Apakah Pasukan Rasulullah Memenangi Perang Badar?

Dialog Seri 10: 57

 

Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT meneguhkan hati orang-orang beriman dalam memerangi pasukan orang-orang kafir Mekkah?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui kekhawatiran sebagian orang-orang beriman dalam memerangi pasukan orang-orang kafir, karena mereka berfikir (mengira) akan dikalahkan oleh pasukan musuh yang berjumlah jauh lebih besar daripada pasukan mereka. Karena itu Allah SWT lalu menenangkan, menyucikan dan meneguhkan hati Rasulullah SAW dan hati orang-orang beriman tersebut dengan jalan sebagai berikut:

 

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Al Anfaal 11)

 

Allah SWT lalu menjadikan Rasulullah SAW bermimpi sebagai berikut:

 

(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Al Anfaal 43)

 

Rasa khawatir orang-orang beriman yang berasal dari syaitan yang menakut-nakuti mereka itu lalu dibersihkan-Nya dengan Dia menurunkan hujan bagi mereka. Hujan dan mimpi Rasulullah dalam firman-Nya di atas itu membuat hati Rasulullah SAW dan orang-orang beriman menjadi teguh dan mereka tidak lagi memikirkan jumlah pasukan musuh. Kemudian, agar kedua pasukan itu bertemu di tempat pertempuran (di Badar), Allah SWT lalu menjadikan penglihatan kedua pasukan tersebut sebagai berikut:

 

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu, dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Al Anfaal 44)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan kepada orang-orang beriman jika mereka bertemu dengan pasukan musuh?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Al Anfaal 45-47)

 

Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka supaya mereka mengambil pelajaran. (Al Anfaal 57)

 

Rasulullah SAW pula menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Tak lama kemudian datanglah orang-orang musyrik itu. Rasulullah SAW lalu memberi peringatan kepada sahabat-sahabatnya: Siapapun di antara kamu jangan ada yang bertindak tanpa ada komando dariku.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Usaid, ia berkata: Rasulullah SAW pernah ber­sabda kepada kami pada perang Badar: Ketika mereka (orang-orang musyrik) mendekati kalian, maka panahlah mereka dan siagakanlah anak panahmu.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah setelah kedua pasukan itu bertemu Rasulullah SAW lalu mengetahui jumlah pasukan kaum kafir Mekkah yang sebenarnya?”

 

Mudariszi: “Setelah berhadapan dengan pasukan musuh, Rasulullah SAW mengetahui jumlah pasukan musuh yang sebenarnya, dan itu mengkhawatirkan beliau dapat mengalahkan pasukan musuh. Keadaan itu lalu membuat Rasulullah SAW meminta kepada Allah SWT agar Dia membantu pasukan beliau untuk mengalahkan pasukan musuh supaya agama-Nya tetap tegak. Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Umar bin Khattab, dia berkata: Pada hari peristiwa pertempuran Badar, Rasulullah SAW memandangi kepada pasukan musyrik yang berjumlah seribu personil. Sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang. Rasulullah SAW lalu menghadap ke kiblat dan menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa memohon kepada Tuhannya: Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, lakukan apa yang pernah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kalau sampai Engkau kalahkan pasukan Islam ini, maka Engkau tidak akan disembah di atas bumi. Lama sekali Rasulullah SAW memanjatkan doa tersebut kepada Tuhannya sambil terus menghadap ke arah kiblat. Sampai-sampai kain sorban beliau jatuh dari pundaknya. Abu Bakar mengambil kain sorban tersebut, lalu dia letakkan kembali ke atas pundak beliau. Lalu Abu Bakar duduk di belakang beliau seraya berkata: Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonan yang Anda panjatkan kepada Tuhan Anda. Aku yakin sesungguhnya Allah pasti akan melaksanakan apa yang pernah Dia janjikan kepada Anda. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung lalu menurunkan firmanNya (Al Anfaal ayat 9): (Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” Jadi Allah memberikan bala bantuan kepada Rasulullah SAW malaikat sebanyak seribu.” (HR Muslim)

 

Rasulullah SAW lalu menyampaikan janji Allah itu kepada orang-orang beriman agar hati mereka tetap teguh, tenang dan sabar ketika berperang guna mencapai kemenangan, seperti dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda pada hari perang Badar: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (surat Al Qamar ayat 45). (HR Bukhari)

 

Dan Allah SWT membenarkan penjelasan Rasulullah di atas itu melalui firman-Nya ini:

 

(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ’Imran 124-126)

 

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfaal 10)

 

Tilmidzi: “Bagaimana kedua pasukan itu setelah berhadap-hadapan?”

 

Mudariszi: “Karena Allah SWT berjanji kepada Rasulullah SAW akan membantu pasukan beliau, maka setelah kedua pasukan berhadapan, Dia lalu menjadikan penglihatan orang-orang kafir atas jumlah pasukan Rasulullah sebagai berikut:

 

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali ’Imran 13)

 

Penglihatan orang-orang kafir atas jumlah pasukan orang-orang beriman itu membuat hati mereka menjadi gelisah dan takut. Rasa gelisah dan takut itu mempengaruhi gerak gerik orang-orang kafir dalam berperang. Di lain pihak, Allah SWT telah membuat hati orang-orang beriman menjadi teguh, sabar dan tidak ada rasa takut. Setelah itu Allah SWT memerintahkan para malaikat sebagai berikut:

 

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Al Anfaal 12)

 

Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana orang-orang beriman itu memerangi orang-orang kafir Mekkah?”

 

Mudariszi: “Meskipun orang-orang beriman mengetahui akan dibantu oleh para malaikat, itu tidak membuat mereka tidak bersungguh-sungguh dalam berperang, karena mereka tidak dapat melihat malaikat (yang ghaib). Mereka tetap berperang dengan sungguh-sungguh karena keimanan dan ketaatan mereka kepada (perintah) Allah SWT dan Rasulullah SAW untuk berperang di jalan-Nya guna menegakkan agama-Nya. Contoh kesungguhan mereka itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Pasukan musyrik pun mulai bergerak mendekat. Saat itulah Rasulullah SAW bersabda: Songsonglah surga yang luasnya adalah seluas langit dan bu­mi. Mendengar itu seorang sahabat bernama Umair bin Al Humam Al Anshari terperengah dan bertanya: Wahai Rasulullah, ada surga yang luasnya seluas langit dan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Ya. Umair berkata: Wah! Wah! Rasulullah SAW lalu bertanya: Apa maksud ucapanmu itu, hai? Umair menjawab: Tidak, wahai Rasulul­lah. Aku hanya berharap bisa menjadi salah satu penghuninya. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kamu adalah calon penghuninya. Umair lalu mengeluarkan beberapa potong buah kurma dari kantongnya kemudian memakannya seraya berkata: Kalau ternyata nanti aku masih hidup sebelum habis aku makan kurma-kurma itu, semoga ia akan hidup panjang. Setelah membuang kurma-kurma itu, lalu maju ber­perang melawan pasukan kafir tersebut hingga akhirnya dia gugur.” (HR Muslim)

 

Dari Abu Bakar bin Abdullah bin Qais dari ayah­nya, dia mengatakan: Di hadapan musuh, aku pernah mendengar ayahku mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang. Tiba-tiba seorang lelaki yang berpenampilan sangat dekil berdiri dan ber­tanya: Wahai Abu Musa, benarkah kamu mendengar Rasulullah SAW bersabda seperti itu? Ayahku menjawab: Ya. Lelaki tadi lalu kembali menemui sahabat-sahabatnya. Setelah mengucapkan salam kepada mereka, dia lantas menghunus pedangnya dari sarungnya yang ke­mudian dibuangnya begitu saja. Setelah itu dia merangkak mendekati musuh untuk bertempur dengan pedangnya tersebut, sampai akhirnya dia terbunuh.” (HR Muslim)

 

Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata: Saya adalah orang (Mujahidin) yang pertama kali bertekuk lutut di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih karena pertengkaran kelak di hari Kiamat.” Qais bin Ubbad berkata: Tentang merekalah, maka diturunkan ayat: Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang saling bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. (surat Al Hajj ayat 19). Ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang berperang tanding pada perang Badar, yaitu Hamzah, Ali, Ubaidah (atau Abu Ubaidah) bin Harits, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah dan Walid bin Utbah.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah para malaikat membantu pasukan Rasulullah?”

 

Mudariszi: “Ya! Para malaikat ikut berperang di Badar membantu pasukan Rasulullah dan mereka membunuh pasukan orang-orang kafir. Hal itu diketahui oleh sebagian orang beriman yang mendengar suara derap kaki kuda dan suara lecutan cambuk yang diikuti dengan kematian orang-orang kafir, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda pada hari perang Badar: Ini adalah Jibril memegang kepala kudanya dengan membawa peralatan perang.” (HR Bukhari)

 

Dari Umar bin Khattab dari Abu Zumail mengatakan:Ibnu Abbas pernah bercerita kepadaku: Saat itu, seorang pasukan muslim mengejar seorang pasukan musyrik yang berada di depannya. Tiba-tiba saja terdengar suara lecutan cemeti dan suara derap kaki kuda yang sedang berlari kencang tanpa terlihat rupanya. Sebentar saja pasukan Islam tersebut melihat musuh yang tengah dikejarnya terjungkal. Ketika didekati ternyata pada bagian hidung dan wajahnya terdapat bekas kena cambuk. Dan pada saat itu mendadak langit menjadi gelap sekali. Ketika pengalaman tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: Benar. Itu adalah bala bantuan dari langit yang ketiga. (HR Muslim)

 

Dan Allah SWT pula menjelaskan perkara tersebut sebagai berikut:

 

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. (Al Anfaal 17-18)

 

Tilmidzi: “Apakah pasukan orang-orang kafir Mekkah dibantu oleh syaitan-syaitan dari golongan jin?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya ini:

 

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (An Nisaa’ 76)

 

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 257)

 

Dengan demikian, jika pasukan Rasulullah dibantu oleh para malaikat karena dilindungi-Nya, maka pasukan orang-orang kafir dibantu oleh jin-jin kafir (syaitan dari golongan jin) karena dilindungi oleh Iblis (syaitan). Syaitan (jin-jin kafir) itu dapat melihat para malaikat yang membantu orang-orang beriman, sehingga syaitan-syaitan itu lalu meninggalkan pasukan orang-orang kafir karena mengetahui pasti akan kalah. Allah SWT berfirman:

 

Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Al Anfaal 48)

 

Karena ditinggal oleh syaitan (jin-jin kafir), orang-orang kafir menjadi banyak yang mati hingga menderita kekalahan. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan itu sebagai berikut:

 

(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tidak memperoleh apa-apa. (Ali ‘Imran 127)

 

Dari Umar bin Khattab dari Abu Zumail mengatakan:Ibnu Abbas pernah bercerita kepadaku: Dalam peperangan itu akhirnya pasukan Islam berhasil membunuh tujuh puluh pasukan musyrik dan menawan jumlah yang sama. (HR Muslim)

 

Allah SWT membantu pasukan Rasulullah (yang berjumlah jauh lebih sedikit dari jumlah pasukan musuh) memenangkan perang Badar, karena Rasulullah SAW dan orang-orang beriman berperang di jalan-Nya menegakkan agama-Nya. Jika bukan perang di jalan-Nya, maka Allah SWT tidak akan membantu pasukan orang-orang beriman. Dengan demikian, tidak selalu pasukan orang-orang beriman akan memenangi peperangan atas pasukan orang-orang kafir yang selalu dibantu oleh syaitan.”

 

Tilmidzi: “Apakah pemuka kaum kafir Mekkah termasuk yang mati?”

 

Mudariszi: “Semua pemuka kaum kafir Mekkah yang menyakiti Rasulullah SAW ketika di Mekkah mati terbunuh. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdullah bin Masud dari Sa’ad, ia berkata: Ketika hari perang Badar, Abu Jahal meminta bantuan kepada semua orang, ia berkata: Ikutilah (susullah) kafilahmu.” Umayyah tidak menghendaki keluar, lalu Abu Jahal datang kepadanya dan berkata: Wahai Abu Shafwan, kapan saja orang-orang melihatmu, maka sesungguhnya kamu telah tertinggal, padahal kamu adalah pemimpin penduduk lembah (Makkah), mereka tertinggal bersamamu.” Abu Jahal senantiasa dengannya, sehingga ia berkata: Adapun jika kamu dapat mengalahkanku, niscaya aku akan membeli unta yang terbaik di Makkah.” Kemudian Umayyah berkata: Wahai Ummu Shafwan, sediakanlah (perbekalan)ku.” Lalu Ummu Shafwan berkata kepadanya: Apakah kamu telah melupakan apa yang dikatakan kepadamu oleh saudaramu yang berasal dari Yatsrib? Ia menjawab: Tidak, aku tidak menginginkan berlalu bersama-sama mereka, kecuali dalam waktu dekat.” Ketika Umayyah keluar, ia tidak pernah meninggalkan tempat persinggahannya, kecuali dengan menambatkan untanya. Ia senantiasa seperti itu, hingga Allah menjadikan ia terbunuh di Badar.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas, ia berkata: Pada hari perang Badar, Rasulullah SAW pernah bersabda: Siapakah yang dapat melihat apa yang diperbuat Abu Jahal? Maka Ibnu Masud pergi, lalu ia mendapatkan Abu Jahal telah dipukul oleh dua putera Afraa sampai lemas. Kemudian ia memegang jenggot Abu Jahal dan berkata: Kamu terbunuh, wahai Abu Jahal.” Ia berkata: Apakah di atas seorang laki-laki yang dibunuh kaumnya? Atau ia berkata: (Apakah di atas seorang laki-laki) yang kalian bunuh?” (HR Bukhari)

 

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah menghadap ke Kabah, lalu berdoa atas sekelompok orang Quraisy, yaitu Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, dan Abu Jahal bin Hisyam. Maka aku bersaksi, Demi Allah aku melihat mereka terbanting seraya (tubuh) mereka berubah oleh terik matahari. (Pada hari) itu adalah hari yang panas.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan terhadap mayat para pemuka kaum kafir Mekkah itu?”

 

Mudariszi: “Perkara itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abu Thalhah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW pada hari perang Badar menyuruh agar dua puluh empat orang dari tokoh-tokoh pemberani suku Quraisy dimasukkan ke dalam sebuah sumur Badar yang buruk dan busuk. Apabila beliau mendapat kemenangan terhadap suatu kaum, beliau tinggal di halaman rumah selama tiga malam. Pada perang Badar di hari ketiga, beliau menyuruh membawa untanya, lalu perbekal­annya diikat di atasnya. Kemudian beliau berjalan dengan diikuti para sahabatnya, mereka berkata: Kami tidak pernah melihat beliau pergi melainkan untuk sebagian hajatnya. Sehingga beliau berdiri di pinggir sumur, lalu beliau memanggil (orang-orang Quraisy yang terbunuh) dengan menyebut nama mereka dan nama Bapak-Bapak mereka: Wahai Fulan bin Fulan, apakah dapat menyenangkan kalian, jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami adalah benar. Maka apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanmu adalah benar? Perawi berkata: Lalu Umar berkata: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau bicarakan terhadap jasad yang tidak bernyawa? Rasulullah SAW menjawab: Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada dalam kekuasaannya, kamu se­kalian tidaklah lebih mendengar apa yang aku ucapkan dari pada mere­ka.” (HR Bukhari)

 

Maksud ucapan Rasulullah SAW kepada pemuka kaum kafir Mekkah yang mati (dalam sunnah Rasulullah di atas), yaitu mereka ketika itu memperoleh apa yang Allah SWT janjikan untuk orang-orang kafir setelah mati. Adapun janji Allah itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW ber­sabda: Sesungguhnya apabila seseorang mati, tiap pagi dan sore akan diperlihatkan kepadanya tempatnya kelak; jika termasuk ahli surga, akan diperlihatkan surga; kalau termasuk ahli neraka, akan diperlihat­kan neraka, lalu dikatakan: Ini tempatmu jika Allah membangkitkan­mu di hari kiamat. (HR Muslm)

 

Sedangkan Rasulullah SAW dan orang-orang beriman yang belum tiba waktu ajalnya, memperoleh pula apa Allah SWT janjikan untuk mereka, yaitu kenikmatan memperoleh harta rampasan perang dan ketenangan dalam beribadah dan berbuat.”

 

Tilmidzi: “Jika demikian, apakah orang-orang beriman yang gugur di perang Badar itu akan mengetahui pula tempatnya nanti di surga?”

 

Mudariszi: “Ya! Mereka memperoleh nikmat kubur dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Anas, ia berkata: Haritsah terbunuh pada hari perang Badar, sedang ia masih muda belia. Lalu Ibunya datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah dari padaku. Seandainya ia di dalam surga, maka aku bersabar dan mengharap pahala. Akan tetapi seandainya surga itu adalah yang lain, niscaya engkau akan melihat apa yang aku perbuat.” Kemudian beliau bersabda: Kasihan kamu, apakah kamu kehilangan anak, dan apakah surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, sedang dia (Haritsah) berada di surga Firdaus.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW lakukan terhadap tawanan dan harta rampasan perang?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Umar bin Al Khaththab, dia berkata: Abu Zumail mengatakan: Ibnu Abbas pernah bercerita kepadaku: Ketika pasukan Islam berhasil menawan beberapa orang tawanan itulah, Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: Ba­gaimana pendapatmu tentang para tawanan ini? Abu Bakar menja­wab: Wahai Rasulullah, mereka itu masih termasuk saudara-saudara sendiri. Menurut pendapatku, sebaiknya kita ambil fidyah saja dari me­reka. Hasil dari penarikan fidyah itu tentu bisa merupakan kekuatan ter­sendiri untuk menghadapi kaum kafir selanjutnya. Dan mudah-mudah­an saja Allah memberikan petunjuk mereka kepada Islam. Giliran Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: Bagaimana pendapatmu, wahai putera Al Khaththab? Umar menjawab: Tidak, demi Allah. Aku tidak sependapat dengan Abu Bakar. Aku memilih kita pukul saja teng­kuk mereka. Si Aqil biar Ali yang memukul tengkuknya. Terserah aku diserahi memukul yang mana. Yang jelas mereka semua itu adalah gem­bong-gembong atau pemimpinnya kaum kafir. Tetapi ternyata Rasu­lullah SAW cenderung pada pendapat Abu Bakar, dan kurang cende­rung pada pendapat yang diajukan oleh Umar. Esoknya, Umar menemui Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Umar sangat kaget sekali mendapati kedua orang itu sama-sama menangis. Dia lalu mendekati Rasulullah SAW dan bertanya: Wahai Rasulullah, to­long ceritakan kepadaku apa yang sampai membuat Anda dan sahabat Anda menangis seperti itu? Kalau aku mendengar hal-hal yang perlu un­tuk ditangisi, maka aku pun akan ikut menangis dan kalau tidak men­dengar hal-hal yang perlu ditangisi sekalipun, aku akan berpura-pura menangis demi kalian berdua. Rasulullah SAW kemudian bersabda: Aku menangis karena sahabat-sahabatmu yang menawarkan kepadaku supaya mengambil tebusan dari mereka. Siksa mereka diperlihatkan ke­padaku di dekat pohon tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman­Nya (surat Al Anfaal ayat 6769): Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuh-musuhnya di muka bumi. Kamu menghen­daki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu am­bil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Maka akhirnya Allah menghalalkan rampasan perang atau ghanimah kepada mereka. (HR Muslim)

 

Dan Allah SWT membenarkan harta rampasan itu melalui firman-Nya ini:

 

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (Al Anfaal 1)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT kehendaki dari orang-orang kafir dengan kekalahan mereka itu?”

 

Mudariszi: “Dengan kemenangan pasukan orang-orang beriman, maka urusan-Nya telah terlaksana. Orang-orang beriman dan orang-orang kafir melihat dengan jelas kekalahan pasukan orang-orang kafir meskipun jumlah pasukan mereka tiga kali jumlah pasukan orang-orang beriman. Perang Badar dijadikan oleh Allah SWT sebagai peringatan bagi orang-orang kafir untuk tidak lagi mengusir, menganiaya, menzalimi, memerangi orang-orang beriman serta tidak lagi berniat dan berusaha melenyapkan agama-Nya. Allah SWT berfirman:

 

Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak; dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman. (Al Anfaal 19)

 

Allah SWT tidak memaksa manusia untuk mengikuti agama-Nya, yaitu menjadi beriman atau menjadi kafir, seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah 256)

 

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (Al Kahfi 29)

 

Tapi jika orang-orang kafir itu menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dengan menzalimi dan memerangi orang-orang beriman agar meninggalkan agama-Nya, dan merubah agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus menjadi bengkok (menjadi tidak benar), maka mereka akan mengalami kejadian seperti yang di perang Badar. Allah SWT berfirman:

 

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. (Huud 18-19)

 

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim 2-3)

 

Tilmidzi: “Apakah yang Allah SWT kehendaki dari orang-orang beriman dengan kemenangan mereka?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menghendaki orang-orang beriman agar mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak menyukai agama-Nya, dan meyakini Dia akan membantu mereka jika menolong agama-Nya dengan memerangi orang-orang kafir yang ingin melenyapkan agama-Nya dan menzalimi orang-orang beriman, sekalipun mereka berjumlah sedikit. Karena Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya sebagai berikut:

 

Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)

 

Allah SWT menghendaki orang-orang beriman agar meyakini Dia akan membantu mereka dengan mengirimkan para malaikat dalam memerangi orang-orang kafir yang selalu menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya dan selalu memusuhi dan memerangi orang-orang beriman. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. (Al Anfaal 36)

 

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (Al Baqarah 217)

 

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah 32)

 

Allah SWT menghendaki orang-orang beriman agar meyakini bahwa hanya Dia saja yang dapat menyatukan orang-orang beriman dalam mengalahkan pasukan orang-orang kafir, dan Dia menghendaki mereka bersabar, berteguh hati dan taat kepada-Nya dan Rasulullah SAW ketika berperang melawan pasukan orang-orang kafir. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfaal 62-63)

 

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Anfaal 66)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT melebihkan orang-orang beriman yang ikut perang di Badar?”

 

Mudariszi: “Allah SWT mengetahui isi hati orang-orang beriman yang ikut berperang di Badar. Orang-orang beriman mengetahui perang Badar itu dapat membawanya kepada kematian. Tapi karena keyakinan (iman) dan ketaatan mereka kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka mereka tetap berperang melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasulullah. Kematian tidak membuat mereka menjadi takut untuk berperang, karena bagi mereka kematian itu justru akan membawanya ke surga. Dan jika mereka tidak mati, maka mereka akan memperoleh keuntungan dunia (harta rampasan), karena semua itu berdasarkan janji Allah dan janji Rasulullah kepada mereka. Keyakinan dan kesungguhan mereka dalam perang di jalan-Nya itu menghendaki Allah SWT lalu melebihkan mereka; itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Tidaklah sama antara orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) di Badar dan orang-orang yang keluar (turut berperang) ke Badar.” (HR Bukhari)

 

Dari Rifaah, ia berkata: Jibril datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: Apakah penilaianmu terhadap orang-orang yang ikut serta pa­da perang Badar? Beliau menjawab: Mereka termasuk orang-orang Islam yang paling utama.” Atau semacam kalimat itu. Beliau bersabda: “Demikian juga malaikat yang ikut serta pada perang Badar.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT membalas orang-orang beriman yang belum menemui ajalnya itu dengan balasan seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ubaidillah bin Abu Rafi, dia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tahukah kamu, mudah-mudahan Allah memperhatikan para peserta (Ahli) Badar. Maka Dia berfirman: Berbuatlah kamu sekehendak ka­mu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu. (HR Bukhari)

 

Dari Ali, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengutus aku, Abu Martsad dan Zubair, semuanya berkuda. Beliau bersabda: “Pergilah hingga kalian sampai di kebun Khakh, karena di kebun itu ada seorang wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta’ah kepada orang-orang musyrik.” Kemudian kami menjumpai wanita itu sedang berjalan dengan menunggang unta miliknya. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW, kami berkata: “Berikanlah surat itu.” Wanita itu menjawab: “Saya tidak membawa surat.” Lalu kami memberhentikannya dan mencari, tapi kami tidak menemukan surat. Kami berkata: “Rasulullah SAW tidak berdusta, kamu mengeluarkan surat itu ataukah kami menelanjangimu?” Ketika ia melihat kami bersungguh-sungguh, maka ia menurunkan ikat pinggangnya dan ia menggunakan tabir pakaiannya lalu mengeluarkan surat itu. Selanjutnya kami pergi dengan wanita itu kepada Rasulullah SAW, lalu Umar berkata: “Wahai Rasulullah, ia (Hathib) telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Maka biarkanlah aku memukul batang lehernya.” Rasulullah SAW bertanya: “Apakah yang mendorongmu terhadap apa yang kamu lakukan?” Hathib menjawab: “Bagiku tiada sesuatupun yang mendorong untuk tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebenarnya aku menghendaki agar aku mempunyai kekuasaan pada kaum (orang-orang musyrik), dimana dengan kekuasaan itulah Allah akan melindungi keluarga dan hartaku (di Mekkah). Tiap-tiap orang dari sahabat-sahabatmu tentu mempunyai seseorang kerabat disana (Mekkah), dimana dengan seorang kerabat itulah Allah melindungi keluarga dan hartanya.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Dia benar, janganlah kalian mengatakan (sesuatu) kepadanya melainkan sesuatu kebaikan.” Umar berkata: “Dia sungguh-sungguh telah mengkhianati Allah dan orang-orang mukmin, maka biarkanlah aku memukul batang lehernya.” Beliau bertanya: “Bukankah ia termasuk orang-orang yang ikut serta pada perang Badar?” Ia berkata: “Semoga Allah mengetahui orang-orang yang ikut serta pada perang Badar.” Lalu beliau bersabda: “Lakukanlah apa saja yang kalian kehendaki, masuk surga adalah pasti bagi kalian, atau sungguh aku telah memaafkan kalian.” Maka Umar mencucurkan air mata dan berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply