Dialog Seri 10: 5
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh agar tidak ada orang kafir di bumi?”
Mudariszi: “Nabi Nuh meminta kepada Allah SWT agar memusnahkan semua orang kafir yang ada di bumi (di dunia) karena mereka akan membuat orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir. Allah SWT lalu mengabulkan permintaan Nabi Nuh tersebut, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Nuh 26-27)
Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya. (Al Anbiyaa’ 76)
Allah SWT mengetahui keadaan Nabi Nuh ketika itu, sehingga Dia lalu menenangkan hati beliau. Selain itu, Allah SWT memerintahkan beliau untuk membuat bahtera (kapal), dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (Huud 36)
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Huud 37)
Perintah Allah kepada Nabi Nuh (seperti firman-Nya di atas) itu merupakan bagian dari pengabulan permintaan Nabi Nuh kepada-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Nuh melaksanakan perintah-Nya itu?”
Mudariszi: “Nabi Nuh lalu melaksanakan perintah-Nya yaitu membuat kapal (bahtera), dan beliau mengerjakannya di darat. Kaumnya yang melihat Nabi Nuh membuat kapal di darat yang jauh dari laut, lalu menjadikan beliau sebagai bahan ejekan di antara kaumnya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami(pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (Huud 38-39)
Tilmidzi: “Apakah perintah Allah selanjutnya setelah Nabi Nuh menyelesaikan kapal tersebut?”
Mudariszi: “Perintah Allah selanjutnya yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.” Dan berdo’alah: “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Al Mu’minuun 27-29)
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Huud 40)
Karena itu, setelah kapal selesai dikerjakan dan datangnya tanda-tanda yang dijelaskan oleh Allah SWT, Nabi Nuh lalu memerintahkan orang-orang beriman untuk menaiki kapal. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Huud 41)
Tilmidzi: “Tapi bagaimana kapal yang berada di darat itu dapat berlayar?”
Mudariszi: “Setelah Nabi Nuh, orang-orang beriman dan semua binatang yang sepasang berada di kapal, Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Al Qamar 11-12)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa daratan dipenuhi oleh air yang turun dari langit dan yang keluar dari dalam tanah. Keadaan itu menjadikan kapal Nabi Nuh terangkat oleh air hingga dapat berlayar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Kami angkat Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (Al Qamar 13-14)
Tilmidzi: “Apakah banjir tersebut menenggelamkan semua orang kafir yang ada di bumi?”
Mudariszi: “Air yang turun dari langit dan keluar dari dalam tanah yang sangat banyak di daratan dengan gelombang air yang tinggi membuat air tersebut naik ke tempat-tempat yang tinggi (gunung-gunung). Air (banjir) tersebut menenggelamkan siapapun yang ada di daratan, contoh anak Nabi Nuh yang lari ke gunung, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Huud 42-43)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang yang tenggelam karena air banjir tersebut adalah orang-orang kafir seperti permintaan Nabi Nuh kepada-Nya?”
Mudariszi: “Air yang sangat banyak dan tinggi itu membuat bumi tertutup oleh air atau banjir besar. Orang-orang yang tidak berada dalam kapal Nabi Nuh, yaitu orang-orang kafir, menjadi tenggelam semuanya. Hal itu sesuai dengan permintaan Nabi Nuh kepada-Nya, yaitu agar Dia tidak membiarkan seorang kafirpun hidup di bumi. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (Asy Syu’araa’ 120)
Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (Al A’raaf 64)
Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Al Anbiyaa’ 77)
Orang-orang kafir yang tenggelam binasa itu bukan hanya dari kaum Nabi Nuh saja, tapi juga dari kaum Nabi Idris dan kaum Nabi-Nabi lain yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an. Nabi Adam, Nabi Idris dan Nabi-Nabi lain di masa itu berusia panjang seperti Nabi Nuh, sehingga mereka menurunkan puluhan generasi (anak cucu) manusia yang lalu tersebar ke berbagai belahan bumi. Ketika terjadi banjir besar itu, semua kaum Nabi Idris dan kaum Nabi-Nabi lain bukan tidak mungkin telah menjadi kafir seperti kaum Nabi Nuh sehingga termasuk yang dimusnahkan-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah di antara keluarga Nabi Nuh ada yang ditenggelamkan?”
Mudariszi: “Salah satu anak Nabi Nuh tidak ikut dalam kapal karena dia termasuk orang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Huud 45-47)
Demikian pula dengan isteri Nabi Nuh, yaitu termasuk orang yang tidak ikut dalam kapal karena dia telah mengkhianati Nabi Nuh. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At Tahriim 10)
Allah SWT menjadikan isteri dan anak Nabi Nuh itu sebagai contoh orang-orang yang mengkhianati suaminya dan Bapaknya sendiri, karena keduanya tidak mau berfikir dengan benar akibat dari hasutan (bisikan) syaitan yang diikutinya. Karena itu Allah SWT kemudian memperingatkan manusia dengan firman-Nya ini:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taghaabun 14)
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Mumtahanah 3)
Dengan demikian, banjir besar itu membuat tidak ada satu orang kafirpun yang selamat (hidup).”
Tilmidzi: “Bagaimana kapal Nabi Nuh tersebut berhenti berlayar?”
Mudariszi: “Setelah semua orang kafir mati tenggelam, maka Allah SWT lalu menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah”, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Huud 44)
Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud 48)
Kapal Nabi Nuh berhenti berlayar dengan berlabuh di atas bukit Judi. Berlabuhnya kapal di atas bukit itu menunjukkan banyak dan tingginya air ketika terjadi banjir. Banjir besar tersebut mematikan semua orang dan binatang yang tidak ikut dalam kapal Nabi Nuh. Berlabuhnya kapal di atas bukit menunjukkan pula bahwa Allah SWT menyelamatkan Nabi Nuh dan orang-orang beriman dari azab-Nya seperti yang diminta oleh Nabi Nuh. Allah SWT lalu menjadikan orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh yang selamat itu sebagai penerus keturunan manusia dan sebagai pemegang kekuasaan di bumi. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. (Asy Syu’araa’ 119)
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)
Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)
Karena semua orang kafir mati dan orang-orang beriman dalam kapal Nabi Nuh sebagai penerus keturunan manusia, maka orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh tersebut lalu menjadi nenek moyang manusia atau orang-orang yang lahir sampai sekarang di dunia. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al Haaqqah 11-12)
Orang-orang dalam kapal Nabi Nuh itu adalah anak cucu Nabi Adam. Mereka kemudian disebut oleh Allah SWT sebagai nenek moyang orang-orang yang lahir sampai sekarang. Dikatakan nenek moyang, karena hanya untuk membedakan orang-orang yang hidup di bumi sebelum banjir besar yang dimulai dari Nabi Adam dan isterinya yang beriman, dengan orang-orang yang hidup sesudah banjir besar yang dimulai dari orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh. Allah SWT menjelaskan tentang bumi bagi orang-orang beriman (shaleh), sebagai berikut:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 105)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kisah Nabi Nuh dan kaumnya tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian agar mereka beriman kepada-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Setelah sekian lamanya Allah SWT mengutus Rasul-Nya kepada anak cucu Nabi Adam melalui kaum Nabi Nuh, Dia lalu mengazab (membinasakan) orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya atau mengingkari agama-Nya karena mereka mengikuti syaitan yang telah diperingatkan-Nya. Di lain pihak, Allah SWT melindungi orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mengikuti-Nya dan agama-Nya dengan menyelamatkan mereka dari azab-Nya yang keras tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (Yunus 73)
Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan Rasul-Rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. (Al Furqaan 37)
Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (Al ‘Ankanuut 15)
Allah SWT membiarkan kapal Nabi Nuh tetap berada di bukit Judi sebagai bukti dan pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian agar mereka beriman dan tidak menjadi kafir. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 15)
Wallahu a’lam.