Dialog Seri 7: 15
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT ciptakan kehidupan dunia dan akhirat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. (Al Lail 13)
Dengan akhirat dan dunia kepunyaan-Nya, maka itu menunjukkan bahwa Allah SWT yang menciptakan akhirat dan dunia. Masing-masing dari kedua itu merupakan suatu kehidupan, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (An Najm 25)
Dua kehidupan tersebut telah Allah SWT takdirkan (tetapkan) dan catat dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT ciptakan akhirat lebih dulu daripada dunia?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan surga dan neraka tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Lihatlah ke surga dan apa yang telah Aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu malaikat Jibril berangkat ke surga dan melihatnya dan apa yang telah di persiapkan oleh Allah bagi penghuninya.” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu Jibril pulang menghadap Allah dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorang pun mendengarnya melainkan ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan surga lalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan Dia berfirman: “Kembalilah ke surga lalu lihatlah ia dan apa yang telah aku persiapkan bagi penghuninya!” Rasulullah SAW bersabda: “Jibril kembali ke surga ternyata telah dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, lalu ia kembali kepada–Nya, dan berkata: “Demi keagungan–Mu sungguh aku khawatir tidak seorangpun memasukinya.” Allah berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Belum masuknya penghuni surga dan neraka dalam sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa kehidupan akhirat (dengan surga dan neraka) telah diciptakan-Nya lebih dulu daripada kehidupan dunia.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menetapkan penghuni surga dan penghuni neraka setelah Dia menciptakan surga dan neraka?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Aisyah, Ibu orang-orang mukmin, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan juga menciptakan neraka. Masing-masing Allah telah menciptakan penghuninya.” (HR Muslim)
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam!” Adam menyahut: “Aku siap menerima perintah–Mu dan kebaikan ada di tangan–Mu.” Allah berfirman: “Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka.” Adam bertanya: “Apakah orang yang dikirim ke neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.” (HR Muslim)
Dari Abi Qabil dari Syafi bin Mani dari Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah SAW keluar menjumpai kami, sedang di tangannya terdapat dua catatan lalu bersabda: “Apakah kamu mengerti apa kedua catatan ini?” Kami berkata: “Tidak, wahai Rasulullah, kecuali kalau engkau memberitahukan kepada kami.” Lalu beliau bersabda mengenai catatan yang berada di tangan kanannya: “Ini adalah catatan dari Tuhan semesta alam, di dalamnya terdapat nama–nama penghuni surga serta nama ayah mereka dan kabilah mereka kemudian disempurnakan sampai penghuni surga yang paling akhir, lalu mereka tidak ditambah dan tidak dikurangi selama-lamanya.” Kemudian Beliau bersabda mengenai catatan yang ada di tangan kirinya: “Ini adalah catatan dari Tuhan semesta alam, di dalamnya terdapat nama-nama penghuni neraka serta nama ayah dan kabilah mereka kemudian disempurnakan sampai penghuni neraka yang paling akhir, lalu mereka tidak ditambah dan tidak dikurangi selama-lamanya.” (HR Tirmidzi)
Tetapi Allah SWT tidak menjelaskan nama orang-orang yang menjadi penghuni surga dan penghuni neraka, sehingga setiap orang yang hidup di dunia hendaknya berusaha agar tidak menjadi penghuni neraka di akhirat.”
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk yang hidup dalam kehidupan dunia juga hidup dalam kehidupan akhirat?”
Mudariszi: “Ya! Karena setelah kiamat yang membinasakan kehidupan dunia (langit dan bumi beserta apa yang yang ada di langit dan di bumi), Allah SWT kemudian membangkitkan (menghidupkan) kembali semua makhluk yang mati tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati). (An Najm 47)
Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali, sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit). (Yunus 4)
Semua makhluk tersebut dibangkitkan (dihidupkan) dalam kehidupan akhirat, yaitu kehidupan di langit dan di bumi yang lain setelah keduanya diulang kembali penciptaannya oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (Al Anbiyaa’ 104)
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
Di bumi yang baru (lain) itulah neraka di bawahnya dan surga di atasnya.”
Tilmidzi: “Apakah semua makhluk yang hidup dalam dua kehidupan (di dunia dan di akhirat) itu juga sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebelum penciptaan langit dan bumi?”
Mudariszi: “Ya! Contohnya manusia, dijelaskan oleh Allah SWT sudah diciptakan-Nya sebelum dilahirkan ke dunia, dan manusia itu hidup dalam dua kehidupan (di dunia dan di akhirat). Allah SWT berfirman:
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (Maryam 67)
Mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Al Baqarah 28)
Jika manusia telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum dihidupkan-Nya atau sebelum langit dan bumi (kehidupan dunia) diciptakan-Nya, maka semua makhluk yang ada dalam kehidupan dunia juga telah diciptakan-Nya. Jika manusia dimatikan-Nya sebelum kiamat, maka demikian pula dengan semua makhluk lainnya, hingga kemudian semua makhluk tersebut Dia hidupkan (bangkitkan) kembali di langit dan di bumi yang baru (yang lain) dalam kehidupan akhirat. Dan jika manusia telah ditakdirkan (ditetapkan) oleh Allah SWT sebelum kehidupan dunia diciptakan-Nya, maka semua makhluk lainnya juga telah ditakdirkan-Nya sebelum kehidupan dunia diciptakan; dan takdir atas semua makhluk itu telah dicatat dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah ada, sedang selain Dia belumlah ada. Arasy-Nya itu di atas air, dan Dia menuliskan (mentakdirkan) sesuatu pada Lauh Mahfuzh, dan Dia ciptakan langit dan bumi.” (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: “Allah telah menentukan suratan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi atau ketika Arasy–Nya masih di atas air.” (HR Muslim)
Di samping itu, Allah SWT juga menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam 93-95)
Firman-Nya di atas menunjukkan Allah SWT telah menetapkan jumlah dari setiap makhluk yang diciptakan-Nya sebelum Dia menciptakan kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, Allah SWT telah menetapkan (mentakdirkan) semua makhluk yang hidup dalam dua kehidupan (dunia dan akhirat) itu.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat telah ditakdirkan-Nya pula?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Ar Ruum 8)
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Al Jaatsiyah 22)
Langit dan bumi atau kehidupan dunia yang diciptakan-Nya dengan tujuan dan dalam waktu yang ditentukan dalam firman-Nya di atas menunjukkan kehidupan dunia telah ditakdirkan-Nya. Demikian pula dengan dibalasnya tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya di dunia (dalam firman-Nya di atas), menunjukkan adanya kehidupan akhirat, sehingga itu berarti kehidupan akhirat juga telah ditakdirkan-Nya. Dengan demikian, dua kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, tersebut telah ditetapkan (ditakdirkan) oleh Allah SWT sebelum kedua kehidupan itu diciptakan-Nya.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kehidupan dunia hanya sementara?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara). (Al Mu’min 39)
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali ‘Imran 185)
Tilmidzi: “Apakah kehidupan akhirat juga kehidupan yang sementara?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan kehidupan akhirat sebagai berikut:
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al An’aam 32)
Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Firman-Nya di atas menunjukkan kehidupan akhirat itu kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan yang kekal, yaitu bukan kehidupan sementara seperti kehidupan dunia.”
Tilmidzi: “Jika kehidupan dunia dan kehidupan akhirat sudah ditakdirkan-Nya, apakah semua perbuatan makhluk di dunia dan di akhirat juga sudah di takdirkan-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (Al Hadiid 22)
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 61)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam 59)
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Huud 6)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa semua perbuatan manusia dan makhluk lain dalam kehidupan dunia telah ditakdirkan-Nya dan telah tercatat dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh. Demikian pula dengan kehidupan akhirat, yaitu ketika Allah SWT menghisab perbuatan manusia dan jin (di dunia) di padang Mahsyar dan memutuskan balasan bagi manusia dan jin dengan ditempatkan di surga atau di neraka. Semua itu dijelaskan dalam Al Qur’an, dimana Al Qur’an itu pula tercatat dan tersimpan dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh. Allah SWT berfirman:
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Al Buruuj 21-22)
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az Zukhruf 4)
Karena itu Al Qur’an atau kitab-Nya yang lain itu merupakan penjelasan-Nya (ayat-ayat-Nya) bagi manusia atas apa yang Dia telah ciptakan dan takdirkan sebelum kehidupan dunia (langit dan bumi) diciptakan-Nya. Ayat-ayat-Nya itu termasuk penjelasan-Nya atas apa yang akan terjadi dengan manusia selama hidup di dunia dan ketika hidup di akhirat.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah benar untuk menjadi penghuni surga yaitu dengan hanya mengikuti perintah Allah dalam ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) ketika menjalani hidup di dunia?”
Mudariszi: “Ya, benar! Sekalipun Allah SWT telah mentakdirkan (menetapkan) setiap orang menjadi penghuni surga atau penghuni neraka, tapi setiap orang itu tidak mengetahui akan menjadi penghuni surga atau penghuni neraka ketika di akhirat. Sehingga tidak salah bagi setiap orang untuk berusaha di dunia untuk menjadi penghuni surga, yaitu dengan mengikuti perintah-Nya (perintah agama-Nya) yang dijelaskan dalam ayat-ayat-Nya dan sunnah Rasul-Nya. Dan itu dijelaskan pula oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al An’aam 153)
Dari Ali, dia berkata: “Aku ikut mengantarkan jenazah di Baqi Al Gharqad, sebuah tempat pemakaman di Madinah. Lalu datang kepadaku Rasulullah SAW. Kami duduk berdekatan. Beliau memegang sebatang tongkat kecil. Beliau pukul-pukulkan tongkat itu ke tanah. Dengan gaya seperti orang yang sedang kebingungan beliau bersabda: “Setiap orang dari kalian atau setiap jiwa yang bernafas, oleh Allah telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka. Bahkan oleh Allah juga sudah ditentukan apakah dia sebagai orang yang celaka atau orang yang bahagia.” Seorang laki-laki tiba-tiba berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita menunggu ketentuan takdir kita dan tidak usah beramal?” Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang termasuk golongan bahagia, dia pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang yang golongan bahagia. Dan barangsiapa termasuk golongan celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang golongan celaka.” Lebih lanjut Rasulullah SAW bersabda: “Beramallah, setiap kamu dipermudah. Orang-orang golongan bahagia, mereka akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan bahagia. Adapun orang-orang golongan celaka, mereka juga akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang golongan celaka.” Kemudian beliau membaca ayat berikut ini: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (surat Al Lail ayat 5-10). (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menyeru manusia untuk ke surga di akhirat ketika menjalani hidupnya di dunia?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menyeru perkara tersebut sebagai berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus 25)
Allah SWT menunjuki orang-orang yang ingin ke surga kepada jalan yang lurus dengan kitab-Nya (Al Qur’an) hingga mereka menjadi taat mengikuti syariat (peraturan) agama-Nya dan sampai berjumpa dengan Allah SWT di surga. Allah SWT berfirman:
Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 16)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Allah SWT kemudian menjelaskan melalui firman-Nya berikut ini:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujuraat 13)
Penjelasan-Nya (ayat-ayat-Nya) di atas tersebut juga terdapat dalam Kitab Induk Lauh Mahfuzh, dan itu menunjukkan bahwa Allah SWT tidak menghendaki manusia menjadi penghuni neraka. Karena itu, agar terhindar dari menjadi penghuni neraka, maka di samping membaca ayat-ayat-Nya (Al Qur’an atau kitab-Nya) dan taat beribadah menyembah-Nya dengan mengikuti perintah-Nya (perintah agama-Nya), juga beriman kepada hari akhir dan kepada takdir.”
Tilmidzi: “Lalu, apakah kebanyakan manusia menjadi penghuni neraka itu karena mereka tidak membaca ayat-ayat-Nya (Al Qur’an atau kitab-Nya) ketika menjalani hidup di dunia?”
Mudariszi: “Itu terjadi karena, ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, mereka menyombongkan dirinya terhadap ayat-ayat-Nya (Al Qur’an atau kitab-Nya) dengan tidak mau membacanya, atau mereka membaca ayat-ayat-Nya tapi mereka lalu mengingkarinya. Hal itu dijelaskan sendiri oleh penghuni neraka tersebut ketika mereka telah berada di neraka. Allah SWT berfirman:
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (Az Zumar 71-72)
Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.” Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu Rasul-Rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang.” Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdo’alah kamu.” Dan do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (Al Mu’min 49-50)
Padahal Allah SWT telah memperingatkan mereka ketika di dunia melalui firman-Nya ini:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-Rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al A’raaf 35-36)
Dengan demikian, jika penghuni neraka itu telah ditakdirkan-Nya sebelum Dia menciptakan kehidupan dunia dan akhirat, maka Dia menetapkan takdir bagi mereka itu bukan karena kehendak-Nya, tapi karena perbuatan mereka sendiri yang durhaka kepada-Nya, dan hal itu telah diketahui-Nya ketika itu (sebelum kehidupan dunia dan akhirat diciptakan-Nya). Padahal Allah SWT telah memberikan penjelasan-Nya (ayat-ayat-Nya) kepada mereka ketika mereka menjalani hidupnya di dunia agar tidak menjadi penghuni neraka. Karena itu Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). (Al Haaqqah 50)
Tilmidzi: “Apakah manusia menyukai kehidupan dunia?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:
Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah 20-21)
Mereka meninggalkan kehidupan akhirat karena ingin mencapai apa yang ada dalam kehidupan dunia, padahal Allah SWT telah peringatkan mereka melalui firman-Nya ini:
Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak). (An Najm 24-25)
Demikian cintanya (sukanya) manusia dengan kehidupan dunia, mereka lalu tidak memperhatikan (membaca) ayat-ayat-Nya, bahkan tidak memperdulikan dirinya pada hari kiamat, yaitu ketika perbuatannya dihisab-Nya. Allah SWT berfirman:
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum 7)
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka pada hari yang berat (hari akhirat). (Al Insaan 27)
Tilmidzi: “Bagiamanakah orang-orang yang menyukai kehidupan dunia itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al A’laa 16-17)
Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Ar Ra’d 26)
Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nahl 60)
Tilmidzi: “Bagaimana perbandingan kehidupan dunia dan akhirat bagi penghuni neraka dan surga?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat, didatangkan penduduk dunia yang paling senang di antara penghuni neraka, lalu dibenamkan ke dalam neraka, kemudian difirmankan: “Hai anak turun Adam! Apakah pernah engkau melihat kesenangan sekali saja? Apakah pernah engkau mengalami kenikmatan sekali saja?” Orang itu menjawab: “Sama sekali tidak, demi Allah, wahai Tuhan.” Dan didatangkan pula manusia di antara ahli surga yang pada waktu di dunia paling sengsara, lalu dibenamkan ke dalam surga, kemudian di firmankan kepadanya: “Hai anak turun Adam! Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan sekali saja? Apakah engkau pernah mengalami kepayahan sekali saja?” Orang itu menjawab: “Sama sekali tidak, demi Allah, wahai Tuhan! Aku tidak pernah mengalami kesengsaraan dan sama sekali tidak pernah melihat kepayahan.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.