Bagaimana Allah SWT Menjalankan Syafaat-Nya?

Dialog Seri 7: 10

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memutuskan balasan bagi manusia di padang Mahsyar juga setelah menghisab perbuatan manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu. (Yunus 30)

 

Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. (Saba’ 26)

 

Allah SWT memutuskan balasan bagi semua orang yang lahir dan menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Rasul-Rasul-Nya dan mengikuti agama selain agama-Nya, setelah perbuatan mereka dihisab. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (Al Hajj 17)

 

Tilmidzi: “Bagaimana keadaan manusia setelah mengetahui balasan dari keputusan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan. (Al Ghaasyiyah 1-3)

 

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya. (Al Ghaasyiyah 8-9)

 

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka. (‘Abasa 38-42)

 

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. (Al Qiyaamah 22-25)

 

Rasulullah SAW menjelaskan keadaan orang-orang bertakwa, kafir, munafik ketika mengetahui balasan bagi mereka masing-masing setelah diputuskan-Nya, sebagai berikut:

 

Dari Shafwan bin Muhriz dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Pada hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Tuhannya Azza wa Jalla, hingga Dia meletakkan perlindunganNya kepada orang mukmin itu. Tuhan membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: Apakah engkau tahu? Orang mukmin itu menyahut: Ya, wahai Tuhan, aku tahu. Allah berfirman: Aku telah menutupi dosa-dosa itu atasmu di dunia. Dan sekarang Aku mengampuninya untukmu. Lalu diberikan catatan kebaikan-kebaikannya. Sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, mereka dipanggil di atas kepala-kepala para makhluk: Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Allah! (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sungguh, Allah tidak akan bertindak zalim kepada orang mukmin mengenai balasan amal baiknya. Balasan itu diberikan di dunia dan diganjar pula di akhirat. Sedangkan orang kafir, kepadanya dicicipkan balasan apa yang dia perbuat karena Allah di dunia, hingga ketika dia menuju ke akhirat, tidak lagi mempunyai kebaikan yang mesti dibalas.” (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, ia menceritakan dari Rasu­lullah SAW: Sesungguhnya orang kafir itu bila melakukan perbuatan baik, maka dia dibalas dengan balasan dunia. Sedangkan orang muk­min, Allah menyimpankan kebaikan-baikannya di akhirat dan mem­balasnya pula dengan rizki di dunia atas ketaatannya. (HR Muslim)

 

Allah SWT menjelaskan keadaan orang-orang kafir pada waktu itu, melalui firman-Nya berikut ini:

 

Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama), serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. (Al Ma’aarij 11-18)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT perintahkan kepada semua orang yang telah diputuskan balasannya?”

 

Mudariszi: “Karena pada waktu itu semua orang bercampur di padang Mahsyar, Allah SWT memerintahkan orang-orang kafir, sebagai berikut:

 

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mu’min) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).” (Yaasiin 59-63)

 

Tilmidzi: ”Lalu apakah yang dilakukan oleh orang-orang yang berdosa itu agar terhindar dari api neraka?”

 

Mudariszi: “Agar terhindar dari api neraka, orang-orang yang berdosa yang akan memasuki neraka lalu mencari dan mendatangi para Nabi guna mendapatkan syafaat-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat. Me­reka memandang penting masalah syafaat tersebut (Ibnu Ubaid ber­kata: mereka diberi ilham untuk menanyakan hal itu). Mereka berkata: Kalau saja kita dapat memohon syafaat kepada Tuhan, sehingga Dia berkenan memberikan istirahat kepada kita dari keadaan kita ini. Mereka datang kepada Nabi Adam, lalu berkata: Engkau adalah Adam, Bapak semua makhluk (orang). Allah telah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan rohNya ke dalammu. Dia pun telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu. Syafaatilah kami di depan Tuhanmu, sehingga Dia berkenan memberikan istirahat kepada kami dari keadaan ini. Adam menjawab: Aku tidak pantas itu. Lalu dia menuturkan kesalah­an yang telah dia perbuat, sehingga dia merasa malu kepada Tuhan karenanya. Dia (Nabi Adam) hanya berkata: Tetapi, datanglah kalian kepada Nuh, seorang Rasul yang pertama diutus oleh Allah. Mereka datang kepada Nabi Nuh. Namun Nuh berkata: Aku tidak pantas itu (diapun menyebutkan kesalahan yang pernah dia lakukan, sehingga dia merasa malu kepada Tuhan karenanya). Tetapi datanglah kalian kepada Ibrahim yang telah diambil sebagai kekasih oleh Allah. Mereka datang kepada Nabi Ibrahim, tetapi beliau berkata: Aku tidak pantas untuk itu (beliau sebutkan kesalahan yang pernah di­perbuat, sehingga beliau merasa malu kepada Tuhan karenanya). Da­tanglah kalian kepada Nabi Musa yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberi kitab Taurat. Mereka datang kepada Nabi Musa, tetapi beliau berkata: Aku tidak pantas untuk itu (beliau tuturkan kesalahan yang pernah beliau lakukan, sehingga beliau merasa malu kepada Tuhan karenanya). Datang­lah kalian kepada Isa, Roh Allah dan KalimatNya. Mereka datang kepada Nabi Isa, tetapi beliau berkata: Aku tidak pantas untuk itu. Datanglah kalian kepada Muhammad SAW, hamba Allah yang telah di­ampuni dosanya yang dahulu maupun yang kemudian. Rasulullah SAW melanjutkan: Mereka datang kepadaku. Lalu aku me­minta izin kepada Tuhan dan aku diberi izin. Ketika aku melihatNya, aku jatuh dalam keadaan bersujud. Dia memanggil-manggilku, ke­mudian difirmankan kepadaku: Hai Muhammad! Angkatlah kepala­mu! Katakanlah, engkau akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Syafaatilah, akan diterima syafaatmu. Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafaat. (HR Muslim)

 

Tetapi orang-orang kafir (yang berdosa) yang akan memasuki neraka itu tidak akan memperoleh syafaat-Nya dari Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok? Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! (Al Ma’aarij 36-39)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW merupakan Nabi pertama yang diizinkan oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat-Nya?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Al Mukhtar bin Fulful: Anas bin Malik ber­kata: “Rasulullah SAW bersabda: Aku adalah pemberi syafaat pertama di surga. Tak ada seorangpun di antara para Nabi yang mendapatkan kepercayaan seperti diriku. Dan sesungguhnya di antara para Nabi ada Nabi yang hanya dipercayai (dibenarkan) oleh seorang saja di antara ummat­nya. (HR Muslim)

 

Karena itu semua orang yang berdosa berusaha mencari Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana mengetahui Rasulullah SAW pada waktu itu?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tempat beliau pada waktu itu sebagai berikut:

 

An Nadhr bin Anas bin Malik memberitahukan kepada kami dari ayahnya berkata: Aku memohon Rasulullah SAW agar memberi syafaat kepadaku di hari kiamat, beliau bersabda: Sungguh aku laksanakan.” Aku bertanya: Wahai Rasulullah SAW, dimana aku mencarimu? Beliau bersabda: Carilah aku pertama kali kamu mencariku di jembatan.” Aku bertanya: Jika aku tidak menjum­paimu di jembatan? Beliau menjawab:Carilah aku di timbangan.” Aku bertanya: Jika aku tidak menjumpaimu di timbangan? Beliau menja­wab:Maka carilah aku di dekat telaga. Sungguh aku tidak salah pada tiga tempat itu.” (HR Tirmidzi)

 

Di timbangan sebagai salah satu tempat Rasulullah SAW berada ketika itu (seperti sunnah Rasulullah di atas) adalah di padang Mahsyar.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang berdosa itu mencari Rasulullah SAW di telaga beliau?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW diberikan telaga oleh Allah SWT, yaitu telaga Al Kautsar. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Anas, katanya: Ketika Rasulullah SAW diangkat (dimirajkan) ke langit, beliau bersabda: Saya mendatangi sebuah telaga yang kedua sisinya adalah bulatan-bulatan (kubah-kubah) dari mutiara yang dilubangi tengahnya, lalu saya bertanya: Apa ini wahai Jibril? Jibril menjawab: Ini adalah (telaga) Al Kautsar.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Ubaidah dari Aisyah, katanya: Saya bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah Ta’ala:Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al Kautsar” (surat Al Kautsar ayat 1), Aisyah menjawab: Al Kautsar adalah sungai (telaga) yang diberikan kepada Nabimu SAW dimana pinggirnya terbuat dari mutiara, wadahwadahnya berlubang seperti bilangan bintang.” (HR Bukhari)

 

Telaga Al Kautsar sangat luas dan siapa saja yang minum airnya, maka dia tidak akan lagi merasa haus akibat dari panasnya udara di padang Mahsyar selama bertahun-tahun karena menunggu penghisaban dan keputusan balasan atas perbuatan manusia di dunia. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW ber­sabda: Sesungguhnya di depan kalian ada sebuah telaga seluas ka­wasan yang membentang antara daerah Jareb dengan daerah Adzruh. Di sana terdapat beberapa cangkir sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang datang ke sana, tentu dia akan minum. Setelah itu dia tidak akan haus selama-lamanya.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Dzar, dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berapakah jumlah cangkir yang ada di telaga? Beliau men­jawab: Demi Dzat yang jiwanya Muhammad ada pada genggaman­Nya, jumlahnya lebih banyak daripada jumlah bintang-bintang di langit yang gemerlapan di tengah malam. ltulah cangkir surga. Barangsiapa yang telah minum dari telaga itu, tentu dia tidak akan haus selama-lamanya. Ada dua talang yang terus mengalir dari surga. Barang­siapa yang telah minum dari situ, tentu dia tidak akan haus. Lebar telaga itu sama dengan panjangnya yaitu seluas kawasan yang membentang antara daerah Amman sampai dengan daerah Ailah. Air telaga itu seputih susu dan semanis madu. (HR Muslim)

 

Telaga itu dijaga langsung oleh Rasulullah SAW, dan beliau mengusir orang-orang yang berdosa mendekatinya karena ingin meminta minum atau meminta syafaat dari beliau. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Tsauban, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku selalu berada di sekitar telagaku. Aku usir orang­-orang demi kepentingan penduduk Yaman. Mereka aku pukul dengan sebatang tongkatku sampai mereka menyingkir.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW ber­sabda: Sungguh aku akan mengusir orang-orang yang berada di sekitar telagaku, seperti mengusir orang asing yang hendak mengambil air un­tuk minum untanya.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Apakah setiap Nabi juga diberikan telaga oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Said bin Basyir memberitahukan kepada kami dari Qatadah dari Al-Hasan dari Samurah berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga dan mereka berbangga-banggaan siapa di antara mere­ka yang paling banyak pengunjungnya dan aku mengharapkan paling banyak pengunjungnya.” (HR Tirmidzi)

 

Karena itu para pengikut Nabi mengunjungi Nabinya masing-masing untuk mendapatkan syafaat dan air telaga. Setiap Nabi memberikan syafaat dan air telaga kepada umatnya yang ketika di dunia menjalani hidupnya dengan taat mengikuti syariat agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi. Umat Nabi yang merubah syariat agama-Nya dan menjalani hidupnya dengan mengikuti syariat agama-Nya yang berubah itu, tidak diberikan air telaga.”

 

Tilmidzi: “Apakah umat Rasulullah menuju ke telaga Rasulullah?”

 

Mudariszi: “Ya! Tapi tidak semua diterima oleh Rasulullah SAW karena sebagian mereka merubah agama-Nya (syariat agama Islam) yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika menjalani hidupnya di dunia, meskipun mereka berwudhu, shalat dan bershalawat kepada Rasulullah SAW. Mereka yang ditolak oleh Rasulullah SAW itu termasuk sahabat-sahabat beliau. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Diceritakan oleh Ibnu Abi Mulaikah: Asma binti Abu Bakar berkata: Ra­sulullah SAW bersabda: Aku berada di atas telaga, hingga aku dapat melihat siapa di antara kalian yang datang kepadaku. Dan orang-orang di bawahku akan dihukum, lalu aku berkata: Wahai Tuhanku, mereka bagian dariku dan termasuk ummatku. Kemudian dikatakan: Tidak ta­hukah engkau apa yang mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah, me­reka terus-menerus kembali kepada kekafiran sepeninggalmu.” (HR Muslim)

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Banyak orang yang pernah menemaniku datang ke telaga itu atas jaminanku. Sampai ketika aku melihat mereka dari ke­jauhan dalam keadaan tertolak. Saat itu aku berkata: Wahai Tuhan­ku, mereka adalah para sahabatku, mereka adalah para sahabatku. Lantas dikatakan kepadaku: Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan sepeninggalanmu.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dapat mengetahui umatnya yang bertakwa dan yang munafik yang lahir setelah beliau wafat?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW dapat mengetahui umatnya yang bertakwa dari cahaya yang keluar dari diri umatnya tersebut karena bekas wudhu. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengenal kami pada hari itu? Beliau bersabda: Ya. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki se­orangpun dari umat lain. Kalian akan datang kepadaku dengan wajah, kaki dan tangan yang bercahaya karena bekas wudlu.” (HR Muslim)

 

Allah SWT menjelaskan tentang umat Rasulullah yang bercahaya tersebut sebagai berikut:

 

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (At Tahriim 8)

 

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan sebelah kanan mereka. (Al Hadiid 12)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berdosa yang tidak memperoleh syafaat-Nya dari Nabi?”

 

Mudariszi: “Allah SWT lalu memerintahkan orang-orang kafir yang menyembah tuhan berhala atau yang menyekutukan-Nya, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Abu Hurairah menceritakan, bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda: Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat lalu berfirman: Barangsiapa menyembah sesuatu, maka dia boleh mengikuti sesembah­annya itu. Maka orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah ber­hala mengikuti berhala. Tinggallah ummat ini termasuk di dalamnya orang-orang munafik. (HR Muslim)

 

Mereka lalu dimasukkan ke dalam neraka semuanya. Sedangkan orang-orang yang mengikuti Nabi, dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan beliau bersabda: Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan: Setiap ummat hendaklah mengikuti apa yang dulu disembahnya. Maka tidak tersisa seorangpun yang dulu menyembah selain Allah yakni berhala­-berhala, kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Sampai ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dulu menyembah Allah yang ter­diri dari orang baik, orang jahat dan sisa-sisa Ahli Kitab, maka di­panggillah orang-orang Yahudi. Kepada mereka ditanyakan: Apa yang dulu kalian sembah? Mereka menjawab:Kami menyembah Uzair bin Allah. Dikatakan: Kalian dusta! Allah tidak menjadikan seorangpun sebagai sahabat atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab:Kami haus, wahai Tuhan kami, berilah kami minum. Lalu diisyaratkan kepada mereka: Kenapa kalian tidak datang kesana? Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Merekapun berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil. Kepada mereka ditanyakan: Apa yang dulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Al Masih bin Allah. Dikatakan kepada mereka: Kalian dusta! Allah tidak menjadikan se­orangpun sebagai sahabat atau anak. Apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: “Kami haus, wahai Tuhan, berilah kami minum. Lalu ditunjukkan kepada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka Jahannam, seolah-olah neraka itu fatamor­tana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berguguran ke dalam neraka. Ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dulu menyembah Allah Ta’ala, yang baik dan yang jahat, maka Tuhan seru sekalian alam Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui. Dia berfirman: Apa yang kalian tunggu? Setiap ummat mengikuti apa yang dulu disembah. Mereka mengucapkan:Wahai Tuhan kami! Di dunia, kami memisahkan diri dari orang-orang yang sebenarnya sangat kami butuhkan (untuk membantu penghidupan di dunia) dan kami tidak mau berkawan dengan mereka (karena menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama). Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian! Mereka mengucap: Kami mohon perlindungan kepada Allah darimu. Kami tidak akan menyekutukan sesuatupun dengan Allah (ini diucapkan dua atau tiga kali), sampai sebagian mereka hampir-hampir berubah (berbalik dari kebenaran, karena cobaan berat yang berlaku saat itu. Allah berfirman: Apakah di antara kalian dan Dia ada tanda-tanda, sehingga dengan demikian kalian dapat mengenaliNya? Mereka menjawab: Ya! Lalu disingkapkanlah keadaan yang menakutkan itu. Setiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan sendiri, pasti mendapat izin Allah. Sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau pamer, tentu Allah menjadikan punggungnya menyatu (sehingga tidak bisa bersujud). Setiap kali hendak bersujud, dia terjungkal pada teng­kuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka, sementara itu Allah telah berganti rupa dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka menyahut: Engkau Tuhan kami. Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka Jahannam dan syafaat diperbolehkan. Mereka mengucap: Ya Allah, selamatkanlah, selamat­kanlah. Ada yang menanyakan: “Ya Rasulullah, apakah jembatan itu? Rasulullah SAW bersabda: Tempat berpijak yang licin (menggelincir­kan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tum­buhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkait itu. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang bagai kejap­an mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok: selamat tidak kurang suatu apa, terkoyak-koyak tapi bisa bebas, dan terjerumus ke dalam neraka Jahannam. (HR Muslim)

 

Jembatan di atas neraka Jahannam dalam sunnah Rasulullah di atas itu juga salah satu tempat Rasulullah SAW berada bagi orang-orang yang ingin mencarinya guna memperoleh syafaat-Nya dari beliau seperti dijelaskan sunnah Rasulullah di atas.”

 

Tilmidzi: “Mengapa orang-orang kafir yang tidak menyekutukan-Nya juga jatuh ke neraka padahal Allah SWT mengampuni dosa-dosa selain dosa menyekutukan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An Nisaa’ 116)

 

Rasulullah SAW menjelaskan dosa menyekutukan-Nya sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: Ya Rasulullah, apakah dua hal yang pasti itu? Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa meninggal dunia dalam keada­an tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia masuk neraka. (HR Muslim)

 

Dari Abu Dzarr, dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW: Jibril berkata kepadaku: Barangsiapa meninggal dalam keadaannya tidak mempersekutukan sesuatu kepada Allah, maka dia pasti masuk surga atau tidak masuk neraka. Abu Dzarr berkata: Dan meskipun dia berzina, dan meskipun dia men­curi? Beliau bersabda: Dan meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR Bukhari)

 

Orang-orang kafir yang tidak menyekutukan-Nya itu jatuh ke neraka, karena timbangan keburukannya lebih berat daripada kebaikannya akibat dari tidak pernahnya mereka beribadah menyembah-Nya ketika hidup di dunia. Setelah semua dosanya dibalas di neraka dalam jangka waktu yang Dia tetapkan, mereka lalu diberikan syafaat-Nya melalui Rasulullah SAW setelah diizinkan-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Allah memasukkan ahli surga ke dalam surga, Dia masuk­kan siapa saja yang Dia kehendaki dengan rahmatNya. Dan Dia masuk­kan ahli neraka ke dalam neraka. Kemudian Dia berfirman: Tengoklah, siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat iman meski hanya seberat biji sawi, maka keluarkanlah! Lalu dikeluarkanlah dari neraka sekumpulan orang yang telah hangus. Mereka dilempar ke dalam sungai kehidupan. Merekapun tumbuh di dalam sungai itu sebagaimana tumbuhan kecil tumbuh di tepi air bah. Bukankah kalian pernah melihat tumbuhan itu bagaimana dia keluar dalam warna kuning yang terbungkus. (HR Muslim)

 

Dari Abu Sufyan dari Jabir berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sebagian orang-orang ahli tauhid kelak disiksa di neraka sehingga mereka menjadi arang, kemudian rahmat menjum­pai mereka, lalu mereka dikeluarkan dan dilemparkan pada pintu surga.” Beliau bersabda: Kemudian penghuni surga memercikkan air kepada mereka, lalu mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya biji di muatan air bah, kemudian mereka masuk surga.” (HR Tirmidzi)

 

Iman dalam hati orang-orang yang dalam neraka meski seberat biji sawi (dalam sunnah Rasululah di atas) itu adalah iman kepada-Nya, yaitu iman tidak mempersekutukan-Nya. Rasulullah SAW lalu mengeluarkan mereka semua dari neraka hingga beliau mengetahui orang yang terakhir keluar dari neraka dan yang terakhir masuk surga. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Abdullah bin Masud, dia berkata:Rasulul­lah SAW bersabda: “Sungguh, aku benar-benar tahu ahli neraka yang keluar terakhir dari sana dan ahli surga yang terakhir masuk ke dalam surga, yaitu seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah Ta’ala berfirman:Pergilah, masuklah ke dalam surga. Diapun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh, maka dia kembali dan berkata: Wahai Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah Taala berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia men­datangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh, maka dia kembali dan berkata: Wahai Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Karena sesung­guhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya (atau: sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia). Orang itu ber­kata: Apakah Engkau mengejekku (atau: mentertawakanku), sedangkan Engkau adalah Maha Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulul­lah SAW tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah ahli surga yang paling rendah kedudukan­nya.” (HR Muslim)

 

Semua itu syafaat dari Allah SWT yang diberikan kepada Rasulullah SAW untuk orang-orang yang dikehendaki-Nya yaitu yang beriman kepada-Nya (tidak menyekutukan-Nya) meskipun imannya hanya sebesar biji sawi.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply