Dialog Seri 12: 5
Tilmidzi: “Bukankah umat Islam diwajibkan membaca surat Al Faatihah di setiap raka’at shalat?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tiada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al Faatihah).” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT mewajibkan umat Islam membaca Al Faatihah di setiap raka’at shalat?”
Mudariszi: “Allah SWT memberikan Al Faatihah itu untuk manusia dan memerintahkan manusia untuk membacanya di setiap shalat. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung. (Al Hijr 87)
Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam firman-Nya di atas itulah Al Faatihah. Rasulullah SAW menjelaskan Allah SWT mewajibkan untuk membaca Al Faatihah di setiap raka’at sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat tetapi ia tidak membaca Ummul Qur’an di dalam shalatnya, maka shalatnya itu kurang”, (tiga kali) “tidak sempurna.” Dikatakan kepada Abu Hurairah: “Kami bermakmum.” Ia berkata: “Bacalah dalam hatimu, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku bagi shalat (Faatihah) antara Aku dan hamba–Ku separuh-separuh, dan hamba–Ku boleh meminta apa saja. Apabila seorang hamba membaca: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”, Allah Ta’ala berfirman: “Hamba–Ku bersyukur kepada–Ku”; ketika ia membaca: “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”, Allah Ta’ala berfirman: “Hamba–Ku memuji–Ku”; waktu ia membaca: “Yang menguasai hari pembalasan”, Allah berfirman: “Hamba–Ku mengagungkan–Ku (di lain ketika Dia berfirman: “Hamba–Ku pasrah kepada–Ku)”; kapan ia membaca: “Hanya Engkau–lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau–lah kami mohon pertolongan”, Allah berfirman: “Ini antara Aku dan hamba–Ku, dan hamba–Ku boleh meminta apa saja”; apabila ia membaca: “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”, Allah berfirman: “Ini untuk hamba–Ku, dan hamba–Ku boleh meminta apa saja.” (HR Muslim)
Dengan demikian, umat Islam yang membaca Al Faatihah di setiap raka’at shalat, maka dia mengucapkan berulang-ulang kali penyembahannya kepada Dia yang terdiri dari ucapan syukur, puji-pujian, pengagungan kepada-Nya, dan ucapan permintaan kepada-Nya. Ucapannya itu menjadikan dia benar-benar dalam keadaan berserah diri kepada-Nya ketika dia bermunajat atau berbicara langsung kepada-Nya. Sehingga Allah SWT lalu mengizinkannya untuk meminta apa saja kepada-Nya ketika mengerjakan shalat tersebut.”
Tilmidzi: “Bukankah dalam Al Faatihah sudah ada permintaan kepada-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Tapi Allah SWT mengizinkan hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya selain permintaan dalam Al Faatihah itu. Pemintaan kepada Allah SWT dalam Al Faatihah adalah permintaan agar ditunjuki kepada jalan yang lurus, yaitu jalan-Nya, dan Dia di atas jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. (Al An’aam 126)
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Huud 56)
Jika Allah SWT tidak menetapkan permintaan tersebut dalam Al Faatihah, maka manusia tidak akan meminta kepada-Nya agar ditunjuki kepada jalan yang lurus. Dan jika tidak meminta kepada-Nya, maka Dia tidak akan menunjukinya kepada jalan yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia. Dan jika tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus, maka dia akan menjadi orang yang dimurkai-Nya dan menjadi orang yang sesat.”
Tilmidzi: “Mengapa umat Islam dapat menjadi orang yang dimurkai-Nya atau menjadi sesat jika tidak meminta kepada-Nya agar ditunjuki kepada jalan yang lurus?”
Mudariszi: “Karena ada Iblis yang ingin menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus ketika manusia menjalani hidupnya di dunia. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Dalam menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus, Iblis dan syaitan membuat manusia menyukai kehidupan dunia ketika menjalani hidupnya, agar manusia melupakan-Nya (melupakan agama-Nya). Syaitan membuat manusia suka melakukan perbuatan haram (maksiat), yaitu dengan membuatnya memanfaatkan karunia-Nya yang ada dalam kehidupan dunia tanpa mengikuti peraturan agama-Nya, hingga manusia menganggap perbuatannya itu benar dan baik. Jika manusia menyukai kehidupan dunia dan melupakan Allah SWT (agama-Nya), maka mereka tidak akan ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus hingga menjadi sesat. Allah SWT berfirman:
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Al Hijr 39)
Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah. (An Naml 24-25)
Di lain pihak, Allah SWT telah berjanji kepada hamba-hamba-Nya yang mengikuti-Nya, yaitu akan membantu mereka dari kejahatan Iblis (syaitan). Allah SWT berfirman:
Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 41-42)
Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 12-13)
Allah SWT hanya membantu hamba-hamba-Nya, karena di antara manusia ada orang-orang yang mengikuti Iblis (syaitan). Pengikut Iblis itu pula tidak akan meminta kepada-Nya. Mereka itulah orang-orang yang dimurkai-Nya dan yang menjadi sesat. Dengan demikian, hanya hamba-hamba-Nya yang mengikuti-Nya yang ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus karena mereka selalu meminta kepada-Nya di setiap waktu mengerjakan shalat. Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Yang Maha Luhur telah berfirman: “Aku menurut keyakinan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya jika dia menutur-Ku. Jika dia menutur-Ku di dalam dirinya, maka Aku menuturnya di dalam diri–Ku. Jika dia menutur-Ku di dalam suatu kelompok, maka Aku menuturnya di dalam suatu kelompok yang lebih baik daripadanya. Jika dia mendekati kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekati kepadanya sehasta. Jika dia mendekati kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekati kepadanya sedepa. Dan jika dia mendatangi kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatangi kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah sulit bagi manusia untuk dapat terhindar dari penyesatan Iblis atau syaitan?”
Mudariszi: “Sulit bagi manusia untuk dapat terhindar dari penyesatan Iblis (syaitan) karena syaitan itu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)
Syaitan-syaitan pengikut Iblis itu pula terdiri dari golongan jin dan golongan manusia. Jin itu tidak terlihat oleh manusia, mereka selalu menyertai manusia dan mengganggunya. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:
Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An’aam 112)
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang di antara kalian pasti ada penyertanya berupa jin.” Para sahabat bertanya: “Engkau juga, Ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Aku juga. Hanya saja Allah menolongku, sehingga aku selamat (dari kejahatan dan gangguannya). Dia hanya menyuruhku berbuat kebaikan.” (HR Muslim)
Syaitan dari golongan manusia pula tidak diketahui, karena orang yang jahat tidak akan mengatakan kejahatannya kepada orang yang akan dijahatinya. Syaitan dari golongan manusia itu membantu pula syaitan dari golongan jin karena mereka telah sama-sama menjadi pengikut Iblis. Mereka mengganggu dan menyesatkan manusia tanpa henti-hentinya. Allah SWT berfirman:
Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)
Karena syaitan tidak henti-hentinya mengganggu manusia agar menjadi sesat, Allah SWT lalu memerintahkan hamba-hamba-Nya agar meminta kepada-Nya berulang-ulang di setiap raka’at shalat yang dikerjakannya, dan meminta yang selain itu untuk kebaikannya dan keselamatannya. Tanpa pertolongan-Nya, sulit bagi manusia untuk dapat selamat dari penyesatan syaitan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nuur 21)
Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (An Nisaa’ 83)
Siapa yang dikehendaki-Nya dalam firman-Nya di atas adalah hamba-hamba-Nya atau orang-orang yang mengikuti-Nya, yaitu yang taat mengerjakan shalat dan mengerjakan perintah dan larangan yang Dia tetapkan dalam syariat agama-Nya.”
Tilmidzi: “Bukankah Allah SWT telah memerintahkan manusia agar mengikuti agama-Nya, lalu mengapa harus meminta kepada-Nya agar ditunjuki kepada jalan yang lurus?”
Mudariszi: “Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk mengikuti agama-Nya dan peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Sekalipun manusia telah memeluk agama-Nya, tapi tidak mudah bagi mereka untuk mentaati peraturan agama-Nya ketika menjalani hidupnya. Itu terjadi karena mereka selalu dihalang-halangi oleh syaitan melalui bisikan-bisikan jahatnya dan melalui jalan-jalan bengkok yang diada-adakannya. Contoh jalan-jalan bengkok yaitu jalan-jalan (agama-agama) yang menyekutukan-Nya, jalan-jalan yang membuat manusia tidak mempercayai Tuhan, jalan-jalan yang menuju kepada perbuatan maksiat. Jalan-jalan bengkok itu diada-adakan oleh syaitan dengan tujuan agar diikuti oleh manusia supaya mereka tidak mentaati Allah SWT (agama-Nya) atau tidak mengikuti Allah SWT (agama-Nya) atau meninggalkan Allah SWT (agama-Nya) sehingga mereka menjadi sesat. Karena Allah SWT telah berjanji akan membantu orang-orang yang mengikuti-Nya (hamba-hamba-Nya), maka Dia menjelaskan jalan-Nya yang lurus dan jalan-jalan yang bengkok kepada manusia agar diketahuinya. Allah SWT berfirman:
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. (An Nahl 9)
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)
Dengan mengetahui kedua jalan itu, Dia menghendaki manusia mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (syaitan) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 256)
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (Al An’aam 153)
Dengan tetap mengikuti jalan-Nya yang lurus, maka hamba-hamba-Nya telah memegang teguh agama-Nya, sehingga Dia akan terus menunjukinya kepada jalan yang lurus sampai selamat berjumpa dengan Dia di surga. Allah SWT berfirman:
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Tapi bagi orang yang tetap mengikuti jalan yang bengkok (setelah dijelaskan melalui Al Qur’an), maka dia menjadi orang yang tidak dikehendaki-Nya untuk ditunjuki kepada jalan yang lurus. Jika tidak juga bertaubat, dia akan menjadi orang yang dimurkai-Nya atau orang yang sesat, sekalipun dia memeluk agama-Nya dan mengerjakan shalat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insaan 3)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menunjuki manusia kepada jalan yang lurus?”
Mudariszi: “Allah SWT menunjukinya dengan Al Qur’an seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Karena itu Allah SWT menghendaki manusia membaca Al Qur’an dan mengerjakan shalat. Allah SWT berfirman:
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 3-5)
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. (Al ‘Ankabuut 45)
Jika perintah Allah di atas diabaikan, maka Allah SWT memperingatkan orang-orang yang mengikuti agama-Nya, dengan firman-Nya ini:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 36)
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (Al Furqaan 29)
Dengan demikian, mengerjakan shalat, membaca Al Qur’an dan petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus itu sangat berkaitan erat untuk tidak menjadi orang yang dimurkai-Nya dan tidak menjadi orang yang sesat.”
Wallahu a’lam.