Mengapa Ada Shalat Sunnat Selain Shalat Wajib?

Dialog Seri 12: 7

 

Tilmidzi: “Apakah ada shalat lain selain shalat wajib lima waktu sehari semalam?”

 

Mudariszi: “Selain shalat wajib lima waktu sehari semalam, ada shalat tambahan atau shalat sunnat, yaitu shalat yang tidak wajib dikerjakan, tapi umat memperoleh pahala jika dikerjakannya. Contoh, shalat sunnat yang diserukan oleh Allah SWT untuk dikerjakan melalui firman-Nya ini:

 

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al Israa’ 79)

 

Allah SWT mengangkat umat yang shalat tahajud ke tempat yang terpuji dalam firman-Nya di atas adalah balasan pahala daripada-Nya. Shalat sunnat tahajud juga dikatakan shalat malam dan Rasulullah SAW mengerjakannya sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya seorang lelaki ber­tanya kepada Rasulullah SAW mengenai sembahyang Malam. Rasulullah SAW menjawab: Sembahyang Malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila salah se­orang kamu khawatir akan sembahyang Shubuh, maka hendaklah dia sembahyang satu rakaat saja sebagai sembahyang Witir. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah shalat tahajud dikerjakan sendiri atau berjama’ah?”

 

Mudariszi: “Shalat tahajud dapat dikerjakan sendiri atau berjama’ah, karena Rasulullah SAW juga mengerjakannya berjama’ah, seperti dijelaskan berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Suatu saat aku bermalam di rumah bibiku Maimunah. Rasulullah SAW mendirikan shalat Isya, lalu datang ke rumah dan mendirikan shalat empat raka’at kemudian tidur. Setelah itu, beliau bangun dan berdiri untuk shalat dan aku pun berdiri di sebelah kirinya. Beliau memindahkanku ke sebelah kanannya dan shalat lima rakaat lalu dua rakaat. Beliau kemudian tidur sampai aku mendengar dengkurnya atau mendengar suara napasnya. Lalu beliau ke­luar untuk shalat. (HR Bukhari)

 

Shalat tahajud itu diakhiri dengan shalat sunnat witir sebelum waktu Subuh. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya seorang lelaki ber­tanya kepada Rasulullah SAW mengenai sembahyang Malam. Rasulullah SAW menjawab: Sembahyang Malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila salah se­orang kamu khawatir akan sembahyang Shubuh, maka hendaklah dia sembahyang satu rakaat saja sebagai sembahyang Witir. (HR Muslim)

 

Menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Mijlaz, dia ber­kata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai Witir. Ibnu Abbas menjawab: Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Witir ialah sembahyang malam yang terakhir. Aku juga bertanya kepada Ibnu Umar, dan dia juga menjawab: Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Witir ialah sembahyang malam yang terakhir.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah ada shalat sunnat lainnya yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Selain shalat sunnat tahajud dan witir, ada pula shalat sunnat lainnya yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Contoh shalat sunnat tersebut yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: “Bahwasanya Rasulullah SAW shalat dua raka’at. Sesudah selesai, maka jika aku masih juga (yakni tidak tidur), beliau mengajak aku bercakap-cakap, tetapi apabila aku tidur, maka beliau berbaring tidur.Aku berkata kepada Sufyan: Sesungguhnya sebagian orang meriwayat­kannya perihal dua rakaat Fajar. Sufyan berkata: Betul, memang itu­lah (yakni dua rakaat sebelum shalat fardhu Shubuh).” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku shalat bersama Ra­sulullah SAW dua rakaat sebelum shalat Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Jumah, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW berwasiat (ber­pesan) kepadaku supaya aku melakukan shalat Dhuha dua rakaat. Itban berkata: Rasulullah SAW dan Abu Bakar pergi ke tempatku se­sudah siang hari agak meninggi. Kami lalu berbaris di belakangnya, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah Dhuha dua rakaat.” (HR Bukhari)

 

Ada pula shalat sunnat masuk mesjid yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Qatadah bin Rabiiy Al Anshariy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang kamu masuk ke dalam masjid, janganlah duduk lebih dahulu sehingga mengerjakan dua rakaat.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW hanya melarang shalat sunnat setelah shalat wajib Subuh dan Ashar, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Diceritakan oleh Atha bin Yazid Al Laitsi, sesungguhnya dia mendengar Abu Said Al Khudriy pernah mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada sembahyang sama sekali setelah sembahyang Ashar hingga terbenam matahari. Dan tidak ada sembahyang sama sekali sesudah sembahyang Shubuh hingga terbit matahari. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah shalat sunnat itu dikerjakan di mesjid?”

 

Mudariszi: “Shalat sunnat dapat dikerjakan di mesjid, tapi sebaiknya dikerjakan di rumah karena Rasulullah SAW menjelaskan sebagai berikut:

 

Dari Jabir, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Apabila salah seorang kamu menunaikan sembahyangnya di masjid, maka jangan lupa untuk sembahyang pula di rumahnya sendiri. Karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dari sembahyangnya itu di rumahnya. (HR Muslim)

 

Dari Ziad bin Tsabit, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baiknya shalat seseorang adalah di dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan.” (HR Bukhari)

 

Dari Zaid bin Tsabit, dia berkata: Rasulullah SAW membatasi suatu tempat dengan alas atau tikar. Lalu beliau ke­luar untuk bersembahyang disitu. Beberapa orang sahabat mengamati tempat tersebut, dan lain waktu mereka datang untuk melakukan sembahyang di tempat beliau itu. Karena kedahuluan mereka, Rasulullah SAW lalu tidak mau keluar menemui mereka. Mereka meneriakkan suaranya bahkan melempari pintu dengan batu-batu kecil. Dengan murka akhirnya Rasulullah SAW keluar juga menemui mereka. Kepada mereka beliau bersabda: Tidak bosan-bosannya kamu dengan apa yang kamu lakukan itu. Sampai-sampai aku mengira bahwa apa yang kamu lakukan itu akan diwajibkan atas kamu. Sembahyanglah di rumahmu, karena sesungguhnya sebaik-baiknya sembahyangnya seseorang ialah yang dilakukan di rumahnya, kecuali sembahyang fardhu. (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menganjurkan untuk shalat sunnat?”

 

Mudariszi: “Karena untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang yang bertaubat guna membersihkan dosa-dosanya. Shalat adalah ibadah yang paling utama di antara ibadah-ibadah agama lainnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al ‘Ankabuut 45)

 

Shalat merupakan amal kebaikan yang diberikan pahala oleh Allah SWT, minimal sebesar sepuluh kali lipat. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’aam 160)

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Allah azza wajalla berfirman: Apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan baik dan tidak melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika dia melaksanakannya, maka Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh-ratus kali lipat. Dan apabila hambaKu berniat akan melakukan perbuatan jelek dan tidak jadi mengerjakannya, maka Aku tidak mencatatnya. Jika dia jadi mengerjakannya, maka Aku mencatatnya sebagai satu ke­jelekan. (HR Muslim)

 

Shalat wajib itu dapat menghapus dosa-dosa manusia pada hari tersebut, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana pendapatmu seandainya di pintu salah seorang di antaramu ada sungai yang mana ia mandi lima kali setiap hari, apakah kamu katakan kotorannya masih tertinggal?” Mereka menjawab: “Kotorannya sedikitpun tidak tersisa.” Beliau bersabda: “Itulah perumpamaan shalat yang lima yang mana Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengannya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: Shalat lima waktu dan shalat Jumat sampai shalat Jumat berikutnya adalah penebus dosa yang terjadi di antara shalat­-shalat tadi. (HR Muslim)

 

Sehingga, dengan mengerjakan shalat sunnat, pahala orang yang bertaubat menjadi bertambah dari pahala shalat wajib dan pahala kebaikan lainnya, yang semua itu dapat mempercepat pembersihan dosa-dosanya.”

 

Tilmidzi: “Mengapa membersihkan dosa harus dengan shalat sunnat?”

 

Mudariszi: “Salah satu jalan yang paling mudah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (karena bertaubat kepada-Nya) dan untuk membersihkan dosa-dosa adalah mengerjakan shalat sunnat. Membaca Al Qur’an juga jalan yang mudah bagi orang yang bertaubat untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan untuk membersihkan dosa-dosanya. Allah SWT berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (Al Maa-idah 35)

 

Manusia tidak mengetahui jumlah dosa-dosanya karena perbuatannya yang melanggar peraturan agama-Nya, misalnya meninggalkan shalat dan kewajiban agama lainnya selama bertahun-tahun, ditambah lagi dengan kejahatan lainnya yang merugikan pihak-pihak lain. Dengan amalan yang mudah seperti shalat sunnat atau membaca Al Qur’an, dosa-dosa orang bertaubat yang tidak diketahui lagi jumlahnya itu dapat dihilangkannya sedikit demi sedikit. Perbuatannya itu pula dapat membuatnya mendekat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Allah SWT terhadap hamba-Nya yang bertaubat sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Allah Yang Maha Luhur telah berfirman: Aku menurut keyakinan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya jika dia menutur-Ku. Jika dia menutur-Ku di dalam dirinya, maka Aku menuturnya di dalam diri­Ku. Jika dia menutur-Ku di dalam suatu kelompok, maka Aku menutur­nya di dalam suatu kelompok yang lebih baik daripadanya. Jika dia men­dekati kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekati kepadanya sehasta. Jika dia mendekati kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekati kepadanya sedepa. Dan jika dia mendatangi kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatangi kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (HR Bukhari)

 

Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh cenderung akan menghindar dari perbuatan haram dan cenderung berusaha mengerjakan shalat sunnat (di samping shalat wajib) secara teratur mengikuti perintah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, sesungguhnya ia berkata: Rasulul­lah SAW memiliki sebuah tikar yang biasa beliau gelar untuk melakukan sembahyang malam. Para sahabat ikut-ikutan sembahyang dengan beliau. Tikar tersebut terkadang juga beliau gelar siang hari. Pada suatu malam para sahabat itu sama berkumpul. Maka Rasulullah SAW bersabda: Wahai manusia! Laksanakan amalan-amalan menurut kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan se­belum kalian yang merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah ialah amalan yang ringan namun dilestarikan.Konon keluarga Muhammad SAW jika melakukan suatu amalan, maka mereka akan tetap terus melestarikannya.” (HR Muslim)

 

Allah SWT yang mengetahui kesungguhan taubatnya dari perbuatannya, bukan tidak mungkin setelah jangka waktu tertentu Dia lalu menjadikannya sebagai kekasih-Nya seperti sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi seorang wali (kekasih)-Ku, maka Aku benar-benar menampakkan peperangan kepada­nya. Tidak ada sesuatu yang dapat mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku sukai dari pada apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal ibadah sunnah, sehingga aku menyintainya. Ketika Aku me­nyintainya, maka Aku menjadi pendengaran yang dengan itu ia dapat mendengar, Aku menjadi penglihatan yang dengan itu ia dapat melihat, Aku menjadi tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras dan Aku menjadi kaki yang dengan itu ia dapat berjalan. Apabila ia memohon kepada-ku, maka Aku benar-benar menganugerahinya. Apabila ia mohon perlindungan kepada-Ku, maka aku benar-benar melindunginya. Aku tidak pernah bimbang terhadap sesuatu yang Aku sendiri yang mem­buatnya, sebagaimana kebimbangan-Ku terhadap jiwa seorang yang ber­iman yang tidak ingin mati dan Aku tidak ingin pula menyusahkannya.” (HR Bukhari)

 

Jika telah demikian, maka semua dosa-dosanya dapat dikatakan telah dihapus oleh Allah SWT tanpa diketahui olehnya karena rasa takutnya kepada Dia. Agar dosa-dosanya cepat diampuni-Nya dan cepat pula ditunjuki-Nya kepada jalan lurus, maka dia akan selalu berdoa kepada-Nya di setiap shalatnya (shalat wajib dan shalat sunnat) mengikuti doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

 

Dari Abu Malik Al Asyjai dari ayahnya, dia berka­ta: Apabila ada seseorang masuk Islam, Rasulullah SAW mula-mula akan mengajarkan sembahyang kepadanya. Kemudian beliau menyuruhnya untuk memanjatkan kalimat-kalimat doa berikut ini: Ya Allah, ampunilah aku. Rahmatilah aku. Tunjukkanlah aku. Lindungilah aku. Dan berikanlah rizki kepadaku.” (HR Muslim)

 

Jika doanya (di atas) dikabulkan-Nya, maka Dia akan melindunginya dari syaitan, mengajarinya Al Qur’an dan agama Islam, menunjukinya kepada jalan yang lurus, memberikannya rezeki yang baik-baik dari perbuatan-perbuatan yang Dia rahmati dan mengampuni dosa-dosanya.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menerima taubat manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al A’raaf 153)

 

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nahl 119)

 

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 17)

 

Dan jika Allah SWT mengetahui kesungguhannya dalam bertaubat, maka Dia akan menunjukinya kepada jalan yang lurus melalui perbuatannya yang baik-baik. Allah SWT berfirman:

 

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Furqaan 70)

 

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Thaahaa 82)

 

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min. (At Taubah 112)

 

Orang yang diterima taubatnya hingga diampuni (dihapuskan) dosa-dosanya oleh Allah SWT adalah orang yang berbuat dan bukan yang hanya mengucapkannya. Perbuatannya itu adalah untuk membersihkan dosa-dosanya. Allah SWT menerima amalan-amalannya itu jika Dia mengetahui kesungguhannya dari perbuatannya, dan Dia mengampuni semua dosa-dosanya. Itulah orang yang bertaubat dengan sebenar-benarnya. Allah SWT berfirman:

 

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya. (Al Furqaan 71)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply