Dialog Seri 12: 3
Tilmidzi: “Bukankah Rasulullah SAW menerima perintah mengerjakan shalat dari Allah SWT ketika beliau melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah: “Tiga malaikat datang kepada beliau sebelum diwahyukan kepada beliau. Ketika itu beliau sedang tidur di Masjidil Haram, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi Buraq, lalu aku menungganginya sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan shalat dua raka’at disana. Setelah itu aku keluar. Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu. Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah (Islam dan istiqamah).” Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada ditanyakan: “Siapakah engkau?” Dijawab: “Jibril.” Ditanyakan lagi: “Dan siapakah besertamu?” Jibril menjawab: “Muhammad.” Ditanyakan: “Apakah dia telah diutus?” Jawab Jibril: “Ya, dia telah diutus.” Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapakah engkau?” Jawab Jibril: “Jibril.” Ditanyakan lagi: “Siapakah yang bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Pintupun dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan ’Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Mereka berdua menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapakah engkau?” Jawab Jibril: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Pintu dibukakan bagi kami. Aku bertemu Yusuf. Ternyata dia telah dikaruniai bagian yang bagus. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana ada Idris. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi.” (Maryam 57). Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Dijawab: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Dijawab: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Dijawab: “Dia telah diutus.” Kami dibukakan. Disana aku bertemu Harun. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kami dibukakan. Disana ada Musa. Dia menyambutku dan mendo’akanku dengan baik. Aku dibawa naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jawabnya: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa bersamamu?” Jawabnya: “Muhammad.” Ditanyakan: “Dia telah diutus?” Jawabnya: “Dia telah diutus.” Kamipun dibukakan. Ternyata disana aku menemukan Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur (Ka’bah). Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur itu dan mereka tidak kembali lagi kesana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha. Ternyata dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorangpun di antara makhluk Allah mampu melukiskannya, karena sangat indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Dia wajibkan kepadaku lima puluh shalat dalam setiap sehari semalam. Tatkala aku turun dan bertemu Musa, dia bertanya: “Apa yang telah difardhukan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Aku menjawab: “Lima puluh shalat.” Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku telah pernah mencobanya pada Bani Israil.” Akupun kembali kepada Tuhanku dan berkata: “Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku.” Lalu Allah memotong lima shalat dariku. Aku kembali kepada Musa dan berkata: “Allah memotong lima shalat dariku.” Musa berkata: “Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.” Tak henti-hentinya aku bolak balik antara Tuhanku dan Musa, sampai Allah berfirman: “Hai Muhammad! Sesungguhnya yang Aku fardhukan adalah lima shalat setiap sehari semalam. Setiap shalat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima shalat sama dengan lima puluh shalat.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dapat melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj tersebut, apakah beliau melakukannya dengan tubuh beliau?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau didatangi malaikat ketika tidur di Masjidil Haram, kemudian beliau dibawa oleh malaikat tersebut melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj:
Dari Anas bin Malik, menceritakan tentang malam dimana Rasulullah SAW di Israa’kan dari Ka’bah: “Tiga malaikat datang kepada beliau sebelum diwahyukan kepada beliau. Ketika itu beliau sedang tidur di Masjidil Haram, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi Buraq, lalu aku menungganginya sampai ke Baitul Maqdis.” (HR Bukhari)
Malaikat adalah makhluk ghaib (tidak terlihat oleh manusia). Jika Rasulullah SAW dibawa oleh malaikat melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan tubuhnya, maka tubuh beliau akan terlihat melayang-layang di udara. Hal itu terasa janggal. Selain itu, jika Rasulullah SAW melakukannya dengan tubuhnya, maka beliau akan sulit bernafas, bahkan tidak akan dapat bernafas, pada ketinggian tertentu di atas bumi (di langit). Karena Allah SWT berfirman:
Niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. (Al An’aam 125)
Sehingga, tidak mungkin Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan tubuhnya (jasadnya).”
Tilmidzi: “Lalu bagaimana Rasulullah SAW melakukan Israa’ Mi’raaj?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan jiwa beliau. Jiwa Rasulullah adalah Rasulullah SAW itu sendiri. Manusia adalah jiwa yang bertubuh. Tubuh jiwa membuat jiwa tidak terlihat; tubuh jiwa menjadikan jiwa terlihat sebagai manusia. Dengan demikian, jiwa itu adalah manusia. Dan jiwa itulah yang bersaksi kepada Allah SWT sebelum dilahirkan ke dunia dengan memiliki tubuh menjadi manusia. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Ketika manusia tidur atau mati, jiwa manusia dipegang (dikuasai) oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Az Zumar 42)
Jika seseorang mati, jiwanya akan dicabut oleh malaikat keluar dari tubuhnya. Jiwa itu lalu dikembalikan kepada-Nya untuk dipegang-Nya (dikuasai-Nya). Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Al ‘Ankabuut 57)
Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). (Al Anfaal 50)
Jika takdir ajalnya belum datang, Allah SWT lalu mengembalikan jiwa orang yang sedang tidur itu ke tubuhnya hingga dia terbangun (terjaga). Ketika tidur, manusia dapat bermimpi dan dia merasakan mimpinya itu seperti dia dalam keadaan terjaga. Manusia dapat merasakan mimpinya karena jiwa yang dipegang-Nya itu Dia pertemukan dengan suatu kejadian. Rasulullah SAW menjelaskan mimpi manusia itu sebagai berikut:
Dari Abu Qatadah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Mimpi (yang baik) adalah dari Allah dan mimpi (yang buruk) adalah dari syaitan.” (HR Bukhari)
Karena Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan jiwanya ketika beliau tidur di Masjidil Haram, maka perjalanan beliau tersebut terjadi dalam mimpi beliau. Dan hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Itulah mimpi yang tampak oleh mata (dalam keadaan jaga) yang diperlihatkan kepada Rasulullah SAW pada malam hari ketika beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah tersebut?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah dari Masjidil Haram (ketika beliau tidur) ke Baitul Maqdis (ketika beliau bermimpi), melalui firman-Nya ini:
Maha Suci Allah, Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Al Israa’ 1)
Dengan demikian, perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah hingga langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha itu bukan dengan tubuh beliau, tapi dengan jiwa beliau melalui mimpi beliau.”
Tilmidzi: “Bagaimana perjalanan Israa’ Mi’raj yang sangat jauh dan makan waktu yang lama, tapi dapat terjadi dalam waktu yang singkat selama Rasulullah SAW tidur?”
Mudariszi: “Perjalanan Israa’ Mi’raj hingga ke langit yang ke tujuh itu sangat jauh dan memakan waktu yang sangat lama menurut perhitungan manusia di bumi. Tapi tidak demikian menurut perhitungan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (As Sajdah 5)
Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al Hajj 47)
Ketetapan perhitungan waktu dalam firman-Nya di atas menjadikan waktu tempuh perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah dapat terjadi dalam waktu yang singkat dalam mimpi beliau. Jarak yang jauh yang dirasakan oleh manusia itu hanya dirasakan sebentar oleh malaikat dan Rasulullah SAW. Dan itu makin membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak mungkin melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj dengan tubuhnya (jasadnya).”
Tilmidzi: “Rasulullah SAW melakukan perjalanan Israa’ Mi’raj melalui tujuh langit, apakah Allah SWT menciptakan langit itu dengan tujuh langit?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT berfirman:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. (Al Baqarah 29)
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. (Fushshilat 12)
Karena setiap langit diciptakan oleh Allah SWT dengan mempunyai urusannya masing-masing, maka Jibril harus mendapatkan izin dari malaikat penjaga setiap langit ketika membawa Rasulullah SAW berjumpa dengan Nabi-Nabi di setiap langit seperti dijelaskan dalam sunah Rasulullah di atas. Tujuh langit yang tidak terlihat oleh manusia itu, setiap langitnya seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT berikut ini:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (Nuh 15)
Yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Al Mulk 3)
Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? (Qaaf 6)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan ketika Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (An Najm 13-18)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan bentuk asli Jibril yang dilihatnya ketika di Sidratul Muntaha?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Zirr bin Hubaisy mendengar dari Abdullah yang membaca (ayat 18 surat An Najm): “Sesungguhnya dia telah melihat sebahagiaan tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” Abdullah berkata-kata: “Rasulullah SAW telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki enam-ratus sayap.” (HR Muslim)
Jibril itu dari makhluk malaikat yang diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki sayap. Allah SWT berfirman:
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. (Faathir 1)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW melihat Allah SWT ketika di Sidratul Muntaha?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Dzarr, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Beliau menjawab: “Ada nur, bagaimana aku bisa melihat–Nya.” (HR Muslim)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa beliau tidak pernah melihat Allah SWT ketika di Sidratul Muntaha. Tidak mungkin manusia dapat melihat Allah SWT, karena Dia berfirman:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 103)
Tilmidzi: “Apakah perjalanan Israa’ Mi’raj dipercayai oleh penduduk Mekkah ketika itu?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW harus menyampaikan wahyu termasuk perintah shalat yang diterimanya dari Allah SWT kepada kaumnya dan penduduk Mekkah. Perjalanan Israa’ Mi’raj itu memang tidak mudah dipercayai oleh orang awam. Kaum kafir Mekkah yang tidak menyukai Rasulullah SAW, juga tidak mempercayai perjalanan Israa’ Mi’raj beliau. Mereka menggunakan perjalanan beliau itu untuk menjatuhkan beliau. Mereka meminta penjelasan Rasulullah tentang keadaan Baitul Maqdis, karena mereka mengetahui beliau tidak pernah ke Baitul Maqdis. Allah SWT lalu membantu beliau, sebagai berikut:
Dari Jabir bin Abdullah, katanya: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ketika orang-orang Quraisy mendustakanku, maka aku berdiri di Hijir (Ismail), lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis, sehingga mulailah aku memberi khabar kepada mereka tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya dan aku melihat kepada tanda-tanda itu.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku benar-benar melihat diriku berada di dalam Hijir, sedangkan orang-orang Quraisy bertanya kepadaku tentang perjalanan Israa’ku. Ditanyakan kepadaku berbagai hal mengenai Baitul Maqdis yang tidak begitu kuingat. Aku merasakan kesusahan yang lama sekali belum pernah kualami sebelumnya. Lalu Allah memperlihatkan kepadaku dari kejauhan, sehingga aku bisa melihat Baitul Maqdis. Apapun yang mereka tanyakan kepadaku, pasti aku ceritakan kepada mereka (aku jawab dengan jelas). Benar-benar aku melihat diriku berada di antara sekelompok para Nabi. Ada Musa yang sedang berdiri mengerjakan shalat, ternyata dia seorang lelaki tinggi kurus yang berambut keriting seakan-akan dia dari kaum lelaki Syanu-ah. Ada pula ‘Isa bin Maryam yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafiy. Ada juga Ibrahim yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Orang yang paling menyerupainya adalah sahabat kalian (maksudnya: diri beliau sendiri). Ketika datang waktu shalat, aku mengimami mereka. Seusai shalat ada suara: “Hai Muhammad! Ini Malik, penjaga neraka, ucapkanlah salam kepadanya!” Aku berpaling kepadanya dan dialah yang lebih dulu mengucap salam kepadaku.” (HR Muslim)
Allah SWT lalu membenarkan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah dengan menurunkan firman-Nya ini:
Hatinya (Muhammad) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (Musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya (Muhammad)? (An Najm 11-12)
Tilmidzi: “Apakah perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah itu wajib diyakini oleh setiap umat Islam sekalipun sulit diterima kebenarannya oleh akal?”
Mudariszi: “Umat manusia termasuk umat Islam sulit menerima kebenaran perjalanan Israa’ Mi’raj karena mereka tidak memahami (mengetahui) keadaan di atas bumi yang tanpa udara dan tidak memahami (mengetahui) keadaan dirinya, yaitu apa yang ada pada diri manusia. Allah SWT tidak menjadikan sesuatu yang berkaitan dengan manusia itu terjadi dengan sendirinya (meskipun Dia mampu melakukan perkara itu). Allah SWT menjadikan segala sesuatunya dengan perhitungan agar manusia dapat memikirkannya dan memahaminya. Karena itulah perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah itu menjadi ujian bagi manusia untuk meyakininya. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al Israa’ 60)
Sekalipun umat Islam tidak memahaminya, tapi hendaknya umat Islam tidak meragukan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah. Hendaknya umat Islam meyakininya seperti Nabi Ismail meyakini mimpi Bapaknya, Nabi Ibrahim, yang menerima perintah-Nya untuk menyembelih beliau. Dan hal itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” (Ash Shaaffaat 101-105)
Umat Islam hendaknya meyakini perjalanan Israa’ Mi’raj itu, karena dalam perjalanan itu Rasulullah SAW menerima perintah-Nya untuk mengerjakan shalat. Dengan meyakini Israa’ Mi’raj Rasulullah, maka umat Islam yang mengerjakan shalat meyakini bahwa dia sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT atau sedang bermunajat kepada-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Anas, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian mendirikan shalatnya, maka dia adalah bermunajat pada Tuhannya.” (HR Bukhari)
Umat Islam yang meragukan perjalanan Israa’ Mi’raj Rasulullah akan mempengaruhi ketaatannya dalam mengerjakan shalat, hingga dapat menjadi tidak taat mengerjakannya. Ketidak taatannya mengerjakan shalat menjadikan dirinya mendurhakai Allah SWT karena telah mendurhakai perintah-Nya ini:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)
Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (Al Baqarah 238)
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu. (Al Kautsar 2)
Wallahu a’lam.