Dialog Seri 10: 7
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Nabi kepada kaum lainnya setelah Dia mengutus Nabi Huud?”
Mudariszi: “Setelah semua kaum ‘Aad yang kafir dimusnahkan-Nya, Allah SWT lalu menjadikan orang-orang beriman dari kaum ‘Aad sebagai penerus kaum. Mereka bercampur baur dengan kaum-kaum lain hingga membentuk kaum Tsamud. Kaum Tsamud tidak berbeda dengan kaum ‘Aad, yaitu pandai membangun bangunan. Tapi kaum Tsamud diberikan kelebihan oleh Allah SWT, yaitu kelebihan memotong batu-batu besar di gunung-gunung dan memahat gunung-gunung yang kemudian dijadikannya sebagai tempat tinggal mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Al A’raaf 74)
Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. (Al Fajr 9)
Setelah sekian lama menjalani hidupnya dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT, kaum Tsamud lalu menjadi sombong. Mereka berbuat sesukanya dan bertindak sewenang-wenang tanpa mengikuti ayat-ayat-Nya (agama-Nya). Syaitan berhasil membuat mereka lalai dengan kesenangan yang diperoleh dari keahliannya, sehingga mereka melupakan Allah SWT dan agama-Nya. Mereka tidak lagi memahami agama-Nya sehingga syaitan lalu menghasutnya agar menyembah patung-patung sebagai tuhannya. Mereka menjadi penyembah tuhan (patung) berhala; mereka menjadi orang-orang musyrik yaitu orang-orang yang menyekutukan-Nya dengan tuhan lain (patung). Mereka mengajarkan agamanya itu kepada anak cucunya, sehingga kebanyakan kaum Tsamud menjadi penyembah tuhan berhala.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT kemudian mengutus Nabi (Rasul) kepada kaum Tsamud tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT lalu mengutus Nabi Shaleh dengan diberikan ayat-ayat-Nya guna disampaikan dan diperingatkan kepada kaum Tsamud agar mereka kembali bertaubat kepada-Nya dan menyembah Dia saja. Nabi Shaleh lalu menyampaikan ayat-ayat-Nya itu kepada kaumnya serta memperingatkan mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya. Kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (Huud 61)
Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut, dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Asy Syu’araa’ 142-152)
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan kaum Tsamud atas penjelasan dan seruan Nabi Shaleh tersebut?”
Mudariszi: “Seruan dan peringatan Nabi Shaleh dengan ayat-ayat-Nya membuat kaum Tsamud terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan orang-orang yang mengikuti Nabi Shaleh dan yang mengingkari beliau. Kedua golongan dari kaum yang sama itu menjadi bermusuhan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (An Naml 45)
Orang-orang yang mengikuti Nabi Shaleh adalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, sedangkan orang-orang yang mengingkari Nabi Shaleh adalah orang-orang kafir yang mengikuti syaitan. Orang-orang kafir itulah para penyembah patung berhala, yaitu menyembah tuhan (patung) selain Allah SWT. Dengan mereka menyembah patung, mereka sebenarnya menyembah syaitan, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)
Karena mereka menyembah dan mengikuti syaitan, maka syaitan tidak ingin mereka kembali menyembah Allah SWT. Syaitan menghalang-halangi mereka dari mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus, dan itu merupakan keinginan Iblis (syaitan), seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf 16)
Syaitan menghalang-halangi mereka dengan membisikkan tipuan jahat ke hati mereka agar mereka tidak mau mendengarkan penjelasan Nabi Shaleh, sehingga mereka tidak memikirkan ayat-ayat-Nya. Syaitan menghasut mereka agar timbul hawa nafsu mereka untuk mengatakan ucapan-ucapan yang buruk kepada Nabi Shaleh, yaitu sebagai berikut:
Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh Bapak-Bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Huud 62)
Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (Al Qamar 24-25)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan para pemuka (pemimpin) kaum Tsamud?”
Mudariszi: “Para pemuka (pemimpin) kaum Tsamud termasuk orang-orang yang tidak mau mengikuti Nabi Shaleh, mereka hanya ingin menyembah tuhan (patung) berhala. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh diutus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (Al A’raaf 75-76)
Karena itu para pemuka kaum juga termasuk yang menghalang-halangi kaumnya dari mendengarkan Nabi Shaleh dan ayat-ayat-Nya.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Tsamud yang pandai itu tidak dapat berfikir dengan benar, karena bukankah di antara mereka ada yang beriman?”
Mudariszi: “Mereka mengetahui di antara mereka ada yang beriman dan mengikuti Nabi Shaleh. Tetapi syaitan dengan bisikan jahatnya selalu menutup mereka dari berfikir dengan benar dan jujur; misalnya syaitan membuat mereka merasa sebagai kaum yang paling hebat (pandai) karena berhasil membuat sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain. Syaitan membuat mereka menganggap baik perbuatannya yang buruk. Dan syaitan melakukan itu semua karena syaitan menghalang-halangi mereka dari mengikuti Nabi Shaleh atau mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (Al ‘Ankabuut 38)
Syaitan menggunakan para pemuka kaum (yang mengikuti syaitan) dalam menghalang-halangi kaumnya dari mengikuti Nabi Shaleh, yaitu dengan menganiaya kaumnya hingga kaumnya itu meminta kepada Nabi Shaleh untuk tidak lagi menyampaikan ayat-ayat-Nya (agama-Nya). Kaumnya itu meminta kepada Nabi Shaleh agar dimatikan saja karena beratnya penderitaan mereka. Nabi Shaleh lalu menjelaskan kepada mereka yang benar, agar mereka memahaminya, yaitu sebagai berikut:
Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” (An Naml 46-47)
Kaum Tsamud yang bernasib buruk dan meminta agar disegerakan keburukan sebelum kebaikan (dalam firman-Nya di atas) itu adalah karena hasutan syaitan. Mereka meminta sesuatu yang tidak dipahaminya, karena syaitan memutar balikan jalan pikirannya tentang takdir yang tidak diketahuinya. Jika Allah SWT mengabulkan permintaannya, maka mereka tidak akan memperoleh kebaikan apapun dari permintaannya itu, dan ketika di akhirat mereka akan di neraka bersama dengan syaitan karena permintaannya (ucapannya) yang tidak dipahaminya itu.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Tsamud meminta kepada Nabi Shaleh bukti kerasulan beliau?”
Mudariszi: “Ya! Kaum Tsamud yang kafir yang selalu menghalang-halangi Nabi Shaleh dari menyampaikan ayat-ayat-Nya dan menghalang-halangi kaumnya untuk mengikuti Nabi Shaleh, kemudian meminta kepada Nabi Shaleh sebagai berikut:
Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mu’jizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (Asy Syu’araa’ 153-154)
Allah SWT lalu mengabulkan permintaan kaum Tsamud dengan Dia menurunkan unta betina bagi mereka. Allah SWT lalu memerintahkan Nabi Shaleh untuk mengatakan kepada kaumnya agar memelihara unta betina tersebut seperti mereka memelihara binatang ternaknya sendiri. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah. Dan berikanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). (Al Qamar 27-28)
Tilmidzi: “Apakah Nabi Shaleh lalu menjelaskan itu kepada kaumnya?”
Mudariszi: “Nabi Shaleh menjelaskan kepada kaumnya bahwa unta betina itu milik Allah SWT dan sebagai bukti kerasulannya. Dan Nabi Shaleh lalu memperingatkan kaumnya seperti perintah-Nya, yaitu sebagai berikut:
Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian. Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mu’jizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” (Huud 63-64)
Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: “(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (Asy Syams 13)
Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar.” (Asy Syu’araa’ 155-156)
Dan dengan adanya unta betina sebagai mu’jizat-Nya atau bukti kerasulannya, maka Nabi Shaleh lalu menyeru kaumnya agar kembali menyembah Allah SWT saja. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al A’raaf 73)
Tilmidzi: “Apakah kaum Tsamud mengikuti peringatan Nabi Shaleh?”
Mudariszi: “Di antara kaum Tsamud yang kafir itu, ada sembilan orang yang memiliki rencana jahat terhadap Nabi Shaleh dan unta betina. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
(Kaum) Tsamud telah mendustakan (Rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. (Asy Syams 11-12)
Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (An Naml 48-49)
Para pemuka kaum Tsamud bukan tidak mengetahui rencana jahat dari sembilan orang itu. Tapi, meskipun mengetahuinya, para pemuka kaum tidak akan melarang mereka dari melaksanakan rencananya itu. Rencana jahat mereka diketahui oleh Allah SWT karena Dia mengetahui segala isi hati manusia, tapi mereka tidak mengetahui rencana-Nya. Allah SWT mempunyai rencana pula karena Dia tidak akan membiarkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman dikalahkan oleh musuh-musuh-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. (Al Ahzab 51)
Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al Mulk 13)
Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (An Naml 50)
Mereka lalu menangkap unta betina itu dan membunuhnya, dan hal itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. (Al Qamar 29)
Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. (Asy Syams 14)
Mereka bukan saja membunuh unta betina itu, tetapi juga menantang Nabi Shaleh untuk mendatangkan azab-Nya kepada mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (Al A’raaf 77)
Tilmidzi: “Bagaimana dengan Nabi Shaleh setelah mengetahui unta betina milik Allah itu dibunuh oleh kaumnya dan permintaan mereka untuk mendatangkan azab-Nya?”
Mudariszi: “Setelah Nabi Shaleh mengetahui unta betina itu dibunuh oleh mereka, beliau lalu meninggalkan mereka sambil mengatakan kepada mereka, sebagai berikut:
Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al A’raaf 79)
Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selang tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Huud 65)
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.” (Adz Dzaariyaat 43)
Tilmidzi: “Apakah ucapan Nabi Shaleh itu berarti Allah SWT akan menurunkan azab kepada mereka?”
Mudariszi: “Ya! Pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan, Dia lalu mengazab kaum Tsamud yang kafir dengan suara guntur yang keras. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (Huud 67-68)
Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (Al Qamar 31)
Mereka langsung mati karena suara guntur yang sangat keras dan diikuti dengan petir (kilat) yang menyambar mereka semua yang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan. (Adz Dzaariyaat 44-45)
Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fushshilat 17)
Allah SWT menyelamatkan Nabi Shaleh dan orang-orang beriman terlebih dulu sebelum mendatangkan azab-Nya bagi kaum Tsamud yang kafir itu. Allah SWT berfirman:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Huud 66)
Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (An Naml 53)
Tilmidzi: “Apakah azab Allah bagi kaum Tsamud itu sangat keras?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. (Al Haaqqah 5)
Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Al A’raaf 78)
Dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya (hidup). (An Najm 51)
Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Al Qamar 30)
Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (Asy Syams 15)
Allah SWT memusnahkan semua orang kafir dari kaum Tsamud tersebut agar anak cucu mereka yang lahir kemudian tidak menjadi kafir seperti mereka. Dengan Allah SWT menyelamatkan orang-orang beriman dari kaum Tsamud, maka Dia menghendaki agar mereka melahirkan anak cucu yang beriman pula.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjadikan kekafiran kaum Tsamud dan azab-Nya tersebut sebagai peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang lahir kemudian?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. (An Naml 51)
Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. (An Naml 52)
Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. (Al ‘Ankabuut 38)
Wallahu a’lam.