Apakah Cara Mengerjakan Shalat Juga Dari Allah SWT?

Dialog Seri 12: 4

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW telah mengerjakan shalat sebelum datang perintah-Nya mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menghendaki manusia menyembah-Nya, karena itu Rasulullah SAW diperintahkan-Nya untuk mengerjakan shalat dua raka’at dua raka’at sebelum perintah-Nya shalat lima waktu sehari semalam. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Allah Taala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat dua rakaat di rumah dan dalam perjalanan. Lalu dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan, dan shalat di rumah ditambah (dua raka’at lagi). (HR Bukhari)

 

Perkara tersebut di atas juga dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. (Al Muzzammil 20)

 

Rasulullah SAW mengerjakan shalat dalam firman-Nya di atas adalah shalat sebelum diperintahkan-Nya shalat lima waktu sehari semalam.”

 

Tilmidzi: “Jika perintah shalat dari Allah SWT, apakah cara mengerjakan shalat juga dari Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Allah SWT mengajarkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW termasuk membacanya dan menghafalkannya melalui Jibril. Allah SWT berfirman:

 

(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. (Ar Rahmaan 1-2)

 

Janganlah kamu (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (Al Qiyaamah 16-19)

 

Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 4-6)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menerima dan memahami Al Qur’an karena disampaikan dan diajarkan oleh Jibril. Dalam Al Qur’an terdapat perintah-Nya agar manusia menyembah-Nya dengan mengerjakan shalat, yaitu dalam firman-Nya berikut ini:

 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)

 

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu. (Al Kautsar 2)

 

Perintah mengerjakan shalat menyembah-Nya dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW harus mengerjakan shalat, sehingga Jibril wajib menjelaskan dan mengajarkan cara mengerjakan shalat kepada beliau. Dengan demikian, Jibril pula yang mengajarkan Rasulullah SAW cara mengerjakan shalat.”

 

Tilmidzi: “Apakah shalat menghadap kiblat dengan berdiri, rukuk, sujud, duduk, juga dari Dia yang diajarkan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Perintah shalat menghadap ke arah kiblat terdapat dalam Al Qur’an; itu berarti perintah tersebut dari Allah SWT. Sehingga Jibril wajib mengajarkan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (Al Baqarah 144)

 

Shalat menyembah Allah SWT dengan rukuk dan sujud terdapat pula dalam Al Qur’an, sehingga perintah itu juga dari Allah SWT. Dengan demikian, Jibril wajib mengajarkan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu. (Al Hajj 77)

 

Rukuk dapat dikerjakan setelah berdiri dan sujud dikerjakan setelah berdiri atau duduk, sehingga shalat dengan berdiri dan duduk itu terjadi karena perintah-Nya untuk rukuk dan sujud.”

 

Tilmidzi: “Apakah pengajaran Jibril kepada Rasulullah SAW itu termasuk pengerjaan shalat pada waktu-waktu shalat lima waktu yang Dia tetapkan?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An Nisaa’ 103)

 

Kewajiban yang ditentukan waktunya dalam firman-Nya di atas adalah sesuai dengan perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam, seperti sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Kabah: Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: Hai Muhammad! Sesungguhnya yang Aku fardhukan adalah lima shalat setiap sehari semalam.” (HR Bukhari)

 

Sehingga Jibril wajib pula menjelaskan waktu-waktu shalat lima waktu sehari semalam tersebut kepada Rasulullah SAW?”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Jibril mengajarkan Rasulullah SAW cara shalat lima waktu sehari semalam?”

 

Mudariszi: “Jibril mengajarkan Rasulullah SAW, yaitu dengan Jibril mengerjakan shalat lebih dulu, lalu Rasulullah SAW mengikuti cara Jibril shalat pada setiap waktu shalat. Hal itu dijelaskan sunah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Syihab, sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz pada suatu hari menangguhkan sembahyang. Lalu Urwah bin Zubair menemuinya seraya mengabarkan kepadanya bahwa Mughirah bin Syubah pada suatu hari juga pernah menangguhkan sembahyang ketika dia tengah berada di Kuffah. Lalu masuklah menemuinya Abu Masud Al Anshari seraya mengatakan: Apa-apaan ini, hai Mughirah! Bukankah kamu sudah tahu sesungguhnya Jibril turun dan bersembahyang, lantas bersembahyanglah Rasulullah SAW. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Kemudian Jibril bersembahyang lagi, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang lagi pula. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Kemudian Jibril bersembahyang, maka Rasulullah SAW pun ikut bersembahyang. Berdasarkan hal itulah aku diperintah.” Umar berkata kepada Urwah: Pikirkan apa yang kamu ceritakan itu, wahai Urwah! Ataukah sesungguhnya Jibril yang mengiqamati untuk Rasulullah SAW pada waktu sembahyang? Urwah menjawab: Begitulah Basyir bin Abu Masud mendapatkan cerita dari ayahnya. (HR Bukhari)

 

Pengajaran Jibril dalam mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam dengan waktu-waktunya itu lalu dijelaskan oleh Rasulullah SAW kepada umat beliau, sebagai berikut:

 

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya dari Rasulullah SAW, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada beliau soal waktu shalat. Rasulullah SAW bersabda kepada laki-laki itu: Shalatlah bersama kami pada dua hari ini.” Ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat, Rasulullah SAW menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan. Kemudian beliau menyuruh Bilal mengiqamati sebelum dilaksanakan shalat Zuhur. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengiqamati shalat Ashar sementara pada waktu itu matahari naik dan berwarna putih bersih. Kemudian beliau menyuruh Bilal mengiqamati shalat Maghrib ketika matahari sudah terbenam. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengiqamati Isya ketika awan merah benar-benar telah hilang. Dan kemudian beliau juga menyuruh Bilal untuk mengiqamati shalat Subuh ketika suasana fajar sudah mulai merekah. Ketika memasuki hari yang kedua, Rasulullah SAW menyuruh Bilal untuk agak sedikit menangguhkan shalat Zuhur dan itu dilaksanakan oleh Bilal. Selanjutnya Rasulullah SAW melakukan shalat Ashar ketika matahari sudah kian condong ke barat, jadi beliau agak menangguhkannya daripada kemarinnya. Beliau shalat Maghrib sebelum mega menjadi hilang. Beliau shalat Isya setelah lewat sepertiga malam. Dan beliau melakukan shalat Subuh ketika hari sudah remang-remang. Kemudian beliau bersabda: Dimana tadi orang yang bertanya mengenai waktu shalat?” Laki-laki tadi menjawab: Saya, ya Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda: Waktu shalatmu ialah seperti yang kamu lihat tadi. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah azan dan iqamat?”

 

Mudariszi: “Azan adalah panggilan untuk mengerjakan shalat. Azan dilakukan di setiap waktu masuk shalat lima waktu sehari semalam. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Ketika kaum muslimin datang di Madinah mereka berkumpul, mereka lupa akan shalat dan tidak ada panggilan untuk shalat (adzan). Pada suatu hari mereka memperbin­cangkan hal itu. Sebagian dari mereka berkata: Ambillah lonceng seperti lonceng orang-orang Kristen. Sebagian mereka berkata: Bahkan terompet saja seperti tanduk orang-orang Yahudi. Umar berkata: Apakah kalian tidak mengangkat seorang laki-laki yang memanggil un­tuk shalat? Rasulullah SAW bersabda: Hai Bilal, berdirilah, panggillah untuk shalat! (HR Bukhari)

 

Azan dilakukan dengan suara keras dan jelas, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Sa’id, ia berkata kepada Abdullah bin Abdurrahman: “Kulihat anda menyukai kambing dan dusun kecilmu. Karena itu apabila anda sedang berada dekat kambing-kambingmu atau di dusunmu dan anda hendak adzan shalat, maka keraskanlah suara adzanmu itu, karena barangsiapa yang mendengar suara adzan, baik jin atau manusia dan lain-lainnya, semuanya akan menjadi saksi di hari kiamat nanti. Begitulah kudengar dari Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)

 

Adapun azan atau panggilan untuk shalat tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Mahdzurah, bahwa Rasulullah SAW mengajarkan adzan kepadanya demikian: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah, Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi sesung­guhnya Muhammad itu utusan Allah, aku bersaksi sesungguhnya Mu­hammad itu utusan Allah.” Kemudian beliau mengulangi lagi: Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah, aku bersaksi sesung­guhnya tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. Mari kita kerjakan shalat (dua kali). Mari menuju ke kebahagiaan (dua kali). Ishaq menambahkan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah. (HR Muslim)

 

Sedangkan iqamat adalah seruan bagi jama’ah untuk segera memulai shalat. Adapun iqamat itu sebagai berikut:

 

Dari Anas, ia berkata: Bilal disuruh untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah, kecuali kalimat iqamah (qad qamatish sha­lah). (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk berwudhu sebelum shalat?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT memerintahkan itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur. (Al Maa-idah 6)

 

Dan Rasulullah SAW pula menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Hammam bin Munabbah saudara Wahab bin Munabbah, ia berkata: Ini adalah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Kemudian ia menyebutkan berapa hadits, di antaranya Rasulullah SAW pernah bersabda: Shalat salah seorang di antara kamu tidak diterima apabila ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah Jibril juga mengajarkan bacaan dalam shalat kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Di antara bacaan dalam shalat, bacaan surat Al Faatihah adalah wajib dibaca di setiap raka’at dari shalat. Tidak membaca surat Al Faatihah akan membuat shalat itu tidak sah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda: Tiada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al Faatihah).” (HR Muslim)

 

Wajib membaca surat Al Faatihah di setiap raka’at shalat karena mengikuti perintah-Nya dalam firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung. (Al Hijr 87)

 

Adapun Al Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat itu adalah sebagai berikut:

 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 1-7)

 

Dengan demikian, perintah shalat dan cara mengerjakan shalat itu dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang diajarkan (disampaikan) oleh Jibril, dan itu tidak berbeda dengan Al Qur’an yang dari Allah SWT untuk Rasulullah SAW yang disampaikan atau diajarkan oleh Jibril.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply