Apakah Kaum Musyrik Mengusir Dan Menyiksa Orang-Orang Beriman?

Dialog Seri 10: 54

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir musyrik Mekkah tidak menyukai agama Allah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Ya! Orang-orang kafir musyrik di Mekkah dan sekitarnya tidak menyukai agama Allah. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Ash Shaff 8)

 

Ketidak sukaan orang-orang kafir musyrik terhadap agama Allah itu dapat diketahui dari olok-olokan mereka terhadap Al Qur’an yang menjelaskan agama-Nya dan larangan mereka mendengarkan Al Qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan. (Al An’aam 5)

 

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat 26)

 

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari. (Al An’aam 26)

 

Tapi Allah SWT tetap menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW hingga penjelasan agama-Nya bagi manusia itu menjadi sempurna, meskipun orang-orang kafir musyrik tidak menyukainya. Allah SWT berfirman:

 

Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Qur’an kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas? (Az Zukhruf 5)

 

Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (Shaad 8)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah terpengaruh atau merasa putus asa karena penentangan dari orang-orang kafir kafir musyrik itu?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW pernah terpengaruh oleh ucapan buruk orang-orang kafir musyrik terhadap beliau, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” (Al Qalam 51)

 

Rasulullah SAW juga pernah merasakan sedih karena banyak dari kaumnya yang tidak mau memperhatikan Al Qur’an hingga beliau ditenangkan-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Al Furqaan 30)

 

Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An Naml 70)

 

Bahkan Rasulullah SAW pernah merasa putus asa karena kebanyakan dari kaumnya itu tidak mau beriman, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an). (Al Kahfi 6)

 

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. (Asy Syu’araa’ 3)

 

Karena itu Allah SWT lalu menenangkan beliau sebagai berikut:

 

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al Insaan 24)

 

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An Nahl 127)

 

Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya berikut ini kepada orang-orang kafir musyrik tersebut:

 

Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kamipun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kamipun menunggu (pula). (Huud 121-122)

 

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu melainkan kalau ada ibadahmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).” (Al Furqaan 77)

 

Tilmidzi: “Apakah banyak orang-orang yang beriman di Mekkah ketika itu?”

 

Mudariszi: “Di antara penduduk Mekkah dan sekitarnya ada yang beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, tapi jumlah mereka sedikit sekali. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. (Al ’Ankabut 47)

 

Contoh sedikitnya orang-orang beriman di awal-awal tahun Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya, dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ammar bin Yasir, ia berkata: Aku pernah melihat Ra­sulullah SAW dimana tak seorangpun yang menyertainya kecuali lima orang hamba, dua wanita dan Abu Bakar.” (HR Bukhari)

 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: Tiada seseorangpun yang masuk Islam, melainkan pada hari aku masuk Islam. Dan se­sungguhnya saya berdiam selama tujuh hari. Sungguh diriku adalah orang ketiga yang masuk Islam.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir musyrik itu memusuhi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demi Al Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad 1-2)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir musyrik itu menyiksa dan menindas orang-orang beriman?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al Buruuj 8)

 

Mereka bukan saja menyiksa, tapi juga menangkap, memenjarakan, membunuh dan mengusir orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:

 

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. (Al Anfaal 30)

 

Orang-orang beriman ketika itu menjalani hidupnya dalam keadaan ketakutan, tapi Allah SWT tetap melindungi mereka dari  kejahatan orang-orang kafir tersebut. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu. (Al Anfaal 26)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir musyrik itu ingin agar orang-orang beriman kembali kepada agamanya atau kembali menjadi kafir?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (Al Mumtahanah 2)

 

Karena itu Allah SWT kemudian menjelaskan melalui firman-Nya ini:

 

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Ash Shaff 7)

 

Allah SWT menghendaki orang-orang kafir musyrik itu selamat hidup di dunia dan di akhirat dengan mengetahui dan mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an, tapi mereka justru menghalang-halangi Rasulullah SAW dari menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya dan ingin melenyapkan agama-Nya dan orang-orang beriman.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang kafir musyrik itu memusuhi orang-orang beriman dan ingin melenyapkan agama-Nya karena syaitan?”

 

Mudariszi: “Orang-orang kafir musyrik menjadi sesat karena mengikuti Iblis (syaitan). Padahal Iblis dan pengikutnya bertujuan untuk membuat manusia tidak mengikuti agama-Nya dan jalan-Nya ketika menjalani hidupnya di dunia agar tersesat. Allah SWT berfirman:

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A’raaf 16)

 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’ 167)

 

Karena itu syaitan tidak mau penduduk Mekkah dan sekitarnya, termasuk orang-orang kafir musyrik, menjadi beriman kepada Allah SWT atau mengikuti agama-Nya. Syaitan lalu menghasut orang-orang kafir musyrik itu dengan bisikan-bisikan jahatnya agar mereka benci kepada agama-Nya, Rasulullah SAW, Al Qur’an dan orang-orang beriman. Syaitan menghasut mereka agar terjadi permusuhan antara mereka dengan orang-orang beriman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (Al Maa-idah 91)

 

Terjadinya permusuhan tersebut di atas akan memudahkan syaitan mempengaruhi, menghasut dan menyuruh orang-orang kafir musyrik itu untuk mau menindas, menyiksa, membunuh dan mengusir orang-orang beriman. Orang-orang kafir musyrik itu dijadikan oleh syaitan sebagai para pembantu syaitan, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Al Furqaan 55)

 

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al A’raaf 202)

 

Syaitan mengharap dengan wafatnya orang-orang beriman atau mereka kembali ke agama menyembah tuhan (patung) berhala, maka agama-Nya cepat atau lambat akan lenyap dan penduduk Mekkah dan sekitarnya tetap beragama menyembah tuhan berhala atau menyekutukan-Nya.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana orang-orang beriman tersebut menjalankan ibadah agama-Nya?”

 

Mudariszi: “Orang-orang kafir musyrik Mekkah melarang orang-orang beriman beribadah mengerjakan shalat. Mereka menyakiti orang beriman yang diketahuinya mengerjakan shalat. Contoh mereka menyakiti Rasulullah SAW ketika beliau shalat di Ka’bah, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Urwah bin Zubair, ia meriwayatkan: Saya bertanya kepada Ibnu Amr bin Ash: Ceriterakanlah kepadaku tentang per­buatan orang-orang musyrik yang sangat keterlaluan terhadap Rasulullah SAW. Ia menjawab: Ketika Rasulullah SAW shalat di Hijr Kabah, tiba-tiba Uqbah bin Abi Muaith datang meletakkan pakaiannya di leher beliau dan menjeratnya dengan keras sekali. Kemudian Abu Bakar datang memegang kedua bahu Uqbah dan mendorongnya (jauh) dari Rasulullah SAW seraya berkata: Apakah kalian hendak membunuh seorang lelaki karena ia menyatakan: Tuhanku ialah Allah.” (surat Ghaafir/Mukmin ayat 28). (HR Bukhari)

 

Perbuatan orang-orang kafir musyrik terhadap Rasulullah SAW itu membuat orang-orang beriman menjadi takut. Sehingga mereka shalat dan membaca Al Qur’an secara diam-diam di rumahnya atau di tempat yang dirahasiakannya. Tapi jika hal itu diketahui oleh orang-orang kafir musyrik, maka orang-orang beriman tersebut akan disiksa. Karena itu seorang beriman meminta kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dari Khabbab bin Aratt, dia berkata: Kami mengadu ke­pada Rasulullah SAW dimana beliau sedang bersandar pada selimutnya pada naungan Kabah. Kami bertanya kepada beliau: Hendaklah engkau memohon pertolongan (kemenangan) bagi kami? Hendaklah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Beliau bersabda: Seorang laki-laki dari orang-orang yang sebelum kamu dibuatlah galian di bumi, lalu ia dimasukkan ke dalamnya dan dibawalah gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya dan dibelahlah kepala itu menjadi dua. Hal itu tidaklah menghalangi orang tersebut dari agamanya. Ia (orang sebelum kamu) disikat dengan sikat besi pada bawah dagingnya yaitu tulang dan otot. Hal ini tidaklah menghalangi orang tersebut dari agamanya. Demi Allah, urusan (agama Islam) ini sungguh akan sempurna sehingga penunggang kendaraan berjalan dari Shana ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah Azza Wa Jalla, atau (kecuali) kepada serigala terhadap (keselamatan) kambingnya, tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW tidak menyetujui permintaan orang beriman itu karena beliau telah dijelaskan oleh Allah SWT tentang Rasul-Rasul terdahulu yang juga didustakan oleh kaumnya yang kafir (musyrik) tapi mereka tetap bersabar. Kisah Rasul-Rasul itu telah membuat hati Rasulullah menjadi kuat sehingga beliau bersabar dan tetap bertakwa dalam menghadapi orang-orang kafir musyrik yang menzalimi (menyakiti) beliau dan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:

 

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (Al An’aam 34)

 

Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. (Huud 120)

 

Rasulullah SAW dalam menghadapi orang-orang kafir musyrik itu hanya berbuat mengikuti perintah-Nya ini:

 

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al Hijr 97-99)

 

Tilmidzi: “Lalu bagaimana agar orang-orang beriman itu dapat beribadah kepada-Nya dengan tenang?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menganjurkan orang-orang beriman untuk hijrah ke negeri lain. Salah satu negeri itu adalah Habasyah di Afrika. Contoh, sahabat Rasulullah, yaitu Abu Bakar, ingin hijrah ke Habasyah karena kaumnya melarangnya beribadah kepada Allah SWT, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Saya tidak per­nah mengetahui kedua orang tuaku sama sekali, kecuali mereka berdua taat beragama. Dan tiada hari berlalu atas kita melainkan pada hari itu Rasulullah SAW datang kepada kami di dua ujung hari, yaitu pagi dan sore. Kemudian ketika orang-orang muslim mendapat cobaan, Abu Bakar keluar untuk berhijrah menuju arah daerah Habasyah. Sehingga (ketika) sampai di Barkal Ghimad, ia bertemu dengan Ibnu Daghinah, yaitu pe­mimpin kabilah Qarah. Ia bertanya: Hendak kemanakah engkau, wahai Abu Bakar? Abu Bakar menjawab: Kaumku telah mengusirku, lalu aku hendak pergi ke sebuah daerah seraya beribadah kepada Tuhanku.” Ibnu Daghinah berkata: Orang yang seperti dirimu wahai Abu Bakar tidak pernah keluar dan tidak dikeluarkan. Engkau memberi (sedekah) orang fakir, menyambung sanak saudara, menanggung beban orang yang lemah, menyuguhkan jamuan kepada tamu dan membantu kejadian-kejadian yang hak (benar), maka saya adalah tetanggamu. Kembalilah dan beribadahlah kepada Tuhanmu di negerimu.” Lalu ia kembali dan Ibnu Daghinah berangkat bersamanya. Kemudian Ibnu Daghinah berkeliling ke beberapa pemimpin Quraisy pada sore hari, ia berkata kepada mereka: Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak keluar dan tidak dikeluar­kan. Apakah kalian mengeluarkan seorang laki-laki yang memberi (sedekah) orang fakir, menyambung sanak saudara, menanggung beban orang yang lemah, menyuguhkan jamuan kepada tamu dan membantu kejadian-kejadian yang benar? Orang-orang Quraisy tidak mendusta­kan(nya) di hadapan Ibnu Daghinah, mereka berkata kepada Ibnu Daghinah: Perintahkan kepada Abu Bakar agar beribadah kepada Tuhannya di rumah, shalat disitu dan membaca apa saja yang ia kehendaki. Janganlah ia menyakitkan kami dengan hal tersebut dan janganlah memperlihatkannya, karena kami takut ia akan memfitnah (mengganggu) isteri dan anak-anak kami.” Kemudian Ibnu Daghinah mengatakan hal tersebut kepada Abu Bakar. Karena itulah, maka Abu Bakar memulai ber­ibadah kepada Tuhannya di rumah, tidak memperlihatkan shalatnya dan tidak membaca di selain rumahnya.” (HR Bukhari)

 

Abu Bakar batal hijrah ke Habasyah karena mendapat jaminan perlindungan dari salah satu pemuka kaum di Mekkah. Tapi tidak semua orang beriman mendapat jaminan perlindungan dari pemuka kaum. Sehingga sebagian orang-orang beriman tetap hijrah ke Habasyah agar mereka dapat beribadah kepada Allah SWT dengan tenang. Contoh orang-orang beriman yang hijrah ke Habasyah itu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di Habasyah, di dalamnya ada beberapa gambar. Mereka berdua menuturkannya kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya mereka, ketika seorang yang saleh meninggal, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Dan mereka menggambar di dalamnya dengan gambar-gambar itu. Mereka adalah seburuk-buruk manusia di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR Bukhari)

 

Dari Ummu Khalid binti Khalid, ia berkata: Saya datang dari Habasyah, sedangkan saya masih gadis kecil. Lalu Rasulullah SAW memberiku pakaian kain hitam bercorak, kemudian Rasulullah SAW menghapus corak itu dengan tangannya dan beliau bersabda: Bagus, bagus.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Musa, ia berkata: Telah sampai kepada kami (berita) ke­luarnya Rasulullah SAW di saat kami di Yaman, maka kami mengendarai prahu. Kemudian perahu itu membawa kami sampai kepada Raja Najjasyi di Habasyah. Kami berjumpa Jafar bin Abu Thalib, lalu tinggal bersama­nya sampai kami datang.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Mengapa Rasulullah SAW tidak hijrah juga ke negeri lain?”

 

Mudariszi: “Karena Rasulullah SAW belum mendapat izin dari Allah SWT untuk hijrah. Allah SWT peringatkan Rasulullah SAW dengan pengalaman Nabi Yunus, yaitu sebagai berikut:

 

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). (Al Qalam 48)

 

Nabi Yunus ketika itu marah dengan kaumnya yang tidak mau mengikutinya, dan itu membuat beliau pergi meninggalkan kaumnya tanpa izin dari Allah SWT. Nabi Yunus lalu dihukum-Nya dengan Dia membiarkan ikan besar menelan beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). (Al Anbiyaa’ 87)

 

Karena itu Rasulullah SAW tetap di Mekkah dan menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada kaumnya dan kepada kaum-kaum di luar Mekkah dengan sembunyi-sembunyi. Kaum-kaum di negeri-negeri lain, seperti di Yaman, di Madinah telah mendengar Rasulullah SAW dengan Al Qur’an dan agama-Nya. Kaum-kaum itu lalu mengirimkan utusannya ke Mekkah untuk belajar kepada Rasulullah SAW hingga mereka memeluk agama-Nya. Contoh, kaum-kaum di Madinah mengirim utusannya kepada Rasulullah SAW untuk belajar dan memeluk agama-Nya (Islam), seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata: Saya adalah ter­masuk beberapa kepala kaum yang bersumpah setia kepada Rasulullah SAW. Ia berkata: Kami bersumpah setia kepada beliau, bahwa kami tidak akan menyekutukan sesuatu dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, tidak merampas (harta orang lain) dan kami tidak memastikan masuk sur­ga, jika kami melakukan hal-hal tersebut. Lalu apabila kami menutupnutupi sesuatu dari hal-hal itu, maka keputusannya ialah kepada Allah.” (HR Bukhari)

 

Dari Ka’ab bin Malik, ia menceriterakan bahwasanya ketika ia tertinggal dari Rasulullah SAW pada perang Tabuk karena panjangnya. Ibnu Bukair berkata di dalam sebuah haditsnya: Sungguh aku telah menyaksikan malam (Baiat) Aqabah bersama Rasulullah SAW ketika kami berjanji setia pada Islam. Dan aku tidak menyukai bahwa dengan baiat itu diriku mendapatkan mati syahid pada perang Badar. Meskipun perang Badar lebih (sering) disebut-sebut orang dari pada Baiat Aqabah itu.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir, ia berkata: Dua pamanku dari Ibu pernah me­nyaksikan Baiat Aqabah bersamaku.” Ibnu Uyainah berkata: Salah satu (kedua paman)nya ialah Barra bin Marur.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT izinkan Rasulullah SAW untuk berhijrah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW bermimpi tempat hijrah bagi orang-orang beriman, yaitu kota Madinah, karena itu beliau menyampaikannya kepada orang-orang beriman untuk segera berhijrah ke Madinah. Rasulullah SAW sendiri ketika itu belum mendapat izin dari Allah SWT untuk berhijrah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Musa, dia berkata: (aku, Imam Bukhari, me­nyangkanya dari Rasulullah SAW), beliau bersabda: “Aku melihat di dalam tidur bahwa aku berhijrah dari Makkah ke negeri yang berpohon kurma. Sangkaanku menunjuk kepada bahwa negeri itu adalah Yamamah atau Hajar (negeri di Yaman). Ternyata negeri itu adalah Madinah (yang dulu disebut) Yatsrib.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Rasulullah SAW pada hari itu berada di Makkah. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang muslim: Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan kampung (tempat) hijrahmu yang berpohon kurma di antara dua daerah berbatu hitam. Maka berhijrahlah orang yang pernah berhijrah menuju Madinah. Dan kebanyakan orang yang pernah berhijrah di Habasyah kembali ke Madinah. Abu Bakar pun bersiap-siap menuju Madinah, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: Pelan-pelanlah, sesungguhnya aku mengharapkan semoga diriku mendapat izin.” Abu Bakar bertanya: Apakah engkau mengharapkan hal itu, demi ayahku?” Beliau menjawab: Ya.” Kemudian Abu Bakar menahan dirinya karena Rasulullah SAW ingin agar ia dapat menemani beliau. Ia memberi makan dua untanya dengan daun Samur selama empat bulan.” (HR Bukhari)

 

Pada waktu yang Allah SWT telah tetapkan, Rasulullah SAW lalu mendapat izin dari Allah SWT untuk berhijrah ke Madinah bersama-sama dengan Abu Bakar. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Pada suatu hari ketika kami sedang duduk di dalam rumah Abu Bakar di tengah hari, seseorang berkata kepada Abu Bakar: Inilah Rasulullah SAW (datang) dengan bertudung kepala”, pada suatu waktu di mana beliau belum pernah mendatangi kami pada waktu (seperti) itu. Abu Bakar berkata: Sebagai tebusan baginya adalah ayah dan ibuku. Demi Allah, beliau tidak datang pada saat seperti ini kecuali ada sesuatu (urusan).” Aisyah berkata: Rasulullah SAW datang seraya minta izin. Lalu ia memberi izin kepada beliau dan masuk.” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar: Keluarkanlah orang-orang yang ada di dekatmu.” Abu Bakar menjawab: Mereka hanyalah keluargamu, dengan ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: Diriku benar-benar diizinkan untuk keluar.” Abu Bakar bertanya: (Apakah termasuk) sahabat, dengan ayahku engkau ditebus, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya.” Abu Bakar berkata: Dengan ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah, maka ambillah salah satu dari dua untaku ini.” Rasulullah SAW bersabda: (Tetapi harus) dengan harga.” Aisyah berkata: Lalu kami menyiapkan kedua unta itu dengan persiapan secepatnya. Kemudian kami membuatkan bekal untuk mereka berdua di dalam kantong. Kemudian Asma binti Abu Bakar memutus ikat pinggangnya dan mengikatkannya pada mulut kantong itu. Maka dengan demikian ia disebut dengan Dzatun Nithaqain” (wanita yang memiliki dua ikat pinggang).” (HR Bukhari)

 

Setelah persiapan selesai, seperti dijelaskan dalam sunah Rasulullah di atas, Rasulullah SAW bersama dengan Abu Bakar lalu pergi meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah.”

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply