Bagaimana Kisah Nabi Ibrahim Dengan Kaumnya?

Dialog Seri 10: 8

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT masih mengutus Nabi-Nabi kepada kaum-kaum kafir setelah Dia memusnahkan kaum ‘Aad dan kaum Tsamud?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengutus sejumlah Nabi (Rasul) kepada kaum-kaum kafir, tapi hanya sebagian Nabi saja yang dikisahkan dalam Al Qur’an, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. (An Nisaa’ 164)

 

Rasul yang dijelaskan dalam Al Qur’an setelah Nabi Shaleh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (Maryam 41)

 

Tilmidzi: “Siapakah Nabi Ibrahim itu?”

 

Mudariszi: “Nabi Ibrahim merupakan salah satu anak cucu keturunan Nabi Nuh, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (As Shaaffaat 83)

 

Dari Qatadah dari Al-Hasan dari Samurah dari Rasulullah SAW dalam menafsiri firman Allah: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (surat Ash Shaaffaat ayat 77). Beliau bersabda: Mereka adalah Ham, Sam dan Yafits.” (HR Tirmidzi)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim itu juga Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya yang kafir?”

 

Mudariszi: “Nabi Ibrahim tidak berbeda dengan Nabi Nuh, yaitu Rasul Allah, dan tidak berbeda pula dengan Rasul-Rasul-Nya yang lain seperti Nabi Musa dan Rasulullah SAW. Semua Rasul-Nya itu (termasuk Nabi Ibrahim) menerima wahyu-wahyu-Nya atau ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dari Allah SWT untuk disampaikan kepada manusia melalui kaumnya masing-masing. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim. (An Nisaa’ 163)

 

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An Najm 36-42)

 

Kami akan membacakan (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah, oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka), kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang terdahulu, (yaitu) Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa. (Al A’laa 6-19)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim diajarkan (ditunjuki) oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Al Anbiyaa’ 51)

 

Hidayah (petunjuk) kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim itu bertujuan agar beliau menjadi hamba-Nya sebagai berikut:

 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. (Al An’aam 75)

 

Hidayah (petunjuk) kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim itu juga merupakan pengajaran-Nya kepada beliau melalui makhluk-makhluk di langit. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al An’aam 76-79)

 

Pengajaran-Nya kepada Nabi Ibrahim seperti firman-Nya di atas membuat Nabi Ibrahim meyakini bahwa Allah SWT, Tuhannya, tidak tenggelam atau tidak mati-mati. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati. (Al Furqaan 58)

 

Keyakinan Nabi Ibrahim atas ke Esa-an Allah SWT yang dipelajarinya melalui makhluk-makhluk di langit itu merupakan hidayah (petunjuk) daripada-Nya. Dengan keyakinannya itu Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dengan menjelaskan kesalahan kaumnya dalam beragama menyembah tuhan patung berhala. Sebaliknya, bukan tidak mungkin justru karena agama kaumnya itulah yang membuat Nabi Ibrahim lalu mencari Tuhannya yang benar dan mencari agama Tuhannya yang benar hingga beliau lalu ditunjuki-Nya (diberikan-Nya hidayah kebenaran).”

 

Tikmidzi: “Apakah dengan pengajaran-Nya melalui makhluk-makhluk di langit itu lalu hati (iman) Nabi Ibrahim menjadi mantap?”

 

Mudariszi: “Syaitan yang ingin menyesatkan manusia, tetap mengganggu Nabi Ibrahim agar keyakinan beliau atas ke-Esa-an Allah SWT menjadi luntur hingga lenyap. Syaitan terus menggoda Nabi Ibrahim hingga timbul kerisauan di hati beliau, dan itu terlihat dari permintaan beliau kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah 260)

 

Permintaan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT dalam firman-Nya di atas itu menunjukkan bahwa hati beliau telah dirisaukan oleh syaitan. Tetapi setelah Allah SWT mengabulkan permintaannya, hati atau iman (keyakinan) beliau atas ke-Esa-an Allah SWT manjadi mantap, sehingga sulit bagi syaitan untuk mengaburkan beliau tentang ke-Esa-an Allah SWT. Di lain pihak, godaan syaitan itu menjadi pengajaran Allah pula kepada Nabi Ibrahim dalam memikirkan ke-Esa-an Allah SWT. Hal itu menjadikan Nabi Ibrahim lalu meyakini bahwa agama yang benar adalah agama Allah, yaitu agama tauhid yang hanya menyembah Dia saja, dan agama yang bersih dari syirik (kesyirikan). Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Dengan ilmu dan pengetahuannya itu, Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya termasuk menjelaskan agama-Nya kepada kaumnya. Beliau mengutamakan penjelasan tentang Allah SWT agar kaumnya tidak salah dalam beragama, karena Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al An’aam 82)

 

Pemahaman dan keyakinan kepada ke-Esa-an Allah SWT (tauhid) itu sangat penting bagi manusia agar tidak salah dalam beragama ketika menjalankan kehidupannya di dunia.”

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang dipeluk (diikuti) oleh kaum Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim beragama menyembah tuhan-tuhan berupa patung-patung berhala. Karena itulah Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dan menyeru mereka agar menyembah Allah SWT saja. Nabi Ibrahim memulai menyampaikan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada Bapaknya yang juga menyembah tuhan patung berhala. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Ingatlah ketika ia berkata kepada Bapaknya: “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai Bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai Bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan. (Maryam 42-45)

 

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada Bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (Al An’aam 74)

 

Nabi Ibrahim melarang Bapaknya menyembah patung atau menyembah syaitan (dalam firman-Nya di atas), karena Allah SWT berfirman:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Dengan demikian, Bapaknya Nabi Ibrahim yang menyembah patung berhala itu, berarti dia menyembah syaitan, karena syaitan yang menjadikannya (melalui bisikan syaitan) untuk tidak menyembah-Nya tapi menyembah tuhan selain Dia, yaitu tuhan patung-patung berhala.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan Bapaknya Nabi Ibrahim setelah mendengar penjelasan Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Berkata Bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. (Maryam 46)

 

Jawaban Bapaknya Nabi Ibrahim di atas menunjukkan bahwa syaitan yang diikuti oleh Bapaknya Nabi Ibrahim tidak ingin dia mendengarkan penjelasan Nabi Ibrahim. Syaitan melalui bisikan jahatnya menyuruh Bapaknya dengan ucapannya (seperti dalam firman-Nya di atas) itu agar Nabi Ibrahim tidak lagi menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada dia sehingga dia tetap mengikuti syaitan dengan menyembah patung atau menyembah syaitan. Bapaknya Nabi Ibrahim dibuat oleh syaitan menjadi seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Al Hajj 72)

 

Penjelasan dan peringatan Nabi Ibrahim kepada Bapaknya yang berkali-kali serta penolakan Bapaknya yang berkali-kali dengan disertai ancaman-ancaman, lalu membuat Nabi Ibrahim menjauh dari Bapaknya, hingga akhirnya beliau mengatakan kepada Bapaknya sebagai berikut:

 

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku. (Maryam 42-48)

 

Kecuali perkataan Ibrahim kepada Bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah. (Al Mumtahanah 4)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim itu?”

 

Mudariszi: “Ketika Nabi Ibrahim berjanji akan meminta kepada-Nya agar mengampuni Bapaknya , beliau belum mengetahui peringatan-Nya ini:

 

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya) sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. (At Taubah 113)

 

Tapi setelah Nabi Ibrahim mengetahui Bapaknya merupakan musuh-Nya karena telah menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (patung), beliau lalu tidak lagi meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni Bapaknya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk Bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada Bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa Bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

 

Allah SWT menjelaskan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dengan tuhan lain, melalui firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 116)

 

Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim memperingatkan kaumnya juga?”

 

Mudariszi: “Nabi Ibrahim menyampaikan pula ayat-ayat-Nya kepada kaumnya dengan menjelaskan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu bukanlah Tuhannya yang benar. Itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Ketika ia berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya), atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” (Asy Syu’araa 70-73)

 

Kaum Nabi Ibrahim lalu menjelaskan alasan mereka menyembah tuhan patung berhala itu, sebagai berikut:

 

Mereka menjawab: “(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian. (Asy Syu’araa 74)

 

Nabi Ibrahim lalu menjelaskan kepada kaumnya tentang Allah SWT, yaitu Tuhan yang benar, Tuhan manusia dan Tuhan yang wajib disembah oleh mereka, sebagai berikut:

 

Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Tuhanku Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. (Asy Syu’araa 75-82)

 

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Alah itu adalah berhala dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 16-18)

 

Penyembahan kepada patung (tuhan) oleh kaum Nabi Ibrahim itu tidak lain akibat dari rasa kasih sayang dalam keluarga dan adat istiadat keluarga, karena semua anggauta keluarga tersebut tidak mengetahui Tuhannya yang benar. Mereka mengatakan agama nenek moyang adalah bukti bahwa mereka tidak mengetahui kebenaran tuhannya dan agamanya, karena agama itu bukan dari nenek moyang tapi dari Allah SWT Tuhan manusia. Syaitan menjadikan mereka beragama melalui rasa kasih sayang keluarga dan melalui adat istiadat yang turun temurun (nenek moyang). Nabi Ibrahim menjelaskan hal itu kepada kaumnya, sebagai berikut:

 

Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun. (Al ‘Ankabuut 25)

 

Kamu mengingkari dan melaknati sebagian yang lain di hari kiamat (dalam firman-Nya di atas), karena di hari kiamat tidak ada lagi hubungan kekeluargaan, kekerabatan, nenek moyang atau pertemanan di antara manusia; Allah SWT menjadikan semua itu bagi manusia hanya di dunia yaitu ketika mereka dijadikan-Nya khalifah (pemimpin) dengan tanggung jawabnya masing-masing sebagai pemimpin keluarga atau pemimpin kaum atau pemimpin negeri dalam menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti syariat agama-Nya termasuk syariat penyembahan kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Dan apabila datang suara yang memekakan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari Ibu dan Bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (’Abasa 33-37)

 

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al Mu’minuun 101)

 

Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. (Al Ma’aarij 10)

 

Dengan demikian, penyembahan tuhan berhala yang dilakukan oleh kaum Nabi Ibrahim itu hanyalah dari syaitan, dan syaitan melakukannya (atau menipu mereka) dengan menggunakan bujuk rayu kasih sayang keluarga, suku (kaum), adat istiadat, leluhur (nenek moyang).”

 

Tilmidzi: Bagaimana tanggapan kaum Nabi Ibrahim setelah mendengar penjelasan Nabi Ibrahim tersebut?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim tidak menerima penjelasan beliau dan mereka mengancam beliau. Nabi Ibrahim tidak takut dengan ancaman kaumnya dan beliau menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:

 

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (Al An’aam 80-81)

 

Nabi Ibrahim menjelaskan kepada kaumnya (dalam firman-Nya di atas) bahwa Dia tidak menurunkan hujjah (ayat-ayat-Nya) kepada mereka untuk menyekutukan-Nya atau menyembah tuhan patung berhala, menunjukkan bahwa yang mereka sembah itu tidak lain adalah tuhan selain Dia yang itu dari syaitan. Justru ayat-ayat-Nya yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim itulah penjelasan dari Tuhan yang benar. Tapi mereka tidak dapat memikirkan perkara itu dengan benar, karena hati dan akal mereka telah tertutup oleh bisikan syaitan yang selalu diikutinya sehingga mereka selalu menganggap benar perbuatan dan ucapannya yang buruk itu. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar Ra’d 33)

 

Dan Nabi Ibrahim lalu menjelaskan kepada kaumnya sebagai berikut:

 

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.(Az Zukhruf 26-27)

 

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al Mumtahanah 4)

 

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 83)

 

Tilmidzi: “Apakah penolakan dari kaumnya itu membuat Nabi Ibrahim lalu berhenti dari menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada kaumnya?”

 

Mudariszi: “Nabi Ibrahim tetap menyampaikan ayat-ayat-Nya dan menyeru kaumnya agar mengikuti agama-Nya, dan tidak dijelaskan jangka waktu Nabi Ibrahim menyeru kaumnya agar menyembah Allah SWT saja. Allah SWT menjelaskan tentang Nabi Ibrahim ketika menyeru kaumnya pada suatu waktu, sebagai berikut:

 

(Ingatlah) ketika ia berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit. Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang. (Ash Shaaffaat 85-90)

 

Sakit yang diderita oleh Nabi Ibrahim (dalam firman-Nya di atas) tidak membuat beliau berhenti menyampaikan ayat-ayat-Nya. Bahkan beliau bertujuan melakukan tipu daya kepada kaumnya agar mereka kembali kepada-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati Bapak-Bapak kami menyembahnya. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan Bapak-Bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. (Al Anbiyaa’ 52-57)

 

Tilmidzi: “Tipu daya apakah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim?”

 

Mudariszi: “Ketika tidak ada seorangpun dari kaumnya, Nabi Ibrahim lalu mendatangi patung-patung kaumnya sambil bertanya kepada mereka, sebagai berikut:

 

Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” (Ash Shaaffaat 91-93)

 

Nabi Ibrahim mengetahui bahwa patung-patung itu hanya benda mati yang tidak dapat berbicara, karena itu beliau lalu menghancurkan semua patung tersebut dengan menyisakan satu patung yang besar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). (Ash Shaaffaat 91-93)

 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (Al Anbiyaa’ 58)

 

Itulah tipu daya yang sedang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana dengan kaum Nabi Ibrahim setelah mengetahui patung-patung (tuhannya) hancur?”

 

Mudariszi: “Mengetahui patung-patungnya (tuhannya) hancur, kaum Nabi Ibrahim lalu mendatangi beliau dan bertanya sebagai berikut:

 

Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. (Ash Shaaffaat 94)

 

Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” (Al Anbiyaa’ 59-62)

 

Nabi Ibrahim lalu menjawab kaumnya, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara.(Al Anbiyaa’ 63)

 

Jawaban Nabi Ibrahim itu membuat kaumnya terdiam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.(Al Anbiyaa’ 64-65)

 

Nabi Ibrahim lalu memperingatkan kaumnya, sebagai berikut:

 

Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (Al Anbiyaa’ 66-67)

 

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. (Ash Shaaffaat 95-96)

 

Itulah tipu daya Nabi Ibrahim yang seharusnya membuat mereka berfikir dan kembali bertaubat kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan tuhan patung berhala itu.”

 

Tilmidzi: “Apakah kaum Nabi Ibrahim itu lalu bertaubat setelah mendengar penjelasan Nabi Ibrahim tersebut?”

 

Mudariszi: “Kaum Nabi Ibrahim tidak mau mengakui kebenaran yang telah diketahuinya, karena mereka telah dikuasai oleh syaitan. Syaitan tidak ingin mereka mengikuti Nabi Ibrahim atau agama-Nya; karena itu syaitan membuat mereka untuk tidak mengakui kesalahannya dan syaitan lalu menghasut mereka untuk membunuh Nabi Ibrahim. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak bertindak.(Al Anbiyaa’ 68)

 

Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. (Ash Shaaffaat 97)

 

Allah SWT tidak menghendaki Rasul-Nya dikalahkan oleh musuh-musuh-Nya; Dia membantu Nabi Ibrahim dengan menyelamatkan beliau dari api, dan itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. (Al ‘Ankabuut 24)

 

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Mereka hendak membuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (Al Anbiyaa’ 69-70)

 

Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (Ash Shaaffaat 98)

 

Tidak terbakarnya Nabi Ibrahim seharusnya membuat kaumnya sadar dan mengikuti beliau, karena terbukti Tuhan Nabi Ibrahim telah menolong beliau, sedangkan tuhan-tuhan mereka tidak dapat menolong dirinya sendiri ketika dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Tapi syaitan sudah terlalu kuat membuat mereka untuk tidak memikirkan Tuhan yang benar. Karena itu mereka tetap dalam kekafiran.”

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim setelah diselamatkan oleh Allah SWT dari kaumnya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT lalu memindahkan Nabi Ibrahim dari kaumnya ke negeri lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (Ash Shaaffaat 99)

 

Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku). (Al ‘Ankabuut 26)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply