Dialog Seri 7: 6
Tilmidzi: “Dimana manusia dikumpulkan oleh Allah SWT untuk dihisab perbuatannya di dunia?”
Mudariszi: “Manusia (semua orang) dikumpulkan oleh Allah SWT di padang Mahsyar yang datar di bumi yang baru. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim 48)
Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun. (Al Kahfi 47)
Manusia dibawa menghadap Allah SWT di padang Mahsyar dalam keadaan sebagai berikut:
Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Al Kahfi 48)
Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. (An Naba’ 18)
Tilmidzi: “Bagaimana keadaan di padang Mahsyar pada waktu itu?”
Mudariszi: “Pada waktu itu matahari didekatkan ke padang Mahsyar, sehingga suhu panas di padang Mahsyar membuat keadaan manusia seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Miqdad bin Aswad, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat, matahari didekatkan kepada makhluk sampai jarak di antara keduanya sekitar satu mil.” Sulaim bin Amir berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan mil. Apakah itu ukuran jarak di bumi atau pensil pencelak mata?” Rasulullah SAW selanjutnya bersabda: “Maka ketergenangan manusia di dalam keringat mereka tergantung pada kadar amal mereka, ada yang tergenang sampai mata kakinya, ada yang sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya dan ada yang dipasangi kendali keringat.” Dan beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan tangannya.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW tentang ayat: “Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta.” (surat Al Muthaffifiin ayat 6), beliau bersabda: “Seseorang dari mereka tenggelam dalam peluhnya sampai pertengahan telinganya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mendatangi padang Mahsyar?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Diceritakan oleh Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala melipat beberapa langit pada hari kiamat, kemudian menggenggam langit-langit itu dengan tangan kanan–Nya, lalu berfirman: “Akulah Raja! Mana orang-orang yang sewenang-wenang? Mana orang-orang yang congkak?” Kemudian Dia melipat bumi dengan tangan kiri–Nya, lalu berfirman: “Aku adalah Raja! Mana orang-orang yang sewenang-wenang? Mana orang-orang yang congkak?” (HR Muslim)
Allah SWT mendatangi padang Mahsyar bukan berarti dengan menampakkan diri-Nya, tapi dari belakang tabir. Kekuasaan dan semua urusan pada waktu itu hanya berada pada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Al Infithaar 19)
Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. (Al Furqaan 26)
Tilmidzi: “Bagaimana padang Mahsyar dengan kedatangan Allah SWT?”
Mudariszi: “Kedatangan Allah SWT membuat padang Mahsyar menjadi sebagai berikut:
Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya. (Az Zumar 69)
Sedangkan semua makhluk yang dikumpulkan di padang Mahsyar menghadap-Nya dalam keadaan sebagai berikut:
Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris, (Al Fajr 22)
Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An Naba’ 38)
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk (selain manusia) juga dikumpulkan di padang Mahsyar?”
Mudariszi: “Ya! Hal itu dijelaskan melalui firman-Nya berikut ini:
Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Huud 103)
Tilmidzi: “Mengapa semua makhluk dikumpulkan di padang Mahsyar?”
Mudariszi: “Ketika manusia menjalani hidupnya (melaksanakan amanah) di dunia, manusia tidak lepas dari semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, karena semua makhluk ditundukkan oleh Allah SWT untuk manusia. Bahkan sebagian makhluk di bumi menjadi kebutuhan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (Al Jaatsiyah 13)
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman 20)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. (Al Hijr 20)
Dalam melaksanakan amanah (menjalani hidup) di dunia dengan karunia-Nya di langit dan di bumi, manusia diperintahkan-Nya untuk mengikuti agama-Nya agar tidak merusak atau merugikan hak-hak semua makhluk. Allah SWT berfirman:
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)
Karena itu, dalam menghisab perbuatan manusia di dunia, Allah SWT menghadirkan semua makhluk tersebut untuk menyaksikan atau sebagai saksi. Contoh, bumi menjadi saksi bagi setiap orang, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Said Al-Maqburi dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW membaca ayat: “Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya.” (surat Az Zalzalah ayat 4), beliau bersabda: “Apakah kamu tahu apakah berita-beritanya?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya berita-beritanya adalah bumi menjadi saksi kepada setiap hamba laki maupun perempuan terhadap apa yang dilakukan di atasnya dengan berkata: “Dia berbuat ini dan ini di hari ini dan ini.” Beliau bersabda: “Inilah pemberitaannya, inilah tugasnya, maka inilah berita-berita yang disampaikan olehnya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah ada saksi-saksi yang dihadirkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Dalam menghisab perbuatan manusia, Allah SWT menghadirkan Nabi-Nabi sebagai saksi bagi setiap orang. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (Az Zumar 69)
Manusia ketika melaksanakan amanah (menjalani hidup) di dunia dengan karunia-Nya di bumi, diwajibkan mengikuti agama-Nya dan peraturan (syariat) agama-Nya seperti yang dijelaskan sebelumnya di atas. Agama-Nya dan peraturan agama-Nya itu dijelaskan oleh Allah SWT melalui ayat-ayat-Nya yang Dia turunkan kepada Nabi-Nabi. Nabi-Nabi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya tersebut kepada umatnya masing-masing agar umat Nabi mengetahuinya dan mengikutinya ketika menjalani hidup supaya umat Nabi menjadi selamat di dunia dan di akhirat. Adapun ayat-ayat-Nya yang dijelaskan oleh Nabi-Nabi tersebut termasuk penjelasan berikut ini:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al Hadiid 25)
Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-Rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Al Kahfi 56)
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. (Ash Shaff 9)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (syaitan atau lain-lain selain Allah) itu.” (An Nahl 36)
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan. (Al Hajj 67)
Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al Maa-idah 48)
Karena itu Allah SWT menghadirkan Nabi-Nabi sebagai saksi bagi umatnya masing-masing, karena Dia akan menanyakan setiap umat (setiap orang) dan menanyakan pula Nabi tersebut. Allah SWT berfirman:
Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami). (Al A’raaf 6)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT akan menanyakan Nabi-Nabi atas penyampaian dan penjelasan ayat-ayat-Nya kepada umat Nabi?”
Mudariszi: “Ya! Contohnya Rasulullah SAW yang menerima Al Qur’an untuk disampaikan kepada manusia, akan ditanyakan oleh Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az Zukhruf 44)
Tilmidzi: “Apakah setiap Nabi bertanggung jawab atas perbuatan setiap umatnya di dunia?”
Mudariszi: “Nabi (Rasul) hanya bertanggung jawab atas penyampaian dan penjelasan ayat-ayat-Nya kepada umatnya dengan sejelas-jelasnya. Allah SWT berfirman:
Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maa-idah 92)
Jika ada umat Nabi (Rasul) yang mengingkari Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan agama-Nya setelah Nabi wafat, maka Nabi tersebut tidak bertanggung jawab atas perbuatan umatnya itu, karena Nabi tidak mengetahuinya. Perbuatan umat Nabi ketika Nabi wafat hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Allah SWT berfirman:
(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?” Para Rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.” (Al Maa-idah 109)
Karena itu, jika ada umat Nabi (Rasul) mengganti ayat-ayat-Nya atau syariat (peraturan) agama-Nya setelah Nabi tersebut wafat, maka Nabi tidak bertanggung jawab atas perbuatan umatnya itu. Contoh umat Nabi ‘Isa yang mengganti agama-Nya dan syariat agama-Nya, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ’Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan Ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakan). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al Maa-idah 116-117)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah Allah SWT menanyakan umat Nabi (setiap orang) dengan menghadirkan Nabi sebagai saksi bagi umat Nabi itu?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (Rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf. (An Nahl 84)
Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. (Al Muzzammil 15)
Allah SWT bertanya kepada semua umat Nabi, baik yang beriman maupun yang kafir, atas perbuatannya di dunia, meskipun Nabi itu hanya memiliki satu orang pengikut atau tidak ada pengikut. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Hushain bin Abdirrahman dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Beberapa ummat diperlihatkan kepadaku. Aku melihat seorang Nabi disertai sekelompok kecil (tidak lebih dari sepuluh orang), ada lagi Nabi yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula Nabi yang tidak disertai seorangpun.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana jika semua umat Nabi yang kafir membantah kekafirannya karena mereka mengetahui Nabi tidak memiliki bukti orang yang kafir dan yang beriman?”
Mudariszi: “Allah SWT mengetahui hal tersebut di atas dapat terjadi, karena itu Dia menghadirkan Rasulullah SAW sebagai saksi bagi seluruh manusia termasuk bagi umat Nabi-Nabi sebelum beliau. Allah SWT berfirman:
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. (An Nahl 89)
Rasululah SAW menjadi saksi bagi seluruh manusia, karena beliau diutus oleh Allah SWT untuk semua umat manusia. Allah SWT berfirman:
Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An Nisaa’ 79)
Al Qur’an yang diberikan kepada Rasulullah SAW oleh Allah SWT untuk seluruh manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)
(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia. (Ali ’Imran 138)
(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia. (Ibrahim 52)
Manusia dalam firman-Nya di atas itu termasuk umat Rasulullah, umat Nabi-Nabi sebelum beliau dan umat musyrik (yang menyembah tuhan selain Dia). Allah SWT berfirman:
(Kami turunkan Al Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (Al An’aam 156)
Hal itu membuat umat Nabi-Nabi sebelum Rasulullah SAW yang kafir dan orang-orang musyrik (kafir) tidak dapat berbohong kepada Allah SWT ketika dihisab-Nya pada hari kiamat, karena Dia akan menghadirkan Rasulullah SAW sebagai saksi bagi mereka semua. Allah SWT berfirman:
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (An Nisaa’ 41)
Tilmidzi: “Apakah semua Nabi sudah mengetahui tentang Rasulullah SAW yang akan menjadi saksi bagi umat Nabi masing-masing?”
Mudariszi: “Ya! Karena Allah SWT telah mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi atas kedatangan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku akan menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali ‘Imran 81)
Contoh, Nabi Ibrahim yang berdoa kepada Allah SWT ketika membangun dan membersihkan Baitullah (Ka’bah) di Mekkah, agar diutus Rasulullah SAW kepada penduduk Mekkah, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 129)
Demikian pula dengan Nabi Musa dan Nabi ‘Isa yang mengetahui kedatangan Rasulullah SAW hingga keduanya menjelaskan kepada umatnya masing-masing, seperti dijelaskan dalam firman-Nya ini:
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al A’raaf 157)
Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Ash Shaff 6)
Karena itu umat Nabi Musa dan umat Nabi ‘Isa mengetahui Rasulullah SAW jika mereka tidak menyembunyikan kebenaran itu. Allah SWT berfirman:
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 146)
Tilmidzi: “Apakah ada saksi-saksi lain yang dihadirkan oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Selain menghadirkan Nabi-Nabi, Allah SWT juga menghadirkan orang-orang bertakwa sebagai saksi. Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. (Al Hadiid 19)
Contoh orang-orang bertakwa yang dihadirkan oleh Allah SWT sebagai saksi, yaitu umat Rasulullah (Islam) yang bertakwa. Allah SWT berfirman:
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah 143)
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. (Al Hajj 78)
Allah SWT menjelaskan orang-orang yang bertakwa itu sebagai berikut:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Al Hujuraat 13)
Wallahu a’lam.