Bagaimana Kisah Nabi Nuh Dengan Kaumnya?

Dialog Seri 10: 4

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT utus Rasul lain setelah Nabi Idris?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menjelaskan jumlah anak cucu Nabi Adam yang lahir ke dunia sejak dari Nabi Adam di tempatkan di bumi. Allah SWT tidak pula menjelaskan jumlah Nabi (Rasul) yang diutus-Nya kepada kaum-kaum dari anak cucu Nabi Adam tersebut. Allah SWT hanya menjelaskan bahwa Dia mengutus beberapa Nabi-Nabi kepada kaum-kaum tersebut karena mereka tidak lagi menyembah-Nya atau tidak mengikuti agama-Nya (ayat-ayat-Nya). Salah satu Nabi yang diutus-Nya yaitu Nabi Nuh. Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya dan petunjuk-Nya kepada Nabi Nuh untuk disampaikan kepada kaumnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh. (An Nisaa’ 163)

 

Dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk. (Al An’aam 84)

 

Ayat-ayat-Nya yang disampaikan oleh Nabi Nuh itu untuk kebaikan dan keselamatan anak cucu Nabi Adam (manusia) di dunia dan di akhirat.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Nabi Nuh diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus Nabi Nuh sebagai Rasul kepada manusia (anak cucu Nabi Adam) melalui kaumnya dengan memerintahkan beliau, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.(Nuh 1)

 

Nabi Nuh kemudian menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya sambil menjelaskan tentang dirinya serta menyeru kaumnya agar bertakwa kepada Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Al Mu’minuun 23)

 

Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.(Asy Syu’araa’ 106-110)

 

Seruan Nabi Nuh kepada kaumnya itu diikuti pula dengan penyampaian peringatan-Nya dari ayat-ayat-Nya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan kalau kamu mengetahui.(Nuh 2-4)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.(Huud 25-26)

 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Al A’raaf 59)

 

Penjelasan, seruan dan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Nuh dengan berulang-ulang kepada kaumnya itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang yang hanya diketahui oleh Allah SWT saja.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum Nabi Nuh atas seruan dan peringatan Nabi Nuh tersebut?”

 

Mudariszi: “Nabi Nuh yang sering menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) kepada kaumnya, pada akhirnya diketahui oleh para pemuka (pemimpin) kaum. Para pemuka kaum tersebut tidak menyukai dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (Al Mu’minuun 24-25)

 

Para pemuka kaum lalu mengatakan kepada Nabi Nuh sebagai berikut:

 

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.(Al A’raaf 60)

 

Nabi Nuh lalu menjelaskan kepada para pemuka kaum, sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?” (Al A’raaf 61-63)

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan para pemuka kaum setelah mendengar penjelasan Nabi Nuh tersebut?”

 

Mudariszi: “Para pemuka kaum khawatir kaumnya akan mengikuti Nabi Nuh, karena di antara kaumnya telah ada yang mengikuti Nabi Nuh. Jika semua orang mengikuti Nabi Nuh, maka itu berarti mereka meninggalkan agamanya, yaitu agama yang tidak menyembah Allah SWT. Karena itu para pemuka kaum kemudian mengatakan kepada Nabi Nuh, seperti yang dijelaskan firman-Nya:

 

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.(Huud 27)

 

Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepada kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (Asy Syu’araa’ 111)

 

Nabi Nuh lalu menerangkan kepada para pemuka kaum, sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.(Asy Syu’araa’ 112-115)

 

Bahkan semua alasan yang diada-adakan oleh para pemuka kaum agar kaumnya tidak mengikuti Nabi Nuh itu dibantah oleh Nabi Nuh dan beliau lalu menerangkan kepada mereka dengan yang sebenarnya, sebagai berikut:

 

Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya padahal kamu tidak menyukainya?” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu bahwa sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.(Huud 28-31)

 

Para pemuka kaum Nabi Nuh tidak memahami agama Allah; mereka memandang seseorang itu dari kedudukan dan hartanya; mereka tidak memahami iman dan akhlak orang-orang yang mengikuti agama Allah. Mereka seharusnya memikirkan lebih dulu ajakan (seruan) Nabi Nuh sebelum menolaknya dengan ucapan-ucapannya yang buruk. Mereka mempunyai sifat-sifat yang buruk, yaitu sombong dan selalu berburuk sangka terhadap orang yang tidak sependapat dengan mereka. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. (An Nahl 60)

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang diikuti oleh kaum Nabi Nuh tersebut?”

 

Mudariszi: “Agama kaum Nabi Nuh yaitu agama yang menyembah tuhan yang berupa patung berhala. Mereka adalah orang-orang musyrik karena menyembah tuhan selain Allah SWT atau menyekutukan-Nya dengan tuhan lain yaitu patung. Syaitan membuat mereka beragama menyekutukan-Nya agar mereka tersesat sejauh-jauhnya hingga dosa mereka itu tidak diampuni-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Patung-patung berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh itu adalah patung-patung dari orang-orang alim di antara mereka yang telah wafat. Syaitan membisikkan ke hati mereka agar membuat patung orang-orang alim itu sebagai penghormatan kepadanya. Setelah pengetahuan (ilmu) agama kaum Nabi Nuh berkurang, syaitan lalu membisikkan kepada mereka agar merubah penghormatan kepada orang-orang alim tersebut menjadi penyembahan. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wadd milik suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di sku Hudzail, Yaghuts milik suku Murad kemudian milik suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba, adapun Yauq milik suku Hamadan, Nasr ada­lah milik suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala, adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaithan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala dan berilah nama berhala-berhala itu dengan namanama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala terse­but tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah. (HR Bukhari)

 

Dengan mereka menyembah tuhan selain Allah SWT yang berupa patung karena bisikan syaitan, maka mereka sebenarnya menyembah syaitan. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Karena kaum Nabi Nuh mengikuti agama yang diada-adakan oleh syaitan itulah maka mereka langsung menolak ajakan (seruan) Nabi Nuh kepada agama Allah dengan alasan atau ucapan-ucapan yang buruk. Ucapan-ucapan mereka itu dari bisikan syaitan, karena syaitan tidak menginginkan mereka mendengar penjelasan Nabi Nuh dan mendengar ayat-ayat-Nya agar mereka tidak sempat untuk memikirkannya.”

 

Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum Nabi Nuh tetap menghalangi-halangi Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) tersebut?”

 

Mudariszi: “Para pemuka kaum tetap menghalang-halangi Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya) kepada kaumnya. Dalam menghalang-halangi Nabi Nuh, mereka bahkan meminta kepada Nabi Nuh agar diturunkan azab. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.(Huud 32)

 

Nabi Nuh kemudian menjelaskan kepada mereka tentang permintaan mereka tersebut, sebagai berikut:

 

Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Malahan kaum Nuh itu berkata: “Dia cuma membuat-buat nasehatnya saja.” Katakanlah: “Jika aku membuat-buat nasehat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat. (Huud 33-35)

 

Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum Nabi Nuh mengancam Nabi Nuh?”

 

Mudariszi: “Karena para pemuka kaum tidak dapat menghentikan Nabi Nuh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya, mereka lalu mengancam Nabi Nuh, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.(Asy Syu’araa’ 116)

 

Ancaman para pemuka kaum itu tidak menjadikan Nabi Nuh takut; beliau mengatakan kepada mereka seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan janganlah kamu memberi tangguh padaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). (Yunus 71-72)

 

Para pemuka kaum mengucapkan perkataaan-perkataan yang buruk kepada Nabi Nuh karena mereka mengikuti hawa nafsunya yang berasal dari bisikan syaitan, yaitu syaitan yang mereka sembah dan ikuti. Mereka tidak menyadari jika syaitan telah membuat mereka selalu menganggap baik semua ucapan dan perbuatan mereka yang buruk itu. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Nuh tidak mau mengikuti Nabi Nuh karena tidak mau meninggalkan agamanya yang menyembah patung berhala?”

 

Mudariszi: “Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya yaitu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. (Al ‘Ankanuut 14)

 

Nabi Nuh hidup bersama kaumnya (seperti firman-Nya di atas) menunjukkan beliau bukan tidak mungkin telah memperingatkan kaumnya dengan ayat-ayat-Nya selama beratus-ratus tahun. Jangka waktu yang panjang itu menunjukkan kesabaran beliau dalam menasehati dan menyeru kaumnya agar mengikuti agama Allah. Tapi kaumnya tidak mau meninggalkan agamanya, dan Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.(Nuh 5-20)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa kaum Nabi Nuh memang tidak mau meninggalkan agamanya yang menyembah tuhan (patung) berhala.”

 

Tilmidzi: “Lalu apakah yang Nabi Nuh lakukan setelah mengetahui kaumnya tidak mau meninggalkan agamanya?”

 

Mudariszi: “Pengalaman Nabi Nuh selama bersama kaumnya itu bukan saja membuat beliau mengetahui kaumnya tidak mau mengikuti beliau dan mengikuti agama-Nya, tapi beliau juga mengetahui kaumnya akan membuat anak cucunya atau orang-orang yang lahir kemudian menjadi kafir. Karena itu Nabi Nuh lalu mengadu kepada Allah SWT, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (Al Qamar 10)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mu’min besertaku. (Asy Syu’araa’ 117-118)

 

Dan Nabi Nuh kemudian meminta kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh 21-24)

 

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, Ibu Bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (Nuh 26-28)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Nuh?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui kaum Nabi Nuh telah mendustakan Rasul-Nya yaitu Nabi Nuh, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul. (Asy Syu’araa’ 105)

 

Allah SWT juga mengetahui Nabi Nuh telah meminta kepada-Nya. Karena itu Allah SWT lalu mengabulkan permintaan Nabi Nuh tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya. (Al Anbiyaa’ 76)

 

Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (Ash Shaaffaat 75)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply