Dialog Seri 7: 2
Tilmidzi: “Apakah semua yang ada di bumi akan mati seperti manusia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (Ar Rahmaan 26)
Tilmidzi: “Apakah semua yang binasa (mati) itu termasuk gunung-gunung?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan tentang gunung-gunung di bumi itu sebagai berikut:
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. (An Naml 88)
Dan gunung benar-benar berjalan. (Ath Thuur 10)
Gunung-gunung yang berjalan (bergerak) itu pada waktunya akan hancur binasa atau mati, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al Waaqi’ah 4-6)
Tilmidzi: “Jika semua apa yang ada di bumi akan mati, lalu apakah semua yang ada di langit juga akan mati?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana. (Al Muzzammil 18)
Jika langit pecah, maka semua apa yang ada di langit akan menjadi hancur binasa atau mati. Dan jika itu terjadi, maka itulah kiamat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. (Al Haaqqah 15)
Tilmidzi: “Jika demikian, kiamat itu pasti akan terjadi?”
Mudariszi: “Allah SWT menciptakan segala sesuatu di semesta alam sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al Qamar 49)
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (Al Ahqaaf 3)
Ukuran dalam firman-Nya di atas termasuk jangka waktu (ukuran) hidup bagi segala sesuatu ciptaan-Nya termasuk bagi setiap makhluk ciptaan-Nya. Sehingga, semua ciptaan-Nya di semesta alam termasuk langit dan bumi akan mati, dan itu berarti kiamat pasti akan terjadi. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya. (Al Hajj 7)
Ketika kiamat terjadi, Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Al Qashash 88)
Dia-lah Yang hidup kekal. (Al Mu’min 65)
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar Rahmaan 27)
Tilmidzi: “Dimana semua makhluk yang telah mati itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maa-idah 18)
Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An Najm 42)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa semua makhluk termasuk manusia yang mati akan kembali kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk). (An Nuur 42)
Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Qaaf 43)
Tilmidzi: “Kapan terjadinya kiamat?”
Mudariszi: “Hanya Allah SWT saja yang mengetahui waktu kiamat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman 34)
Allah SWT hanya menjelaskan kiamat itu sebagai berikut:
Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. (Al A’raaf 187)
Allah SWT tidak menjelaskan waktu kiamat tersebut, tapi Dia menjelaskan tanda-tanda kedatangan waktu kiamat agar manusia dapat mempersiapkan dirinya dengan beramal kebajikan di dunia sebanyak mungkin. Allah SWT berfirman:
Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat, (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang? (Muhammad 18)
Tilmidzi: “Bagaimana tanda-tanda kedatangan waktu kiamat tersebut?”
Mudariszi: “Salah satu tanda-tanda kedatangan kiamat yaitu banyaknya para ulama yang wafat sehingga terjadi kebodohan karena munculnya orang-orang muda bicara tentang agama-Nya dengan pengetahuan agama yang lemah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebegai berikut:
Dari Syaqiq, dia berkata: “Adalah aku bersama Abdullah (ibnu Mas’ud) dan Abu Musa (al–Asyari), maka keduanya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara dua tangan (yakni di hadapan) kiamat terdapat beberapa hari dimana pada hari-hari itu ilmu diangkat (dengan kematian ulama), kebodohan turun pada hari-hari itu dan pada hari-hari itu banyak kekacauan (kekacauan itu adalah pembunuhan).” (HR Bukhari)
Dari Suwaid bin Ghaflah, ia berkata: “Ali berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Al Qur’an yang tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak-panah menembus binatang buruan. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka. Karena, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR Muslim)
Keadaan di atas menimbulkan berbagai fitnah dan kekacauan hingga terjadi pembunuhan-pembunuhan di antara manusia. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW bersabda: “Terjadi fitnah di hadapan tanda-tanda datangnya hari kiamat seperti bagian dari malam yang gelap gulita, dimana pagi-pagi seseorang itu mu’min dan sore-sore menjadi kafir, sore-sore dia seorang mu’min dan pagi-pagi menjadi kafir, suatu kaum menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Masa (kiamat) mendekat, amal berkurang, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati manusia), fitnah-fitnah bermunculan dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: “Apakah (kekacauan) itu?” Beliau bersabda: “Pembunuhan, pembunuhan.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan agama Islam (agama-Nya) pada waktu itu?”
Mudariszi: “Keadaan agama Islam (agama-Nya) dan orang-orang beriman pada waktu itu seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali sebagaimana dia mulai, menjadi asing. Karena itu, berbahagialah orang-orang asing.” (HR Muslim)
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah dalam suasana kacau itu seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan–Nya, dunia tidak akan hancur sehingga ada seseorang melewati kubur orang lain, maka dia berhenti lalu berkata: “Alangkah senangnya jika aku yang menjadi penghuni kubur ini.” Dan demikian itu bukan ajaran agama, tapi hanya karena beratnya cobaan di dunia.” (HR Muslim)
Orang-orang kafir yang merupakan pengikut Iblis dan tidak menyukai agama-Nya, berusaha melenyapkan agama Islam dan orang-orang beriman. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan umatnya pada waktu itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al-Kudri, bahwa sesungguhnya dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Hampir terjadi sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing yang diikutinya di puncak gunung dan di tempat-tempat turun hujan (untuk menggembala dan mencari air), dimana dia lari dengan (membawa) agamanya dari fitnah-fitnah.” (HR Bukhari)
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bakal terjadi fitnah, di saat itu orang yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari pada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik dari pada yang berlari. Orang yang coba-coba mendekatinya akan dibantingnya. Jadi siapapun yang mendapatkan tempat berlindung darinya hendaklah berlindung.” (HR Muslim)
Meskipun agama-Nya (agama Islam) diperangi dan ingin dilenyapkan oleh orang-orang kafir, Rasulullah SAW menjelaskan tentang umat Islam yang beriman sebagai berikut:
Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, sesungguhnya Umair bin Hani bercerita kepadanya, dia mengatakan: “Aku pernah mendengar Mu’awiyah berkata di atas mimbar: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada sekelompok dari ummatku yang senantiasa setia menegakkan agama Allah. Mereka tidak gentar terhadap orang-orang yang menyalahi atau menentang mereka. Sampai hari kiamat kelakpun mereka akan senantiasa sudi membela manusia.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu pernah mendengar tentang suatu kota yang satu sisinya di laut dan sisi yang lain berada di darat?” Mereka berkata: “Ya, hai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kota tersebut diserang tujuh puluh ribu orang dari keturunan Nabi Ishaq. Setelah sampai, mereka menyerbu. Mereka tidak menyerang dengan pedang atau panah, mereka membaca: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah salah satu sisinya.” Tsaur berkata: “Aku hanya tahu beliau bersabda: “Yang ada di laut. Kemudian mereka membaca untuk yang kedua kalinya: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka jatuhlah sisi yang lain. Lalu mereka membaca lagi: Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, maka mereka menang. Lantas mereka memasukinya dan memperoleh barang jarahan. Ketika mereka sedang membagi barang jarahan, mendadak datang seseorang yang berteriak: “Sesungguhnya Dajjal telah keluar.” Maka mereka meninggalkan apa saja lalu kembali.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Siapakah Dajjal itu dan apakah keluarnya Dajjal merupakan tanda kedatangan kiamat?”
Mudariszi: “Keluarnya Dajjal merupakan salah satu tanda kedatangan kiamat. Rasulullah SAW menjelaskan Dajjal sebagai berikut:
Dari Qatadah, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tiada satu Nabi pun melainkan pasti sudah memperingatkan kaumnya terhadap pendusta yang buta sebelah. Ingat, sesungguhnya dia (Dajjal) itu buta sebelah sedang Tuhanmu tidak buta sebelah, dan di antara kedua matanya tertulis kaaf fa ra.” (HR Muslim)
Banyaknya fitnah dan kekacauan pada waktu itu membuat orang-orang kafir dan munafik mengikuti Dajjal, sedangkan orang-orang beriman menjauhi Dajjal. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal akan datang (dari timur, Khurasan) hingga menempat di pinggir Madinah, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, maka keluarlah kepadanya (Dajjal) setiap orang kafir dan munafik.” (HR Bukhari)
Dari Abu Zubair, ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: “Aku diberitahu Ummu Syarik bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh manusia akan berlari ke gunung-gunung menghindar dari Dajjal.” Ummu Syarik bertanya: “Wahai Rasulullah, di mana orang Arab waktu itu?” Beliau bersabda: “Mereka sedikit.” (HR Muslim)
Dajjal dan orang-orang kafir akan memerangi agama-Nya (agama Islam) dan orang-orang beriman hingga Allah SWT menurunkan Nabi ‘Isa untuk memimpin orang-orang beriman menegakkan agama-Nya (agama Islam). Turunnya Nabi ‘Isa juga merupakan salah satu tanda kedatangan kiamat. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan kami mendapatkan orang-orang yang telah menawan teman-teman kami, kami akan membunuhnya.” Pasukan muslim menjawab: “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan membiarkan kalian membunuh saudara-saudara kami.” Akhirnya terjadi pertempuran di antara mereka. Sepertiga dari pasukan muslim melarikan diri, Allah tidak akan menerima taubat mereka selamanya; sepertiga lagi terbunuh, mereka adalah syuhada yang paling utama di sisi Allah; dan yang sepertiga lagi menang, tidak difitnah selamanya, maka mereka menguasai Konstantinopel. Kemudian ketika mereka sedang membagi-bagi ghanimah sambil menggantungkan pedang pada pohon Zaitun, tiba-tiba setan berteriak di tengah-tengah mereka: “Sesungguhnya Al Masih telah menggantikan kalian dalam keluarga kalian.” Maka mereka keluar, padahal demikian itu tidak benar. Tatkala mereka mendatangi Syam, setan keluar. Kemudian pada waktu menyusun barisan dan bersiap-siap untuk berperang, mendadak shalat di iqamati lalu Nabi ‘Isa bin Maryam turun dan mengimami mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana Nabi ‘Isa yang telah wafat dapat hidup kembali?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi ‘Isa belum (bukan) wafat, melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. (An Nisaa’ 157-158)
Allah SWT mengangkat Nabi ‘Isa kepada-Nya dalam firman-Nya di atas menunjukkan beliau belum wafat, karena itu beliau diturunkan-Nya kembali ke bumi untuk diwafatkan-Nya. Nabi ‘Isa memimpin pasukan orang-orang beriman memakai syariat agama-Nya (Islam) dalam Al Qur’an dan bukan memakai syariat agama-Nya dalam Taurat dan Injil, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimanakah kalian bila Ibnu Maryam turun pada kalian lalu menjadi imam kalian dan kalian?” Aku (Al Walid bin Muslim, perawi hadis) berkata bahwa Ibnu Abu Dzi’bi berkata: “Dia (‘Isa) menjadi imam kalian dengan menggunakan Kitab Tuhan kalian Tabaraka wa Ta’ala (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi kalian Muhammad SAW.” (HR Muslim)
Jabir bin Abdullah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak henti-hentinya sekelompok dari ummatku berkelahi berebut benar yang tampaknya sampai hari kiamat. Lalu ‘Isa bin Maryam turun maka berkatalah pemimpin mereka: “Marilah, do’akanlah kami.” ‘Isa menjawab: “Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap ummat ini.” (HR Muslim)
Nabi ‘Isa bersama-sama dengan umat Islam lalu menegakkan agama Islam dengan memerangi orang-orang kafir dari Ahli Kitab, seperti dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum kaum muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum muslimin dapat mengalahkan mereka sampai ada orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon lalu batu atau pohon tadi berkata: “Hai muslim, hai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon berduri), karena ia pohonnya orang Yahudi.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah! Ibnu Maryam (‘Isa) benar-benar akan turun sebagai hakim yang adil. Dia akan memecahkan salib, membunuh babi dan meletakkan upeti. Unta muda (menurut orang Arab, merupakan harta paling berharga) akan ditinggalkan, tidak lagi diidamkan. Permusuhan, saling benci dan saling mengiri akan hilang. Harta disodorkan, tetapi tak seorangpun mau menerimanya.” (HR Muslim)
Nabi ‘Isa juga membunuh Dajjal, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Nu’man bin Salim, ia berkata: “Aku mendengar Ya’qub bin Ashim bin Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Amr didatangi seorang lelaki, lalu berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: “Dajjal akan keluar kepada umatku dan berdiam selama empat puluh (aku tidak tahu, apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun), kemudian Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia Urwah bin Mas’ud. Maka ia mencari Dajjal lalu membinasakannya. (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ketika musuh Allah melihatnya, ia mencair seperti garam mencair di dalam air sampai binasa, tetapi Allah membunuhnya dengan perantaraan tangan Nabi ‘Isa, lalu kepada mereka Nabi ‘Isa memperlihatkan darah musuh yang menempel pada tombaknya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah matinya Dajjal menjadikan kiamat semakin dekat?”
Mudariszi: “Setelah Nabi ‘Isa membunuh Dajjal, Allah SWT lalu membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj. Turunnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan tanda kedatangan kiamat. Ya’juj dan Ma’juj itu memerangi semua orang termasuk memerangi Nabi ‘Isa dan umat Islam. Allah SWT berfirman:
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Al Anbiyaa’ 96)
Allah SWT membantu Nabi ‘Isa dan umat Islam dengan membunuh Ya’juj dan Ma’juj. Setelah itu semua orang hidup tenang dan tidak ada lagi perang. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Nawas bin Sam’an, ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW bersabda: “Setelah itu beliau didatangi kaum yang telah dijaga Allah dari kejahatan Dajjal, beliau mengusap wajah mereka lalu menceritakan derajat mereka di surga. Ketika beliau dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah memberikan wahyu: “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku, tiada seorangpun yang mampu membunuhnya, maka jaga dan kumpulkanlah hamba-hamba-Ku di gunung Thur.” Kemudian Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj yang dengan cepat turun dari tempat-tempat yang tinggi. Ketika yang terdepan dari mereka melewati danau Thabariyah, mereka minum apa yang ada disitu; dan tatkala yang terakhir lewat, mereka berkata: “Sungguh di tempat ini pernah ada air.” Dan Nabiyullah ‘Isa dan sahabat-sahabatnya dikepung sehingga kepala seekor lembu bagi salah seorang dari mereka lebih baik daripada seratus dinar bagi salah seorang dari kamu pada hari ini; kemudian Nabiyullah ‘Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah, maka Allah mengirim ulat ke tengkuk mereka (Ya’juj dan Ma’juj), sehingga mereka semua mati seperti matinya satu jiwa. Setelah itu Nabiyullah ‘Isa dan sahabat-sahabatnya turun ke bumi. Mereka tidak menemukan sejengkalpun tempat di bumi kecuali telah dipenuhi lemaknya Ya’juj dan Ma’juj yang berbau busuk. Maka Nabiyullah ‘Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah, maka Allah mengirim burung seperti unta yang kemudian membawa mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dan melemparkannya di tempat yang dikehendaki Allah; kemudian Allah mengirim hujan yang tidak dapat dihalangi oleh rumah dari tanah maupun dari bulu, maka hujan tadi mencuci bumi sampai bersih seperti kaca, lalu dikatakan kepada bumi: “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikan berkahmu.” Maka pada hari itu serombongan orang memakan buah delima dan berteduh dengan kelopaknya; air susupun diberkati sehingga air susu seekor unta yang hampir beranak cukup untuk serombongan orang, air susu seekor sapi cukup untuk satu kabilah, air susu seekor kambing cukup untuk satu keluarga. Ketika mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirim angin yang harum yang bertiup di bawah ketiak mereka lalu mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim, dan yang tersisa adalah orang-orang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (bersetubuh di depan umum tanpa rasa malu), maka pada masa mereka itulah kiamat terjadi.” (HR Muslim)
Setelah tenang, syaitan di masa itu berhasil membuat sebagian orang-orang menjadi jahat kembali, sehingga waktu kiamat makin mendekat.”
Tilmidzi: “Apakah angin dingin yang mematikan orang-orang mukmin dalam sunnah Rasulullah di atas merupakan tanda dekatnya kiamat?”
Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya apa yang dikehendaki Allah dari hal itu akan terjadi, kemudian Allah mengirim angin yang harum lalu angin tersebut mematikan semua orang yang di hatinya ada iman seberat biji sawi, maka yang tertinggal adalah orang yang tidak ada kebaikannya sama sekali sehingga mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sampai pinggung wanita-wanita suku Daus bergoyang di sekitar Dzul Khalashah.” Dzul Khalashah adalah berhala yang pada jaman Jahiliyah disembah suku Daus di Tabalah (suatu tempat di Yaman). (HR Muslim)
Pada waktu itu yang tinggal di bumi hanyalah orang-orang jahat. Mereka menghancurkan Ka’bah, sehingga tidak ada lagi agama Allah di muka bumi. Tidak ada lagi orang yang menyebut asma Allah dan yang beribadah kepada-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dari Abdullah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kiamat hanya terjadi terhadap manusia-manusia jahat.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Ka’bah akan dirobohkan oleh orang-orang yang berbetis kecil dari Habasyah (Ethiopia).” (HR Muslim)
Dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak bakal terjadi sampai tidak
dikatakan lagi di bumi: “Allah, Allah.” (HR Muslim)
Pada waktu itu tanda-tanda menuju terjadinya kiamat semakin mendekat, dan adapun tanda-tanda tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Dan apabila perkatan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (An Naml 82)
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Aku menghafal satu hadis dari Rasulullah SAW yang belum pernah aku lupakan. Aku mendengar beliau bersabda: “Tanda-tanda kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang darat kepada manusia pada waktu dhuha. Mana saja yang muncul lebih dulu, maka yang lain akan menyusul dalam waktu dekat.” (HR Muslim)
Iman orang ketika itu tidak akan ada gunanya lagi, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai matahari terbit dari arah baratnya. Apabila matahari telah terbit dari barat, maka manusia seluruhnya akan beriman. Tetapi, pada saat itu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelumnya, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (surat Al An’aam ayat 158). (HR Muslim)
Wallahu a’lam.