Bagaimana Kisah Nabi Huud Dengan Kaumnya?

Dialog Seri 10: 6

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Rasul setelah Nabi Nuh?”

 

Mudariszi: “Orang-orang beriman yang bersama dengan Nabi Nuh di atas kapal merupakan orang-orang yang diselamatkan oleh Allah SWT ketika terjadi banjir besar yang menenggelamkan semua orang kafir yang ada di bumi. Orang-orang beriman itu lalu dijadikan oleh Allah SWT sebagai penerus (nenek moyang) manusia yang menjalankan kehidupannya di bumi sebagai khalifah. Di antara mereka itu ada yang dijadikan-Nya sebagai penguasa. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan. (Yunus 73)

 

Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffaat 76-77)

 

Dari Qatadah dari Al-Hasan dari Samurah dari Rasulullah SAW dalam menafsiri firman Allah: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (surat Ash Shaaffaat ayat 77). Beliau bersabda: Mereka adalah Ham, Sam dan Yafits.” (HR Tirmidzi)

 

Orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh kemudian menurunkan anak cucunya yang banyak. Mereka menjalani hidupnya sebagai khalifah dengan mencari karunia-Nya di bumi. Pertambahan anak cucunya dan keinginan hidup yang lebih baik, membuat mereka menyebar ke berbagai belahan bumi dan membentuk kaum-kaum (negeri-negeri). Syaitan (termasuk Iblis) yang ingin menyesatkan manusia hingga kiamat, tetap menggoda orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh dan anak cucunya tanpa henti-hentinya. Pada akhirnya syaitan berhasil membuat beberapa kaum menjadi sesat. Kaum-kaum itu meninggalkan agama-Nya (ayat-ayat-Nya); mereka menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT. Allah SWT lalu mengutus Rasul-Rasul kepada kaum-kaum tersebut dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna disampaikan dan diperingatkan kepada kaum-kaum itu. Tujuannya agar mereka kembali menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya yang dijelaskan oleh ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Tetapi Allah SWT hanya menjelaskan beberapa Rasul saja dalam Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka Rasul-Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata. (Yunus 74)

 

Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)

 

Salah satu Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada kaum dari anak cucu orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh tersebut yaitu Nabi Huud.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT mengutus Nabi Huud tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus Nabi Huud kepada kaumnya yaitu kaum ‘Aad. Allah SWT memberikan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Huud guna disampaikan (dijelaskan) dan diperingatkan kepada kaumnya agar mereka menyembah-Nya dengan mengikuti agama-Nya. Syaitan ketika itu berhasil membuat Kaum ‘Aad menyembah tuhan (patung) selain Allah SWT; kaum ‘Aad telah menjadi musyrik karena menyekutukan-Nya dengan tuhan (patung). Nabi Huud menjalankan perintah-Nya dengan menyeru kaumnya sebagai berikut:

 

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Al A’raaf 65)

 

Dan ingatlah (Huud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.(Al Ahqaaf 21)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kaum ‘Aad itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjadikan kaum ‘Aad sebagai kaum yang pandai. Allah SWT memberikan kaum ‘Aad keahlian (kepandaian) dalam membangun bangunan pada tanah yang tinggi-tinggi. Mereka dapat membangun bangunan pada tanah yang tinggi-tinggi (gunung-gunung), karena mereka memiliki tubuh yang besar. Mereka merupakan anak cucu orang-orang beriman dari kaum Nabi Nuh yang berusia panjang dan bertubuh besar dan tinggi seperti Nabi Adam, seperti sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam tingginya 60 hasta.” (HR Bukhari)

 

Tapi kaum ‘Aad telah berhasil disesatkan oleh syaitan, yaitu dibuat menjadi tidak bersyukur dan tidak taat kepada Allah SWT. Syaitan melalui bisikan jahatnya berhasil membuat mereka menjadi sombong dengan ilmunya (keahliannya) sehingga mereka berkuasa (menjalani hidupnya) dengan sewenang-wenang. Mereka merasa yang paling kuat dan paling pandai di antara manusia yang ada di bumi. Mereka menetapkan peraturan di negerinya dengan menuruti hawa nafsu pemimpinnya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (Fushshilat 15)

 

Para pemimpin yang kafir cenderung akan membuat rakyatnya (kaumnya) menjadi kafir pula. Syaitan membuat para pemimpin kaum ‘Aad menjadi kafir agar mereka membantu syaitan dalam menyesatkan rakyatnya (kaumnya) melalui kekuasaannya. Karena itulah Allah SWT perintahkan Nabi Huud untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada mereka sebagai peringatan, dan hal itu disampaikan oleh Nabi Huud sebagai berikut:

 

Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” Dan (dia berkata): Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.(Huud 50-52)

 

Ketika saudara mereka Huud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui, Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.(Asy Syu’araa’ 124-135)

 

Tilmidzi: “Apakah tanggapan kaum ‘Aad atas penyampaian Nabi Huud?”

 

Mudariszi: “Kaum ‘Aad, khususnya para pemuka (pemimpin) kaum, tidak menyukai apa yang disampaikan oleh Nabi Huud. Mereka khawatir kaumnya akan mengikuti agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Huud. Karena itu mereka kemudian mengatakan kepada Nabi Huud, sebagai berikut:

 

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.(Al A’raaf 66)

 

Nabi Huud lalu menjelaskan kepada mereka tentang diri beliau, dan beliau memperingatkan mereka pula tentang kejadian yang menimpa kaum Nabi Nuh akibat dari menyembah tuhan selain Dia. Tujuannya agar mereka kembali bertaubat dengan hanya menyembah Dia saja dan mengikuti agama-Nya (mengikuti Nabi Huud dan ayat-ayat-Nya). Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Huud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keuntungan. (Al A’raaf 67-69)

 

Nabi Huud juga memperingatkan mereka tentang kaum ‘Aad yang sebelumnya telah dibinasakan-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama. (An Najm 50)

 

Tilmidzi: “Apakah setelah itu kaum ‘Aad mengikuti Nabi Huud?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Huud termasuk para pemuka kaum menolak seruan Nabi Huud untuk mengikuti agama-Nya yang hanya menyembah Allah SWT saja. Mereka tidak ingin meninggalkan agama nenek moyangnya (agama adat istiadatnya) yang menyembah tuhan berupa patung-patung. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kaum ‘Aad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.(Huud 53-54)

 

Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.(Asy Syu’araa’ 136-138)

 

Mereka mengatakan Nabi Huud tidak membawa bukti yang nyata, padahal Nabi Huud membawa ayat-ayat-Nya yang menjelaskan kepada mereka tentang Tuhan dan agama-Nya termasuk menjelaskan apa yang terjadi dengan kaum Nabi Nuh karena mengingkari Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya dengan menyembah tuhan-tuhan selain Dia hingga ditenggelamkan dalam banjir besar.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah kaum ‘Aad memang tidak ingin meninggalkan agamanya?”

 

Mudariszi: “Syaitan dengan bisikan-bisikan jahatnya selalu menghalang-halangi kaum ‘Aad dari mendengarkan Nabi Huud ketika menyampaikan ayat-ayat-Nya agar mereka tidak memikirkan agama-Nya. Syaitan selalu membisikkan kejahatan ke hati mereka agar timbul hawa nafsunya untuk mengatakan tidak akan meninggalkan agamanya karena itu merupakan agama nenek moyangnya atau agama adat istiadatnya. Bahkan agar kaum ‘Aad tidak mengikuti Nabi Huud dan ayat-ayat-Nya, syaitan membujuk mereka untuk meminta kepada Nabi Huud supaya diturunkan azab bagi mereka guna membuktikan kebenaran seruan Nabi Huud. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh Bapak-Bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.(Al A’raaf 70)

 

Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.(Al Ahqaaf 22)

 

Nabi Huud yang mengetahui keingkaran dan kebodohan kaumnya itu, kemudian mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang) itu hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh. (Al Ahqaaf 23)

 

Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu.(Al A’raaf 71)

 

Lamanya Nabi Huud dalam menjelaskan (menyampaikan) ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan permintaan kaumnya untuk menurunkan azab-Nya kepada mereka, telah membuat Nabi Huud mengetahui bahwa kaumnya tidak ingin beriman kepada-Nya dan hanya mau mengikuti agamanya yang menyembah tuhan patung-patung berhala. Karena itu Nabi Huud kemudian menjelaskan kepada kaumnya, sebagai berikut:

 

Huud menjawab: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Huud 54-57)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menurunkan azab-Nya kepada kaum Nabi Huud (kaum ‘Aad) tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang kaum ‘Aad yang sombong itu, melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya. (Al Ahqaaf 26)

 

Allah SWT mengetahui kaum ‘Aad telah mendustakan Rasul-Nya (Nabi Huud) dan ayat-ayat-Nya setelah mereka diperingatkan sekian lamanya. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kaum ‘Aad telah mendustakan para Rasul. (Asy Syu’araa’ 123)

 

Karena itu Allah SWT lalu menurunkan azab-Nya bagi mereka dengan mendatangkan angin yang menghancurkan dan memusnahkan mereka termasuk memusnahkan bangunan-bangunan yang mereka telah bangun. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (Al Ahqaaf 24-25)

 

Sebelum azab-Nya turun, Allah SWT terlebih dahulu menyelamatkan Nabi Huud beserta orang-orang beriman, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (Al A’raaf 72)

 

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. (Huud 58)

 

Tilmidzi: “Bagaimana azab Allah terhadap kaum ‘Aad yang kafir itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan juga pada (kisah) ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan suatupun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (Adz Dzaariyaat 41-42)

 

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (Fushshilat 16)

 

Kaum ‘Aad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. (Al Qamar 18-20)

 

Adapun kaum ‘Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (Al Haaqqah 6-8)

 

Akibat dari azab-Nya tersebut, Allah SWT lalu menjelaskan keadaan kaum ‘Aad yang kafir itu sebagai berikut:

 

Dan itulah (kisah) kaum ’Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-Rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (Huud 59)

 

Maka mereka mendustakan Huud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 139)

 

Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Aad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Aad (yaitu) kaum Huud itu. (Huud 60)

 

Allah SWT memusnahkan semua kaum ‘Aad yang kafir agar orang-orang yang lahir kemudian dari kaum ‘Aad tersebut tidak menjadi kafir.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply