Dialog Seri 10: 53
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang musyrik terhadap Allah SWT yang menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Orang-orang musyrik heran dengan Tuhan menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Mengapa Al Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita? (Shaad 8)
Menurut orang-orang musyrik, Rasulullah SAW hanya manusia biasa yang bukan pemuka kaum, sehingga mereka berpendapat bahwa Tuhan seharusnya menurunkan Al Qur’an kepada salah satu dari pemuka kaum. Mereka tidak memahami tentang Tuhan dan mereka hanya menuruti hawa nafsunya dalam memutuskan suatu perkara. Mereka menyamakan Tuhan itu seperti manusia (mereka), yaitu sama-sama penguasa. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif)?” (Az Zukhruf 31)
Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az Zukhruf 32)
Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui firman-Nya di atas agar mereka berfikir dengan benar dan mengetahui bahwa Allah SWT adalah Tuhan Pencipta dan Pemilik semesta alam beserta apa yang ada di semesta alam, sehingga Dia-lah yang paling berhak menetapkan dan memutuskan segala sesuatu terhadap ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman:
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. (Al A’raaf 54)
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah. (Yusuf 67)
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (Al An’aam 57)
Allah SWT menghendaki dengan penjelasan-Nya di atas agar mereka berfikir dengan benar supaya mereka tidak lagi menetapkan Tuhan dan agama menurut hawa nafsunya.”
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang musyrik terhadap Al Qur’an yang Allah SWT turunkan?”
Mudariszi: “Orang-orang musyrik menganggap Al Qur’an itu sihir yang diada-adakan (dibuat) oleh manusia, sehingga mereka mengingkarinya. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (Al Muddatstsir 18-25)
Dan mereka berkata: “(Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Saba’ 43)
Tetapi Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan Bapak-Bapak mereka sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al Qur’an) dan seorang Rasul yang memberi penjelasan. Dan tatkala kebenaran (Al Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata: “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.” (Az Zukhruf 29-30)
Mereka tidak dapat memikirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan bahasanya yang teratur dan padat dengan makna kebenaran, sehingga mereka lalu menyimpulkan Al Qur’an tersebut menurut hawa nafsunya yaitu, sihir.”
Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik menuduh Rasulullah SAW sebagai pembuat Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang musyrik menuduh Al Qur’an itu dibuat oleh Rasulullah SAW dengan dibantu oleh orang-orang lain. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” (As Sajdah 3)
Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.” (Al Furqaan 4)
Dan yang mengakibatkan orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab).” (Al An’aam 105)
Anggapan mereka bahwa Al Qur’an dibuat oleh Rasulullah SAW, membuat mereka lalu beranggapan dan menuduh beliau sebagai berikut:
Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” (Asy Syuura 24)
Allah SWT kemudian perintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman-Nya berikut ini kepada mereka sebagai bantahan terhadap semua anggapan dan tuduhan mereka itu:
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam (bahasa Arab yang sedikit), sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. (An Nahl 103)
Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Huud 13)
Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Qur’an).” Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahqaaf 8)
Dan Allah SWT menegaskan kembali kepada mereka, sebagai berikut:
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. (Al Haaqqah 44-47)
Penjelasan Allah (firman-firman-Nya) yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tersebut di atas bertujuan agar mereka memikirkannya dengan benar tanpa harus menuruti hawa nafsunya sebelum menuduh (memutuskan) sesuatu tanpa bukti-bukti yang jelas.”
Tilmidzi: “Jika orang-orang musyrik mengatakan Al Qur’an itu sihir, apakah Rasulullah SAW dikatakan oleh mereka sebagai ahli sihir?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.” (Yunus 2)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik menuduh Rasulullah SAW itu sebagai orang gila?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.” (Al Hijr 6)
Padahal orang-orang musyrik itu mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah seorang yang jujur dan tidak gila. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (Al A’raaf 184)
Alasan yang sebenarnya mereka mengatakan Rasulullah SAW itu orang gila adalah sebagai berikut:
Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.” Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran. (Al Mu’minuun 70)
Mereka seharusnya mengakui semua kesalahan mereka yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Penjelasan Al Qur’an dan Rasulullah SAW itu bukan untuk mencela dan menghukum mereka, tapi untuk kebaikan mereka, yaitu untuk memperbaiki dirinya ketika menjalani hidupnya di dunia. Jika mereka tidak mau mengakui kesalahannya, mereka cenderung akan berbuat kesalahan lainnya, misalnya mereka menuduh lagi Rasulullah SAW sebagai penyair gila. Mereka menuduh demikian, karena mereka mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu seperti syair. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran. (Ash Shaaffaat 36-37)
Karena itu Allah SWT lalu membantah tuduhan mereka, sebagai berikut:
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi peringatan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (Yaasiin 69-70)
Allah SWT kemudian menguatkan hati Rasulullah SAW dan memerintahkan beliau sebagai berikut:
Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (Ath Thuur 29)
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang musyrik terhadap agama Allah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an?”
Mudariszi: “Orang-orang musyrik heran dan tidak paham dengan agama Allah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad 4-5)
Mereka seharusnya memikirkan agama Allah yang hanya menyembah satu Tuhan saja dan membandingkannya dengan agama mereka yang menyembah lebih dari satu Tuhan agar mereka mengetahui agama Tuhan yang benar, jika mereka ingin menghetahuinya. Tapi jika mereka langsung mengatakan Rasulullah SAW berdusta, maka jelas mereka tidak mau mengetahuinya, sehingga wajar mereka langsung menuduh Rasulullah SAW ingin menyesatkan mereka dari agamanya. Dan wajar pula mereka menyuruh kaumnya untuk tetap menyembah tuhan-tuhan mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.” (Al Furqaan 41-42)
Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (meng-Esa–kan Allah) tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (Shaad 6-7)
Mereka tetap tidak mau memikirkan (mengetahui) agama-Nya meskipun Rasulullah SAW dan Al Qur’an telah menjelaskan kepada mereka bahwa kitab agama mereka itu bukan dari Allah SWT tapi dibuat oleh manusia. Dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur’an lalu mereka berpegang dengan kitab itu? (Az Zukhruf 21)
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun. (Saba’ 44)
Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. (Al Hajj 71)
Jika mereka mau mengetahui agama-Nya melalui penjelasan Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka akan mengetahui bahwa kitab agama mereka itu dibuat oleh manusia. Tapi mereka tidak mau memikirkannya dan langsung menolaknya. Dan penolakan mereka itu tidak berbeda dengan penolakan orang-orang musyrik di masa Rasul-Rasul sebelum Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati Bapak-Bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati Bapak-Bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (Az Zukhruf 23-25)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati Bapak-Bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al Maa-idah 104)
Tilmidzi: “Bagaimana tanggapan orang-orang musyrik ketika mereka diajak untuk menyembah Allah SWT saja dan tidak menyekutukan-Nya?”
Mudariszi: “Ketika orang-orang musyrik diajak untuk hanya menyembah Allah SWT saja, maka mereka mengatakan sebagai berikut:
Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan Bapak-Bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakan kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.” (Al An’aam 148-149)
Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. (Az Zukhruf 20)
Orang-orang musyrik menolak ajakan untuk menyembah Allah SWT saja; mereka hanya mau menyembah tuhan-tuhan (patung-patug) mereka. Hal itu membuat mereka tidak akan pernah mengetahui Tuhannya dengan benar. Mereka menyamakan cara berfikir Allah SWT dengan cara berfikir mereka, sehingga mereka beranggapan kehendak Allah SWT itu seperti kemauan mereka. Misal, jika mereka melakukan perbuatan keji atau menetapkan hukum-hukum, maka mereka beranggapan itu terjadi karena Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Al A’raaf 28)
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus 59)
Mereka beranggapan bahwa apapun yang mereka lakukan, baik dalam menyembah Tuhan ataupun berbuat baik atau berbuat jahat, maka itu karena Tuhan. Sehingga Allah SWT lalu menjelaskan tentang orang-orang musyrik tersebut sebagai berikut:
Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami yang tetap berlaku sampai hari kiamat, sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar. (Al Qalam 36-41)
Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (Al Furqaan 33)
Allah SWT menghendaki dengan penjelasan-Nya yang berupa pertanyaan-pertanyaan itu, yaitu agar mereka kembali berfikir dengan benar dan tanpa menuruti hawa nafsunya.”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah yang orang-orang musyrik itu lakukan terhadap Rasulullah SAW ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: “Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu (ayat-ayat Al Qur’an) padahal kamu menyaksikan?” (Al Anbiyaa 2-3)
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh Bapak-Bapakmu.” (Saba’ 43)
Sebagian dari orang-orang musyrik itu melakukan perbuatan sebagai berikut:
Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat 26)
Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (Al An’aam 26)
Ada pula orang-orang musyrik yang memperolok-olokan Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.” (Al Anfaal 31)
Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan. (Al An’aam 5)
Karena itu Allah SWT mengancam mereka dengan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (Al Hijr 95-96)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik itu meminta perkara-perkara yang ganjil kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, orang-orang musyrik meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau merubah ayat-ayat Al Qur’an yang sesuai dengan keinginan mereka. Allah SWT lalu perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:
Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur’an kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.” (Al A’raaf 203)
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).” (Yunus 15)
Contoh lain, mereka meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau mendatangkan mu’jizat-Nya, seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam Kitab-Kitab yang terdahulu? (Thaahaa 133)
Bahkan mereka berkata (pula): “(Al Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat sebagaimana Rasul-Rasul yang telah lalu diutus.” (Al Anbiyaa 5)
Allah SWT lalu kembali perintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:
Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? (Al ’Ankabuut 50-51)
Tidak puas dengan penjelasan-Nya di atas, mereka lalu meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendatangkan malaikat dan untuk dapat melihat Allah SWT. Hingga Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:
Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?” (Al Hijr 6-7)
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. (Al Furqaan 21)
Akhirnya mereka meminta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk mendatangkan azab-Nya guna membuktikan kebenaran Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Allah SWT lalu menjelaskan tentang perkara itu kepada mereka sebagai berikut:
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang (sebahagian dari) mereka meminta ampun. (Al Anfaal 32-33)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang zalim.” (Al An’aam 57-58)
Dan Allah SWT kemudian menjelaskan kepada mereka sebagai berikut:
Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mu’jizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya. (Asy Syu’araa’ 4)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang musyrik itu mengingkari Allah SWT, agama-Nya, Al Qur’an, Rasulullah SAW karena (bisikan) syaitan?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan (atau jin-jin kafir) mengetahui Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk menjelaskan Al Qur’an dan agama-Nya. Syaitan tidak ingin orang-orang musyrik itu mengikuti agama-Nya dengan beriman kepada Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Syaitan ingin agar orang-orang musyrik itu tetap menyembah tuhan berhala atau menyekutukan-Nya. Karena itu syaitan menghalang-halangi mereka dari mendengarkan Rasulullah SAW dan Al Qur’an, dan syaitan menghasut mereka agar tidak menyukai agama-Nya. Syaitan berhasil melakukannya sehingga mereka lalu mengingkari (mendustakan) Allah SWT, Al Qur’an, Rasulullah dan mereka membenci (atau tidak menyukai) agama-Nya. Contoh orang-orang musyrik mengingkari Rasulullah SAW karena syaitan, yaitu sebagai berikut:
Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (Adz Dzaariyaat 52-53)
Allah SWT bertanya dalam firman-Nya di atas yaitu, apakah mereka saling berpesan, maka itu bukanlah orang-orang musyrik yang saling berpesan, karena orang yang telah mati tidak dapat berpesan kepada orang yang hidup. Itu adalah karena syaitan yang menghasut orang-orang musyrik di masa Rasulullah SAW dengan hasutan yang sama terhadap orang-orang musyrik di masa Rasul-Rasul sebelumnya. Sehingga itu menunjukkan bahwa tuduhan buruk orang-orang musyrik terhadap Rasulullah SAW itu berasal dari syaitan. Syaitan terus menghasut orang-orang kafir itu dengan bisikan-bisikan jahatnya agar mereka tetap tidak dapat berfikir dengan benar dan tetap membenarkan ucapan dan perbuatan mereka yang buruk. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (Al ‘Ankabuut 38)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az Zukhruf 37)
Ucapan dan perbuatan orang-orang musyrik yang buruk itu menjadi bukti bahwa mereka telah mengingkari Allah SWT, Al Qur’an dan Rasulullah SAW, dan menjadi bukti pula bahwa mereka mengikuti syaitan, karena mereka tetap menyembah tuhan (patung) berhala atau menyekutukan-Nya. Mereka menjadi orang-orang kafir dan Allah SWT menjelaskan tentang mereka, sebagai berikut:
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad 14)
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? (Al Qalam 35)
Wallahu a’lam.