Apakah Allah SWT Memberikan Mu’jizat-Nya Kepada Rasulullah SAW?

Dialog Seri 10: 44

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan tanda kenabian pada diri Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Saib bin Yazid, dia berkata: Bibiku pergi membawaku kepada Rasulullah SAW, lalu dia berkata: Sesungguhnya (Saib) putra saudaraku perempuan sakit.” Maka beliau mengusap kepalaku dan be­liau berdoa barakah untukku, dan beliau berwudhu maka aku meminum air wudhu beliau, kemudian aku berdiri di belakang punggung beliau, maka aku memandangi cap (kenabian) di antara dua belikat beliau. (HR Bukhari)

 

Dan Rasulullah SAW menjelaskan tentang beliau yang menjadi Nabi dan Rasul-Nya, sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku diutus kepada sebaik-baik kurun bani Adam (umat manusia), (berpindah-pindah) dari kurun ke kurun sehingga aku pada kurun yang aku berada padanya. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengutus Rasulullah SAW kepada umat manusia dan beliau diberikan Al Qur’an yang juga untuk manusia?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’ 28)

 

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran. (Az Zumar 41)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT memberikan tugas kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an tersebut?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (Al ‘Ankabuut 18)

 

Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dalam firman-Nya di atas adalah menyampaikan Al Qur’an kepada umat manusia. Dalam Al Qur’an terdapat penjelasan agama Allah, sehingga Rasulullah SAW dalam menyampaikan amanat-Nya (Al Qur’an) itu termasuk menyampaikan (menjelaskan) agama-Nya (seperti dalam firman-Nya di atas) kepada umat manusia. Dan Allah SWT kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan kepada manusia sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Nabi yang ummi dalam firman-Nya di atas adalah Rasulullah SAW yang tidak dapat membaca dan menulis seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (Al ‘Ankabuut 48)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan pula bahwa Al Qur’an itu bukan ditulis (dibuat) oleh Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menurunkan Al Qur’an itu kepada Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW melalui utusan-Nya dari golongan malaikat. Allah SWT berfirman:

 

Allah memilih utusan-utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. (Al Hajj 75)

 

Jika utusan-Nya (Rasul-Nya) dari golongan manusia itu Rasulullah SAW, maka utusan-Nya dari golongan malaikat adalah Jibril. Jibril yang menerima ayat-ayat Al Qur’an atau wahyu-wahyu-Nya dari Allah SWT, lalu Jibril menyampaikan dan menjelaskan wahyu-wahyu-Nya itu kepada Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. (Al Haaqqah 40)

 

Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (An Najm 10)

 

Jibril menyampaikan wahyu-Nya atau ayat Al Qur’an tersebut kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam 64)

 

Karena itu Allah SWT menjelaskan ucapan Rasulullah SAW yang terkait dengan Al Qur’an, sebagai berikut:

 

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 3-6)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW dengan sekali turun?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an tersebut kepada Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)

 

Adapun tujuan Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW yaitu sebagai berikut:

 

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (Al Furqaan 32)

 

Jika Al Qur’an itu diturunkan dengan sekali turun, maka Rasulullah SAW akan kesulitan dalam memahami Al Qur’an, dan itu akan membuat beliau kesulitan dalam menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an kepada umat manusia. Dengan cara berangsur-angsur itulah Rasulullah SAW dapat belajar membaca dan memahami Al Qur’an dengan teratur dan benar, yang diajarkan oleh oleh Jibril. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW:

 

Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, tentang firman: Ja­nganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat menguasainya”, katanya: Adalah Rasulullah SAW apabila Jibril turun membawa wahyu, dan dia (wahyu) termasuk sesuatu yang dapat menggerakkan lidah dan kedua bibirnya, sehingga wahyu itu menjadi sulit baginya, dan ia dikenal oleh Rasulullah SAW. Lantas Allah menurunkan ayat yang terdapat dalam (Surat Al Qiyaamah):Aku bersumpah dengan hari kiamat.” (surat Al Qiyaamah ayat 1). Ja­nganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hen­dak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (dengan bahasamu). (surat Al Qiyaamah ayat 16-19). Ibnu Abbas berkata: Adalah Jibril ketika datang kepada Ra­sulullah SAW, maka beliau menundukkan kepala (berdiam diri). Maka apabila Jibril sudah pergi, maka beliau membacakannya sebagaimana apa yang telah Allah janjikan kepadanya.” (HR Bukhari)

 

Setelah itu Rasulullah SAW lalu membacakan ayat-ayat Al Qur’an yang diterima dari Jibril itu kepada sahabat beliau untuk dicatat, dihafal, dipelajari dan dipahami, karena beliau mengikuti perintah-Nya ini:

 

Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Al Israa’ 106)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT turunkan Al Qur’an itu dalam bahasa Arab?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim 4)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW itu berbahasa Arab agar beliau memahami Al Qur’an dan mudah menjelaskannya kepada umat manusia. Allah SWT berfirman:

 

Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? (Fushshilat 44)

 

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (Az Zukhruf 3)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya. (Asy Syuura 7)

 

Dengan demikian, Al Qur’an dan agama-Nya dari Allah SWT itu berbahasa Arab yang disampaikan dan diajarkan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. (Ar Ra’d 37)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT jelaskan jalan-Nya dalam Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)

 

Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia tentang Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW tersebut, melalui firman-Nya ini:

 

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang ada di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 170)

 

Dan Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyeru kepada manusia sebagai berikut:

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW diberikan mu’jizat oleh Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak memberikan mu’jizat-Nya kepada Rasulullah SAW seperti Dia berikan kepada Rasul-Rasul sebelum beliau. Hal itu mungkin disebabkan mu’jizat-mu’jizat-Nya yang diberikan kepada semua Rasul tersebut telah didustakan oleh umat Rasul hingga Dia lalu memusnahkan sebagian dari umat Rasul-Rasul itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Al Israa’ 59)

 

Maka tatkala mu’jizat-mu’jizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (An Naml 13-14)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa mu’jizat-Nya yang diberikan kepada Rasul-Rasul itu tidak menjamin umat Rasul akan beriman kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu’jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu hanya berada di sisi Allah.” Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mu’jizat datang mereka tidak akan beriman. (Al An’aam 109)

 

Meskipun demikian, Allah SWT tetap memberikan mu’jizat-Nya kepada Rasulullah SAW guna meyakinkan kebenaran Rasulullah SAW dan Al Qur’an daripada-Nya. Misal mu’jizat-Nya yang diberikan-Nya kepada Rasulullah SAW itu sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata:Pada peristiwa Hu­daibiyah orang-orang dahaga sedangkan di depan Rasulullah SAW terdapat wadah air (yang kecil dari kulit). Beliau berwudhu, lalu orang-orang bergegas ke arah beliau. Beliau bertanya: Ada apakah kalian? Me­reka berkata: Kami tidak mempunyai air untuk berwudhu pula tidak (ada air) untuk minum, selain air di hadapan engkau.” Lalu beliau me­letakkan tangan beliau ke dalam wadah itu dan memancarlah air dari an­tara jari-jari beliau bagaikan mata air, maka kami minum dan ber­wudhu. Aku bertanya: Berapakah jumlah kalian? Jabir berkata: Seandainya kami berjumlah seratus ribu niscaya cukup. Kami (waktu itu) berjumlah lima belas ratus.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Abu Thalhah berkata kepa­da Ummu Sulaim: Sungguh aku mendengar suara Rasulullah SAW yang sedang lemah, aku mengenalinya karena lapar. Adakah kamu mempunyai sesuatu? Ummu Sulaim (istri Abu Thalhah) menjawab: Ya.” Ummu Sulaim mengeluarkan butiran-butiran roti, lalu dia mengeluarkan kerudungnya. Dilipatnya roti dengan sebagian kerudung lalu menyimpannya di bawah tangan (ketiak)ku dan dia melipatkan sebagian kerudung (yang lain) pada kepala, kemudian dia mengutus aku (Anas, putra Ummu Sulaim) kepada Rasulullah SAW. Anas berkata: Maka aku pergi membawa roti, dan aku menemukan Rasulullah SAW di masjid bersama orang-orang (para sahabat). Aku berdiri sedang mereka tidak berdiri. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Kamu diutus oleh Abu Thalhah? Aku menjawab: Ya.” Beliau bersabda: Jamuan makan? Aku menjawab: Ya.” Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada orangorang yang bersama beliau: Bangkitlah.” Beliau berangkat (bersama sahabat) dan aku berangkat di depan mereka sehingga aku datang ke­pada Abu Thalhah dan aku mengkhabarkan (kedatangan mereka) kepa­danya. Abu Thalhah berkata: Hai Ummu Sulaim, sungguh Rasulullah SAW datang dengan orang-orang, sedang kami tidak mempunyai makanan (yang cukup) untuk mereka. Ummu Sulaim berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Abu Thal­hah keluar dan bertemu Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW datang dan Abu Thalhah bersama beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Kemari, hai Ummu Sulaim. Apakah yang ada pada kamu? Ummu Sulaim menyuguhkan roti tersebut, lalu Rasulullah SAW memerintahkan pada roti itu, maka roti itu diremuk, dan Ummi Sulaim memeras wadah (bulat dari kulit, berisi keju dan madu) dan membuatnya sebagai lauk. Kemudian Rasulullah SAW bersabda (berdoa) padanya menurut kehen­dak Allah, kemudian beliau bersabda: Masukkanlah sepuluh orang.” Abu Thalhah memasukkan sepuluh orang, lalu mereka makan hingga kenyang lalu mereka keluar. Kemudian beliau bersabda: Masukkanlah sepuluh orang.” Abu Thalhah memasukkan sepuluh orang, lalu mereka makan hingga kenyang, kemudian mereka keluar. Kemudian beliau ber­sabda: Masukkanlah sepuluh orang.” Abu Thalhah memasukkan se­puluh orang, lalu mereka makan hingga kenyang kemudian keluar. Kemudian beliau bersabda: Masukkanlah sepuluh orang.” Maka kaum itu makan semuanya hingga mereka kenyang dan jumlah kaum adalah tujuh puluh, atau delapan puluh orang laki-laki.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT jelaskan kisah Rasul-Rasul kepada Rasulullah SAW dalam Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. (Huud 120)

 

Allah SWT meneguhkan hati Rasulullah SAW dengan kisah Rasul-Rasul itu agar beliau mengetahui bahwa semua Rasul sebelum beliau itu tidak berbeda dengan beliau yaitu menjelaskan ayat-ayat-Nya dan agama-Nya kepada umat Rasul. Tapi umat Rasul itu lalu disesatkan oleh syaitan sehingga mereka berselisih karena tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (An Nahl 63-64)

 

Allah SWT menghendaki Rasulullah SAW dengan Al Qur’an menjelaskan kepada umat-umat yang berselisih itu agar mereka beriman kepada-Nya dan beragama dengan agama-Nya yang benar. Allah SWT menghendaki pula agar manusia mengetahui bahwa waktu kiamat telah dekat, karena Rasulullah SAW itu penutup Nabi-Nabi dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. (Al Ahzab 40)

 

Dengan Allah SWT tidak mengutus lagi Nabi setelah Rasulullah SAW, maka agama-Nya yang terakhir hingga kiamat untuk manusia adalah agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW, agama Islam. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)

 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali ‘Imran 19)

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran 85)

 

Tilmidzi: “Jika agama Islam dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an yang tidak berubah hingga kiamat, maka bukankah Al Qur’an tersebut merupakan mu’jizat dari Allah SWT?”

 

Mudariszi: “Al Qur’an tidak akan berubah hingga kiamat karena Allah SWT telah berjanji sebagai berikut:

 

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhan-mu (Al Qur’an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. (Al Kahfi 27)

 

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya. (Al An’aam 115)

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al Hijr 9)

 

Karena Al Qur’an tidak berubah hingga kiamat, maka agama-Nya (agama Islam) yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an itu juga tidak berubah. Agama-Nya yang tidak berubah hingga kiamat karena Al Qur’an itu, menjadikan Al Qur’an seperti mu’jizat dari Allah SWT. Selain itu, Al Qur’an bukan saja menjelaskan agama-Nya, tapi juga menjelaskan syariat (hukum-hukum) agama-Nya, termasuk hukum taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (as sunnah) ketika menjalani hidup agar selamat di dunia dan di akhirat. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’ 59)

 

Syariat agama-Nya yang ditetapkan oleh Allah SWT itu dijelaskan dalam Al Qur’an mengikuti kejadian yang menimpa Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan Al Qur’an kepada manusia selama dua puluh tiga tahun di Mekkah dan di Madinah. Sehingga kewajiban taat mengikuti Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasulullah SAW (as sunnah) itu menunjukkan, bahwa manusia yang hidup hingga kiamat akan mengalami kejadian yang mirip dengan kejadian yang dialami oleh Rasulullah SAW ketika beliau menerima dan menyampaikan Al Qur’an, meskipun dalam lingkungan kehidupan yang berbeda. Karena syariat agama-Nya yang berlaku di masa Rasulullah SAW itu berlaku pula bagi orang-orang yang hidup di kemudian hari, yaitu di masa puluhan atau ratusan atau ribuan tahun kemudian, hingga kiamat. Hal tersebut menjadikan Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu seperti mu’jizat dari Allah SWT. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisaa’ 174)

 

Dan Allah SWT telah menjelaskan tentang Al Qur’an itu sebagai berikut:

 

Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Al Buruuj 21-22)

 

Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). (Al Waaqi’ah 77-78)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply