Apakah Rasulullah SAW Itu Juga Manusia Biasa?

Dialog Seri 10: 43

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW dari kaum Quraisy itu tinggal di Mekkah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW bertempat tinggal bersama kaumnya di Mekkah, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekkah ini. (Al Balad 2)

 

Rasulullah SAW dari kaum Quraisy bangsa Arab itu dari keturunan Hasyim yang dari keturunan Kinanah dan yang dari keturunan Nabi Isma’il. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Ammar Syaddad, sesungguhnya dia mende­ngar Watsilah bin Al Asqa berkata: Aku pernah mendengar Rasulul­lah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, memilih keturunan Hasyim dari suku Quraisy, dan memilihku dari keturunan Hasyim. (HR Muslim)

 

Mekkah itu kota tempat Ka’bah (rumah ibadah milik-Nya) berada, yaitu rumah ibadah yang dibangun oleh Allah SWT untuk manusia beribadah menyembah-Nya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). (Quraisy 1-3)

 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali ‘Imran 96)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW berasal dari keluarga biasa?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menetapkan Rasul-Nya menurut kehendak-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali ‘Imran 74)

 

Demikian pula dengan Allah SWT menetapkan Rasulullah SAW sebagai Rasul-Nya, yaitu beliau hanya berasal dari keluarga biasa. Bahkan kedua orang tua beliau adalah orang kafir. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Bapaknya sebagai berikut:

 

Dari Anas, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW: Ya Rasulullah, dimanakah ayahku? Rasulullah SAW bersabda: Di neraka. Ketika orang itu beranjak pergi, Rasulullah SAW memanggilnya, lalu beliau bersabda: Ayahku dan ayahmu berada di neraka. (HR Muslim)

 

Bapak Rasulullah SAW di neraka (dalam sunnah Rasulullah di atas) menunjukkan dia seorang kafir. Bapaknya Rasulullah SAW itu tidak berbeda dengan Bapaknya Nabi Ibrahim, seperti firman-Nya ini:

 

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada Bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (Al An’aam 74)

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang Ibunya sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Aku memohon izin kepada Tuhanku untuk memintakan am­pun bagi Ibuku, tetapi Dia tidak memberiku izin. Dan aku memohon izin kepadaNya untuk berziarah ke kuburnya, Dia memberiku izin.” (HR Muslim)

 

Allah SWT tidak mengizinkan Rasulullah SAW meminta ampunan kepada-Nya bagi Ibunya (dalam sunnah Rasulullah di atas), karena Dia menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya) sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. (At Taubah 113)

 

Nabi Ibrahim berjanji kepada Bapaknya untuk meminta ampunan kepada Allah SWT bagi Bapaknya. Tapi karena Bapaknya itu orang musyrik, Nabi Ibrahim lalu dilarang-Nya untuk meminta kepada-Nya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kecuali perkataan Ibrahim kepada Bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah. (Al Mumtahanah 4)

 

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk Bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada Bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa Bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

 

Dengan demikian, Rasulullah SAW dilarang meminta ampunan kepada-Nya bagi Ibunya (dalam sunnah Rasulullah di atas) itu menunjukkan Ibu beliau adalah orang kafir.”

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW itu juga manusia biasa?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak berbeda dengan Rasul-Rasul lain dan tidak berbeda pula dengan manusia lain, yaitu beliau makan, minum, jalan-jalan, berkeluarga, menurunkan keturunan dan meninggal. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. (Ar Ra’d 38)

 

Dan Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (Al Furqaan ayat 20)

 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? (Ali ‘Imran 144)

 

Yang membedakan Rasul-Rasul termasuk Rasulullah SAW dengan manusia lain, yaitu para Rasul menerima wahyu dari Allah SWT (melalui malaikat utusan-Nya), seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. (Al Anbiyaa’ 7)

 

Dan Rasul-Rasul termasuk Rasulullah SAW tersebut merupakan hamba-hamba-Nya yang ma’shum, dan ma’shum itu adalah sebagai berikut:

 

Dari Abu Sa’id al Khudriy, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Dan Al Mashum adalah orang yang dilindungi Allah. (HR Bukhari)

 

Alasan di atas itu yang membedakan Rasulullah SAW dengan manusia lain.”

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW sudah mengetahui akan menjadi Rasul-Nya dan diberikan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak mengetahui telah ditetapkan (dipilih) oleh Allah SWT sebagai Rasul-Nya yang akan menerima Al Qur’an; bahkan beliau tidak pernah terfikir atau mengharapkan hal tersebut. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu. (Al Qashash 86)

 

Rasulullah SAW sebelum menerima Al Qur’an atau menjadi Rasul, beliau tidak mengetahui Al Qur’an, agama-Nya dan iman. Allah SWT berfirman:

 

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. (Asy Syuura 52)

 

Tilmidzi: “Apakah ada tanda-tanda bagi Rasulullah SAW yang beliau akan menjadi Rasul-Nya?”

 

Mudariszi: “Tanda-tanda itu ada, yaitu kejadian pada Rasulullah SAW ketika beliau masih kecil, sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW di­datangi Jibril ketika beliau sedang bermain-main dengan anak-anak. Jibril menangkap beliau, membanting beliau, membelah dada beliau dan mengeluarkan hati beliau. Dari hati itu, Jibril mengeluarkan segumpal darah seraya berkata: Ini adalah bagian setan darimu. Kemudian Jibril membasuh hati tersebut dalam baskom yang terbuat dari emas dengan air zamzam, lalu merapatkannya dan mengembalikan­nya ke tempatnya. Dua orang anak datang bergegas kepada Ibunya (Ibu susuan Rasulullah) dan berkata: Muhammad telah dibunuh. Mereka menyongsong Rasulullah SAW, sedangkan beliau telah berubah rupa. Kata Anas: Aku benar-benar pernah melihat bekas jarum tersebut di dada beliau. (HR Muslim)

 

Tetapi ketika itu tiada siapapun yang mengetahui bahwa kejadian tersebut merupakan tanda beliau akan menjadi Rasul-Nya. Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan pula bahwa beliau ketika itu telah menjadi yatim piatu, karena beliau tinggal dengan Ibu susuannya. Tanda lain Rasulullah SAW akan menjadi Rasul-Nya, yaitu ada batu yang mengucapkan salam kepada beliau, seperti dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku masih mengenali sebuah batu di Makkah yang dahulu pernah mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Nabi. Sungguh sekarang ini aku masih mengena­linya. (HR Muslim)

 

Meskipun demikian, salam dari batu itu tidak membuat Rasulullah SAW mengetahui akan menjadi Rasul-Nya. Dengan demikian, tanda-tanda Rasulullah SAW akan menjadi Rasul-Nya telah ada sebelum beliau menjadi Rasul-Nya, tapi beliau dan orang-orang di Mekkah tetap tidak mengetahui perkara tersebut.”

 

Tilmidzi: “Apakah ada tanda-tanda sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu-Nya (ayat-ayat Al Qur’an)?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, menceritakan: Mula pertama Rasulullah SAW menerima wahyu adalah mimpi benar dalam tidur. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagaikan terangnya subuh. Kemudian beliau diberi rasa suka bersunyi diri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira. Disana beliau beribadah bermalam-malam, sebelum kembali kepada keluarganya (isterinya). Untuk itu beliau membawa bekal. Setelah beberapa hari, beliau pulang kepada Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal itu terus beliau lakukan.” (HR Muslim)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW ketika menerima wahyu-Nya?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, menceritakan: Hal itu terus beliau lakukan, sampai secara mendadak wahyu datang ketika beliau sedang berada di dalam gua Hira. Ada malakat (Jibril) datang dan berkata: Bacalah! Rasulullah SAW menjawab: Aku tidak bisa membaca. Rasulullah SAW bersabda: Malaikat itu menangkap dan mendekapku hingga aku merasa kepayahan. Lalu dia melepaskanku seraya berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. Dia menangkap dan mendekapku untuk yang kedua kali hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskan sambil berkata: Bacalah!” Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca.” Dan untuk yang ketiga kalinya dia menangkap dan mendekapku hingga aku merasa kepayahan. Lalu dia melepaskanku dan mengatakan: Iqra’, Bismi Rabbika….. (surat Al ‘Alaq 1-5 : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak dia ketahui.)” (HR Muslim)

 

Selama Rasulullah SAW menyendiri di gua Hira itulah beliau menerima wahyu-Nya yang pertama yang disampaikan oleh Jibril. Sunnah Rasulullah di atas itu menunjukkan pula bahwa Rasulullah SAW itu buta huruf atau tidak dapat membaca dan menulis. Dan hal itu dijelaskan pula oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:

 

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk. (Al A’raaf 158)

 

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (Al ‘Ankabuut 48)

 

Nabi yang ummi dalam firman-Nya di atas adalah Rasulullah SAW yang buta huruf atau tidak dapat membaca dan tidak dapat pula menulis. Hal itu menunjukkan bahwa Al Qur’an bukan dibuat (ditulis) oleh Rasulullah SAW.”

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW setelah menerima wahyu-Nya?”

 

Mudariszi: “Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu-Nya, beliau kembali ke rumahnya, yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, menceritakan:Rasulullah SAW pulang membawa ayat-ayat tersebut dalam keadaan bergetar seluruh tubuhnya, hingga beliau masuk ke rumah Khadijah seraya berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku!” Orang-orangpun menyelimutinya hingga hilang rasa gentar darinya. Kemudian beliau berkata kepada Khadijah: Hai Khadijah! Apa yag telah terjadi denganku?” Lalu beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau berkata: Aku benar-benar khawatir terhadap diriku.” Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Demi Allah! Sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau selalu jujur dalam berkata, engkau telah memikul beban orang lain, engkau suka mengusahakan kebutuhan orang tak punya, engkau memang menyuguh tamu dan senantiasa membela kebenaran.” (HR Muslim)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW merasa takut dengan kedatangan seseorang yang tidak dikenalnya sambil memaksa beliau untuk membaca, padahal beliau tidak dapat membacanya. Dan Rasulullah SAW lalu ditenangkan oleh Khadijah isteri beliau. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbeda dengan manusia lainnya. Demikian pula ketika Jibril mendatangi Rasulullah SAW untuk kali yang kedua, dimana beliau kembali merasa takut ketika melihat Jibril hingga beliau terjatuh dan lalu pulang ke rumahnya dengan perasaan takut, seperti dijelaskan berikut ini:

 

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Kemudian wahyu itu terhenti kepadaku dalam masa (fatrah, tiga tahun). Lalu ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari atas, maka aku mengangkat penglihatanku ke arah atas, tiba-tiba malaikat yang datang kepadaku di (gua) Hira sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka aku gemetar (ketakutan) kepadanya hingga aku terjatuh ke tanah, lalu aku datang kepada keluargaku, maka aku katakan: Selimutilah aku, selimutilah aku.” Lalu Allah Ta’ala menurunkan: Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah per­ingatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu ber­sihkanlah, dan berhala-berhala tinggalkanlah .…. (surat Al Mud­datstsir ayat 1 5). (HR Bukhari)

 

Semua itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW hanya manusia yang tidak berbeda dengan manusia lain.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply