Apakah Allah SWT Bertanya Kepada Orang Dan Jin Kafir?

Dialog Seri 7: 7

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menghisab perbuatan manusia dengan bertanya kepadanya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Al-Amasy dari Khaitsamah dari Adiy bin Hatim berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang dari kamu kecuali Tuhan­nya akan berbicara dengannya di hari Kiamat dan tidak ada antara Dia dan antaranya seorang penerjemah, kemudian ia melihat ke kanannya lalu ia tidak melihat sesuatu kecuali sesuatu yang telah ia lakukan, kemudian ia melihat ke kirinya maka ia tidak melihat sesuatu kecuali sesuatu yang telah ia lakukan. Kemudian ia melihat di hadapan mukanya maka neraka menghadapinya.” Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa di antara kamu dapat menjaga mukanya dari api neraka biarpun dengan sepotong kurma, maka hendaklah ia lakukan.” (HR Tirmidzi)

 

Allah SWT bertanya kepada setiap orang ketika menghisab perbuatannya di dunia, yaitu dari belakang tabir; Dia menanyakan beberapa perkara, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Al Amasy dari Said bin Abdillah bin Juraij dari Abu Barzah Al-Aslami berkata:Rasulullah SAW bersabda:Kedua telapak kaki seseorang tidak pindah-pindah sehingga ia ditanya tentang umurnya dalam apa saja ia habiskan, tentang ilmunya dalam apa saja ia lakukan dan tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan dalam apa saja ia belanjakan, dan tentang tubuhnya dalam apa saja ia sibukkan.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT bertanya kepada orang-orang kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT memanggil orang-orang kafir itu sebagai berikut:

 

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera. (Al Qalam 42-43)

 

Orang-orang kafir itu menjalani hidupnya di dunia dengan tidak mengikuti agama-Nya. Nabi yang menjelaskan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya kepada mereka diminta kesaksiannya atas jawaban (perbuatan) mereka. Mereka ditanya tentang hartanya yang diperoleh dari karunia-Nya di bumi, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas dari Rasulullah SAW bersabda:Manusia didatangkan di hari kiamat seolah-olah anak domba, dihadapkan di hadapan Allah Taala, lalu Allah berfirman:Telah Aku berikan kepadamu, telah Aku utamakan kamu dan telah Aku berikan kepadamu nikmat. Apakah yang telah kamu perbuat? Lalu dia menjawab: Aku telah mengumpulkannya, mengembangkannya dan meninggalkannya lebih banyak dari semula, maka kembalikanlah aku dan aku datang kembali menghadapMu dengan membawa semuanya.” Allah berfirman kepadanya: “Tunjukkan padaKu apa yang telah kamu perbuat!” Lalu dia menjawab:Ya Tuhan, aku mengumpulkannya, mengembangkannya lalu aku tinggalkannya lebih banyak dari semula, maka kembalikanlah aku (ke dunia), niscaya aku datang kembali menghadapMu dengan membawa semua itu. Ternyata dia adalah orang yang tidak berbuat kebaikan, maka ia dimasukkan ke neraka.(HR Tirmidzi)

 

Dari Abu Hurairah dan dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: Seseorang hamba dihadapkan pada hari kiamat, lalu Allah berfirman kepadanya: Bukankah Aku berikan kepadamu pendengaran, penglihatan, harta benda, anak dan menyerahkan kepadamu hewan ternak dan pertanian dan aku biarkan kamu memimpin dan menunggu, maka apakah kamu menyangka bahwa kamu akan menjumpaiKu pada hari ini? Dia menjawab: Tidak.” Allah berfirman kepadanya:Hari ini aku lupakan kamu seperti kamu telah melupakanKu.” (HR Tirmidzi)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu memperoleh hartanya (rezekinya) dari karunia-Nya di bumi dan menggunakan rezekinya tersebut dengan tidak mengikuti peraturan (syariat) agama-Nya, mereka melupakan Allah SWT sehingga mereka tidak mengetahui agama-Nya. Allah SWT lalu bertanya kepada Nabi mereka, melalui firman-Nya ini:

 

Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan. (Al Qashash 75)

 

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawabanmu kepada para Rasul?” Maka gelaplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, karena itu mereka tidak saling tanya menanya. (Al Qashash 65-66)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menghisab orang-orang yang menyembah tuhan selain Dia atau yang menyekutukan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT bertanya kepada orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (atau yang menyembah tuhan selain Dia) tentang tuhan-tuhan mereka, melalui firman-Nya ini:

 

Kemudian dikatakan kepada mereka: “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan, (yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu. (Al Mu’min 73-74)

 

Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka, bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. (Al Ahqaaf 28)

 

Orang-orang kafir itu tidak dapat menjawab karena semua tuhan-tuhannya telah lenyap. Allah SWT lalu menghadirkan tuhan-tuhan orang-orang kafir itu dan bertanya kepada mereka. Allah SWT berfirman:

 

Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau.” Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta.” Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (An Nahl 86-87)

 

(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): “Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.” Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami).” (Yunus 28-29)

 

Bantahan dari tuhan orang-orang kafir dalam firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu sendiri yang mengada-adakan penyembahan kepada tuhan selain Dia. Kesaksian tuhan-tuhan tersebut membuat orang-orang kafir lalu berbohong dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah menyekutukan-Nya. Ucapannya itu justru makin membuktikan kekafirannya. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Dimanakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?” Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (Al An’aam 22-24)

 

Pada hari Tuhan memanggil mereka: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?” Mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu).” Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluarpun. (Fushshilat 47-48)

 

Tilmidzi: “Jika tuhan orang-orang kafir itu tidak meminta untuk disembah, lalu siapakah yang disembah oleh orang-orang kafir itu sebenarnya?”

 

Mudariszi: “Orang-orang kafir yang tidak mengetahui agama-Nya karena tidak membaca ayat-ayat-Nya atau menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya, menjadikan syaitan mudah menghasut (menipu) mereka. Syaitan-syaitan dari golongan jin dan golongan manusia menipu orang-orang kafir itu agar mereka menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya. Tujuan syaitan tidak lain agar orang-orang kafir itu tersesat. Jika orang-orang kafir itu menuruti hasutan syaitan, mereka akan menuruti perintah syaitan menyembah tuhan selain Dia. Sekalipun mereka terlihat menyembah tuhan selain Dia, mereka sebenarnya bukan menyembah tuhan itu, tapi mereka menyembah jin kafir (syaitan dari golongan jin) yang menyuruh mereka menyembah tuhan itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 116-118)

 

Malaikat ketika ditanya oleh Allah SWT tentang orang-orang kafir yang menyembah malaikat, maka malaikat menjelaskan bahwa orang-orang kafir menyembah malaikat karena mereka mengikuti syaitan yang menyuruh mereka untuk menyembah malaikat, sehingga mereka sebenarnya menyembah jin kafir (syaitan dari golongan jin) karena mengikuti jin kafir. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’ 40-41)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT bertanya juga kepada jin-jin kafir tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Manusia berbuat untuk mencapai keinginan yang ada di hatinya. Allah SWT berfirman:

 

Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)

 

Salah satu dari keinginan hati manusia terjadi karena janji-janji syaitan. Syaitan melakukannya melalui bisikan-bisikan jahatnya yang berupa janji-janji manis ke dalam hati manusia. Allah SWT berfirman:

 

Syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An’aam 112)

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (A Naas 4-6)

 

Dengan demikian, keinginan dan perbuatan orang-orang kafir itu karena syaitan-syaitan dari golongan jin, sehingga Allah SWT lalu bertanya pula kepada jin-jin tersebut. Contoh seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian yang lain dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). (Al An’aam 128)

 

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (Al An’aam 130)

 

Kesaksian jin-jin kafir dalam firman-Nya di atas memperkuat bukti kekafiran orang-orang kafir itu, sehingga mereka lalu menjadi seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. (Al Anbiyaa’ 97)

 

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. (Al Furqaan 27)

 

Dan dia berkata: “Aduhai kiranya aku dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. (Al Kahfi 42)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT juga memberikan balasan kepada jin atas perbuatannya di dunia?”

 

Mudariszi: “Ya! Jin-jin mengetahui adanya ayat-ayat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. Mereka juga mengetahui agama-Nya yang wajib diikuti ketika menjalani hidup di dunia, dan mereka mengetahui perbuatannya akan dihisab oleh Allah SWT di hari kiamat dengan balasan surga atau neraka. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak), untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat. (Al Jin 14-17)

 

Jin-jin mengetahui agama-Nya dan kitab-Nya yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan Nabi Musa, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaaf 29-32)

 

Karena itu jin-jin tidak berbeda dengan manusia, yaitu mendapatkan balasan dari Allah SWT atas perbuatannya ketika menjalani hidup di dunia. Allah SWT berfirman:

 

Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Huud 119)

 

Tilmidzi: “Apakah mungkin orang-orang kafir pada waktu itu dapat saling tolong menolong?”

 

Mudariszi: “Tidak mungkin! Allah SWT menjelaskan keadaan orang-orang kafir pada waktu itu sebagai berikut:

 

Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata. (Maryam 37-38)

 

Sebahagian dari mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.” Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.” (Ash Shaaffaat 27-32)

 

Lalu Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang kafir itu sebagai berikut:

 

Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. (Ash Shaaffaat 33-34)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply