Apakah Yang Allah SWT Perintahkan Rasulullah SAW Setelah Menjadi Rasul?

Dialog Seri 10: 50

 

Tilmidzi: “Apakah Jibril kemudian menyampaikan wahyu-Nya (ayat Al Qur’an) kepada Rasulullah SAW setelah beliau menjadi Rasul?”

 

Mudariszi: “Ya! Sejak Allah SWT menurunkan perintah-Nya kepada Rasulullah SAW untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka Jibril lalu menyampaikan wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat Al Qur’an) kepada beliau. Hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Muhammad bin Syihab berkata: Abu Salamah bercerita kepadaku bahwasanya Jabir bin Abdillah Al Anshariy berkata: Rasulullah SAW bersabda, dimana beliau bercerita tentang tenggangnya waktu turun wahyu: Ketika saya berjalan, tiba-tiba terdengar suara dari langit, lalu saya mendongakkan penglihatanku, tiba-tiba malaikat yang pernah men­datangiku di gua Hira sedang duduk di atas kursi yang terletak antara langit dan bumi. Lalu saya pergi darinya dan pulang, lalu saya berkata: Seli­mutilah aku, selimutilah aku.” Mereka lalu menyelimutiku, lantas Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala), tinggalkanlah.(surat Al Muddatstsir ayat 1-5). Jabir berkata: Kemudian wahyu turun beruntun.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW menerima, memahami dan mengingat wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat Al Qur’an) dari Jibril tersebut?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW yang buta huruf dapat menerima, membaca, memahami dan mengingat (menghafal) wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat Al Qur’an) tersebut karena diajarkan oleh Jibril. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy Syu’araa 192-195)

 

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)

 

Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW secara bertahap agar beliau memahami dengan benar. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (Al Insaan 23)

 

Karena itu Allah SWT menjelaskan bahwa ucapan Rasulullah ketika beliau menyampaikan Al Qur’an tersebut adalah sebagai berikut:

 

Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 4-6)

 

Tilmidzi: “Tetapi bagaimana Jibril mengajarkan Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Allah SWT yang mengajarkan Rasulullah SAW dan Dia mengajarkan beliau melalui Jibril. Rasulullah SAW mengalami kesulitan di awal-awal menerima dan membaca wahyu-wahyu-Nya. Allah SWT melalui Jibril lalu membantu dan mengajarkan beliau, yaitu seperti dijelaskan firman-Nya dan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, tentang firman: Ja­nganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya” (Al Qiyaamah ayat 16), katanya: Adalah Rasulullah SAW apabila Jibril turun membawa wahyu dan dia (wahyu) termasuk sesuatu yang dapat menggerakkan lidah dan kedua bibirnya, sehingga wahyu itu menjadi sulit baginya, dan ia dikenal oleh Nabi. Lantas Allah menurun­kan ayat yang terdapat dalam (surat Al Qiyaamah):Aku bersumpah dengan hari kiamat (Al Qiyaamah ayat 1). Ja­nganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hen­dak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (dengan bahasamu) (Al Qiyaamah ayat 16-19). Ibnu Abbas berkata: Adalah Jibril ketika datang kepada Rasulullah SAW, maka beliau menundukkan kepala (berdiam diri). Maka apabila Jibril sudah pergi, maka beliau membacakannya sebagaimana apa yang telah Allah janjikan kepadanya.” (HR Bukhari)

 

Setelah itu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk berdoa kepada-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaahaa 114)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat menyembah-Nya?”

 

Mudariszi: “Ayat-ayat Al Qur’an pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW di gua Hira yaitu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, menceritakan: Hal itu terus beliau lakukan, sampai secara mendadak wahyu datang ketika beliau sedang berada di dalam gua Hira. Ada malakat (Jibril) datang dan berkata: Bacalah! Rasulullah SAW menjawab: Aku tidak bisa membaca. Rasulullah SAW bersabda: Malaikat itu menangkap dan mendekapku hingga aku merasa kepayahan. Lalu dia melepaskanku seraya berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. Dia menangkap dan mendekapku untuk yang kedua kali hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskan sambil berkata: Bacalah!” Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca.” Dan untuk yang ketiga kalinya dia menangkap dan mendekapku hingga aku merasa kepayahan. Lalu dia melepaskanku dan mengatakan: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak dia ketahui. (surat Al ‘Alaq ayat 1-5).” (HR Muslim)

 

Firman-Nya: Dia menciptakan manusia dari segumpal darah dan Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui, dalam sunnah Rasulullah di atas itu berlaku pula bagi Rasulullah SAW sebagai hamba-Nya atau manusia yang tidak mengetahui apapun. Rasulullah SAW tidak mengetahui tujuan Allah SWT menciptakan manusia, yaitu dengan tujuan sebagai berikut:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyaat 56)

 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu. (Al Baqarah 21)

 

Karena itu Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW shalat menyembah-Nya melalui Jibril. Shalat itu pula merupakan permintaan kepada-Nya untuk perkara-perkara yang tidak diketahuinya dan tidak dapat dilakukannya kecuali hanya dengan bantuan-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash 2)

 

Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (An Nisaa’ 139)

 

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir 15)

 

Rasulullah SAW yang akan menerima Al Qur’an (wahyu-wahyu-Nya) lalu menyampaikan dan menjelaskan Al Qur’an kepada manusia itu merupakan pekerjaan yang sangat berat yang tidak mungkin dilakukan oleh beliau jika tanpa pertolongan-Nya. Salah satu pertolongan-Nya itu adalah dengan mengerjakan shalat menyembah-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (Al Muzzammil 1-5)

 

Adapun contoh beratnya Rasulullah SAW menerima wahyu-wahyu-Nya atau ayat-ayat Al Qur’an itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menerima wahyu pada pagi hari di musim dingin dan dahi­nya sempat mengucurkan keringat.” (HR Muslim)

 

Dari Ubadah bin Shamit, dia berkata: Saat Rasulullah SAW menerima wahyu, beliau seolah-olah sedang tertimpa kesusahan dan wajahnya berubah pucat.” (HR Muslim)

 

Sedangkan shalat Rasulullah pada waktu itu adalah sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Allah Taala memfardhukan shalat ketika difardhukan-Nya dua rakaat dua rakaat di rumah dan dalam perjalanan. Lalu dua rakaat itu ditetapkan shalat dalam perjalanan, dan shalat di rumah ditambah (dua raka’at lagi). (HR Bukhari)

 

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. (Al Muzzammil 20)

 

Tilmidzi: “Apakah ada perbuatan lain yang Rasulullah SAW harus jalankan selain shalat menyembah-Nya?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menerima wahyu-Nya (Al Qur’an) sedemikian beratnya, maka akan lebih berat lagi bagi beliau ketika meyampaikan Al Qur’an itu kepada manusia, karena syaitan yang durhaka kepada Allah SWT akan senantiasa menghalang-halangi beliau. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam 44)

 

Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al Israa’ 27)

 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al A’raaf 16-17)

 

Hanya Allah SWT yang dapat menolong manusia dari keinginan Iblis (syaitan) menyesatkan manusia dan Dia telah berjanji akan melindungi hamba-hamba-Nya yang mengikuti-Nya, melalui firman-Nya ini:

 

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr 41-42)

 

Karena itu, selain shalat menyembah-Nya ketika menerima dan menyampaikan Al Qur’an kepada manusia, Allah SWT menghendaki Rasulullah SAW agar beliau bersabar dalam menjalankan tugasnya. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikuit:

 

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (An Nahl 127)

 

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. (Al Insaan 24-26)

 

Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. (Al Muzzammil 8-13)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW dalam menyampaikan Al Qur’an tersebut?”

 

Mudariszi: “Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW setelah menerima ayat-ayat Al Qur’an, sebagai berikut:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)

 

Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)

 

Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan Al Qur’an tersebut dan menjelaskan agama-Nya kepada kerabat terdekatnya dahulu. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Asy Syu’araa’ 214-220)

 

Setelah itu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan Al Qur’an dan menjelaskan agama-Nya kepada kaumnya atau penduduk kota Mekkah, penduduk di sekitar kota Mekkah dan penduduk di luar lingkungan kota Mekkah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. (Asy Syuura 7)

 

Dan ini (Al Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan sebelumnya) dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al An’aam 92)

 

Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Jumu’ah 2-3)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply