Dialog Seri 7: 8
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT lalu memutuskan balasan bagi manusia setelah bertanya kepadanya ketika menghisab perbuatannya di dunia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan tentang penghisaban (pemeriksaan) perbuatan manusia pada hari kiamat sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Semua manusia diperiksa pada hari kiamat tiga kali pemeriksaan. Adapun dua pemeriksaan adalah berisi perdebatan dan alasan-alasan. Adapun pemeriksaan yang ketiga, maka pada waktu itu lembaran–lembaran beterbangan di tangan, lalu ada yang mengambil dengan tangan kanannya dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya.” (HR Tirmidzi)
Lembaran-lembaran yang beterbangan di tangan dalam sunnah Rasulullah di atas adalah buku catatan amal perbuatan manusia di dunia. Dengan demikian, setelah semua orang diperiksa (ditanya), Allah SWT lalu membagikan buku catatan amal tersebut kepada setiap orang untuk diperiksa (dihisab).”
Tilmidzi: “Apakah buku catatan amal perbuatan manusia di dunia itu?”
Mudariszi: “Yaitu buku yang mencatat semua perbuatan manusia ketika di dunia, dari perbuatannya yang kecil hingga ke perbuatannya yang besar. Allah SWT berfirman:
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qamar 52-53)
Tilmidzi: “Bagaimana buku itu dapat mencatat seluruh perbuatan manusia dari yang kecil hingga yang besar?”
Mudariszi: “Manusia ketika menjalani hidupnya di dunia, dijaga dan diawasi oleh malaikat. Selain itu, malaikat tersebut juga mencatat setiap perbuatan manusia termasuk niatnya dan ucapannya dari yang kecil hingga yang besar. Allah SWT berfirman:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar Ra’d 11)
(Yaitu) dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 17-18)
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Infithaar 10-12)
Semua perbuatan manusia yang tercatat dalam buku tersebut, sebagiannya sudah dilupakan oleh manusia ketika mereka dihisab pada hari kiamat. Allah SWT berfirman:
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al Mujaadilah 6)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT memberikan buku catatan perbuatan manusia itu kepada setiap orang?”
Mudariszi: “Setiap orang diberikan buku catatan amal perbuatannya sebagai berikut:
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu akan diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Al Jaatsiyah 28)
Setiap orang yang dipanggil oleh Allah SWT untuk menerima buku catatan amalnya, diiringi oleh dua mailakat, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” (Qaaf 21-23)
(Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (Al Jaatsiyah 29)
Tilmidzi: “Bagaimana manusia ketika melihat buku catatan amalnya?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka. (At Takwiir 10)
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al Kahfi 49)
Orang-orang kafir terkejut ketika membaca buku catatan amalnya karena di dalamnya tercatat semua perbuatannya termasuk perbuatannya yang buruk yang melanggar agama-Nya. Berbeda dengan orang-orang bertakwa yang tidak terkejut ketika menerima dan melihat buku catatan amalnya, karena mereka telah mengetahui dari ayat-ayat-Nya yang dibacanya ketika di dunia. Mereka mengetahui Allah SWT akan menghisab perbuatan manusia di dunia, memberikan buku catatan amal kepada setiap orang dari belakangnya, dari sebelah kirinya, dan dari sebelah kanannya. Orang yang menerima buku catatan amalnya dari belakangnya akan menjadi sebagai berikut:
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Al Insyiqaaq 10-14)
Orang yang menerima buku catatan amalnya dari sebelah kirinya akan menjadi sebagai berikut:
Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (Al Haaqqah 25 -29)
Orang yang menerima buku catatan amalnya dari sebelah kanannya akan menjadi sebagai berikut:
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (Al Insyiqaaq 7-9)
Karena itu orang-orang bertakwa tidak terkejut ketika menerima buku catatan amalnya. Allah SWT berfirman:
Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. (Al Haaqqah 19-20)
Tilmidzi: “Apakah penerimaan buku catatan amal itu merupakan pemeriksaan juga bagi manusia?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Utsman bin Al-Aswad dari Abu Mulaikah dari Aisyah berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa dipersulit pemeriksaannya, maka dia celaka.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman: “Adapun orang yang diberi catatannya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa secara ringan.” (surat Al-Insyiqaaq ayat 7-8).” Beliau bersabda: “Itulah pemeriksaan.” (HR Tirmidzi)
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat, ia disiksa.” Aku bertanya: “Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah?” (surat Al Insyiqaaq ayat 8). Beliau bersabda: “Bukan hisab itu. Itu hanyalah peragaan. Orang yang diperiksa dengan teliti di hari kiamat, ia disiksa.” (HR Muslim)
Orang-orang yang menerima buku catatan amalnya dari belakangnya atau dari sebelah kirinya sudah pasti tersiksa karena mereka mengetahui akan memasuki neraka. Orang-orang yang menerima buku catatan amalnya dari sebelah kanannya juga tersiksa karena dalam buku catatan amalnya tercatat dosa-dosa yang dilakukannya dan mereka ketika itu tidak mengetahui apakah dosa-dosanya itu akan dihapus-Nya atau mereka akan dibalas dengan memasuki neraka.”
Tilmidzi: “Bagaimana jika orang-orang kafir menolak buku catatan amalnya karena tidak ada saksi kecuali hanya malaikat sendiri yang mencatatnya?”
Mudariszi: “Malaikat mencatat semua perbuatan setiap orang hanya disaksikan (diketahui) oleh Allah SWT dan orang itu sendiri. Agar manusia tidak berbohong atas niatnya, ucapannya dan perbuatannya yang dicatat oleh malaikat, Allah SWT lalu menjadikan manusia sebagai saksi atas dirinya atau perbuatannya sendiri. Allah SWT berfirman:
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (Al Qiyaamah 13-15)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menjadikan manusia sebagai saksi atas dirinya sendiri?”
Mudariszi: “Yaitu Allah SWT menjadikan semua organ dan anggauta tubuh manusia dapat berbicara. Mulut manusia ditutup ketika semua organ dan anggauta tubuh manusia memberikan kesaksian. Allah SWT berfirman:
Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. (Al Mursalaat 35-36)
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaasiin 65)
Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An Nuur 24)
Kesaksian organ dan anggauta tubuh manusia itu akan sesuai dengan buku catatan amal perbuatannya.”
Tilmidzi: “Bagaimana membuktikan keinginan (niat) manusia yang dicatat oleh malaikat itu juga benar?”
Mudariszi: “Manusia berbuat karena ingin mencapai apa yang ada di hatinya. Allah SWT berfirman:
Dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati. (Al Mu’min 80)
Keinginan hati manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk, sehingga ada perbuatan manusia yang baik dan ada yang buruk. Keinginan hati itu hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang itu sendiri. Allah SWT menjelaskan bahwa Dia akan memperhitungkan keinginan hati manusia, melalui firman-Nya ini:
Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. (Al Baqarah 284)
Keinginan manusia itu terjadi karena ketertarikannya (kesukaannya) atas suatu perkara yang didengarnya dengan pendengarannya, atau dilihatnya dengan penglihatannya, atau dirasakannya dengan hatinya, hingga dipikirkannya dengan akalnya dan lalu disimpan di hatinya. Sehingga, pendengaran, penglihatan dan hati menjadi penyebab manusia berkeinginan (berniat) yang kemudian dilanjutkan dengan perbuatannya untuk mencapai keinginannya itu. Karena itu, Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa’ 36)
Pertanggungan jawaban pendengaran, penglihatan dan hati dilakukan oleh Allah SWT dengan menjadikan ketiganya dapat berbicara dan bersaksi. Kulit yang juga organ untuk merasakan yang diinginkan oleh hati, dijadikan-Nya dapat berbicara dan bersaksi. Allah SWT menjelaskan hal itu melalui firman-Nya ini:
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Fushshilat 20-21)
Dengan Allah SWT menjadikan organ dan anggauta tubuh manusia sebagai saksi bagi dirinya sendiri, maka manusia tidak dapat membantah apa yang tercatat dalam buku catatan amal perbuatannya. Ditambah dengan keterangan dari saksi-saksi lain, Allah SWT lalu menimbang berat kebaikan dan keburukan seseorang guna Dia memutuskan balasan kepadanya.”
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT putuskan balasan bagi manusia atas perbuatannya yang telah dihisab?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Al A’raaf 8-9)
Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al Mu’minuun 102-103)
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (Al Qaari’ah 6-9)
Tilmidzi: “Apakah kebaikan (perbuatan baik) orang-orang kafir di dunia diperhitungkan oleh Allah SWT ketika memutuskan balasan bagi mereka?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (Al Anbiyaa’ 47)
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az Zalzalah 7-8)
Firman-Nya di atas menunjukkan perbuatan baik (kebaikan) setiap orang di dunia akan diperhitungkan dan dibalas oleh Allah SWT; itu berarti kebaikan orang kafir juga Dia perhitungkan dan balas pada hari kiamat. Tetapi mustahil pahala kebaikan orang kafir itu dapat lebih berat daripada dosa-dosanya, karena dia berbuat (beramal) di dunia dengan tidak mengikuti agama-Nya, dia tidak beribadah menyembah Allah SWT, kebanyakan amal perbuatannya melanggar syariat agama-Nya.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kebaikan orang-orang kafir di dunia akan menjadi sia-sia ketika amal perbuatannya dihisab di hari kiamat?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT telah menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Al Kahfi 103-105)
Rasulullah SAW pula telah menjelaskan tentang amal kebajikan orang kafir yang tidak bermanfaat bagi dirinya ketika dihisab pada hari kiamat, yaitu sebagai berikut:
Dari Aisyah, dia berkata: “Aku berkata: “Ya Rasulullah! Ibnu Jud’an, dulu di masa Jahiliyah suka menyambung tali persaudaraan (bersilaturrahim) dan memberi makan orang miskin. Apakah yang demikian itu bermanfaat baginya?” Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada manfaatnya semua itu. Karena, tak seharipun dia pernah mengucap: “Wahai Tuhanku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.” (HR Muslim)
Terlebih lagi jika orang-orang kafir itu telah melakukan perbuatan yang dibenci-Nya, misalnya perbuatan seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 32)
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)
Sehingga, pada hari kiamat pahala dari amal kebajikan orang-orang kafir ketika di dunia itu menjadi sia-sia. Allah SWT berfirman:
Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong. (Ali ‘Imran 22)
Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata: “Hijraan mahjuura” (semoga Allah menghindarkan bahaya ini dari saya). Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan 22-23)
Tilmidzi: “Apakah kebaikan orang-orang Islam dapat juga terhapus jika mereka berbuat kekafiran di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Jika orang-orang Islam itu melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT atau yang menimbulkan murka-Nya, maka Dia menghapus amal kebaikan mereka termasuk ibadah kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 9)
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)
Hal itu terjadi karena mereka melakukan perbuatan terlarang yang telah diketahuinya dari ayat-ayat-Nya (Al Qur’an), tapi mereka tetap melakukannya. Mereka itulah orang-orang munafik atau orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah SWT menghapus amal kebajikan mereka dengan cara seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Al ‘Ala bin Abdur Rahman dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu tahu siapa orang yang pailit (jatuh miskin)?” Mereka menjawab: “Orang yang pailit adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya barang.” Rasulullah bersabda: “Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kliamat dengan membawa amal shalat, puasa, dan zakat dan juga ia datang dengan menghina orang ini, menuduh zina kepada orang ini, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang ini dan memukul orang ini, lalu ia duduk, maka orang ini dibalas dengan kebaikan-kebaikannya dan orang ini juga dibalas dengan kebaikan-kebaikannya. Jika habis kebaikannya sebelum diqishash kesalahan-kesalahannya, maka kesalahan-kesalahan mereka diambil dan dilemparkan kepadanya kemudian ia dilemparkan ke neraka.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Apakah ada orang-orang yang masuk surga tanpa dihisab?”
Mudariszi: “Ya! Contohnya umat Rasulullah, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Di antara ummatku, tujuh-puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).” (HR Muslim)
Dari Said bin Jubair, dia berkata: “Ibnu Abbas pernah menceritakan kepadaku bersumber dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Beberapa ummat diperlihatkan kepadaku. Aku melihat seorang Nabi disertai sekelompok kecil (tidak lebih dari sepuluh orang), ada lagi Nabi yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula Nabi yang tidak disertai seorangpun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kelompok besar. Aku menyangka mereka adalah ummatku. Tetapi dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya. Lihatlah ke ufuk!” Aku memandang, ternyata ada kelompok besar. Dikatakan lagi kepadaku: “Pandanglah ke ufuk yang lain.” Ternyata juga ada kelompok besar. Dikatakan kepadaku: “Ini adalah ummatmu. Bersama mereka ada tujuh-puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa.” Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang memperbincangkan tentang mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian ada yang berkata: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah SAW (para sahabat).” Ada pula yang mengatakan: “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah SAW keluar lagi, beliau bertanya: “Apa yang kalian perbincangkan?” Setelah mereka memberitahu, Rasulullah SAW bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat (mantera), tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.