Apakah Perintah Shalat Itu Langsung Dari Allah SWT?

Dialog Seri 12: 2

 

Tilmidzi: “Apakah kewajiban agama menyembah Allah SWT (beribadah kepada-Nya) itu dari Dia langsung?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menerima pengajaran agama-Nya (agama Islam) dengan pokok-pokok agama yang wajib dikerjakan oleh umat Islam ketika menjalani hidupnya, yaitu dari Allah SWT melalui Jibril malaikat utusan-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikit­pun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: Hai Muhammad! Beritahu­kanlah kepadaku tentang Islam. Rasulullah SAW bersabda: Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Rama­dhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya. Orang itu berkata: Engkau benar! Kata Umar: Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya. Kembali orang itu berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang Iman. Rasulullah SAW bersabda: Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir. Orang itu berkata: Engkau benar! Lalu lanjutnya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW bersabda: Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihatNya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu. Orang itu berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat. Rasulullah SAW menjawab:Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut lebih tahu ketimbang orang yang bertanya. Orang itu berkata: Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu? Rasulullah SAW bersabda: Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadi­nya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kam­bing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan. Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi? Aku menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Rasulullah SAW bersabda: Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian. (HR Muslim)

 

Jibril adalah malaikat utusan-Nya yang menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)

 

Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 2-6)

 

Dengan demikian, agama Allah (agama Islam) dan kewajiban agama dalam beribadah kepada Allah SWT (atau menyembah-Nya) bagi umat Islam ketika menjalani hidupnya di dunia itu datang dari Dia langsung melalui Jibril malaikat utusan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Apakah perintah shalat juga langsung dari Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu. (Al Baqarah 21)

 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 99)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menghendaki agar Dia disembah oleh manusia sebagai Tuhannya yang menciptakannya selama manusia menjalani hidupnya di dunia. Penyembahan kepada-Nya itu berupa shalat yang Dia perintahkan langsung kepada Rasulullah SAW ketika beliau melakukan perjalanan Israa Mi’raj, sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah: Tiga malaikat datang kepada beliau sebelum diwahyukan kepada beliau. Ketika itu beliau sedang tidur di Masjidil Haram, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Aku didatangi Buraq, lalu aku menungganginya sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan shalat dua raka’at disana. Setelah itu aku keluar. Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu. Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah (Islam dan istiqamah). Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada ditanyakan: “Siapakah engkau?” Dijawab: “Jibril.” Ditanyakan lagi: “Dan siapakah besertamu?” Jibril menjawab: “Muhammad.” Ditanyakan: “Apakah dia telah diutus?” Jawab Jibril: “Ya, dia telah diutus.” Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapakah engkau?” Jawab Jibril: “Jibril.” Ditanyakan lagi: “Siapakah yang bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.Pintupun dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan ’Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Mereka berdua menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapakah engkau?” Jawab Jibril: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Pintu dibukakan bagi kami. Aku bertemu Yusuf. Ternyata dia telah dikaruniai bagian yang bagus. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana ada Idris. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Allah Azza wa Jalla berfirman: Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi.” (Maryam 57). Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Dijawab: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Dijawab: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Dijawab: “Dia telah diutus.” Kami dibukakan. Disana aku bertemu Harun. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kami dibukakan. Disana ada Musa. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana aku menemukan Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur (Ka’bah). Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur itu dan mereka tidak kembali lagi kesana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, karena sangat indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Dia wajibkan kepadaku lima puluh shalat dalam setiap sehari semalam. Tatkala aku turun dan bertemu Musa, dia bertanya: Apa yang telah difardhukan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Aku menjawab: Lima puluh shalat.” Musa berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku telah pernah mencobanya pada Bani Israil.” Akupun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku.” Lalu Allah memotong lima shalat dariku. Aku kembali kepada Musa dan berkata: Allah memotong lima shalat dariku.” Musa berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.” Tak henti-hentinya aku bolak balik antara Tuhanku dan Musa, sampai Allah berfirman: Hai Muhammad! Sesungguhnya yang Aku fardhukan adalah lima shalat setiap sehari semalam. Setiap shalat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima shalat sama dengan lima puluh shalat. Dan barangsiapa yang meniatkan kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan padanya. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa meniatkan kejahatan tetapi tidak jadi melaksanakannya, maka tidak sesuatupun dicatat. Kalau dia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan.” Aku turun hingga sampai kepada Musa, lalu aku beritahukan kepadanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan.” Aku menyahut: Aku telah bolak balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepadaNya.” (HR Bukhari)

 

Sunah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa perintah shalat menyembah-Nya bagi umat Islam itu datang langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW (tanpa melalui Jibril), yang berawal dari shalat lima puluh waktu sehari semalam lalu menjadi shalat lima waktu sehari semalam yang nilainya sama dengan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Shalat lima waktu sehari semalam itulah yang lalu menjadi kewajiban bagi umat Islam dan menjadi hak bagi Allah untuk disembah oleh umat Islam. Karena Rasulullah SAW menerima langsung perintah shalat dari Allah SWT, maka ketika beliau atau umat Islam mengerjakan shalat, umat Islam menghadap kepada-Nya langsung.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana shalat lima waktu sehari semalam dapat menjadi bernilai sama dengan shalat lima puluh waktu sehari semalam?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’aam 160)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa setiap shalat yang dikerjakan oleh umat Islam, maka umat Islam itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Sehingga dengan umat Islam mengerjakan shalat lima kali sehari semalam, maka itu sama dengan mengerjakan shalat lima puluh kali sehari semalam. Bahkan dapat lebih dari sepuluh kali lipat, yaitu hingga ke tujuh ratus kali lipat, karena Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Allah azza wajalla berfirman: Apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh-ratus kali lipat. Dan apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia jadi mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu ke­jelekan. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kedudukan ibadah shalat dibandingkan dengan ibadah lainnya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al ‘Ankabuut 45)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika umat Islam mengerjakan kewajiban shalat dan kewajiban agama (ibadah) lainnya yang menjadi hak Allah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Muadz bin Jabal, dia berkata: Pernah aku membonceng Rasulullah SAW. Yang memisahkan antara aku dan beliau hanya­lah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muadz bin Jabal! Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sesaat berjalan, baru kemudian beliau bersabda: Hai Muadz bin Jabal! Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sesaat berjalan, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muadz bin Jabal! Akupun menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima pe­rintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau, apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan RasulNya tentu lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatupun denganNya. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muadz bin Jabal! Aku menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah SAW bertanya: Tahukah engkau apa hak para hamba atas Allah, bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Rasulullah SAW bersabda: Yaitu Allah tidak menyiksa mereka. (HR Muslim)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply