Dialog Seri 10: 51
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dalam menyampaikan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya kepada kerabat dekatnya dahulu. Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Asy Syu’araa’ 214-216)
Setelah itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah, penduduk di sekitar Mekkah dan penduduk di luar lingkungan Mekkah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. (Asy Syuura 7)
Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan sebelumnya) dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang di luar lingkungannya. (Al An’aam 92)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Ketika turun (ayat): “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (surat Asy Syu’araa’ ayat 214), maka Rasulullah SAW beranjak berseru: “Hai bani Fihir (bin Malik bin Nadhar), hai bani Adi (bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihir), dari keluarga-keluarga Quraisy.” Dalam riwayat lain: “Maka Rasulullah SAW beranjak memanggil mereka, kabilah demi kabilah.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (surat Asy Syu’araa’ ayat 214): “Hai bani Abdi Manaf, tebuslah dirimu kepada Allah. Hai bani Abdul Muthalib, tebuslah dirimu kepada Allah. Hai Ibunda Zubair bin Awwam (Shafiyah binti Abdul Muthalib), bibi (dari ayah) Rasulullah; hai Fathimah putri Muhammad, tebuslah dirimu kepada Allah, aku tidak menguasai sesuatu untuk kamu di hadapan Allah. Mintalah harta kepadaku sekehendak kamu (maka aku memberi).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah mereka mengikuti seruan Rasulullah tersebut di atas?”
Mudariszi: “Penduduk Mekkah mempercayai Rasulullah SAW, mereka mengenal beliau sebagai orang yang jujur dan tidak pernah berbohong. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Tatkala turun ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy Syu’araa’ ayat 214), maka Rasulullah SAW keluar sehingga beliau naik ke bukit Shafa, lalu beliau berkata: “Wahai waktu pagi.” Mereka menjawab: “Siapa ini.” Lalu mereka berkumpul kepada Rasullah SAW. Lantas Rasulullah SAW bertanya: “Apa pendapat kalian jika saya memberitahu kepada kalian bahwa seekor kuda keluar dari celah gunung ini, apakah kalian membenarkan aku?” Mereka menjawab: “Kami tidaklah pernah mendapatimu berdusta.“ (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (surat Asy Syu’araa’ ayat 214-215), maka Rasulullah SAW naik di atas gunung (bukit) Shafa, lalu mulailah beliau memanggil: “Wahai keturunan Fihir, wahai keturunan ‘Ady, suku-suku Quraisy”, sehingga berkumpullah mereka. Maka lelaki yang tidak mampu keluar, dia mengutus seorang utusan untuk melihat apa sebenarnya itu. Maka datanglah Abu Lahab dan suku Quraisy, lalu Rasulullah SAW bertanya: “Apa pendapatmu jika saya memberi tahu bahwa ada seekor kuda berada di sebuah lembah ingin menyerang kalian, apakah kamu membenarkanku?” Mereka menjawab: “Ya, kami tidaklah mengujimu kecuali jujur.” (HR Bukhari)
Tapi mereka tidak mau mengikuti seruan Rasulullah. Pemuka-pemuka kaum di Mekkah termasuk paman Rasulullah, yaitu Abu Lahab, tidak mau mengikuti seruan Rasulullah. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Maka sesungguhnya saya memperingatkan kepada kalian di depan siksaan yang pedih (hebat).“ Abu Lahab berkata: “Persetan kamu, tidaklah kamu mengumpulkan kami kecuali hanya untuk ini. Kemudian ia (Abu Lahab) berdiri.“ (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya saya memperingatkanmu di depan siksa yang pedih.” Maka Abu Lahab berkata: “Celaka engkau pada hari–hari berikutnya, apakah karena ini kau mengumpulkan kami?” (HR Bukhari)
Perbuatan Abu Lahab tersebut lalu menghendaki Allah SWT menetapkan dia dan isterinya di neraka, dan itu seperti dijelaskan firman-Nya dan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Lalu turunlah surat Al Lahab ayat 1-5.“ (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas, katanya: “Lantas turunlah ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali sabut.” (surat Al Lahab ayat 1-5). (HR Bukhari)
Karena para pemuka kaum di Mekkah dan sekitarnya tidak mau mengikuti Rasulullah SAW, maka penduduk Mekkah dan sekitarnya menjadi ikut menolak mengikuti beliau. Penduduk Mekkah pada waktu itu beragama menyembah patung-patung berhala.”
Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum di Mekkah dan sekitarnya kemudian melarang Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW akan melakukan shalat, lalu Abu Jahal datang dan berkata: “Bukankah aku melarangmu melakukan hal ini? Bukankah aku melarangmu melakukan hal ini? Bukankah aku melarangmu melakukan hal ini?” Kemudian beliau pergi, lalu ia mencegah beliau dan Abu Jahal berkata: “Sesungguhnya kamu mengerti tidak ada di Makkah kelompok yang lebih banyak dari pada kelompokku.” (HR Tirmidzi)
Akibat larangan Abu Jahal itu, Allah SWT lalu menurunkan firman-Nya ini:
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Lalu Allah menurunkan ayat: “Maka biarlah dia memanggil golongannya. Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniah.” (surat Al Alaq ayat 17-18). Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah, seandainya ia memanggil golongannya, tentu malaikat Zabaniyah menyiksanya.” (HR Tirmidzi)
Abu Jahal juga melarang Rasulullah SAW mengerjakan shalat di Ka’bah (Baitullah), dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Ikrimah, katanya: “Ibnu Abbas berkata: “Abu Jahal berkata: “Sungguh jika aku melihat Muhammad melakukan shalat di sisi Ka’bah tentulah benar-benar aku akan menginjak lehernya.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW yang mendengar ucapan (larangan) Abu Jahal itu, lalu menjelaskan sebagai berikut:
Dari Ikrimah, katanya: “Ibnu Abbas berkata: “Lantas omongan itu sampai kepada Rasulullah SAW, maka beliau berkata: “Andaikata Abu Jahal melakukan apa yang ia omongkan, sungguh malaikat akan mencabutnya (mencabut nyawanya).” (HR Bukhari)
Firman Allah Ta’ala: “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (surat Al ‘Alaq ayat 15-16). (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah para pemuka kaum di Mekkah menyakiti Rasulullah SAW ketika beliau shalat di Ka’bah?”
Mudariszi: “Ya! contohnya Abu Jahal, salah satu pemuka kaum, bersama-sama dengan kawan-kawannya menyakiti Rasulullah SAW ketika beliau shalat di Ka’bah, hingga Allah SWT lalu membantu beliau. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Suatu ketika Rasulullah SAW tengah bersembahyang di dekat Ka’bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk di sekitar situ, dan sehari sebelumnya mereka ramai-ramai menyembelih seekor unta. Berkatalah Abu Jahal: “Siapa di antara kamu yang berani ambil ari-ari unta si Bani Polan, lalu meletakkannya pada kedua pundak Muhammad sewaktu dia sedang bersujud?” Seorang dari mereka tiba-tiba bangkit berdiri dan mengambil ari-ari tersebut. Ketika Rasulullah SAW tengah sujud, dia lalu meletakkan barang itu di antara kedua pundak beliau. Mereka semua tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sementara saya hanya bisa tegak berdiri melihat pemandangan itu. Seandainya saya punya kekuatan, niscaya akan aku buang barang itu dari punggung Rasulullah SAW. Saat beliau tengah bersujud, lama sekali beliau tidak mengangkat kepalanya. Seseorang lalu pergi melapor kepada Fatimah yang waktu itu sudah tumbuh rnenjadi seorang gadis. Tidak lama kemudian datanglah Fatimah. Ia lalu membuang ari-ari tersebut dari tubuh Rasulullah SAW. Kemudian Fatimah memalingkan mukanya ke arah orang-orang kafir Quraisy itu seraya mencaci-maki mereka. Ketika Rasulullah SAW selesai dari sembahyangnya, beliau mengangkat suaranya keras-keras sembari mendo’akan orang-orang kafir Quraisy tersebut sampai tiga kali: “Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau orang-orang kafir Quraisy itu” seraya mencaci-maki mereka. Ketika mendengar suara Rasulullah SAW itulah, serta merta mereka menghentikan tertawanya. Mereka benar-benar takut akan do’a beliau itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: “Ya Allah, aku serahkan kepada Engkau: Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’aith (yang ketujuh aku tidak ingat namanya).” Demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran, sungguh aku melihat orang-orang yang beliau sebut itu terbanting pada waktu perang Badar, kemudian mereka diseret ke dalam sumur Badar.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Bagaimana pendapat para pemuka kaum itu atas Allah SWT?”
Mudariszi: “Hampir seluruh penduduk Mekkah beragama menyembah patung-patung berhala, sehingga mereka tidak mengerti Allah SWT Tuhan mereka. Karena itu Allah SWT mengutus Rasulullah SAW dengan menjelaskan Al Qur’an untuk mereka. Contoh, mereka tidak mengetahui sifat-sifat Tuhan mereka yang benar, sehingga Allah SWT dan Rasulullah SAW lalu menjelaskan perkara itu kepada mereka, sebagai berikut:
Dari Abil Aliyah dari Ubai bin Ka’ab, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah SAW: “Sebutkan sifat-sifat Tuhanmu kepada kami”, lalu Allah menurunkan ayat: “Katakanlah: “Dia–lah Allah Yang Maha Esa, Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada–Nya segala sesuatu dan Dia tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (surat Al Ikhlash ayat 1-4). Dia berkata: “Sifat-sifat Allah Tuhan yang bergantung kepada–Nya segala sesuatu, Allah tidak dilahirkan karena tidak ada sesuatu yang dilahirkan selain akan mati, tidak ada sesuatu yang mati selain akan diwaris dan sesungguhnya Allah tidak mati dan tidak diwaris dan tidak ada satupun yang setara denganNya.” Dia berkata: “Tidak ada sesuatu yang menyerupai–Nya dan tidak ada seseorang yang menyamai-Nya dan tidak ada sesuatu yang menyamai–Nya.” (HR Tirmidzi)
Tapi mereka tidak mau mengetahui Tuhan yang benar itu lebih lanjut dari Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Mereka tetap menyembah tuhan-tuhannya yang banyak, sehingga Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya ini:
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (Al Kaafiruun 1-6)
Tilmidzi: “Bagaimana pendapat para pemuka kaum itu atas Al Qur’an?”
Mudariszi: “Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu dikatakan oleh para pemuka kaum sebagai sihir. Mereka tidak mengerti Allah SWT dan agama-Nya karena mereka mengikuti syaitan dan mereka mengetahui syaitan mengajarkan sihir. Sehingga sesuatu yang tidak mereka ketahui tapi bermanfaat bagi orang banyak, lalu mereka katakan sebagai sihir. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (Al Muddatstsir 18-25)
Mereka tidak ada keinginan untuk mengetahui kebenaran Al Qur’an dan penjelasan Rasulullah SAW. Syaitan yang diikutinya (disembahnya) telah membuat mereka selalu memandang benar (dan baik) perbuatannya yang buruk itu. Allah SWT berfirman:
(Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (At Taubah 37)
Dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 43)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW pernah berbuat kesalahan dalam menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya itu kepada penduduk Mekkah?”
Mudariszi: “Tidak mungkin Rasulullah SAW tidak berbuat kesalahan ketika menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah. Ketika itu Rasulullah SAW masih belum menguasai Al Qur’an dan agama-Nya dengan benar dan beliau mendapat rintangan dari penduduk Mekkah yang menolak beliau, Al Qur’an dan agama-Nya. Contoh Rasulullah SAW lebih mengutamakan penyampaian Al Qur’an kepada para pemuka kaum agar mereka beriman. Itu membuat beliau kurang memperhatikan pengajaran kepada orang biasa, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Said bin Yahya bin Said Al-Umawi berkata: “Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: “Hadits ini adalah yang aku bacakan kepada Hisyam dari Aisyah berkata: “Diturunkan ayat: “Dia bermuka masam dan berpaling.” (surat ‘Abasa ayat 1), mengenai Ibnu Maktum. Ia datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, ajarilah pelajaran agama kepadaku, sedang di sisi Rasulullah ada seorang dari pemuka orang-orang musyrik, lalu Rasulullah berpaling dari Ibnu Maktum dan menghadap kepada yang lain dan beliau bersabda kepadanya: “Apakah kamu menjumpai kesulitan terhadap apa yang aku katakan?” Ia menjawab: “Tidak.” Dalam kejadian ini diturunkan ayat itu.” (HR Tirmidzi)
Karena itu Allah SWT lalu menegur Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. (‘Abasa 1-16)
Pengalaman dan teguran Allah dalam firman-Nya di atas lalu menjadi pengajaran bagi Rasulullah SAW dalam memahami Al Qur’an dan agama-Nya dan menyampaikannya kepada penduduk Mekkah.”
Tilmidzi: “Bagaimana contoh rintangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW ketika menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya?”
Mudariszi: “Salah satu rintangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW yaitu penolakan dari salah satu kaum terhadap Al Qur’an dan agama-Nya yang beliau sampaikan. Contoh ketika beliau menyampaikan kepada kaum di luar kota Mekkah, sebagai berikut:
Dari Urwah bin Zubair, sesungguhnya Aisyah isteri Rasulullah SAW bercerita kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, apakah Anda pernah mengalami ada suatu hari yang lebih berat melebihi hari pertempuran Uhud?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya. Waktu itu aku ketemu kaummu Quraisy. Tetapi yang paling berat lagi ialah ketika aku berada di Mina sedang mengajak manusia masuk Islam. Mereka bukannya memenuhi ajakanku itu, melainkan malah menyakitiku. Aku ajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal untuk ikut aku. Namun dia enggan memenuhi ajakanku tersebut. Aku lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa tahu arah mana yang selanjutnya harus aku tuju. Aku tidak tahu kemana langkahku, namun yang jelas aku sampai di daerah Qarnu Tsa’alib. Aku mengangkat kepalaku ke atas langit, dan saat itulah aku melihat segumpal awan menaungiku. Ketika aku perhatikan lebih cermat, ternyata dalam awan tersebut ada Jibril yang memanggil-manggilku: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penunggu gunung untukmu, dan kamu tinggal menyuruhnya untuk melakukan apa yang kamu inginkan terhadap mereka.” Tidak lama kemudian ganti malaikat penunggu gunung yang memanggil-manggilku. Setelah mengucap salam kepadaku, dia berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah sudah mendengar jawaban kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penunggu gunung. Aku telah diutus Tuhanmu untuk siap melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Apa yang kamu inginkan? Jika kami ingin mereka dijepit oleh kedua gunung di Makkah itu, niscaya segera aku laksanakan.” Rasulullah SAW bersabda kepada malaikat penunggu gunung itu: “Tidak. Sebaliknya aku malah berharap mudah-mudahan Allah berkenan menampilkan dari diri mereka orang yang mau menyembah kepada Allah semata, dan tidak mempersekutukan–Nya dengan sesuatu apapun.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah ada kaum dari luar kota Mekkah yang beriman kepada Rasulullah SAW dan Al Qur’an hingga mereka memeluk agama Allah?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW yang menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah akhirnya diketahui pula oleh kaum-kaum di luar Mekkah. Di antara kaum-kaum itu ada yang ingin mengetahui Al Qur’an dan agama-Nya, sehingga mereka mendatangi Rasulullah SAW di Mekkah dengan susah payah karena dihalang-halangi oleh penduduk Mekkah yang menentang Rasulullah SAW. Setelah belajar dari Rasulullah SAW, mereka akhirnya beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW dengan memeluk agama-Nya. Mereka lalu mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT dan memeluk agama-Nya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah bin Shamit, dia berkata: “Abu Dzar pernah mengatakan: “Aku keluar dari kaumku Ghiffar. Merekalah yang pernah menghalalkan bulan haram. Kami keluar ditemani oleh saudaraku Unais dan Ibuku. Kami sempat mampir di rumah paman kami. Kami dihormati dan diberlakukan dengan baik sekali. Namun kaum pamanku menghasut kami. Mereka mengatakan: “Kalau sampai kamu keluar meninggalkan keluargamu, maka Unais akan menentang mereka.” Rupanya pamanku telah termakan dan terpengaruh oleh hasutan mereka itu. Pamanku datang dan mengatakan apa yang dikatakan kepadanya itu. Aku katakan kepada pamanku: “Mengenai kebaikan yang telah Anda berikan itu, ternyata Anda rusak sendiri. Dan setelah ini sudah tidak ada lagi kompromi dengan Anda.” Kami lalu menuju ke unta kami dan naik ke atasnya. Kami lihat paman kami menangis seraya menutupi wajahnya dengan secarik kain. Kami berangkat sampai tiba di Makkah. Unais kemudian mendahului aku sendirian. Sedang Ibuku ikut bersamanya. Keduanya menemui seorang paranormal. Rupanya paranormal itu cenderung simpati kepada Unais. Unais kemudian menemuiku kembali dengan untaku dan seekor unta lain yang sepertinya.” Kata Abu Dzar lebih lanjut: “Saudaraku itu mengatakan: “Aku sudah sembahyang tiga tahun lalu sebelum aku bertemu dengan Rasulullah SAW wahai saudaraku.” Aku bertanya: “Untuk siapa Anda sembahyang?” Dia menjawab: “Untuk Allah.” Aku bertanya lagi: “Kemana Anda menghadap?” Dia menjawab: “Aku jelas menghadap ke arah mana Tuhanku menghadap aku. Pernah aku sembahyang Isya’ pada tengah malam terakhir. Aku terlempar seolah-olah aku tersembunyi sampai matahari menyengatku.” Saudaraku Unais berkata kepadaku: “Aku punya keperluan di Makkah. Tolong bantulah aku.” Maka berangkatlah Unais ke Makkah. Lama sekali dia baru kembali kepadaku. Aku bertanya: “Apa yang kamu lakukan disana dan kamu dapat pengalaman apa?” Unais menjawab: “Di Makkah sana aku bertemu dengan seorang laki-laki yang seagama denganmu. Dia mengaku bahwa dia diutus oleh Allah.” Aku bertanya: “Lantas apa kata orang-orang?” Dia menjawab: “Mereka mengatakan bahwa laki-laki itu adalah seorang penyair, seorang paranormal dan sekaligus seorang tukang sihir.” Saudaraku Unais sendiri adalah salah seorang penyair. Selanjutnya Unais mengatakan: “Sesungguhnya aku sendiri sering mendengar ucapan paranormal. Namun aku yakin dia tidak seperti yang mereka tuduhkan. Rasanya dia bukan seorang penyair biasa. Demi Allah, dia adalah orang yang jujur, dan merekalah yang dusta.” Lalu aku katakan padanya: “Sekarang tolonglah aku. Aku ingin pergi kesana hendak melihatnya sendiri.” Sesampainya di Makkah aku menemui orang yang paling lemah di antara penduduknya. Aku bertanya padanya: “Dimana orang yang kamu anggap beragama Shabi’ah itu?” Orang itu malah melemparku dengan tanah liat dan tulang sampai aku jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian aku baru bisa bangkit kembali. Aku lihat tubuhku dan meminum airnya. Di sekitar sumur itulah aku tinggal selama sebulan. Siang malam tidak ada yang aku makan selain daripada meminum air zamzam. Tetapi anehnya tubuhku malah bertambah gemuk sehingga perutku kelihatan buncit. Pada suatu malam purnama yang sangat cerah, aku lihat para penduduk Makkah malah sama tidur nyenyak. Tidak ada seorang pun dari mereka yang terlihat sedang melakukan thawaf di sekitar Ka’bah. Tiba-tiba saja pandanganku tertumbuk pada dua sosok orang wanita dari penduduk setempat yang tengah memanggil kesana kemari sembari melakukan thawaf. Aku goda mereka dengan ucapan-ucapan yang kotor. Dan mereka kelihatan marah. Ketika hendak beranjak meninggalkan tempat tersebut, Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyambutnya, dan bertanya: “”Apa yang terjadi dengan kalian?” Mereka menjawab: “Seorang yang beragama Shabi’ah berada di sekitar Ka’bah itu.” Rasulullah SAW bertanya: “Apa yang dia katakan kepada kalian?” Mereka menjawab: “Dia mengucapkan ucapan-ucapan yang kotor kepada kami.” Rasulullah SAW dan Abu Bakar kemudian memegang hajar aswad. Mereka lalu melakukan thawaf diteruskan dengan sembahyang. Selesai sembahyang, buru-buru aku menemui beliau. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan dijawabnya. Selanjutnya beliau mulai menanyakan: “Siapa kamu?” Aku jawab: “Aku adalah orang dari kaum Ghiffar.” Sejenak beliau mengusapkan tangannya ke wajah. Dalam batin aku berkata sendiri: “Sejatinya tidak pantas bagiku mengaku dari kaum Ghiffar.” Aku lalu mendekat beliau dan memegang tangannya. Tapi maksudku itu dihalangi oleh Abu Bakar. Sambil mengangkat kepalanya beliau bertanya kepadaku: “Kapan kamu mulai berada di tempat ini?” Aku menjawab: “Sudah kira-kira sebulan yang lalu.” Beliau bertanya: “Lalu siapa yang memberimu makan?” Aku menjawab: “Tidak ada yang aku makan selain hanya minum air zamzam. Tetapi nyatanya tubuhku gemuk bahkan perutku kelihatan buncit.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkah dan memberikan kekuatan seperti makanan.” Abu Bakar mengatakan: “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memberinya makan malam ini.” Rasulullah SAW dan Abu Bakar kemudian meninggalkan tempat tersebut, dan aku pun ikut bersama mereka. Abu Bakar membuka pintu rumah. Begitu keluar dia membawa segenggam kismis (anggur kering) dari Thaif untukku. Itulah makanan pertama yang sempat aku nikmati semenjak aku tiba di kota Makkah. Kemudian aku menemui Rasulullah SAW. Beliau bersabda kepadaku: “Aku tahu ada sebuah daerah yang banyak menghasilkan kurma, yaitu Yatsrib atau Madinah. Bersediakah kamu menyampaikan hal itu kepada kaummu? Mudah-mudahan saja Allah menolong mereka lewat jasamu dan memberikan imbalan kepadamu.” Aku kemudian kembali dan menemui Unais. Dia bertanya padaku: “Apa yang telah kamu lakukan disana?” Aku jawab: “Aku telah masuk Islam dan aku telah membenarkan suara hatiku. Bukannya aku benci pada agamamu. Tetapi terus terang aku katakan bahwa aku telah masuk Islam dan aku membenarkan kata hatiku.” Rupanya saudaraku Unais ikut masuk Islam. Ketika aku temui Ibuku dan aku katakan terus terang padanya bahwa aku telah masuk Islam, ia pun ikut masuk Islam. Demikian pula dengan separuh dari kaumku. Mereka pun ikut masuk Islam. Mereka dipimpin oleh Aima bin Rahadhah Al Ghiffari. Dialah pemimpin mereka. Separuh lainnya mengatakan: “Kalau Rasulullah SAW mau datang berkunjung ke Madinah, maka kami akan masuk Islam.” Begitu beliau datang ke Madinah, mereka pun akhirnya masuk Islam. Selanjutnya datang kabilah Aslam. Mereka mengatakan: “Wahai Rasulullah, mereka itu adalah saudara-saudara kami. Kami harus ikut masuk Islam bersama mereka.” Praktis semuanya lalu masuk Islam. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Kepada kabilah Ghiffar mudah-mudahan Allah mengampuni mereka, dan kepada kabilah Aslam mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan.” (HR Muslim)
Wallahu a’lam.