Agama Apakah Yang Dianut Oleh Penduduk Mekkah Dan Sekitarnya?

Dialog Seri 10: 52

 

Tilmidzi: “Agama apakah yang dianut oleh penduduk Mekkah dan sekitarnya sebelum Al Qur’an diturunkan-Nya?”

 

Mudariszi: “Agama bangsa Arab termasuk penduduk di Mekkah dan di sekitarnya ketika Al Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah agama yang menyembah patung berhala, yaitu menyembah tuhan-tuhan selain Allah SWT. Mereka itu orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah SWT dengan tuhan lain. Mereka tidak berbeda dengan kaum-kaum penyembah berhala terdahulu yang dimusnahkan-Nya. Hanya sedikit dari bangsa Arab ketika itu yang memeluk agama-Nya yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Allah SWT berfirman:

 

Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. (Huud 109)

 

Nenek moyang dalam firman-Nya di atas yaitu orang-orang terdahulu yang menyembah patung berhala. Patung-patung berhala di Jazirah Arab itu tidak berbeda dengan patung-patung di awal penyembahan berhala, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, katanya: Berhala-berhala yang dulu ada pada zaman Nabi Nuh, masih ada di Arab setelah itu. Adapun berhala Wudd milik Suku Kalb berada di Daumatul Jandal, dan Suwa ada di Su­ku Hudzail. Yaghuts milik Suku Murad kemudian milik Suku Ghuthaif ada di Jauf dekat Saba. Adapun Yauq milik Suku Hamadan. Naser ada­lah milik Suku Himyar yakni keluarga Dzil Kala adalah nama-nama orang yang shaleh dari kaumnya Nuh. Maka ketika mereka meninggal, syaithan memberikan wahyu kepada kaum mereka yakni: Dirikanlah tanda kepada tempat tinggal mereka dimana pernah menempatinya dengan berhala-berhala, dan berilah nama berhala-berhala itu dengan namanama mereka. Kemudian kaum tadi melakukannya. Berhala-berhala tersebut tidaklah disembah sampai mereka mati dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah bangsa Arab termasuk penduduk Mekkah dan sekitarnya itu menyembah tuhan (patung) berhala karena syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT telah memusnahkan kaum-kaum musyrik terdahulu, sehingga seharusnya tidak ada lagi penyembah berhala. Tapi karena kepandaian syaitan dalam menipu manusia tentang Allah SWT, para penyembah patung berhala itu timbul kembali di Jazirah Arab termasuk di Mekkah dan sekitarnya. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk). (An Nahl 63)

 

Dari Iyaadl bin Himar Al Mujasyiiy, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya: Ingat, sesungguhnya pada hari ini Tuhanku memerintahkan aku agar mengajarkan kepadamu sebagian apa yang aku ketahui tetapi tidak kamu ketahui. Dia berfirman: Semua harta yang Aku karuniakan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan muslim semuanya, kemudian setan mendatangi mereka lalu menyimpangkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan dan memerintahkan mereka agar mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan hujjah tentang itu.” (HR Muslim)

 

Karena itu Allah SWT memperingatkan manusia melalui firman-Nya ini:

 

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Faathir 5)

 

Tilmidzi: “Apakah tujuan orang-orang musyrik menyembah tuhan berhala?”

 

Mudariszi: “Orang-orang musyrik menyembah patung (tuhan) itu karena mereka beranggapan sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar 3)

 

Padahal anggapan mereka itu tidak mungkin akan terjadi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu(-Nya), sekali-kali tidak mungkin!(Saba’ 27)

 

Tuhan orang-orang musyrik itu tidak mungkin dapat mendekatkan mereka kepada Allah SWT (seperti dijelaskan firman-Nya di atas), karena Dia tidak mempunyai sekutu (tuhan lain) atau anak (keluarga) dalam menciptakan dan memelihara semesta alam dan apa yang ada di semesta alam. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu melalui Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) sebesar zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. (Saba’ 22)

 

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong. (Al Israa’ 111)

 

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al Ikhlash 1-4)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa tidak ada patung atau tuhan apapun yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Sehingga anggapan orang-orang musyrik di atas itu mustahil dan tidak benar.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik itu mempunyai kitab agama?”

 

Mudariszi: “Kaum musyrik mempunyai kitab agamanya, tapi kitab agamanya itu bukan dari Allah SWT. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. (Saba’ 44)

 

Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)

 

Kitab agama mereka itu dibuat oleh manusia yaitu oleh pemuka agama mereka menurut anggapannya sendiri. Contoh, mereka menetapkan tuhan-tuhannya, anak-anak tuhan, nama-nama tuhannya, sebagai berikut:

 

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. (Yusuf 40)

 

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? (An Najm 19-21)

 

Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekkah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?” Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Ash Shaaffaat 149-157)

 

Pertanyaan dalam firman-Nya di atas itu bertujuan agar orang-orang musyrik itu mau memikirkan kebenaran tuhan-tuhan mereka dalam kitab agamanya. Karena, jika mereka tetap membenarkan anggapannya yang salah itu, maka berarti mereka telah berdusta dan akan merugikan dirinya sendiri. Jika mereka mau memikirkan Tuhan yang benar, mereka tidak seharusnya membaca kitab yang dibuat oleh manusia, karena mustahil manusia dapat mengetahui Tuhan yang ghaib. Mereka seharusnya membaca kitab dari Tuhannya yang menjelaskan tentang Dia, contohnya kitab Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

 

Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Az Zumar 1)

 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. (Al A’raaf 52)

 

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. (Al Hajj 74)

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 1-5)

 

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

 

Tilmidzi: “Apakah syariat agama orang-orang musyrik ditetapkankan menurut anggapan mereka sendiri?”

 

Mudatiszi: “Ya! Syariat agama orang-orang musyrik juga dibuat oleh pemuka agama mereka menurut anggapannya sendiri. Contoh syariat agamanya yang mereka tetapkan sendiri menurut anggapannya, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahirah, saaibah, washilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (Al Maa-idah 103)

 

Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengatakan: ”Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami”, dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 138-139)

 

Semua perkara di atas bukan dari Allah SWT tapi dari manusia yang dikatakannya nenek moyangnya.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang musyrik itu beragama dengan menuruti anggapannya?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh, patung-patung yang dikatakannya sebagai tuhannya itu tidak ada satupun yang serupa; itu terjadi karena bentuk patung itu dibuat menurut khayalan (anggapan) setiap penyembahnya. Begitu pula dengan nama tuhan-tuhannya. Mereka mengetahui semua itu berdasarkan anggapannya, tetapi mereka tetap melakukannya. Contoh, mereka memberikan makanan untuk Allah SWT dan untuk tuhan-tuhannya. Mereka mengetahui makanan itu tidak akan sampai kepada Allah SWT dan tuhan-tuhan mereka, karena mereka mengetahui makanan itu tetap di tempatnya sampai hancur. Allah SWT menjelaskan hal itu agar mereka memahaminya melalui firman-Nya ini:

 

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan oleh Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka. (Al An’aam 136)

 

Mereka beranggapan tentang kehidupan manusia sebagai berikut:

 

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jaatsiyah 24)

 

Sehingga, kaum musyrik beragama menyembah tuhan (patung) berhala hanya karena menuruti anggapannya saja. Padahal anggapan (persangkaan) yang tidak berdasarkan pengetahuan dan bukti-bukti yang jelas itu adalah anggapan yang tidak akan mendatangkan kebenaran bagi dirinya, sehingga itu dapat merugikan dirinya sendiri. Allah SWT berfirman:

 

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (An Najm 28)

 

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus 36)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan kesalahan orang-orang musyrik dalam beragama itu melalui Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan kepada orang-orang musyrik tentang Dia dan agama-Nya melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Tujuannya agar mereka memikirkan dan mengetahui Tuhannya dan agama-Nya yang benar, karena agama apapun yang mereka ikuti (anut) akan berakibat kepada perbuatan mereka di dunia dan keadaan mereka di akhirat. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan Bapak-Bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. (Az Zukhruf 29)

 

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-Rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang Bapak-Bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yaasiin 2-6)

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy Syuura 7)

 

Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW tentang tuhan mereka dengan cara yang mudah agar mereka paham, contohnya sebagai berikut:

 

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku tanpa memberi tangguh (kepadaku). Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (Al A’raaf 191-198)

 

Dan Allah SWT menegaskan lagi tentang tuhan-tuhan selain Dia yang mereka sembah itu sebagai berikut:

 

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (Al Hajj 73)

 

Tilmidzi: “Jika tuhan (patung) berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik itu bukan Allah SWT, lalu tuhan apakah yang disembahnya itu?”

 

Mudariszi: “Dengan orang-orang musyrik beragama menuruti anggapannya, itu berarti mereka beragama menuruti hawa nafsunya, karena mereka memutuskan anggapannya itu benar akibat dari menuruti hawa nafsunya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An Najm 23)

 

Padahal nafsu itu dijelaskan oleh Allah SWT adalah sebagai berikut:

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf 53)

 

Sedangkan kejahatan dan anggapan manusia tentang Allah SWT yang tidak diketahui oleh manusia itu datangnya dari syaitan. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al Baqarah 169)

 

Anggapan orang-orang musyrik tentang tuhan-tuhannya (yang belum tentu benar) itu, lalu dihasut oleh syaitan (melalui bisikannya) menjadi pandangan dan perbuatan yang baik bagi orang-orang musyrik. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu. (Al Fath 12)

 

(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)

 

Sehingga mereka lalu menganggap patung berhala itulah tuhan mereka yang benar. Itu berarti mereka menyembah patung berhala karena menuruti anggapannya dan hawa nafsunya yang dari syaitan (bisikan syaitan). Dengan demikian, mereka berarti menuruti (mengikuti) syaitan. Sehingga, dengan mereka menyembah patung berhala, berarti mereka menyembah syaitan. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka yang dilaknati Allah. (An Nisaa’ 117-118)

 

Dengan demikian, orang-orang musyrik itu sebenarnya menyembah syaitan, yaitu musuh manusia, syaitan yang ingin agar manusia bersama-sama dengannya menjadi penghuni neraka. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 6)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang musyrik itu membuat patung tuhannya, menamakan tuhannya dan memberikan makanan kepada tuhannya itu dari syaitan?”

 

Mudariszi: “Ya! Perbuatan orang-orang musyrik yang selalu menuruti syaitan (bisikan syaitan) itu membuat syaitan mengetahui keadaan mereka. Syaitan mengetahui bahwa orang-orang musyrik mengira bisikan syaitan itu benar, dan syaitan mengetahui bahwa orang-orang musyrik mengira bisikan syaitan itu petunjuk tuhan. Syaitan mengetahui bahwa orang-orang musyrik mengira syaitan itu tuhannya dan pelindungnya. Allah SWT berfirman:

 

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Al A’raaf 30)

 

Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)

 

Dengan syaitan mengetahui keadaan orang-orang musyrik itu, maka mudah bagi syaitan untuk menyuruh mereka membuat patung tuhannya, menamakan tuhannya, memberikan makanan kepada tuhannya, menetapkan hukum-hukum agamanya. Mereka akan melakukan semua perintah syaitan (bisikan syaitan) tersebut termasuk melakukan perbuatan keji. Allah SWT berfirman:

 

Dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merubahnya.” Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An Nisaa’ 118-119)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan dengan Al Qur’an tentang Dia dan agama-Nya kepada orang-orang musyrik itu?”

 

Mudariszi: “Allah SWT tidak menghendaki manusia termasuk orang-orang musyrik menjadi penghuni neraka bersama-sama dengan syaitan. Karena itu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik agar mereka menyembah-Nya saja. Allah SWT berfirman:

 

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar Ra’d 30)

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Shaad 65-66)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan agama-Nya yang merupakan agama untuk manusia termasuk untuk orang-orang musyrik, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa’ 92)

 

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az Zumar 3)

 

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jaatsiyah 18)

 

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar Ra’d 37)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik agar mereka taat mengikuti agama-Nya ketika menjalani hidupnya supaya mereka selamat di dunia dan di akhirat, melalui firman-Nya berikut ini:

 

Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. (Yunus 105-106)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku. (Az Zumar 11-14)

 

Dan Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik bahwa beliau dilarang menyembah tuhan-tuhan atau agama mereka, sebagai berikut:

 

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (Al Mu’min 66)

 

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika aku berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al An’aam 55-56)

 

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman. (Yunus 104)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply