Dialog Seri 12: 1
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menghendaki manusia untuk menyembah-Nya?”
Mudariszi: “Semesta alam atau langit dan bumi beserta semua apa yang ada di langit dan di bumi, baik yang terlihat maupun yang ghaib, diciptakan oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan melalui firman-Nya ini:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. (As Sajdah 4)
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. (Asy Syuura 29)
Tidak ada tuhan lain bersama Allah SWT dalam penciptaan semesta alam. Hanya Allah SWT saja yang menciptakan semesta alam. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit?” (Faathir 40)
Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’ 22)
Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang Dia melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. (An Nisaa’ 171)
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al Faatihah 2)
Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (Al An’aam 101-102)
Manusia tidak berbeda dengan makhluk-makhluk lain yang ada di semesta alam, yaitu makhluk ciptaan-Nya. Sebelum dilahirkan ke dunia, manusia sudah diambil kesaksiannya oleh Allah SWT tentang ke-Esa-an-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al A’raaf 172)
Firman-Nya di atas bukan saja bukti kesaksian manusia atas Tuhannya dan ke-Esa-an Allah SWT, tapi juga ketetapan-Nya bagi manusia agar menyembah Dia saja ketika menjalani hidupnya di dunia. Dan itu dijelaskan pula oleh Allah SWT sebagai berikut:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyembah Dia saja tanpa mempersekutukan-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu. (Al Baqarah 21)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (An Nisaa’ 36)
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 99)
Allah SWT memerintahkan manusia agar menyembah-Nya dengan mengerjakan shalat, dan hal itu dijelaskan-Nya melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa 14)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghendaki agar manusia hanya meminta kepada-Nya saja?”
Mudariszi: “Ya! Dengan Allah SWT menciptakan semesta alam, maka semua apa yang ada di semesta alam ini merupakan kepunyaan-Nya. Allah SWT berfirman:
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. (Al Hajj 64)
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi. (Huud 123)
Ketika menjalani hidupnya, manusia tidak lepas dari karunia-Nya di bumi dan karunia-Nya itu merupakan kepunyaan-Nya. Sehingga, agar menjalani hidupnya dengan benar menurut agama-Nya dengan karunia-Nya di bumi, maka manusia dikehendaki oleh Allah SWT untuk meminta kepada-Nya. Dengan meminta kepada Allah SWT, berarti manusia menyembah Dia saja. Meminta kepada-Nya dapat dilakukan oleh manusia ketika mengerjakan shalat. Allah SWT berfirman:
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah. (Faathir 15)
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash 2)
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk yang ada di semesta alam juga menyembah Allah SWT?”
Mudariszi: “Dalam menjalani hidupnya di dunia, semua makhluk ditetapkan oleh Allah SWT mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya masing-masing. Allah SWT menetapkan peraturan agama-Nya bagi setiap makhluk. Dalam peraturan agama-Nya tersebut, Allah SWT menetapkan semua makhluk menyembah Dia dengan bersujud dan bertasbih. Allah SWT berfirman:
Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? (Al Hajj 18)
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar Ra’d 15)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Al Israa’ 44)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia agar menyembah Dia dengan mengerjakan shalat dalam peraturan agama-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Dalam peraturan agama-Nya, contoh agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk shalat menyembah Dia. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.” Kembali orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.” Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat–Nya, kitab-kitab–Nya, para utusan–Nya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Lalu lanjutnya: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat–Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat–Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat.” Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut lebih tahu ketimbang orang yang bertanya.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kambing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Muslim)
Kewajiban-kewajiban dalam sunnah Rasulullah di atas merupakan pokok-pokok agama Islam, dengan shalat sebagai ibadah yang paling utama. Kewajiban yang lainnya adalah kewajiban agama beribadah kepada-Nya (atau menyembah-Nya) yang dikerjakan oleh umat Islam dengan ikhlas dan taat ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. (Al Mu’min 65)
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Az Zumar 2)
Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan kepada umatnya tentang kewajiban agama beribadah kepada-Nya, yaitu melalui firman-Nya berikut ini:
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Az Zumar 14)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (Az Zumar 11-12)
Tilmidzi: “Apakah umat-umat Rasul sebelum Rasulullah SAW juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk shalat menyembah-Nya dengan mengikuti peraturan agama-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Contohnya perintah Allah kepada Nabi Musa (Rasul-Nya) dan umatnya agar mengerjakan shalat menyembah-Nya ketika menjalani hidupnya. Allah SWT berfirman:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir? (Al Baqarah 43-44)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (Al Baqarah 83)
Juga perintah Allah kepada Nabi ‘Isa (Rasul-Nya) dan umatnya agar mengerjakan shalat ketika menjalani hidupnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Zaid bin Sallam berkata: “Sesungguhnya Abu Sallam menceritakan kepadanya bahwa Haris Al Asy’ari menceritakannya, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah perintah kepada Yahya bin Zakaria lima ajaran supaya ia melaksanakannya. Allah (juga) perintah kepada Bani Israil untuk melaksanakannya, dan sesungguhnya ia hampir-hampir malas melaksanakannya. Nabi Isa bersabda: “Sesungguhnya Allah perintah kepadamu dengan lima ajaran supaya kamu melaksanakan dan supaya kamu perintah kepada Bani Israil untuk melaksanakannya. Adakalanya kamu yang perintah kepada mereka atau adakalanya saya perintah kepada mereka.” Nabi Isa bersabda: “Hai Yahya, jika engkau mendahuluiku dengannya, saya takut dimusnahkan atau disiksa.” (Setelah itu) orang-orang berkumpul di Baitul Maqdis memenuhi masjid dan duduk-duduk di serambinya, maka Nabi Yahya bersabda: “(Hai Bani Israil), sesungguhnya Allah perintah kepadaku lima ajaran supaya saya melaksanakan dan supaya saya perintah kepadamu untuk melaksanakannya. Pertama, yaitu supaya kamu menyembah Allah dan jangan menyekutukan–Nya barang sedikitpun. Perumpamaan orang yang menyekutukan Allah seperti seorang lelaki membeli hamba sahaya dari harta murninya dengan emas atau perak, dan ia berkata (kepada hambanya): “Ini rumahku, ini pekerjaanku, maka kerjakan dan laksanakan (semua itu) untukku”, akan tetapi ia mengerjakan dan melaksanakan (tugas) bukan pada tuannya. Maka siapakah yang rela apabila hambanya seperti itu? Kedua, Allah perintah kepadamu semua mengerjakan shalat. Apabila kamu semua melaksanakan shalat, maka janganlah kamu tengak-tengok karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah–Nya kepada muka hamba–Nya di dalam shalat hamba-Nya selagi ia tidak tengak-tengok. Ketiga, Allah perintah kepadamu berpuasa; adapun perumpamaannya seperti seorang lelaki dalam satu kelompok, ia membawa satu kantong minyak misik, maka sekelompok tadi dibuat terheran-heran atau merasa heran oleh baunya. (Begitu juga) sesungguhnya bau orang puasa di sisi Allah lebih harum dari minyak misik. Keempat, Allah perintah kepadamu bersedekah; adapun perumpamaannya adalah seperti seorang lelaki yang ditawan musuh, musuh tadi mengikatnya dari tangan sampai lehernya, kemudian mereka mengajukannya untuk di penggal lehernya, maka sedekah tadi berkata: “Saya penebusnya dari kamu semua baik sedikit atau banyak (dalam bersedekah)”, maka sedekah tadi menebus jiwanya dari mereka. Kelima, Allah perintah kepadamu untuk selalu dzikir (mengingat-ingat)–Nya; adapun perumpamaannya adalah seperti seorang lelaki yang dikejar musuh di belakangnya dengan cepat, sehingga tatkala lelaki tadi sudah sampai di benteng yang kokoh, ia melindungkan jiwanya dari musuh. Begitu juga hamba, ia tidak bisa menjaga jiwanya dari syaitan kecuali selalu dzikir kepada Allah.” Rasulullah SAW bersabda: “Saya juga perintah kepadamu dengan lima (perkara), Allah telah perintah kepadaku dengan lima itu, yaitu: mendengar dan taat (kepada penguasa), jihad, hijrah dan berjama’ah (berkelompok), karena seseorang yang meninggalkan kelompoknya sekedar sejengkal, berarti ia telah memutus buhul Islam dari lehernya, kecuali ia mau kembali (ke kelompoknya). Dan barangsiapa mengajak-ajak kepada ajakan kaum Jahiliah, maka orang itu termasuk kelompok ahli neraka.” Seorang lelaki berkata: “Meskipun ia shalat dan berpuasa?” Rasulullah bersabda: “Meskipun ia shalat dan berpuasa; maka ajak-ajaklah kepada ajakan Allah yang Allah telah menamakan orang-orang muslim yang beriman sebagai hamba-hamba Allah.” (HR Tirmidzi)
Wallahu a’lam.