Bagaimana Rasulullah SAW Sampai Di Madinah?

Dialog Seri 10: 55

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman berhijrah ke Madinah?”

 

Mudariszi: “Setelah Allah SWT menetapkan Madinah sebagai tempat berhijrah bagi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman, Rasulullah SAW lalu memerintahkan orang-orang beriman untuk berhijrah ke Madinah. Orang-orang beriman di Habasyah juga lalu berhijrah ke Madinah. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al Anfaal 26)

 

Dari Abu Musa, dia berkata: (aku, Imam Bukhari, me­nyangkanya dari Rasulullah SAW), beliau bersabda: “Aku melihat di dalam tidur bahwa aku berhijrah dari Makkah ke negeri yang berpohon kurma. Sangkaanku menunjuk kepada bahwa negeri itu adalah Yamamah atau Hajar (negeri di Yaman). Ternyata negeri itu adalah Madinah (yang dulu disebut) Yatsrib.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Rasulullah SAW pada hari itu berada di Makkah. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang muslim: Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan kampung (tempat) hijrahmu yang berpohon kurma di antara dua daerah berbatu hitam. Maka berhijrahlah orang yang pernah berhijrah menuju Madinah. Dan kebanyakan orang yang pernah berhijrah di Habasyah kembali ke Madinah. Abu Bakar pun bersiap-siap menuju Madinah, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: Pelan-pelanlah, sesungguhnya aku mengharapkan semoga diriku mendapat izin.” Abu Bakar bertanya: Apakah engkau mengharapkan hal itu, demi ayahku?” Beliau menjawab: Ya.” Kemudian Abu Bakar menahan dirinya karena Rasulullah SAW ingin agar ia dapat menemani beliau. Ia memberi makan dua untanya dengan daun Samur selama empat bulan.” (HR Bukhari)

 

Ketika orang-orang beriman berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW belum diberikan izin oleh Allah SWT untuk berhijrah ke Madinah.”

 

Tilmidzi: “Kapan Allah SWT izinkan  Rasulullah SAW untuk berhijrah?”

 

Mudariszi: “Beberapa bulan setelah orang-orang beriman berhijrah, Allah SWT lalu mengizinkan Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah. Rasulullah SAW berhijrah dengan ditemani oleh Abu Bakar. Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Pada suatu hari ketika kami sedang duduk di dalam rumah Abu Bakar di tengah hari, seseorang berkata kepada Abu Bakar: Inilah Rasulullah SAW (datang) dengan bertudung kepala”, pada suatu waktu di mana beliau belum pernah mendatangi kami pada waktu (seperti) itu. Abu Bakar berkata: Sebagai tebusan baginya adalah ayah dan ibuku. Demi Allah, beliau tidak datang pada saat seperti ini kecuali ada sesuatu (urusan).” Aisyah berkata: Rasulullah SAW datang seraya minta izin. Lalu ia memberi izin kepada beliau dan masuk.” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar: Keluarkanlah orang-orang yang ada di dekatmu.” Abu Bakar menjawab: Mereka hanyalah keluargamu, dengan ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: Diriku benar-benar diizinkan untuk keluar.” Abu Bakar bertanya: (Apakah termasuk) sahabat, dengan ayahku engkau ditebus, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya.” Abu Bakar berkata: Dengan ayahku engkau ditebusi, wahai Rasulullah, maka ambillah salah satu dari dua untaku ini.” Rasulullah SAW bersabda: (Tetapi harus) dengan harga.” Aisyah berkata: Lalu kami menyiapkan kedua unta itu dengan persiapan secepatnya. Kemudian kami membuatkan bekal untuk mereka berdua di dalam kantong. Kemudian Asma binti Abu Bakar memutus ikat pinggangnya dan mengikatkannya pada mulut kantong itu. Maka dengan demikian ia disebut dengan Dzatun Nithaqain” (wanita yang memiliki dua ikat pinggang). Aisyah berkata: Kemudian Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyusul ke gua di gunung Tsaur, mereka bersembunyi disitu tiga malam. Abdullah bin Abu Bakar, seorang pemuda yang cerdik lagi cepat pemahamannya, ikut bermalam di sisi mereka berdua. Ia keluar dari sisi mereka berdua pada waktu sahur, lalu pagi harinya ia berkumpul dengan orang-orang Quraisy di Makkah seperti layaknya orang yang bermalam. Ia tidak mendengar sesuatu (rahasia) yang akan memperdayakan mereka berdua, kecuali ia menjaganya sampai ia membawa berita itu kepada keduanya di saat malam mulai kelam. Amir bin Fuhairah, bekas hamba Abu Bakar, menggembalakan kambing untuk diperah susunya bagi keduanya, lalu ia menggandengkan kambing itu di dekat mereka berdua di saat sebagian waktu Isya telah lewat. Maka keduanya bermalam dengan mendapat susu segar, yaitu susu kambing perahannya dan susu yang dicelup batu panas, hingga Amir bin Fuhairah menyeru pada kambing itu pada waktu menjelang fajar. Ia melakukan hal itu setiap malam selama tiga malam. Rasulullah SAW dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki Bani Daiyl, yaitu dari Bani Abd bin Adiy untuk menjadi pemandu yang ahli, padahal ia telah bersumpah pada keluarga Ash bin Wail As Sanmiy. Ia adalah pemeluk agama orang-orang kafir Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya. Lalu keduanya menyerahkan kedua untanya kepadanya dan menjanjikan dia di gua Tsaur setelah tiga malam dengan membawa kedua unta mereka pada subuh, hari ketiga. Dan berangkatlah Amir bin Fuhairah dan pemandu itu bersama mereka berdua (Rasulullah dan Abu Bakar), lalu pemandu itu mengambil jalan pantai bersama mereka.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mendapat rintangan ketika dalam perjalanan menuju ke Madinah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW mendapat rintangan ketika dalam perjalanan ke Madinah, tapi beliau dilindungi oleh Allah SWT. Contoh, pemuka kaum kafir musyrik mengetahui orang-orang beriman telah hijrah ke Madinah, dan Rasulullah SAW pula akan berhijrah. Mereka memerintahkan kaumnya untuk menangkap Rasulullah SAW, sehingga kaumnya lalu mencari Rasulullah SAW yang ketika itu sedang bersembunyi di gua (dalam perjalanan ke Madinah). Tapi mereka tidak dapat menjumpai Rasulullah SAW karena beliau dilindungi oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Abu Bakar, ia berkata: Saya bersama Rasulullah SAW di sebuah gua, lalu saya mengangkat kepala, tiba-tiba saya berada di bawah telapak kaki kaum. Saya berkata: Wahai Rasulullah, seandainya sebagian dari mereka ada yang menundukkan pandangannya, maka ia dapat melihat kita.” Beliau bersabda: Diamlah wahai Abu Bakar, kita berdua, Allah adalah yang ketiganya (penolongnya).” HR Bukhari)

 

Allah SWT membenarkan perlindungan-Nya terhadap Rasulullah SAW itu. Allah SWT berfirman:

 

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang yang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. (At Taubah 40)

 

Contoh rintangan lainnya, pemuka kaum kafir musyrik Mekkah membuat sayembara berhadiah bagi siapa yang dapat menangkap Rasulullah SAW. Orang-orang kafir lalu berlumba-lumba mencari Rasulullah SAW. Salah satu dari mereka menjumpai Rasulullah SAW, tapi Allah SWT melindungi beliau sehingga orang kafir itu justru menjaga beliau hingga selamat sampai di Madinah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Suraqah bin Jusyum berkata: Beberapa utusan orang-orang kafir Quraisy datang kepada kami, mereka membuat sayembara dengan memberi hadiah kepada siapa saja yang dapat membunuh atau menawan Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Ketika aku duduk di salah satu tempat pertemuan kaumku Bani Mudlij, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari mereka, sehingga ia berdiri di depan kami, padahal kami sedang duduk. Ia berkata: Wahai Suraqah, sungguh aku telah melihat beberapa orang di pantai, aku menduga itulah Muhamamd dan sahabat-sahabatnya.” Suraqah menjawab: Saya tahu bahwa mereka adalah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, lalu saya berkata: Sesungguhnya mereka bukanlah Rasulullah dan sahabatnya, tetapi engkau melihat si fulan dan fulan yang pergi dengan (mendapat) pengawasanku. Kemudian aku diam di tempat pertemuan itu sesaat, lalu berdiri, masuk dan menyuruh hamba perempuanku untuk keluar membawa kudaku, yaitu dari balik bukit, lalu menahannya untukku. Aku mengambil lembingku, lalu membawanya keluar dari belakang rumah. Dan aku meletakkan ujung bawah lembing itu di tanah dan merendahkan ujung atasnya sehingga aku sampai pada kudaku, lalu menungganginya. Aku mempercepat (lari) kuda itu agar membawaku berjalan selekasnya, sehingga aku dapat mendekati mereka (Rasulullah dan sahabatnya). Selanjutnya kudaku tergelincir dan aku tersungkur. Aku bangun dan menggapaikan tangan ke tempat anak panahku, lalu mengeluarkan beberapa anak panah dari situ. Dan aku mencari penjelasan dengan cara (mengundi) anak panah itu, apakah aku dapat membuat mereka sengsara ataukah tidak. Maka keluarlah apa yang tidak aku sukai. Kemudian aku menunggang kudaku, sedang aku tidak percaya lagi pada (undian) anak panah itu, agar membawaku berjalan selekasnya. Sehingga ketika aku mendengar bacaan Rasulullah SAW, beliau tidak menoleh, sedang Abu Bakar sering kali menoleh, maka kaki depan kudaku terperosok di dalam tanah, hingga mencapai kedua lututnya dan aku terpelanting dari atasnya. Kemudian aku menghalaunya, maka ia bangkit dan hampir saja ia tidak dapat mengeluarkan (mencabut) kedua kaki depannya. Ketika ia kembali berdiri tegak, tiba-tiba pada bekas kedua kakinya itu ada debu yang bertebaran di langit bagaikan asap. Lalu aku mencari penjelasan dengan cara (mengundi) anak panah, maka keluarlah apa yang tidak aku sukai. Aku menyeru kepada Rasulullah dan sahabatnya dengan (meminta) jaminan keamanan, lalu mereka berhenti. Kemudian aku menunggang kudaku, hingga sampai kepada mereka. Dan ketika aku temui suatu peristiwa, yaitu tertahan dari mereka, terbetiklah dalam hatiku bahwa kelak urusan Rasulullah SAW akan menang. Aku berkata kepada beliau: “Sesungguhnya kaummu telah menyayembarakan hadiah disebabkan engkau.” Lalu aku menceriterakan kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tentang apa yang diinginkan semua orang terhadap mereka. Aku menawarkan perbekalan dan harta kepada mereka, tapi me­reka berdua tidak mengurangi (apapun yang ada pada)ku. Dan mereka berdua tidak menanyakan (apapun) kepadaku, beliau hanya berkata: Rahasiakanlah diri kami.” Lalu aku meminta kepada beliau untuk menulis surat jaminan keamanan, maka beliau menyuruh Amir bin Fuhairah, ia menulis pada lembar kulit yang telah disamak. Kemudian Rasulullah SAW berlalu.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW menuju ke Madinah dengan membonceng Abu Bakar. Abu Bakar adalah orang tua yang dikenal, sedang Rasulullah SAW adalah pemuda yang tidak dikenal.” Anas berkata: Lalu ada seorang laki-laki bertemu Abu Bakar dan bertanya: Wahai Abu Bakar, siapakah lelaki yang ada di depan­mu? Ia menjawab: Ini adalah lelaki yang menunjukkan jalan kepada­ku.” Anas berkata: Seseorang menduga bahwa yang ia kehendaki adalah jalan, yakni jalan kebajikan.” Kemudian Abu Bakar menoleh, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda yang pernah bertemu mereka (Rasulullah dan sahabat-sahabatnya). Lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, ini adalah se­orang penunggang kuda yang pernah bertemu dengan kita.” Rasulullah SAW menoleh, lalu bersabda: Wahai Allah, pelantingkanlah dia.” Maka ia dipelantingkan kuda(nya). Kemudian kuda itu berdiri sambil meringkik. Lelaki itu (Suraqah) berkata: Wahai Rasulullah perintahkanlah kepada­ku apa saja yang engkau kehendaki.” Beliau menjawab: Berhentilah di tempatmu, janganlah engkau membiarkan seseorang bertemu dengan kami.” Anas berkata: Maka ia (Suraqah) berjuang untuk Rasulullah SAW di awal hari dan sebagai penjaga beliau (dari mara bahaya) di akhir hari.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW ketika sampai di Madinah?”

 

Mudariszi: “Dalam perjalanan, Rasulullah SAW dan Abu Bakar berjumpa dengan orang-orang beriman yang baru kembali dari Syam. Mereka lalu bersama-sama ke Madinah. Sesampai di Madinah, Rasulullah SAW dan rombongannya disambut oleh para Muhajirin (orang-orang beriman Mekkah yang hijrah lebih dahulu) dan Anshar (orang-orang beriman Madinah) serta penduduk Madinah lainnya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Urwah bin Zubair menceriterakan, bahwasanya Rasulullah SAW bertemu Zubair di kafilah orang-orang Islam, mereka adalah para saudagar yang kembali dari Syam. Zubair memakaikan pakaian putih kepada Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Orang-orang muslim Madinah telah mendengar keberangkatan Rasulullah SAW dari Makkah. Mereka pergi pagi hari setiap pagi ke gurun berbatu hitam, mereka menantikan beliau, sehingga mereka pulang karena teriknya tengah hari. Pada suatu hari mereka pulang, setelah lama menantikannya. Dan ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, maka ada seorang laki-laki Yahudi naik ke atas benteng untuk sesuatu urusan yang akan dilihatnya. Lalu ia melihat Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya berpakaian putih-putih. Fatamorgana menjadi hilang (dari pandangan) sebab mereka tampak. Orang Yahudi itu tidak mampu (menahan diri) untuk berseru dengan suaranya yang keras: Wahai golongan orang-orang Arab, inilah pemimpinmu yang kalian nanti-nantikan.” Lalu orang-orang muslim berhamburan menuju senjatanya, mereka menemui Rasulullah di tengah gurun berbatu hitam. Beliau berjajar dengan mereka di sebelah kanan, sehingga beliau beserta sahabat-sahabatnya singgah di (rumah) Bani Amr bin Auf. Waktu itu pada hari Senin bulan Rabiul Awal. Kemudian Abu Bakar berdiri (menghadap) semua orang, sedang Rasulullah SAW duduk sambil diam. Maka mulailah orang-orang Anshar berdatangan, yaitu mereka yang be­lum pernah melihat Rasulullah, menghormat Abu Bakar, sampai matahari menyoroti Rasulullah. Lalu Abu Bakar menghadap sehingga menaungi beliau (dari sinar matahari) dengan selendangnya. Maka orang-orang baru mengenal Rasulullah SAW pada saat itu.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW berhenti di sebelah gurun berbatu hitam, lalu mengirim perutusan ke sahabat-sahabat Anshar. Mereka datang kepada Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Mereka mengucapkan salam kepada keduanya dan me­reka berkata: Menungganglah engkau berdua dengan aman lagi dipa­tuhi.” Maka Rasulullah SAW beserta Abu Bakar menunggang (unta) dan mere­ka mengelilingi keduanya dengan senjata. Lalu di Madinah diberitakan: “Rasulullah sudah datang.” Mereka naik ke atas sambil melihat dan berkata: “Rasulullah sudah datang.” Beliau berjalan hingga berhenti di sebelah rumah Abu Ayyub. Sesungguhnya beliau sedang menceriterakan keluarganya, tiba-tiba Abdullah bin Salam mendengarkannya ketika ia berada di pohon kurma milik keluarganya seraya memetik buah untuk mereka. Ia bergegas meletakkan apa yang dipetiknya untuk mereka di (sebelah rumah) itu, lalu datang dengan membawa (hasil petikan)nya. Ia mendengar Rasulullah SAW, kemudian kembali kepada keluarganya. Rasulullah SAW bertanya: Manakah rumah keluarga kami yang ter­dekat? Abu Ayyub menjawab: Saya, wahai Rasulullah, ini rumahku dan ini pintuku.” Beliau bersabda: Pergilah, dan siapkanlah tempat tidur siang untuk kami.” Ia berkata: Berdirilah kalian berdua dengan men­dapat berkah Allah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan setelah di Madinah?”

 

Mudariszi: “Ketika sampai di Madinah, Abu Bakar dan seorang Muhajirin terkena sakit. Para Muhajirin pula selalu teringat Mekkah kampung halamannya. Hal itu membuat Rasulullah SAW lalu berdoa kepada Allah SWT, sebagai berikut:

 

Dari Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW datang di Madinah, Abu Bakar dan Bilal terkena sakit demam.” Aisyah ber­kata: Lalu aku masuk kepada keduanya lalu aku bertanya: Wahai ayah­ku, bagaimanakah keadaanmu? Dan wahai Bilal, bagaimanakah keadaanmu? Aisyah berkata: Ketika Abu Bakar terkena sakit demam, maka ia berkata: Setiap orang mendapat musibah kematian di pagi hari, sedangkan kematian adalah lebih dekat dari pada permukaan terompah­nya.” Dan ketika Bilal sembuh dari sakit demamnya, maka ia mengeraskan suara seduh sedannya dan berkata: Ingatlah, hai kiranya syairku, dapat­kah pada suatu malam aku bermalam di lembah (Makkah), sedang di sekelilingku ada rumput alang-alang dan tumbuhan Jalil. Dapatkah pada suatu hari aku sampai di Miyah Majinnah dan apakah tampak kepadaku gunung Syamah dan Thafil? Aisyah berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW lalu memberitahu­kan beliau. Maka beliau bersabda: Wahai Allah, jadikanlah kami me­ncintai Madinah seperti rasa cinta kami akan kota Makkah atau (bahkan) melebihinya, berilah kesehatan padanya, berkahilah sha dan mudnya untuk kami dan pindahkanlah wabah demamnya ke Juhfah.” (HR Bukhari)

 

Setelah menetap di Madinah beberapa hari, Rasulullah SAW lalu membangun mesjid pertama (mesjid Quba) yang didasari atas ketakwaan. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Rasulullah SAW tinggal di Bani Amr bin Auf sepuluh malam lebih sedikit dan dibangunlah sebuah masjid yang didasari ketaqwaan dan Rasulullah SAW shalat di dalamnya. (HR Bukhari)

 

Allah SWT membenarkan mesjid tersebut dan menyukainya; hal itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (At Taubah 108)

 

Setelah itu, Rasulullah SAW lalu membangun mesjid Rasulullah atau mesjid Nabawi, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aisyah isteri Rasulullah SAW, ia berkata: Selanjutnya beliau menunggang untanya berjalan bersama orang-orang itu, sampai untanya menderum di Masjidir Rasul SAW di Madinah. Disanalah orang-orang muslim menjalankan shalat pada saat itu. Dulu tempat (masjid) itu adalah tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, yaitu dua anak yatim di bawah perwalian Sa’ad bin Zurarah. Pada saat untanya menderum, Rasulullah SAW bersabda: Insya Allah, inilah rumah itu.” Kemudian Rasulullah SAW memanggil kedua anak yatim itu, lalu beliau menawar tempat penjemuran kurma untuk dijadikan masjid. Kedua anak itu menjawab: “Tidak, bahkan kami menghibahkannya kepa­damu, wahai Rasulullah.” Rasulullah enggan menerimanya sebagai hibah, sampai beliau dapat membelinya dari kedua anak itu. Kemudian beliau membangun tempat itu sebuah masjid dan mulailah Rasulullah SAW ber­sama sahabat-sahabatnya memindahkan batu bata untuk membangunnya. Beliau bersabda, sambil memindahkan batu bata itu: Barang yang di­bawa ini (batu bata) bukanlah barang bawaan dari Khaibar, ini adalah lebih baik dan lebih suci, wahai Tuhanku.” Dan beliau bersabda: Wahai Allah, sesungguhnya pahala itu ialah pahala akhirat, maka kasihanilah orang-orang Anshar dan Muhajir.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, maka beliau singgah di perbukitan Madinah pada sebuah kabilah yang disebut dengan Bani Amr bin Auf. Anas berkata: Lalu beliau menetap di kabilah itu selama empat belas malam. Kemudian beliau mengirim perutusan ke kelompok Bani Najjar.” Ia berkata: Mereka datang dengan menyandang pedangnya. Ia berkata: Sepertinya aku melihat Rasulullah SAW di atas untanya, sedang Abu Bakar mem­boncengnya dan kelompok Bani Najjar ada di sekeliling beliau, sehingga aku sampai di halaman rumah Abi Ayyub.” Ia berkata: Lalu beliau shalat sekiranya telah tiba waktu shalat, beliau shalat di kandang kambing.” Ia berkata: “Kemudian beliau memerintahkan membangun masjid. Beliau mengirim perutusan ke kelompok Bani Najjar, lalu mereka da­tang.” Beliau bersabda: Wahai Bani Najjar, tawarkanlah harga kebunmu ini.” Mereka menjawab: Tidak, Demi Allah, kami tidak mengharapkan harganya, hanya kepada Allah.” Anas berkata: Di kebun itu ada sesuatu yang aku katakan padamu, yaitu pekuburan orang-orang musyrik, beberapa lubang di tanah dan beberapa pohon kurma. Maka Rasulullah SAW mmemerintahkan agar pekuburan orang-orang musyrik dibongkar, lubang­-lubang di tanah diratakan dan pohon-pohon kurma ditebang.” Anas ber­kata: “Lalu mereka membaris pohon kurma itu di kiblat masjid.” Ia ber­kata: Mereka membuat kedua kusen pintunya dengan batu.” Ia berkata: “Mulailah mereka memindahkan batu-batuan itu sambil bernyanyi not Rajaz, Rasulullah SAW bersama mereka mengucapkan: “Wahai Allah, tiada kebaikan melainkan kebaikan akhirat, maka berilah pertolongan kepada orang-orang Anshar dan orang-orang Muhajir.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Bagaimana penerimaan orang-orang Anshar dan penduduk Madinah lainnya terhadap orang-orang Muhajirin (dari Mekkah)?”

 

Mudariszi: “Hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Barra bin Azib, ia berkata: Orang yang pertama ka­li datang kepada kami ialah Mushab bin Umair dan putera Umi Mak­tum, keduanya mengajarkan bacaan Al Quran kepada orang-orang. Lalu Bilal, Sa’ad dan Ammar bin Yasir datang, kemudian Umar datang ber­sama dua puluh sahabat-sahabat Rasulullah SAW, berikutnya Rasulullah SAW datang. Saya tidak pernah melihat penduduk Madinah bergembira seperti kegem­biraan mereka bertemu dengan Rasulullah SAW sehingga para hamba wanita berkata: Rasulullah SAW telah datang.” Beliau tidak datang, sam­pai aku membaca: Sabbihisma Rabbikal A’laa“, pada beberapa surah yang terpisah-pisah.” (HR Bukhari)

 

Orang-orang Anshar yang mengetahui orang-orang Muhajirin tidak memiliki harta, lalu memberikan sebagian hartanya kepada mereka. Rasulullah SAW mempersaudarakan orang-orang Mujahirin dengan orang-orang Anshar serta mengatasi semua permasalahan yang timbul di antara kedua golongan itu berdasarkan Islam. Contoh seperti dijelaskan sunah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia bercerita bahwa sahabat Anshar ber­kata: Bagi-bagilah pohon kurma antara kita dan mereka (Muhajirin). Be­liau menjawab: Tidak.” Beliau bersabda: Kalian mencukupi kami akan pemeliharaannya dan bersekutu dengan kami akan buahnya.” Mereka menjawab: Kami mendengar dan patuh.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, ia berkata: Ke­tika mereka (Muhajirin) tiba di kota Madinah, maka Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Abdurrahman (bin Auf) dan Sa’ad bin Rabi.” Ia berkata kepada Abdurrahman: Sesungguhnya aku adalah golongan Anshar yang terbanyak hartanya, maka bagilah hartaku dua bagian. Dan aku memiliki dua orang isteri, lihatlah yang lebih mengagumkan padamu dari keduanya, lalu sebutkan namanya kepadaku, maka aku akan men­ceraikannya. Kemudian jika sudah habis masa iddahnya, maka kawinilah ia.” (Abdurrahman) berkata: Semoga Allah memberkahimu pada ke­luarga dan hartamu, di manakah pasarmu? Mereka menunjukkannya pada pasar Bani Qainuqa. Ia tidak kembali, hanya setelah membawa kelebihan keju dan minyak samin. Kemudian ia mengulangi (ke pasar) di pagi hari. Kemudian pada suatu hari ia datang, seraya pada (pakaian)nya terdapat bekas warna kuning. Rasulullah SAW bertanya: Apakah ini? Ia menjawab: Saya telah kawin.” Beliau bertanya: Berapakah engkau me­nyerahkan maskawin kepadanya? Ia menjawab: Satu biji kurma dari emas atau seberat satu biji kurma dari emas.” Ibrahim bimbang. (HR Bukhari)

 

Allah SWT membenarkan kebaikan orang-orang Anshar terhadap orang-orang Muhajirin itu sebagai berikut:

 

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Hasyr 9)

 

Hingga Rasulullah SAW lalu menjelaskan tentang orang-orang Anshar tersebut sebagai berikut:

 

Dari Abu Usaid, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik tempat tinggal sahabat Anshar ialah Bani Najjar, Bani Abdil Asyhal, Bani Harits bin Khazraj, lalu Bani Saidah. Dan pada setiap tempat tinggal sahabat Anshar terdapat keutamaan.” Sa’ad bin Ubadah berkata (dia ada­lah pendahulu dalam Islam): Aku meyakini Rasulullah SAW telah meng­utamakan atas kita.” Lalu dikatakan kepadanya: Beliau telah mengutamakan kalian atas orang banyak.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Humaid dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Se­sungguhnya sebaik-baik tempat tinggal sahabat Anshar ialah tempat ting­gal Bani Najjar, (Bani) Abdil Asyhal, tempat tinggal Bani Harits, lalu Bani Saidah. Dan pada setiap tempat tinggal sahabat Anshar terdapat keutamaan.” Kemudian kami menemui Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu ia berkata: Wahai Abu Usaid, tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah SAW melebih utamakan (sebagian) sahabat Anshar, lalu beliau menjadikan kita yang akhir? Kemudian Sa’ad menemui Rasulullah SAW seraya berkata: Wahai Rasulullah, tempat tinggal sahabat Anshar dilebih utamakan (sebagian atas yang lainnya), lalu kami dijadikan yang akhir.” Beliau bersabda: Ti­dakkah cukup bagimu untuk menjadi orang-orang utama.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para Muhajirin ke Madinah itu merupakan peristiwa penting bagi umat Rasulullah (Islam)?”

 

Mudariszi: “Ya! Karena Rasulullah SAW dan orang-orang beriman (Muhajirin) tertindas selama dua atau tiga belas tahun di Mekkah oleh orang-orang kafir musyrik yang tidak menyukai agama Allah. Mereka menjalani hidupnya, termasuk menjalani agama-Nya, dalam keadaan ketakutan. Meskipun demikian iman mereka tidak goyah, bahkan menguat karena mereka menyaksikan kebenaran penjelasan Al Qur’an atas perbuatan orang-orang kafir musyrik tersebut. Rasulullah SAW pula kesulitan menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada penduduk Mekkah dan sekitarnya, tetapi beliau dan orang-orang beriman tetap bersabar dan bertakwa kepada-Nya. Orang-orang beriman di Madinah (Anshar) pula menjalani hidupnya dengan tetap memegang teguh agama-Nya meskipun mereka hidup jauh dari Rasulullah SAW dan tidak menyaksikan turunnya wahyu-wahyu-Nya (ayat-ayat Al Qur’an). Pada waktunya Allah SWT mempertemukan orang-orang Anshar dengan Rasulullah SAW dan orang-orang Muhajirin melalui hijrah. Hijrah itu menjadikan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar menjalani hidupnya di jalan-Nya yang lurus dengan memegang teguh agama-Nya serta membantu Rasulullah SAW dalam menyempurnakan penyampaian (penjelasan) Al Qur’an dan agama-Nya termasuk menegakkan agama-Nya. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Khabbab, ia berkata: Kami pernah berhijrah bersama Rasulullah SAW demi mengharapkan ridha Allah dan menyerahkan pahala kami kepada Allah.” (HR Bukhari)

 

Dari Aisyah, bahwasanya Sa’ad berkata: Wahai Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tiada seorangpun yang lebih aku sukai untuk memeranginya di dalam (membela agama)Mu dari pada kaum yang mendustakan utusan-Mu dan mengusirnya. Wahai Allah, sesungguhnya aku menduga bahwa Engkau telah menghentikan peperangan antara kami dan mereka.” Aisyah meriwayatkan: Dari pada kaum yang mendustakan NabiMu dan mengeluarkannya dari suku Quraisy.” (HR Bukhari)

 

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata: Saya bersama-sama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah, kami bertanya kepadanya tentang hijrah.” Lalu ia menjawab: Tiada hijrah lagi hari ini, dulu salah seorang dari orang-orang beriman lari dengan (membawa) agamanya ke­pada Allah dan Rasul-Nya SAW karena takut difitnah. Adapun pada hari ini Allah telah menampakkan Islam. Pada hari ini ia dapat beribadah kepada Tuhannya dimanapun ia menghendaki. Tetapi adalah jihad dan niat.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Said, ia berkata: Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah SAW, ia bertanya kepada beliau tentang hijrah. Lalu beliau bersabda: Kasihan sekali kamu, sesungguhnya hijrah itu amat sulit, ma­ka apakah engkau memiliki unta? Ia menjawab: Ya.” Beliau bertanya: “Engkau telah memberikan sedekahnya (zakatnya)? Ia menjawab: Ya.” Beliau bertanya: Apakah engkau telah memberikan air susunya (kepada orang lain)? Ia menjawab: Ya.” Beliau bertanya: Apakah engkau me­merah pada hari mengalir (susu)nya? Ia menjawab: Ya. Beliau ber­sabda: Bekerjalah dari belakang lautan, sesungguhnya Allah tidak akan mengurangi sedikitpun dari (pahala) amalmu.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT membenarkan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang terlibat dalam hijrah tersebut dan dalam peristiwa membantu Rasulullah SAW ketika menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama-Nya sejak hijrah. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Mujahirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal 72)

 

Pentingnya peristiwa hijrah itu lalu membuat umat Islam menetapkan penanggalan (tanggal, hari, bulan) Islam dari kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, dan hal itu dijelaskan dalam sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Mereka tidak menghitung tanggal (hari bulan) mulai dari diutusnya Rasulullah SAW dan dari wafat be­liau, mereka tidak menghitungnya melainkan mulai dari kedatangan beliau di Madinah.” (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply