Dialog Seri 10: 9
Tilmidzi: “Kemana Nabi Ibrahim pergi meninggalkan kaumnya?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim pergi meninggalkan kaumnya ke tempat (ke negeri) yang ditetapkan oleh Allah SWT, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku).” (Al ‘Ankabuut 26)
Dalam perjalanannya, Nabi Ibrahim dipanggil oleh Raja dari suatu negeri. Nabi Ibrahim sudah dikenal karena seruannya kepada manusia agar menyembah Allah SWT saja atau kembali mengikuti agama-Nya. Raja memanggil beliau untuk bertanya tentang Tuhan yang diseru oleh Nabi Ibrahim tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan”, orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat”, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Baqarah 258)
Raja itu tidak dapat mengalahkan Nabi Ibrahim tentang Allah SWT Tuhan yang benar (dalam fitman-Nya di atas), tapi Raja itu tetap menyembah tuhan selain Dia atau menyekutukan-Nya dengan tuhan patung berhala.”
Tilmidzi: “Apakah Raja tersebut tidak menghukum Nabi Ibrahim?”
Mudariszi: “Tidak! Raja mengetahui bahwa Nabi Ibrahim di dampingi oleh seorang wanita cantik dan Raja ingin bertemu dengan wanita itu. Beliau lalu berpesan kepada Sarah sebelum berjumpa Raja, sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Ibrahim dan Sarah tiba di (negeri) salah seorang Raja diktator. (Dimana) dikatakan kepada Raja bahwa di negeri ini ada seorang laki-laki bersama seorang perempuan yang sangat cantik, lalu Raja mengutus (utusan) kepada Ibrahim, lalu utusan bertanya kepada Ibrahim mengenai perempuan itu: “Siapakah perempuan itu?” Ibrahim menjawab: “Perempuan saudaraku.” Lalu Ibrahim mendatangi Sarah dan berkata: “Hai Sarah, tidak ada di atas bumi ini seorang beriman selain aku dan kamu. Dan (Raja) itu bertanya kepadaku (perihal dirimu), maka aku khabarkan bahwa kamu ini adalah saudaraku (seiman). Maka janganlah kamu menyatakan kedustaan terhadap aku (dengan menyatakan sebagai istri).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana Sarah setelah bertemu dengan Raja tersebut?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Lalu Raja mengutus kepada Sarah. Ketika Sarah masuk kepada Raja, maka Raja hendak menyentuhnya, lalu Raja tercekik (hingga memukul-mukulkan kakinya seperti keranjingan). Lalu Raja berkata (kepada Sarah): “Doakanlah aku kepada Allah, dan aku tidak berbuat jahat kepadamu.” Sarah berdoa kepada Allah, maka Dia melepaskannya. Kemudian Raja mengulurkan tangannya untuk kedua kali, lalu dia tercekik seperti pada pertama atau lebih berat (daripada pertama), lalu dia berkata: “Doakanlah aku kepada Allah, dan aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.” Sarah berdoa kepada Allah, lalu Dia melepaskannya. Lalu Raja memanggil sebagian penjaganya, dia berkata: “Kalian membawa kepadaku bukan manusia, sungguh yang kalian bawa itu adalah setan (jin jahat).” Lalu Raja menghadiahkan Hajar untuk melayani Sarah, lalu Sarah datang kepada Ibrahim yang sedang berdiri shalat, maka beliau berisyarat dengan tangan, yang maknanya: “Bagaimana keadaanmu?” Sarah berkata: “Allah mengembalikan tipu–daya orang kafir (orang jahat) pada lehernya (yakni Raja itu tidak mendapatkan keinginannya), dan dia menghadiahkan Hajar.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan Sarah tidak dijahati oleh Raja karena dia dilindungi-Nya.”
Tilmidzi: “Bagaimana kehidupan Nabi Ibrahim selanjutnya setelah menetap di negeri yang ditetapkan-Nya?”
Mudariszi: “Di negeri yang baru itu, Nabi Ibrahim belum dikaruniakan-Nya anak dari Sarah. Nabi Ibrahim lalu mengawinkan Hajar, karena itu dibenarkan oleh syariat agama-Nya. Hajar lalu dikaruniakan-Nya anak. Sarah tidak menyukai hal itu, sehingga Hajar harus menutup perutnya (kehamilannya) yang membesar dengan ikat pinggang. Itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Permulaan wanita memakai ikat pinggang adalah Ibu Ismail (Hajar). Ia memakai ikat pinggang itu untuk menutupi tanda hamil di hadapan Sarah. (HR Bukhari)
Setelah Hajar melahirkan anak, yaitu Nabi Ismail, Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Nabi Ismail ke Mekkah. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan Ismail anaknya yang sedang menyusu sehingga Ibrahim menempatkan keduanya di sisi Baitullah di pohon besar di atas Zamzam di sebelah atas masjid, dan saat itu di Makkah belum ada seorangpun dan juga tidak ada air. Lalu dia menempatkan keduanya (Ismail dan Ibunya) disana, dan dia meletakkan satu gerba berisi kurma dan satu tempat minum berisi air di sisi keduanya, kemudian dia berangkat pulang (ke Syam negerinya). Ibu Ismail mengikutinya dan bertanya: “Hai Ibrahim, kemanakah engkau mau pergi? Dan engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada orang dan bahkan tidak ada apa-apa.” Ia berkata kepadanya demikian ini berulangkali sedang Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Lalu Hajar berkata kepadanya: “Apakah Allah memerintahkan engkau demikian ini?” Ibrahim menjawab: “Ya.” Hajar berkata: “Jika demikian, Dia tidak menyia-nyiakan kami.” Kemudian Hajar kembali (ke tempat Ka’bah).” (HR Bukhari)
Nabi Ibrahim merasakan kegelisahan dan kesedihan atas cobaan-Nya tersebut; isterinya seorang diri di tempat yang tandus tanpa penghuni dan harus memelihara anaknya yang masih menyusu. Tetapi Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat apapun kecuali hanya patuh dan taat melaksanakan perintah-Nya yang menurutnya pasti akan membawa kebaikan bagi mereka semua nantinya. Nabi Ibrahim hanya meminta kepada Allah SWT dengan menghadap ke Ka’bah tempat beliau meninggalkan Hajar dan anaknya (Nabi Ismail), yaitu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Lalu Ibrahim berangkat, sehingga ketika dia di Tsaniyah sekira keduanya sudah tidak melihatnya, Ibrahim menghadapkan muka ke arah Baitullah kemudian berdoa dengan kalimat-kalimat itu dan mengangkat kedua tangan, dengan ucapannya: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (surat Ibrahim ayat 37). (HR Bukhari)
Selain berdoa seperti dalam sunnah Rasulullah di atas, Nabi Ibrahim juga berdoa kepada-Nya, sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim 35-36)
Tilmidzi: “Lalu bagaimana Hajar menjalani hidupnya dengan anaknya?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Ibu Ismail menyusui Ismail dan ia minum dari air itu, sehingga ketika air yang di dalam tempat itu habis, ia haus dan anaknya (Ismail) haus pula, dilihatnya Ismail bergelimpang-gelimpang (atau beliau bersabda: menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya seolah-olah hendak meninggal). Lalu Hajar pergi karena tidak tega melihat Ismail. Didapatinya Shafa, sebuah gunung yang terdekat di daerah itu, lalu ia berdiri di atasnya, kemudian ia menghadap ke lembah itu melihat-lihat apakah ia melihat seseorang, namun ia tidak melihat seorangpun. Lalu ia turun dari Shafa sehingga ketika ia sampai di lembah itu, ia mengangkat ujung bajunya kemudian ia berlari sebagai larinya orang yang berkepayahan sampai ia melewati lembah itu, kemudian sampailah di Marwah, lalu ia berdiri di atasnya dan melihat-lihat, apakah ia melihat seseorang, namun ia tidak melihat seorangpun. Ia mengerjakan demikian (Shafa-Marwah-Shafa) itu tujuh kali.” Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Demikian itulah manusia bersa’i di antara keduanya.” Ketika Hajar naik di Marwah, ia mendengar suara, lalu ia berkata: “Diamlah”, kepada dirinya. Kemudian ia berusaha (berkonsentrasi) mendengarkan, lalu ia mendengar lagi, lalu ia berkata: “Kamu telah memperdengarkan, jika pada kamu ada pertolongan (maka tolonglah).” Tiba-tiba malaikat (Jibril) di tempat Zamzam, lalu malaikat itu menggali dengan tumitnya, atau beliau bersabda dengan sayapnya, hingga keluarlah air, maka Hajar membendungnya dan berbuat dengan tangannya demikian ini. Ia mulai mencibuk dari air itu ke dalam tempat minumnya, dan setelah Hajar mencibuk, maka air itu memancar. Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah menyayangi Ibu Ismail, seandainya ia meninggalkan Zamzam, atau beliau bersabda, seandainya ia tidak mencibuk air, niscaya Zamzam itu menjadi mata air yang mengalir (di permukaan bumi).” Beliau bersabda: “Lalu Hajar minum dan menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata kepadanya: “Janganlah kamu takut sia-sia, karena disinilah Baitullah itu, dimana anak ini dan ayahnya akan membangunnya, sedang Allah tidak menyia-nyiakan keluarganya.” (HR Bukhari)
Dari air zamzam itulah lalu Hajar dan Nabi Ismail menjalani hidupnya di Mekkah. Air zamzam itu mengundang orang-orang dalam perjalanan yang memerlukan air untuk singgah. Bahkan di antara orang-orang yang singgah itu ada rombongan dari Jurhum yang lalu menetap di Mekkah. Hajar dan Nabi Ismail lalu menjalani hidupnya bersama-sama dengan keluarga-keluarga Jurhum tersebut di Mekkah hingga Hajar wafat dan hingga Nabi Ismail mengawini salah seorang perempuan dari keluarga Jurhum itu. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Baitullah pada waktu itu di atas tanah tinggi seperti bukit kecil dimana banjir itu lewat di sebelah kanan dan kirinya. Demikianlah (Hajar minum air Zamzam dan menyusui anaknya), hingga satu rombongan persahabatan dari Jurhum (atau keluarga Jurhum) datang dari jalan Kada melewati Hajar. Mereka singgah di bawah Makah, lalu mereka melihat burung melayang-layang (di atas air), mereka berkata: “Sesungguhnya burung ini berputar di atas air. Sungguh kita kenal dengan lembah ini dan padanya tidak ada air.” Lalu mereka melepaskan satu atau dua orang utusan. Ketika mereka (utusan) mendapati air, mereka kembali dan memberitakan tentang air itu, lalu mereka (Jurhum) mendatangi (air). Beliau bersabda: “Ibu Ismail berada di tempat air itu.” Maka mereka berkata: “Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal di tempatmu?” Hajar menjawab: “Ya, tetapi kalian tidak berhak terhadap air itu.” Mereka berkata: “Ya.” Rasulullah SAW bersabda: “Rombongan itu mendapati Ibu Ismail yang senang mendapatkan teman.” Lalu mereka singgah dan mereka mengirim utusan kepada keluarga mereka, kemudian mereka tinggal bersama (di Makah), sehingga ketika mereka sudah menjadi beberapa rumah-tangga dan Ismail sudah menjadi dewasa dan ia belajar bahasa Arab dari mereka serta ia senang kepada mereka dan mereka kagum kepadanya sesudah ia remaja. Ketika ia sudah akil baligh, maka mereka menikahkannya dengan seorang perempuan dari mereka, dan Ibu Ismail meninggal (dalam usia 90 tahun).” (HR Bukhari)
Nabi Ismail yang merupakan anak Nabi Ibrahim dari Hajar itu yang menurunkan bangsa Arab setelah Nabi Ismail beristeri, dan Hajar menjadi Ibu dari bangsa Arab seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Berkata Abu Hurairah: “(Hajar) itu Ibumu, hai orang-orang keturunan air langit (bangsa Arab sepertinya keturunan Hajar di mana Allah menumbuhkan air Zamzam karena dia).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim tetap mengunjungi Nabi Ismail?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim tetap mengunjungi Nabi Ismail, termasuk setelah Nabi Ismail beristeri. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Setelah Ismail kawin, Ibrahim datang menengok apa yang ditinggalkannya, namun dia tidak mendapati Ismail, lalu dia bertanya kepada istrinya perihal dia, lalu istrinya menjawab: “Ismail keluar sedang mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrahim menanyakan tentang penghidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab: “Kami dalam keadaan tidak baik, kami dalam kesempitan dan kesulitan.” Istri Ismail itu mengadu kepada Ibrahim. Ibrahim berkata kepadanya: “Apabila suamimu datang, maka bacakanlah salam kepadanya dan katakanlah kepadanya supaya mengganti tangga pintunya (yakni istri).” Ketika Ismail datang, ia merasakan seolah-olah ada sesuatu (bau ayah), lalu bertanya: “Apakah ada seseorang yang datang kepadamu?” Ia menjawab: “Ya, ada seorang tua datang kepada kami, demikian dan demikian. Ia bertanya kepada kami perihal kamu, lalu aku beritakan kepadanya. Dan ia bertanya kepada kami: “Bagaimanakah penghidupan kami?”, maka aku beritakan kepadanya bahwa kami dalam kepayahan dan kesulitan.” Ismail berkata: “Apakah ia pesan sesuatu kepadamu?” Istri Ismail menjawab: “Ya, ia menyuruh kepadaku untuk membacakan salam kepadamu dan ia mengatakan gantilah tangga pintumu.” Ismail berkata: “Itu ayahku, dan ia telah menyuruhku untuk menceraikan kamu. Susullah keluargamu.” Ismail menceraikannya dan beristri dengan perempuan lain dari Jurhum. Ibrahim berdiam jauh dari mereka sekehendak Allah. Setelah itu Ibrahim datang kepada mereka, namun ia tidak menjumpai Ismail, lalu ia masuk kepada istrinya dan menanyakan tentang Ismail. Istri Ismail menjawab: “Ia keluar mencari nafkah untuk kami.” Ibrahim berkata: “Bagaimanakah keadaan kalian?”, dan Ibrahim menanyakan tentang penghidupan dan perihal mereka. Istri Ismail menjawab: “Kami dalam kebaikan dan kelapangan”, dan ia memuji Allah. Ibrahim bertanya: “Apakah makananmu?” Ia menjawab: “Daging.” Ibrahim bertanya: “Apakah minumanmu?” Ia menjawab: “Air.” Ibrahim berdoa: “Wahai Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air.” Rasulullah SAW bersabda: “Pada waktu itu mereka belum mempunyai biji-bijian (seperti gandum). Apabila mereka mempunyai biji-bijian, niscaya Ibrahim mengajak mereka padanya.” Beliau bersabda: “Daging dan air, seseorang tidak membiasakannya kecuali ia tidak cocok, selain di Makah.” Ibrahim berkata: “Apabila suamimu datang, maka ucapkanlah salam kepadanya dan suruhlah dia meneguhkan tangga pintunya.” Ketika Ismail datang, ia berkata: “Apakah ada seseorang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab: “Ya. Telah datang kepada kami seorang tua yang baik peri keadaannya (dan istri Ismail memuji kepada-Nya), lalu dia bertanya kepadaku perihal engkau, lalu aku beritakan kepadanya. Lalu dia bertanya kepadaku, bagaimana penghidupan kita, lalu aku beritakan bahwa kita dalam kebaikan.” Ismail berkata: “Apakah dia berpesan sesuatu?” Ia menjawab: “Ya, dia membacakan salam kepada engkau dan dia menyuruh engkau untuk meneguhkan tangga pintumu.” Ismail berkata: “Itu ayahku, dan kamu adalah tangga, dia menyuruhku untuk memegangi (tidak menceraikan) kamu.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ismail itu adalah Rasul Allah?”
Mudariszi: “Nabi Ismail diutus oleh Allah SWT kepada bangsa Arab sebagai Rasul, dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kepada mereka kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan ia menyuruh ahlinya (umatnya) untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya (Maryam 54-55)
Nabi Ismail termasuk ke dalam orang-orang yang sabar, saleh dan paling baik, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar dan paling baik. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (Al Anbiyaa’ 85-86)
Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. (Shaad 48)
Tilmidzi: “Bagaimanakah kesabaran Nabi Ismail tersebut?”
Mudariszi: “Nabi Ibrahim sebelumnya telah meminta kepada Allah SWT agar dianugerahi anak shaleh, hingga Dia lalu menganugerahinya anak yang shaleh dan sabar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Ash Shaaffaat 100-101)
Kesabaran, kesalehan (ketaatan) dan kebaikan Nabi Ismail itu dibuktikan dengan salah satu keikhlasan beliau ketika menerima perintah Allah kepada Bapaknya (Nabi Ibrahim) untuk menyembelih beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (Ash Shaaffaat 102-103)
Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah itu menunjukkan bahwa beliau sangat patuh dan taat kepada-Nya dan beliau lebih menyayangi Dia daripada anaknya (Nabi Ismail). Beliau takut kepada-Nya yang telah memberikan anak. Syaitan tidak berhasil menghasut beliau agar tidak menjalankan perintah-Nya meskipun perintah-Nya itu hanya melalui mimpi. Syaitan tidak pula berhasil menghasut Nabi Ismail agar tidak menuruti keinginan Bapaknya yang ingin menyembelihnya, karena Nabi Ismail takut pula kepada-Nya. Kedua Bapak dan anak itu menjalankan perintah-Nya dengan patuh, ikhlas dan sabar. Allah SWT lalu mengetahui isi hati keduanya, sehingga Dia berfirman:
Dan Kami panggilah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffaat 104-107)
Tilmidzi: “Apakah anak Nabi Ibrahim yang diperintahkan-Nya untuk disembelih itu bukan Nabi Ishaq?”
Mudariszi: “Nabi Ishaq adalah anak Nabi Ibrahim dari Sarah yang lahir setelah Nabi Ismail. Hal itu dapat diketahui dari puji syukur Nabi Ibrahim kepada-Nya melalui firman-Nya ini:
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (Ibrahim 39)
Nabi Ibrahim menyebut nama Ismail lebih dulu daripada Ishaq dalam firman-Nya di atas menunjukkan Nabi Ismail dilahirkan lebih dulu daripada Nabi Ishaq. Nabi Ibrahim memuji syukur kepada Allah SWT seperti firman-Nya di atas yaitu ketika beliau dan Nabi Ismail membangun Ka’bah mengikuti perintah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah 127)
Dalam berdoa kepada-Nya itu, Nabi Ibrahim meminta pula agar ditunjuki-Nya pelaksanaan haji bagi umat manusia, yaitu sebagai berikut:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah 128)
Beberapa ibadah haji yang dijalankan oleh umat Islam adalah ibadah (perbuatan) Hajar, ibadah (perbuatan) Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim ketika mereka di Mekkah termasuk menyembelih hewan kurban. Sehingga semua hal itu menunjukkan bahwa anak Nabi Ibrahim yang Dia perintahkan untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membangun Ka’bah?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (Al Baqarah 125)
Perintah Allah tersebut di atas bertujuan untuk pelaksanaan haji bagi umat Islam dan menjadikan Nabi Ibrahim sebagai imam bagi seluruh umat manusia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika Kami memberi tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Al Hajj 26)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah 124)
Rumah Allah (Baitullah) atau Ka’bah itu berada di Mekkah, sehingga Nabi Ibrahim lalu meminta Nabi Ismail untuk membantunya dalam membangun Ka’bah. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian Ibrahim berdiam jauh dari mereka dalam waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian setelah itu dia datang, dan Ismail sedang meruncingkan anak panah di bawah pohon besar yang dekat Zamzam itu. Ketika Ismail melihatnya, ia berdiri menuju kepadanya, maka keduanya melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya dan anak kepada orang tuanya. Kemudian dia berkata: “Hai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku dengan suatu perintah.” Ismail berkata: “Laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu.” Ibrahim berkata: “Dan kamu membantu aku?” Ismail berkata: “Dan aku membantu engkau.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk membangun sebuah rumah (bait) disini”, dan Ibrahim menunjuk bukit kecil yang ada di sekitarnya. Beliau (Rasulullah SAW) bersabda: “Ketika itu keduanya meninggikan dasar (tembok) dari rumah itu, di mana Ismail membawa batu-batu sedang Ibrahim membangun, sehingga ketika bangunan itu telah tinggi, maka Ismail membawa batu (maqam Ibrahim) itu dan diletakkan untuk Ibrahim, maka Ibrahim berdiri di atasnya seraya membangun, sedang Ismail mengambili batu-batu. Keduanya sambil mengucapkan: “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengetahui.” (surat Al Baqarah ayat 127). Bersabda beliau (Rasulullah SAW): “Keduanya membangun terus hingga mengitari sekitar Ka’bah, sedangkan keduanya mengucapkan terus doa di atas.” (surat Al Baqarah ayat 127). (HR Bukhari)
Selama keduanya membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim tidak henti-hentinya berdoa kepada-Nya, yaitu doa seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al Baqarah 126)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah 127-129)
Do’a Nabi Ibrahim itu dikabulkan-Nya setelah beribu-ribu tahun, khususnya dengan Dia mengutus Rasulullah SAW kepada orang-orang Arab (anak cucu Nabi Ismail) yang membacakan dan mengajarkan Al Qur’an dan hikmahnya (as sunnah) termasuk mengajarkan haji kepada mereka dan menyucikan jiwa mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al Jumu’ah 2-3)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT meninggalkan bukti pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan menjadikan beliau sebagai imam bagi seluruh manusia (Al Baqarah 124)?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengabadikan tapak kaki (maqam) Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah (Baitullah) sebagai salah satu bukti dan tempat untuk beribadah di Baitullah termasuk beribadah haji. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. (Ali ‘Imran 96-97)
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (Al Baqarah 125)
Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW, anak keturunan Nabi Ibrahim dari Nabi Ismail, sebagai berikut:
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl 123)
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (selalu berpegang pada kebenaran). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (An Nahl 120-122)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memerintahkan manusia untuk beribadah haji ke Baitullah (Mekkah)?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Al Hajj 27)
Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran 97)
Dalam berhaji itu termasuk melakukan ibadah thawaf, i’tikaaf, rukuk, sujud, sa’i safa dan marwa (ibadah yang dilakukan oleh Hajar), melempar jumrah dan menyembelih hewan kurban (ibadah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika keduanya menjalankan perintah-Nya dan diganggu oleh syaitan).”
Tilmidzi: “Apakah Nabi Ibrahim menghendaki agar anak cucunya mengikuti agama-Nya agama tauhid?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Az Zukhruf 28)
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Al Baqarah 132)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan balasan atas amal perbuatan Nabi Ibrahim tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash Shaaffaat 108-111)
Wallahu a’lam.