungkan hati manusia ketika Dia menghisab perbuatan manusia di hari kiamat.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana manusia harus beramal ketika menjalani hidupnya di dunia dengan takdir yang tidak diketahuinya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain, dia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah sudah diketahui para penghuni surga dan para penghuni neraka?” Rasulullah SAW bersabda: “Ya.” Dia bertanya lagi: “Jadi untuk apa orang-orang harus beramal?” Rasulullah SAW bersabda: “Masing-masing akan dipermudah untuk apa yang diciptakan buatnya.” (HR Muslim)

 

Masing-masing akan dipermudah dalam sunnah Rasulullah di atas yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Ali, dia berkata: Aku ikut mengantarkan je­nazah di Baqi Al Gharqad, sebuah tempat pemakaman di Madinah. Lalu datang kepadaku Rasulullah SAW. Kami duduk berdekatan. Beliau memegang sebatang tongkat kecil. Beliau pukul-pukulkan tongkat itu ke tanah. Dengan gaya seperti orang yang sedang kebingungan beliau ber­sabda: Setiap orang dari kalian atau setiap jiwa yang bernafas, oleh Allah telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka. Bahkan oleh Allah juga sudah ditentukan apakah dia sebagai orang yang celaka atau orang yang bahagia. Seorang laki-laki tiba-tiba berkata: Wahai Rasu­lullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita menunggu ketentuan takdir kita dan tidak usah beramal? Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang termasuk golongan bahagia, dia pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang yang golongan bahagia. Dan barangsiapa termasuk golongan celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang golongan celaka. Lebih lanjut Rasulullah SAW bersabda: Beramallah, setiap kamu dipermudah. Orang-orang golongan bahagia, mereka akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan bahagia. Adapun orang-orang golongan celaka, mereka juga akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan ce­laka. Kemudian beliau membaca ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (surat Al Lail ayat 5-10). (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan, jika manusia ingin menjadi bahagia di akhirat atau menjadi penghuni surga (karena tidak mengetahui takdirnya), maka hendaknya manusia mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah SWT (dalam kitab-Nya) ketika menjalani hidup di dunia. Manusia hendaknya mengikuti perintah-Nya ini:

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya), dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Selain itu, agar dapat menjadi bahagia di akhirat, Rasulullah SAW yang diperintakan-Nya untuk diikuti, menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang tidak mau itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku tentu dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku itulah orang yang tidak mau.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah ketimbang seorang mukmin yang lemah meskipun masing­-masing dari keduanya adalah baik. Antusiaslah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah kamu mengatakan: Seandainya aku lakukan niscaya akan begini dan begini. Akan tetapi katakanlah: Semua memang sudah menjadi suratan takdir Allah. Apa yang dikehendaki Allah pasti terlaksana sekalipun misalnya kamu harus menaklukkan perbuatannya syaitan.” (HR Muslim)

 

Dengan demikian, jika manusia ingin menjadi termasuk ke dalam orang-orang yang ditakdirkan bahagia di akhirat, maka hendaknya mereka beramal (berbuat) dengan mengikuti perintah dan larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Jika Allah SWT telah menetapkan takdir manusia, bukankah Dia telah mengetahui orang-orang yang menjadi penghuni surga dan penghuni neraka?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya. (HR Muslim)

 

Penghuni surga dan penghuni neraka itu tercatat dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh) termasuk nama-namanya, orang tuanya, suku bangsanya, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW ini:

 

Dari Abi Qabil dari Syafi bin Mani dari Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah SAW keluar menjumpai kami, sedang di tangannya terdapat dua catatan lalu bersabda: Apakah kamu mengerti apa kedua catatan ini? Kami berkata: Tidak, wahai Rasulullah, kecuali kalau engkau memberitahukan kepada kami.” Lalu beliau bersabda mengenai catatan yang berada di tangan kanannya: Ini adalah catatan dari Tuhan semesta alam, di dalamnya terdapat namanama penghuni surga serta nama ayah mereka dan kabilah mereka kemudian disempurnakan sampai penghuni surga yang paling akhir, lalu mereka tidak ditambah dan tidak dikurangi selama-lamanya.” Kemudian beliau bersabda mengenai catatan yang ada di tangan kirinya: Ini adalah catatan dari Tuhan semesta alam, di dalamnya terdapat nama-nama penghuni neraka serta nama ayah dan kabilah mereka kemudian disempurnakan sampai penghuni neraka yang paling akhir, lalu mereka tidak ditambah dan tidak dikurangi selama-lamanya.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah manusia lebih banyak di surga atau di neraka?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudriy, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: Hai Adam! Adam menyahut: Aku siap menerima perintahMu dan kebaikan ada di tanganMu. Allah berfirman: Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka. Adam bertanya: Apakah orang yang dikirim ke neraka itu? Allah berfirman: Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan perbandingan jumlah manusia di surga dan di neraka, dengan manusia yang di neraka lebih banyak daripada yang di surga.”

 

Tilmidzi: “Bukankah itu berarti kebanyakan manusia mendurhakai Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan itu menunjukkan pula bahwa kebanyakan manusia tidak berbeda dengan Iblis, yaitu sama-sama mendurhakai Allah SWT karena kesombongannya hingga mendurhakai perintah-Nya (ayat-ayat-Nya). Contoh manusia mendurhakai Allah SWT, yaitu ketika manusia berjanji ke-Esa-an-Nya sebelum dilahirkan ke dunia. Ketika dilahirkan ke dunia, janji manusia itu diingatkan-Nya kembali melalui ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan untuk manusia. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al A’raaf 172-174)

 

Tapi kenyataannya, kebanyakan manusia menyekutukan-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia, sehingga Dia menempatkan mereka di neraka. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, beliau bersab­da: Allah Ta’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksanya: Andaikata engkau mempunyai dunia seisinya, maukah engkau menebus dirimu (dari siksa ini) dengan semua itu? Orang itu menjawab: Ya! Allah Ta’ala berfirman: Aku telah meminta darimu yang lebih ringan ketimbang ini ketika engkau masih berada di tulang punggung Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun (aku kira beliau juga bersabda) dan Aku tidak akan memasukkanmu ke dalam neraka. Tetapi, ternyata yang engkau lakukan hanyalah menye­kutukanKu.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menempatkan mereka di neraka juga setelah Dia menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya agar mereka mengetahuinya dan bertaubat. Tapi karena kesombongannya terhadap ayat-ayat-Nya, mereka tetap menyekutukan-Nya tanpa mengetahui dosa menyekutukan-Nya itu tidak diampuni-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Tilmidzi: “Mungkinkah manusia itu seperti Iblis yaitu sombong dan durhaka kepada Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Bukan tidak mungkin manusia seperti Iblis yang sombong dan durhaka kepada Allah SWT, karena Dia berfirman:

 

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 21)

 

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (An Nuur 20)

 

Karunia-Nya dan rahmat-Nya (dalam firman-Nya di atas) itu yang menolong sebagian manusia dari perbuatannya yang keji dan mungkar dengan bertaubat dan beramal di jalan-Nya yang lurus hingga mereka tidak ditimpa azab yang besar (di neraka). Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tak seorangpun di antara kalian dimasukkan oleh amalnya ke dalam sorga.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga engkau, ya Rasulullah?” Rasulul­lah saw bersabda: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahiku dengan karunia dan rahmatNya.” (HR Muslim)

 

Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa semua orang pernah mengkhianati (mendurhakai) ayat-ayat-Nya (perintah-Nya). Allah SWT mengetahui hal itu seperti Dia mengetahui Iblis yang sombong dan mendurhakai-Nya, yaitu sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Jika Allah SWT membuktikan kesombongan dan kedurhakaan Iblis pada waktu penciptaan Nabi Adam, maka Dia membuktikan kesombongan dan kedurhakaan manusia pada waktu manusia melaksanakan amanah yang bersedia dipikulnya di bumi. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya; dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. (Al Ahzab 72-73)

 

Pada waktu manusia melaksanakan amanah dengan menjalani hidup di dunia sebagai khalifah itulah Allah SWT menetapkan takdir atas manusia termasuk takdir atas orang-orang yang dirahmati-Nya sehingga mereka bertaubat kepada-Nya. Tapi tidak ada seorangpun yang mengetahui takdir yang Dia tetapkan atasnya, termasuk orang-orang yang dirahmati-Nya. Contoh, para Nabi dan Rasul tidak mengetahui telah ditakdirkan menjadi orang-orang yang dirahmati-Nya sebelum mereka menjadi Nabi. Allah SWT lalu membuktikan manusia itu sombong dan durhaka kepada-Nya seperti Iblis, dengan menggunakan Iblis yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Saba’ 20-21)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply