Dialog Seri 7: 13
Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang yang timbangan kebaikannya lebih berat daripada kejahatannya (dosanya) memasuki surga?”
Mudariszi: “Setelah Allah SWT memutuskan balasan bagi manusia atas perbuatannya di dunia, orang-orang yang menyekutukan-Nya atau yang menyembah tuhan selain Dia atau yang mengikuti agama selain agama-Nya dikumpulkan untuk dibawa ke neraka. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Abu Hurairah menceritakan, bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda: “Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat lalu berfirman: “Barangsiapa menyembah sesuatu, maka dia boleh mengikuti sesembahannya itu.” Maka orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Tinggallah ummat ini termasuk di dalamnya orang-orang munafik. (HR Muslim)
Selain orang-orang munafik yang tinggal seperti dalam sunnah Rasulullah di atas, juga ada orang-orang yang mengikuti agama-Nya. Tapi sebagian dari mereka juga dilemparkan ke neraka karena mereka menjalani agama-Nya dengan tidak benar atau dengan menyekutukan-Nya. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan Rasulullah SAW bersabda: “Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan: “Setiap ummat hendaklah mengikuti apa yang dulu disembah.” Maka tidak tersisa seorangpun yang dulu menyembah selain Allah yakni berhala-berhala, kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Sampai ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dulu menyembah Allah yang terdiri dari orang baik, orang jahat dan sisa-sisa Ahli Kitab, maka dipanggillah orang-orang Yahudi. Kepada mereka ditanyakan: “Apa yang dulu kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Uzair bin Allah.” Dikatakan: “Kalian dusta! Allah tidak menjadikan seorangpun sebagai sahabat atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Kami haus, wahai Tuhan kami, berilah kami minum.” Lalu diisyaratkan kepada mereka: “Kenapa kalian tidak datang ke sana?” Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Merekapun berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil. Kepada mereka ditanyakan: “Apa yang dulu kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Al Masih bin Allah.” Dikatakan kepada mereka: “Kalian dusta! Allah tidak menjadikan seorangpun sebagai sahabat atau anak. Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Kami haus, wahai Tuhan, berilah kami minum.” Lalu ditunjukkan kepada mereka: “Kenapa kalian tidak datang ke sana?” Mereka digiring ke neraka Jahannam seolah-olah neraka itu fatamortana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berguguran ke dalam neraka.” (HR Muslim)
Orang-orang bertakwa ketika itu dapat diketahui dari cahaya yang keluar dari mukanya dan sebelah kanannya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At Tahriim 8)
Sedangkan orang-orang munafik tidak mengeluarkan cahaya dan mereka berada dalam ketakutan; mereka meminta cahaya orang-orang bertakwa. Allah SWT berfirman:
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Al Hadiid 13-14)
Rasulullah SAW menjelaskan orang-orang munafik itu sebagai berikut:
Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan Rasulullah SAW bersabda: “Ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dulu menyembah Allah Ta’ala, yang baik dan yang jahat, maka Tuhan seru sekalian alam Allah Ta’ala datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui. Dia berfirman: “Apa yang kalian tunggu? Setiap ummat mengikuti apa yang dulu disembah.” Mereka mengucapkan: “Wahai Tuhan kami! Di dunia kami memisahkan diri dari orang-orang yang sebenarnya sangat kami butuhkan (untuk membantu penghidupan di dunia) dan kami tidak mau berkawan dengan mereka (karena menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama).” Allah berfirman: “Akulah Tuhan kalian!” Mereka mengucap: “Kami mohon perlindungan kepada Allah darimu. Kami tidak akan menyekutukan sesuatupun dengan Allah” (ini diucapkan dua atau tiga kali), sampai sebagian mereka hampir-hampir berubah (berbalik dari kebenaran) karena cobaan berat yang berlaku saat itu. Allah berfirman: “Apakah di antara kalian dan Dia ada tanda-tanda sehingga dengan demikian kalian dapat mengenali–Nya?” Mereka menjawab: “Ya!” Lalu disingkapkanlah keadaan yang menakutkan itu. Setiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan sendiri, pasti mendapat izin Allah. Sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau pamer, tentu Allah menjadikan punggungnya menyatu (sehingga tidak bisa bersujud). Setiap kali hendak bersujud, dia terjungkal pada tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka, sementara itu Allah telah berganti rupa dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Allah berfirman: “Akulah Tuhan kalian.” Mereka menyahut: “Engkau Tuhan kami.” (HR Muslim)
Allah SWT lalu membentangkan jembatan (sirath) dari bumi yang baru hingga ke surga, sehingga jembatan itu berada di atas neraka. Ketika itu syafaat diizinkan oleh Allah SWT untuk diberikan kepada penerima syafaat oleh pemberi syafaat yang diizinkan-Nya. Para penyembah Allah SWT yang lebih berat timbangan kebaikannya lalu memasuki surga melalui jembatan tersebut, tapi para penyembah-Nya yang lebih berat timbangan kejahatannya jatuh ke neraka dalam perjalanannya itu. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Sa’id Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan beliau bersabda: “Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka Jahannam dan syafa’at diperbolehkan. Mereka mengucap: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Ada yang menanyakan: “Ya Rasulullah, apakah jembatan itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkait itu. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang bagai kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok: selamat tidak kurang suatu apa, terkoyak-koyak tapi bisa bebas, dan terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” Abu Sa’id berkata: “Diceritakan kepadaku, bahwa jembatan itu lebih lembut ketimbang rambut dan lebih tajam daripada pedang.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana penghuni surga itu memasuki surga?”
Mudariszi: “Pintu surga hanya dibuka setelah Rasulullah SAW meminta untuk dibuka. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku datang ke pintu surga pada hari kiamat, lalu aku minta dibukakan. Yang menjaga bertanya: “Siapakah engkau?” Aku menjawab: “Muhammad.” Penjaga itu berkata: “Karenamulah aku diperintahkan. Aku tidak membukakan untuk seorangpun sebelummu.” (HR Muslim)
Dari Sahl bin Sa’d dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Di dalam surga terdapat delapan pintu.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana penghuni surga lalu memasuki surga tersebut?”
Mudariszi: “Setelah pintu surga dibuka, kelompok pertama yang memasuki surga yaitu seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Kelompok pertama yang masuk surga adalah dengan rupa bulan purnama. Dan orang-orang di belakang mereka adalah seperti bintang-bintang yang paling cemerlang, hati mereka adalah seperti hati seorang, tidak ada perselisihan dan tidak ada kebencian di antara mereka, bagi masing-masing dari mereka adalah dua istri yang sumsum betisnya tampak dari balik dagingnya saking cantiknya, mereka bertasbih kepada Allah di pagi dan sore hari, merka tidak sakit, tidak beringus dan tidak meludah, wadah-wadah mereka adalah emas dan perak, sisir mereka adalah emas dan kayu pengasapan mereka adalah kayu cendana.” (HR Bukhari)
Di antara kelompok yang masuk surga itu terdapat umat Rasulullah, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Sahl bin Sa’d dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya akan masuk surga dari umatku 70.000 orang atau 700.000 orang di mana yang permulaan dari mereka tidak masuk sehingga yang terakhir dari mereka masuk (sehingga mereka masuk bersama-sama). Wajah mereka seperti rupa bulan purnama.” (HR Bukhari)
Setelah kelompok pertama, lalu masuk kelompok-kelompok berikutnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Rombongan dari umatku yang pertama masuk surga itu bagaikan bulan purnama dan rombongan sesudahnya bagaikan bintang yang paling bercahaya di langit, kemudian sesudah itu mereka bertingkat-tingkat. Mereka tidak berak, tidak kencing, tidak beringus dan tidak meludah. Sisir mereka dari emas, dupanya dari kayu gaharu dan keringatnya seperti minyak misk.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah ada penghuni surga yang belum dapat memasuki surga ketika pintu surga telah dibuka?”
Mudariszi: “Sekalipun pintu surga telah dibuka, sebagian penghuni surga belum dapat memasukinya. Mereka tertahan di jembatan di atas A’raaf, yaitu tempat di langit yang membatasi antara surga dan neraka. Di atas A’raaf, mereka dapat melihat penghuni surga (di atas mereka) dan melihat penghuni neraka yang di bawah mereka (di bawah jembatan). Tertahannya mereka di atas A’raaf itu menjadi siksaan bagi mereka, dan itu mungkin untuk membersihkan dosa-dosa yang mereka buat ketika di dunia. Keadaan yang menyiksanya itu lalu membuat mereka meminta kepada Allah SWT, sebagai berikut:
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun‘alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.” (Al A’raaf 46-47)
Penghuni surga yang tertahan di atas A’raaf itu mengenali orang-orang yang di neraka, sehingga mereka mengatakan kepada orang-orang kafir itu sebagai berikut:
Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.” (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Al A’raaf 48-49)
Setelah melalui waktu yang Dia tetapkan, para penghuni surga yang tertahan di atas A’raaf lalu memasuki surga. Allah SWT berfirman:
(Kepada orang-orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (Al A’raaf 49)
Tilmidzi: “Jika A’raaf itu di tempat yang membatasi surga dengan neraka, apakah surga di atas neraka?”
Mudariszi: “Ya! Adanya A’raaf seperti firman-Nya di atas menunjukkan neraka berada di bawah surga. Bumi yang lain dan langit yang lain yang diulang kembali penciptaannya setelah kiamat, juga berada di bawah surga dan A’raaf. Allah SWT berfirman:
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. (Ibrahim 48)
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. (Al Anbiyaa’ 104)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah mungkin dunia itu adalah neraka?”
Mudariszi: “Bukan tidak mungkin dunia yaitu langit dan bumi beserta semua yang ada di langit dan di bumi itu berada dalam neraka atau berdekatan dengan neraka, yaitu sama-sama berada di bawah surga. Terlebih lagi surga yang dimasuki oleh penghuninya pada waktu itu adalah surga yang dekat dengan Sidratul Muntaha yang dikunjungi oleh Rasulullah SAW ketika melakukan Israa’ Mi’raj, yaitu berada di atas langit ke tujuh dari bumi. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Tatkala Rasulullah SAW di Isra’kan, beliau dibawa sampai ke Sidratul-Muntaha yang ada di langit.” (HR Muslim)
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (An Najm 13-16)
Tapi neraka yang telah diciptakan oleh Allah SWT sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, lalu ditutup-Nya sedemikian rupa hingga baru diketahui (terlihat) setelah kiamat atau hancur binasanya langit dan bumi. Rasulullah SAW menjelaskan tentang neraka sebelum langit dan bumi diciptakan-Nya, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, maka mengutus malaikat Jibril ke surga, Dia berfirman: “Pergilah ke neraka lalu lihatlah ia dan apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya.” Ternyata sebagiannya menaiki bagian yang lain, lalu ia kembali kepada–Nya dan berkata: “Demi keagungan–Mu, tidak seorangpun mendengarnya lalu ia memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkan neraka, lalu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan dan Dia berfirman: “Kembalilah ke neraka!” Lalu ia kembali kepadanya, kemudian dia berkata: “Demi keagungan–Mu, benar-benar aku kawatir tidak seorangpun selamat darinya melainkan ia memasukinya.” (HR Tirmidzi)
Asap yang merupakan asal mula langit dan bumi, bukan tidak mungkin asap itu berasal dari asap api neraka. Allah SWT berfirman:
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat 11)
Dengan langit dan bumi berasal dari asap api neraka, maka langit dan bumi mengandung partikel-partikel yang dikandung oleh neraka. Sehingga ketika langit dan bumi hancur binasa karena kiamat, langit dan bumi dapat bersatu dengan neraka karena adanya partikel-partikel yang sama.”
Tilmidzi: “Pengikut Nabi siapakah yang paling banyak menjadi penghuni surga?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya yang menjadi penghuni surga, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah manusia pertama yang memberi syafa’at di surga dan aku adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya.” (HR Muslim)
Separuh dari penghuni surga merupakan para pengikut Rasulullah, dan hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sunnah beliau ini:
Dari Abu Sa’id, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam!” Adam menyahut: “Aku siap menerima perintah–Mu dan kebaikan ada di tangan–Mu.” Allah berfirman: “Keluarkanlah orang yang dikirimkan ke neraka.” Adam bertanya: “Apakah orang yang dikirim ke neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap seribu, keluarkanlah sembilan-ratus sembilan-puluh sembilan orang.” Itu terjadi, ketika anak-anak beruban, kandungan semua wanita yang hamil gugur dan engkau lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi siksa Allah itulah yang sangat keras.” Penuturan Rasulullah SAW itu membuat para sahabat merasa khawatir. Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah di antara kami lelaki itu (yang seorang di antara seribu)?” Rasulullah SAW bersabda: “Bergembiralah kalian! Karena, dari Ya’juj wa Ma’juj seribu, sedangkan dari kalian seorang.” Kemudian beliau melanjutkan: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, aku sangat mendambakan kalian menjadi seperempat ahli surga.” Kami (para sahabat) memuji Allah dan bertakbir. Lalu beliau bersabda lagi: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi sepertiga ahli surga.” Kami memuji Allah dan bertakbir. Kemudian kembali beliau basabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku! Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi separuh ahli surga. Perumpamaan kalian di tengah-tengah ummat-ummat lain adalah bagaikan selembar rambut putih pada kulit sapi hitam, atau seperti belang pada betis khimar.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Penghuni surga itu ada seratus dua puluh barisan, delapan puluh barisan terdiri dari umat ini (ummat Muhammad) dan empat puluh barisan terdiri dari ummat lainnya.” (HR Tirmidzi)
Tilmidzi: “Kapan surga itu tidak lagi menerima penghuninya?”
Mudariszi: “Selama Allah SWT masih mengizinkan para pemberi syafaat memberikan syafaat kepada penghuni neraka yang beriman kepada-Nya, maka surga masih tetap terbuka. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafa’at. Allah memberi batas kepadaku. Lalu aku mengeluarkan lagi orang-orang dari neraka dan memasukkan mereka ke surga.” (Perawi berkata: “Aku tidak tahu pada yang ketiga kali ataukah yang keempat, beliau bersabda): “Wahai Tuhanku, yang masih ada di neraka tinggallah orang-orang yang ditahan oleh Al Qur’an, yakni orang yang memang seharusnya langgeng di neraka.” (HR Muslim)
Dari Abu Said Al Khudriy, bahwa kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW pada bertanya dan Rasulullah SAW bersabda: “Pada saat orang-orang mukmin telah terbebas dari neraka, maka demi Dzat yang menguasai diriku, tak ada orang yang begitu menaruh perhatian dalam mencari kebenaran melebihi orang-orang mukmin yang mencari kebenaran kepada Allah demi kepentingan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka. Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Mereka dulu berpuasa bersama kami, bersembahyang dan beribadah haji.” Lalu difirmankan kepada mereka: “Keluarkanlah orang-orang yang kalian kenal.” Maka bentuk-bentuk mereka diharamkan atas neraka. Banyak orang dapat dikeluarkan dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh dikeluarkan dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betisnya dan ada yang sudah sampai ke lututnya. Orang-orang mukmin itu berkata: “Wahai Tuhan kami, di dalam neraka tidak ada lagi seorangpun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan.” Allah berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan meski hanya seberat dinar, keluarkanlah.” Kembali mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Lalu mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Kami tidak tahu apakah masih ada di neraka seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan.” Allah berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan meski hanya seberat setengah dinar, keluarkanlah.” Mereka dapat mengeluarkan lagi banyak orang. Setelah itu mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Kami tidak tahu, apakah disana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan.” Allah berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian temukan di dalam hatinya terdapat kebaikan meski hanya seberat dzarrah, keluarkanlah.” Lagi-lagi mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Kami tidak tahu apakah disana masih ada pemilik kebaikan.” Abu Said Al Khudriy berkata: “Jika kalian tidak mempercayaiku mengenai hadis ini, maka bacalah firman Allah (ayat 40 surat An Nisaa’): “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah. Dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi–Nya pahala yang besar.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Para malaikat telah memintakan syafa’at, para Nabi telah memintakan syafa’at dan orang-orang mukmin juga telah memintakan syafa’at. Yang tinggal hanyalah Dzat yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” Lalu Allah merangkum serangkum dari neraka dan mengeluarkan dari sana sekelompok orang yang sama sekali tidak pernah beramal baik. Mereka telah menjadi orang. Mereka dilempar ke sebuah sungai di mulut surga yang disebut Sungai Kehidupan. Kemudian mereka keluar seperti tetumbuhan kecil keluar dari kandungan banjir. Bukankah kalian sering melihat tumbuhan kecil di sela-sela batu atau pohon, dimana bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kuning dan hijau, sedangkan yang berada di keteduhan menjadi putih?” Para shahabat menyela: “Seakan-akan engkau pernah menggembala di gurun.” Rasulullah SAW meneruskan: “Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Di leher mereka ada kalung, sehingga para ahli surga dapat mengenali mereka: “Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga tanpa amal yang mereka kerjakan dan juga tanpa kebaikan yang mereka lakukan.” Kemudian Allah berfirman: “Masuklah kalian ke dalam surga. Apapun yang kalian lihat, itu adalah untuk kalian.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Engkau telah memberi kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorangpun di antara orang-orang di seluruh alam.” Allah berfirman: “Di sisi–Ku ada pemberian untuk kalian yang lebih baik daripada pemberian ini.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini?” Allah berfirman: “Ridha–Ku, lalu Aku tidak bakal murka kepada kalian sesudah itu selamanya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengeluarkan orang terakhir dari neraka masuk ke surga?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang terakhir masuk surga adalah seorang lelaki. Dia berjalan sekali dan pada kali lain jatuh tertelungkup, pada kali berikutnya api neraka menamparnya. Ketika dia telah bisa melewati neraka, dia berpaling kesana seraya berkata: “Mahasuci Dzat yang menyelamatkan darimu. Allah benar-benar telah memberiku sesuatu yang belum pernah Dia berikan kepada seorangpun di antara orang-orang dahulu dan orang-orang terakhir.” Lalu sebatang pohon dinaikkan baginya. Dia berkata: “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku pada pohon ini sehingga aku bisa berteduh di keteduhannya dan bisa meminum airnya.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai anak-cucu Adam! Besar kemungkinan jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain lagi kepada–Ku.” Orang itu menjawab: “Tidak, wahai Tuhanku!” Dia berjanji kepada Allah tidak akan meminta yang lain kepada–Nya. Allah menerimanya, karena Dia Maha Tahu apa yang tak tertahankan baginya. Maka Allah mendekatkannya pada pohon tersebut, lalu dia berteduh di keteduhannya dan meminum airnya. Kemudian diperlihatkan pohon lain yang lebih bagus daripada yang pertama. Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku pada pohon ini agar aku dapat meminum airnya dan berteduh di keteduhannya. Aku tidak akan meminta yang lain kepada–Mu.” Allah berfirman: “Hai cucu Adam! Bukankah engkau telah berjanji kepada–Ku tidak akan meminta yang lain? Mungkin jika Aku mendekatkanmu pada pohon itu, engkau akan meminta yang lain lagi.” Orang itu kembali berjanji tidak akan meminta yang lain. Tuhan menerimanya, karena Dia Maha Tahu apa yang tak tertahankan baginya. Allah mendekatkannya pada pohon itu, sehingga dia dapat berteduh di keteduhannya dan meminum airnya. Kemudian diperlihatkan pohon lain di ambang pintu surga yang lebih bagus daripada dua pohon sebelumnya. Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku pada pohon ini supaya aku dapat berteduh di keteduhannya dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta yang lain lagi kepada–Mu.” Allah berfirman: “Hai cucu Adam, bukankah engkau telah berjanji tidak akan merninta yang lain?” Orang itu menjawab: “Benar, wahai Tuhanku! Aku tidak akan meminta yang lain lagi kepada–Mu.” Lagi-lagi Tuhan menerimanya, karena Dia Maha Tahu apa yang tak tertahankan baginya. Diapun mendekatkannya pada pohon itu. Ketika Allah telah mendekatkannya pada pohon tersebut, dia mendengar suara-suara ahli surga, maka berkatalah dia: “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah berfirman: “Hai cucu Adam! Apa yang bisa menghentikan permintaan kepada–Ku? Puaskah engkau jika Aku berikan kepadamu dunia dan semisalnya bersamanya?” Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memperolok-olokku, sedangkan Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?” Lalu Ibnu Mas’ud tertawa. Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?” Orang-orang bertanya: “Mengapa engkau tertawa?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Demikianlah Rasulullah SAW tertawa. Ketika para sahabat bertanya: “Mengapa engkau tertawa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena tertawa Tuhan sekalian alam tatkala orang itu bertanya: “Apakah Engkau memperolok-olokku, sedangkan Engkau adalah Tuhan sekalian alam?” Allah berfirman: “Aku tidak memperolok-olokkanmu, tetapi Aku berkuasa atas apa saja yang Aku kehendaki.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah orang yang terakhir masuk surga itu merupakan penghuni surga yang terendah?”
Mudariszi: ‘Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Asy Sya’biy berkata: “Aku pernah mendengar Al Mughirah bin Syu’bah menceritakan kepada orang banyak ketika berada di atas mimbar (dengan menyandarkan cerita tersebut kepada Rasulullah SAW): “Musa bertanya kepada Tuhannya: “Siapakah ahli surga yang paling rendah kedudukannya?” Allah berfirman: “Dia adalah seorang lelaki yang datang sesudah ahli surga dimasukkan ke surga. Kepadanya difirmankan: “Masuklah ke surga!” Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku! Bagaimana, sedangkan orang-orang sudah menempati tempat mereka dan telah mengambil karunia mereka.” Ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau senang jika mendapatkan semisal milik seorang di antara para Raja di dunia?” Orang itu menjawab: “Aku senang, wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Engkau dapatkan itu dan semisalnya, semisalnya, semisalnya dan semisalnya.” Pada kali yang kelima, orang itu menjawab: “Aku senang, wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Itu untukmu, begitu pula sepuluh kali lipatnya. Juga untukmu, apa yang diinginkan oleh nafsumu dan dirasa enak oleh matamu.” Orang itu berkata: “Aku senang, wahai Tuhanku.” Musa bertanya: “Wahai Tuhanku, lalu siapakah ahli surga yang paling tinggi kedudukannya?” Allah berfirman: “Mereka adalah orang-orang yang Aku pilih, yang Aku tanamkan kehormatan mereka dengan tangan–Ku dan Aku tutupkan itu, sehingga mata tidak bisa melihat, telinga tidak dapat mendengar dan tak pernah terlintas pada hati manusia.” Pembesar cerita ini ada dalam Kitab Allah, Al Qur’an (surat As Sajdah ayat 17): “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (berbagai nikmat) yang menyedapkan pandangan mata….” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.