Dialog Seri 10: 60
Tilmidzi: “Apakah di antara penduduk Madinah itu terdapat Ahli Kitab?”
Mudariszi: “Di Madinah terdapat Ahli Kitab, misalnya orang-orang Yahudi yang merupakan keturunan Bani Israil. Mereka di Madinah terdiri dari beberapa suku yang tinggal di berbeda tempat. Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, misalnya mendapati mereka sedang berpuasa, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura, kemudian mereka ditanya tentang hal itu.” Mereka menjawab: “Pada hari inilah Allah memberi kemenangan kepada Musa dan Bani Israil atas Fir’aun. Dan kami berpuasa pada hari itu adalah untuk mengagungkannya.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Kami adalah lebih utama terhadap (pengagungan) Musa dari pada kalian.” Kemudian beliau memerintahkan berpuasa pada hari itu.” (HR Bukhari)
Orang-orang Yahudi termasuk anak cucu Nabi Ya’qub atau Israil (Bani Israil). Allah SWT memberikan Bani Israil kitab Taurat yang menjelaskan agama-Nya yang wajib diikutinya ketika mereka menjalani hidupnya di dunia. Taurat itu diturunkan-Nya kepada Nabi Musa, dan beliau yang menjelaskan Taurat dan agama-Nya kepada Bani Israil. Tapi kebanyakan Bani Israil tidak menyukai agama-Nya, sehingga mereka merubah ayat-ayat Taurat termasuk merubah hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Nabi Musa. Akibatnya agama-Nya yang dibawa oleh Nabi Musa itu menjadi berubah dan Bani Israil menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Mereka adalah orang-orang Ahlul Kitab. Mereka membagi-bagi (kitab)nya beberapa bagian, mereka ada yang beriman dengan sebagian (isi kitab)nya dan ada yang mengingkari sebagian yang lain.” (HR Bukhari)
Agama-Nya itu terpecah menjadi beberapa aliran (karena perbedaan pendapat atas Taurat yang berubah) dan Bani Israil pula terpecah menjadi beberapa golongan (aliran), dan Yahudi itu merupakan salah satu dari golongan-golongan tersebut.”
Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab termasuk yang diperintahkan oleh Allah SWT agar mengikuti agama-Nya (Islam)?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan Al Qur’an dan agama-Nya kepada manusia. Allah SWT berfirman:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 125)
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dalam firman-Nya di atas, yaitu Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk menyeru kepada manusia agar mengikuti jalan-Nya dalam agama Islam yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Manusia itu termasuk orang-orang musyrik dan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani). Orang-orang musyrik beragama menyembah tuhan (patung) berhala, sedangkan Ahli Kitab tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang dijelaskan oleh Rasul-Nya. Sehingga kedua golongan itu tidak mengikuti jalan-Nya (atau agama-Nya) ketika menjalani hidupnya. Amal perbuatan mereka itu akan berakibat buruk bagi mereka ketika di akhirat. Itu tidak dikehendaki oleh Allah SWT, karena itu Dia perintahkan Rasulullah SAW untuk menyeru mereka kepada jalan-Nya, dan Dia perintahkan Ahli Kitab agar mengikuti Rasulullah SAW dan Al Qur’an melalui firman-Nya ini:
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. (Al Maa-idah 15)
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al Maa-idah 19)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah tersebut?”
Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah tersebut dengan menyeru Ahli Kitab agar menempuh jalan-Nya yang lurus yang dijelaskan dalam Taurat, Injil, Al Qur’an dan agama-Nya. Rasulullah SAW menyampaikan pula firman-Nya berikut ini kepada orang-orang Yahudi sambil menjelaskannya:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al Maa-idah 77)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali ‘Imran 64)
Tilmidzi: “Apakah Ahli Kitab tersebut menerima seruan Rasulullah SAW itu?
Mudariszi: “Rasulullah SAW telah mengetahui sifat dan perilaku orang-orang Yahudi (Bani Israil) dari Allah SWT atau Al Qur’an, sehingga beliau tidak terkejut ketika kebanyakan orang-orang Yahudi menolak seruan beliau. Tapi, seorang Yahudi yang berilmu (ulama) mengetahui kedatangan Rasulullah SAW di Madinah dan dia mengetahui tentang beliau dari Taurat. Ulama Yahudi itu orang yang jujur, dan dia ingin membuktikan kenabian Rasulullah SAW, sehingga dia lalu menanyakan beberapa perkara kepada beliau:
Dari Anas, bahwasanya telah sampai kepada Abdullah bin Salam (dari Bani Israil) berita tentang kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lalu ia datang kepadanya untuk menanyakan beberapa hal. Ia berkata: “Saya bertanya kepadamu tentang tiga hal, tiada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda kiamat yang pertama, makanan apakah yang pertama kali dimakan penghuni surga dan mengapakah seorang anak menyerupai Ayah atau Ibunya?” Beliau bersabda: “Tadi Jibril telah memberitahukannya padaku.” Ibnu Salam berkata: “Jibril adalah malaikat musuh orang Yahudi.” Beliau bersabda: “Adapun tanda-tanda Kiamat yang pertama ialah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Dan makanan yang pertama kali dimakan penghuni surga ialah gumpalan yang ada pada limpa ikan paus. Adapun tentang anak, apabila mani laki-laki (keluarnya) mendahului mani seorang wanita, maka ia serupa dengan anaknya. Dan apabila mani seorang wanita mendahului mani seorang laki-laki, maka ia serupa dengan anaknya.” Ia (Abdullah bin Salam) berkata: “Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.” (HR Bukhari)
Setelah Rasulullah SAW dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar, Abdullah bin Salam (ulama Yahudi) lalu memeluk agama Islam. Lalu Abdullah bin Salam menjelaskan tentang orang-orang Yahudi kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Anas, bahwasanya telah sampai kepada Abdullah bin Salam (dari Bani Israil) berita tentang kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lalu Abdullah bin Salam berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi adalah kaum yang pendusta, maka tanyakanlah kepada mereka tentang diriku sebelum mereka mengetahui masuk Islamku.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW lalu memanggil orang-orang Yahudi dan menanyakan tentang Abdullah bin Salam kepada mereka, yaitu sebagai berikut:
Dari Anas, dia berkata: “Lalu orang–orang Yahudi itu datang. Rasulullah SAW bertanya: “Siapakah laki-laki di antara kalian yang bernama Abdullah bin Salam?” Mereka menjawab: “Dia ialah orang baik, putera orang baik, orang yang paling utama dan putera orang yang paling utama dari kami.” Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika Abdullah bin Salam masuk Islam?” Mereka menjawab: “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.” Lalu beliau mengulangi (pertanyaan)nya, maka mereka menjawab seperti tersebut di atas. Kemudian Abdullah bin Salam keluar menghadap mereka, seraya berkata: “Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Mereka berkata: “Dia ialah orang jahat dan putera orang jahat kami.” Mereka mencercanya. Ia (Abdullah bin Salam) berkata: “Inilah yang saya takutkan, wahai Rasulullah.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa memang benar kebanyakan orang-orang Yahudi (Ahli Kitab) itu suka berbohong, sombong dan hanya mengikuti hawa nafsunya, padahal mereka menyaksikan sendiri ulama mereka telah mengakui kebenaran Al Qur’an dan Rasulullah SAW hingga dia memeluk agama Islam. Allah SWT dan Rasulullah SAW membenarkan hal itu sebagai berikut:
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil (Abdullah bin Salam) mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Ahqaaf 10)
Dari Amir Sa’id bin Abi Waqqash, ia berkata: “Saya tiada pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada seseorang yang sedang berjalan di muka bumi, bahwa ia termasuk penghuni surga selain kepada Abdullah bin Salam.” Ia berkata: “Padanya turunlah ayat: “Dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui kebenaran yang serupa dengan Al Qur’an).” (surat Al Ahqaaf ayat 10). (HR Bukhari)
Karena itu Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang Yahudi yang mengingkari Al Qur’an dan Rasulullah SAW tersebut sebagai berikut:
Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an), maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat), mereka beriman kepadanya (Al Qur’an). (Al ‘Ankabuut 47)
Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy Syu’araa’ 197)
Dan Rasulullah SAW pula menjelaskan tentang orang-orang Yahudi tersebut sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Jika sepuluh orang Yahudi beriman kepadaku, niscaya orang-orang Yahudi beriman kepadaku.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW tetap menyeru orang-orang Yahudi itu untuk memeluk agama Islam?”
Mudariszi: “Ya! Tapi orang-orang Yahudi tersebut tetap menolak. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya dia berkata: “Ketika kami sedang berada di masjid, datang Rasulullah SAW kepada kami. Beliau lalu bersabda: “Mari kita berangkat menemui orang-orang Yahudi.” Maka bersama-sama dengan beliau berangkatlah kami untuk menemui mereka. Rasulullah SAW sejenak berhenti den berseru: “Wahai orang-orang Yahudi! Masuklah Islam nanti kamu aman.” Orang-orang Yahudi menjawab: “Itu sudah kamu sampaikan, wahai Abu Qasim.” Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Pengakuan itulah yang aku inginkan. Masuklah Islam nanti kamu akan aman.” Kembali orang-orang Yahudi menjawab: “Itu sudah kamu sampaikan, wahai Abu Qasim.” Untuk ketiga kalinya Rasulullah SAW menyeru kepada mereka: “Masuklah Islam nanti kamu akan aman. Ketahuilah, sesungguhnya bumi itu hanyalah milik Allah dan Rasul–Nya. Sesungguhnya aku bermaksud mengusir kamu dari tanah ini. Barangsiapa di antara kamu mendapatkan sedikit harta hendaklah dia menjualnya. Kalau tidak, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya bumi ini hanya milik Allah dan utusan–Nya.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Mengapa Rasulullah SAW ingin mengusir orang-orang Yahudi itu (dalam sunnah Rasulullah di atas)?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr 4)
Orang-orang Yahudi itu tidak berbeda dengan Bani Israil yang kafir di masa Nabi-Nabi Bani Israil termasuk di masa Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Ahli Kitab (rang-orang Yahudi) yang tidak beragama dengan agama-Nya yang benar itu tidak berbeda dengan orang-orang kafir musyrik, yaitu tidak menyukai agama-Nya dan selalu menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya atau agama-Nya. Contoh, ucapan orang-orang Yahudi terhadap Abdullah bin Salam di hadapan Rasulullah SAW. Contoh lain, pemuka Yahudi mengatakan suatu ucapan yang menyakiti Allah SWT dan Rasulullah SAW, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Amr, dia berkata: “Aku pernah mendengar Jabir mengatakan: “Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab bin Al Asyraf? Soalnya dia benar-benar telah berani menyakiti Allah dan Rasul–Nya.” (HR Bukhari)
Perilaku orang-orang Yahudi itu dapat berpengaruh kepada orang-orang beriman hingga menjadi munafik. Contoh, adanya orang-orang beriman yang sebenarnya adalah orang-orang munafik, karena mereka menolong atau bekerja sama dengan orang-orang Yahudi. Allah SWT berfirman:
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad 26)
Semua itu berpengaruh pula kepada penurunan Al Qur’an dan agama Islam yang sedang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada manusia.”
Tilmidzi: “Apakah pemuka Yahudi yang menyakiti Allah SWT dan Rasulullah SAW itu lalu dibunuh?”
Mudariszi: “Ya! Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:
Dari Amr, dia berkata: “Aku pernah mendengar Jabir mengatakan: “Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab bin Al Asyraf? Soalnya dia benar-benar telah berani menyakiti Allah dan Rasul–Nya.” Maka berkatalah Muhammad bin Maslamah: “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan suka apabila aku yang akan membunuhnya?” Rasulullah SAW bersabda: “Baiklah.” Muhammad bin Maslamah berkata: “Tetapi izinkan aku terlebih dahulu untuk mengatakan sesuatu kepada Anda.” Rasulullah SAW bersabda: “Silahkan.” Muhammad bin Maslamah lalu mendekati Rasulullah SAW buat mengatakan sesuatu. Keduanya lalu terlibat dalam suatu pembicaraan yang nampak cukup serius sekali. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Ka’ab memang pernah menginginkan sedekah, namun dia malah menyusahkan kami.” Mendengar itu Muhammad bin Maslamah sangat berang sekali. Dia lalu berjanji akan membalas perbuatannya itu. Kebetulan sekali waktu itu Muhammad bin Maslamah cukup dekat sekali dengan Ka’ab. Satu hari dia menemui Ka’ab dan berkata: “Aku ingin kamu memberikan suatu pinjaman padaku.” Ka’ab bertanya: ”Lalu apa yang hendak kamu gadaikan kepadaku?” Muhammad bin Maslamah menjawab: “Apa yang kamu inginkan?” Ka’ab mengatakan: “Aku ingin kamu menggadaikan kepadaku perempuan-perempuan kamu.” Muhammad bin Maslamah berkata: “Kamu itu adalah orang Arab yang terkenal paling ganteng. Masakan aku harus menggadaikan perempuan-perempuanku kepada kamu?” Ka’ab berkata kepada Muhammad bin Maslamah: “Kalau begitu kamu gadaikan saja anak-anakmu kepadaku.” Muhammad bin Maslamah berkata: “Itu tidak mungkin aku lakukan. Begini saja, aku akan menggadaikan senjataku kepadamu.” Ka’ab berkata: “Baiklah aku setuju.” Muhammad bin Maslamah lalu berjanji kepada Ka’ab bahwa dia akan datang kepadanya dengan ditemani Al Harits, Abu Abes bin Jaber dan Abbad bin Bisyri. Mereka berempat mendatangi Ka’ab malam-malam. Isteri Ka’ab berkata kepada suaminya itu: “Sesungguhnya aku seperti mendengar suaranya orang pencari atau penumpah darah.” Mendengar ucapan isterinya itu Ka’ab berkata: “Tidak. Sesungguhnya mereka ini hanya Muhammad bin Maslamah berikut saudara sepersusuannya dan Abu Na’ilah. Sebagai orang baik, meskipun ada tamu malam-malam, aku pun harus menemuinya.” Sejenak Ka’ab masuk, dan saat itulah Muhammad bin Maslamah menggunakan kesempatan tersebut untuk mengatur rencana lebih matang. Begitu Ka’ab keluar lagi, mereka berkata: “Aku sepertinya mencium bau yang harum darimu.” Ka’ab berkata: “Memang. Sebab isteriku Polanah adalah wanita Arab yang paling pesolek.” Muhammad bin Maslamah mengatakan: “Ijinkan aku untuk ikut mencium bau harum yang ada padamu itu.” Ka’ab berkata: “Silahkan.” Maka Muhammad bin Maslamah pun menciumnya. Kemudian dia berkata lagi: “Kalau boleh aku ingin mengulangi sekali lagi.” Ka’ab rupanya tidak keberatan. Kembali dia menyorongkan kepalanya kepada Muhammad bin Maslamah. Pada saat itulah Muhammad bin Maslamah mengomando kawan-kawannya tersebut, dan mereka pun lalu membunuh Ka’ab.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT lakukan terhadap orang-orang Yahudi yang menyakiti-Nya itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Al Hasyr 2)
Pengusiran orang-orang Yahudi dalam firman-Nya di atas merupakan lanjutan dari apa yang Rasulullah SAW telah jelaskan kepada orang-orang Yahudi (dalam sunnah Rasulullah di atas) sebelumnya. Dengan demikian, pengusiran orang-orang Yahudi itu sudah merupakan ketetapan Allah, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. (Al Hasyr 3)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang Yahudi itu diusir atau pergi meninggalkan Madinah dengan tidak diperangi?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT mengusir orang-orang Yahudi itu dengan menimbulkan rasa takut di hatinya sehingga mereka lalu membakar pohon-pohon kurmanya sendiri. Allah SWT menimbulkan rasa takut itu seperti Dia menimbulkan rasa takut terhadap pasukan kafir muyrik di perang Badar. Selain itu, Allah SWT mengizinkan pula Rasulullah SAW dan orang-orang beriman untuk membakar pohon-pohon kurma orang-orang Yahudi itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (Al Hasyr 5)
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah membakar pohon kurma Bani Nadhir dan memotongnya, yaitu di Buwairah. Maka turunlah ayat: “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma atau kamu biarkan tumbuh berdiri di atas pokoknya, maka semua itu adalah dengan izin Allah.” (surat Al Hasyr ayat 5). (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT tetapkan atas harta rampasan orang-orang Yahudi yang ditinggal pergi itu?”
Mudariszi: “Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:
Dan apa saja harta rampasan (fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Hasyr 6)
Apa saja harta rampasan (fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (Al Hasyr 7)
(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(-Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hasyr 8)
Dari Umar, dia berkata: “Harta benda Bani Nadhir adalah termasuk pemberian Allah kepada utusan–Nya, yaitu hasil rampasan orang-orang Islam yang tidak perlu didapat dengan naik kuda atau unta. Harta rampasan tadi khusus untuk Rasulullah SAW. Beliau menafkahkan buat isteri-isterinya selama satu tahun. Selebihnya beliau pergunakan untuk memperbanyak perlengkapan perang berupa kendaraan dan senjata pada jalan Allah.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap desa yang kamu datangi lalu berhasil kamu diami, maka kamu mendapat bagian dari hasilnya. Dan setiap desa yang durhaka kepada Allah dan utusan–Nya yang berhasil kamu taklukkan, maka seperlima hasilnya adalah untuk Allah dan utusan–Nya, kemudian sisanya untuk kamu semua.” (HR Muslim)
Setelah itu Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman sebagai berikut:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al Hasyr 7)
Tilmidzi: “Apakah setelah pengusiran itu tidak ada lagi orang-orang Yahudi di Madinah?”
Mudariszi: “Ketetapan Allah atas pengusiran orang-orang Yahudi itu bukan berarti semua orang (suku) Yahudi di Madinah harus pergi meninggalkan Madinah. Pengusiran itu terjadi karena pemuka salah satu kaum (suku) Yahudi telah menyakiti Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kejadian itu tidak lalu membuat semua orang (suku) Yahudi di Madinah harus meninggalkan Madinah, karena mereka tidak menyakiti Allah SWT dan Rasulullah SAW. Tapi bagi orang-orang Yahudi yang ingin tetap tinggal di Madinah, mereka wajib mengadakan perjanjian dengan Rasulullah SAW. Perjanjian itu ditetapkan karena tanah (bumi) yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi itu merupakan milik Allah. Mereka dapat memiliki tanah itupun karena Allah SWT yang telah menjadikan mereka dapat menguasai tanah itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. (Al Hajj 64)
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaahaa 6)
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. (Al Hadiid 7)
Di samping itu, Allah SWT tidak menghendaki orang-orang Yahudi itu menggunakan hartanya dari tanah (bumi) itu menurut ketentuan mereka, karena Dia telah menetapkan dalam agama-Nya yang disampaikan oleh semua Rasul-Nya untuk membayar zakat dari hartanya itu. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al An’aam 141)
Adapun zakat yang diambil dari harta tersebut, salah satunya diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak mampu dalam memperoleh karunia-Nya di bumi karena kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Allah SWT berfirman:
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (Adz Dzaariyaat 19}
Allah SWT dan Rasulullah SAW menetapkan ketentuan (perjanjian) itu juga agar Ahli Kitab (orang-orang Yahudi) kembali kepada syariat agama-Nya yang dijelaskan oleh Taurat dan Nabi Musa yang mewajibkan mereka untuk membayar zakat. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al Baqarah 83)
Dengan demikian, ketetapan membuat perjanjian itu justru menghasilkan kebaikan bagi Ahli Kitab (orang-orang Yahudi) dan orang-orang beriman, yaitu kebaikan di dunia dan di akhirat.”
Wallahu a’lam.