Dialog Seri 10: 68
Tilmidzi: “Apakah semua kaum atau suku di sekitar Madinah yang telah memeluk agama Islam ikut Rasulullah SAW ketika umrah ke Mekkah?”
Mudariszi: “Tidak semua kaum (suku) di sekitar Madinah ikut Rasulullah SAW umrah ke Mekkah, sehingga tidak semua kaum (suku) yang telah memeluk agama Islam ketika itu ikut bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon di Hudaibiyah. Di antara yang tidak ikut Rasulullah SAW umrah yaitu orang-orang Badwi, karena alasan mereka sebagai berikut:
Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”, mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Fath 11)
Alasan orang-orang Badwi dalam firman-Nya di atas bukan alasan yang sebenarnya, karena Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya tersebut bahwa ucapan orang-orang Badwi itu tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.”
Tilmidzi: “Apakah alasan yang sebenarnya dari orang-orang Badwi itu tidak mau ikut Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Alasan yang sebenarnya yaitu, orang-orang Badwi mengira Rasulullah SAW dan para sahabat akan diperangi oleh orang-orang kafir Mekkah hingga kalah dan tewas. Orang-orang Badwi itu tidak mau ikut mati, karena itu mereka tidak mau ikut Rasulullah SAW umrah. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mu’min tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu prasangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. (Al Fath 12)
Perkiraan orang-orang Badwi seperti firman-Nya di atas itu karena mereka terhasut oleh bisikan syaitan. Syaitan membisikkan dengan tipu dayanya hingga orang-orang Badwi itu hanya mau ikut Rasulullah SAW jika mereka memperoleh harta rampasan dengan tanpa berperang, seperti harta rampasan (fa’i) yang diperoleh ketika Rasulullah SAW berperang dengan orang-orang Yahudi. Syaitan berhasil membuat orang-orag Badwi itu tidak mau mengikuti perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW karena tidak sesuai dengan keinginannya (hawa nafsunya). Mereka tidak berbeda dengan orang-orang munafik yang tidak mengerti agama-Nya (agama Islam). Itu dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu.” Mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami, demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.” Mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami.” Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. (Al Fath 15)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang Badwi itu tetap diperintahkan untuk ikut berperang jika ingin harta rampasan?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menjelaskan hal itu kepada orang-orang Badwi tersebut, sebagai berikut:
Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik, dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Al Fath 16)
Orang-orang Badwi yang diizinkan untuk tidak ikut berperang hanyalah orang-orang yang sebagai berikut:
Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (Al Fath 17)
Dan Allah SWT kemudian menjelaskan kepada orang-orang Badwi tersebut sebagai berikut:
Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala. (Al Fath 13)
Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Fath 14)
Tilmidzi: “Apakah setelah itu orang-orang Badwi mengikuti perintah Allah SWT dan perintah Rasulullah SAW untuk berperang di jalan-Nya?”
Mudariszi: “Ya! Setelah perjanjian di Hudaibiyah, yaitu perjanjian damai dengan kaum kafir musyrik Mekkah, maka tidak ada lagi perang antara kaum kafir Mekkah dengan Rasulullah SAW. Adanya ketidak adilan dalam perjanjian di Hudaibiyah itu rupanya telah membuat banyak orang-orang di Mekkah dan di sekitar Mekkah yang bersimpati kepada Rasulullah SAW dan agama Islam, sehingga banyak di antara mereka yang kemudian memeluk agama Islam dan ikut membantu Rasulullah SAW ketika menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama Islam dalam pasukan Rasululah ke negeri-negeri di sekitar Madinah hingga ke negeri Syam. Orang-orang Badwi yang diperingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya di atas itu juga termasuk di antara pasukan Rasulullah tersebut. Adapun perintah Rasulullah untuk membawa pasukan perang ketika menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama Islam di Syam itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “RasuluLah SAW mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pada peperangan Mu’tah (daerah Syam).” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bukankah negeri Syam itu dikuasai oleh Ahli Kitab (Nasrani)?”
Mudariszi: “Ya! Ketika itu negeri Syam dibawah kekuasaan Raja Romawi yang beragama Nasrani. Tetapi Rasulullah SAW harus menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia termasuk kepada umat Nasrani sesuai perintah Allah ini:
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (An Nahl 44)
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maa-idah 67)
Rasulullah SAW dibenarkan oleh Allah SWT untuk memerangi semua kaum (golongan) yang diseru (diajak) untuk menerima Al Qur’an dan agama Islam jika kaum (golongan) itu menolaknya dengan memerangi beliau. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Anfaal 39)
Perintah Allah dalam firman-Nya di atas itu karena kaum atau golongan yang memerangi Rasulullah SAW itu adalah kafir kepada Allah SWT. Mereka memerangi Rasulullah SAW karena mereka tidak menyukai agama-Nya (agama Islam) yang mewajibkan mereka untuk membayar jizyah jika mereka tidak mau menerima seruan Rasulullah. Karena itu, ketika Rasulullah SAW mengutus utusannya kepada kaum Nasrani di Mu’tah di negeri Syam, beliau memerintahkan utusannya tersebut untuk membawa pasukan.”
Tilmidzi: “Apakah utusan Rasulullah itu berhasil menjalankan tugasnya?”
Mudariszi: “Ketika Rasulullah SAW menugaskan utusannya, beliau menjelaskan sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “RasuluLah SAW mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pada peperangan Mu’tah (daerah Syam).” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Jika Zaid terbunuh, maka (digantikan) oleh Ja’far. Dan jika Ja’far terbunuh, maka (digantikan) oleh Abdullah bin Rawahah.” (HR Bukhari)
Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa pasukan utusan Rasulullah itu akan diperangi oleh kaum di Mu’tah, Syam, hingga tiga pemimpinnya gugur. Itu berarti kaum di Mu’tah, Syam, menolak seruan Rasulullah dan akan memerangi pasukan utusan Rasulullah. Jika tiga pemimpin pasukan itu gugur, maka akan ada pula di antara pasukannya yang gugur. Ketiga pemimpin pasukan dan pasukannya tersebut mendengar penjelasan Rasulullah sebelum berangkat, tapi mereka tetap patuh menjalankan perintah Rasuluillah, karena mereka meyakini janji Allah kepada orang-orang yang gugur sebagai syuhada akibat dari perang di jalan-Nya dalam menegakkan agama-Nya. Itu menunjukkan kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam.”
Tilmidzi: “Apakah yang Rasulullah SAW katakan di atas itu terjadi?”
Mudariszi: “Ya! Banyaknya jumlah pasukan musuh tidak memungkinkan pasukan utusan Rasulullah memenangi perang Mu’tah. Gugurnya tiga pemimpin pasukan itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Dari Anas, bahwasanya Rasulullah SAW memberitahukan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah kepada orang-orang sebelum beritanya sampai kepada mereka, lalu beliau bersabda: “Bendera dipegang oleh Zaid, lalu ia terbunuh. Kemudian dipegang oleh Ja’far, lalu ia terbunuh. Selanjutnya dipegang oleh Ibnu Rawahah, lalu ia terbunuh (kedua mata beliau menahan air mata), sehingga bendera itu dipegang oleh sebuah pedang Allah (Khalid bin Walid). Pada akhirnya Allah memberi kemenangan atas mereka.” (HR Bukhari)
Sahabat Rasulullah yang mengikuti perang tersebut menjelaskan keadaan tubuh salah satu dari tiga pemimpin yang gugur itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Saya berada di antara mereka pada peperangan itu. Kami mencari Ja’far bin Abu Thalib, lalu kami menemukan dia berada di antara orang-orang yang terbunuh, dan saya menemukan pada jasadnya terdapat sembilan puluh lebih luka tusukan dan hantaman anak panah.” (HR Bukhari)
Pemimpin pasukan setelah ketiga pemimpin itu gugur menjelaskan pula keadaan dirinya dan alat perangnya ketika dalam peperangan tersebut sebagai berikut:
Dari Khalid bin Walid, ia berkata: “Sesungguhnya pada hari perang Mu’tah, ada sembilan buah pedang terputus di tanganku. Maka tidak ada yang tersisa di tanganku kecuali sebuah pedang lebar dari Yaman.” (HR Bukhari)
Apa yang terjadi dengan ketiga pemimpin pasukan itu menunjukkan keberanian mereka yang luar biasa dalam perang melawan orang-orang kafir yaitu tanpa mundur sedikitpun sekalipun mereka merasakan sakitnya karena serangan senjata musuh.”
Tilmidzi: “Apakah di antara pasukan-pasukan yang diutus oleh Rasulullah SAW itu ada yang salah dalam melaksanakan perintah beliau?”
Mudariszi: “Ya! Contoh, seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus kami ke Huraqat. Kami datang pagi hari kepada sekawanan orang (musyrik), lalu kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar bertemu dengan seorang laki-laki dari kelompok mereka. Ketika kami mengepungnya, ia berkata: “Laa ilaaha illallaahu.” Maka laki-laki Anshar itu menahan diri, lalu saya menikam lelaki (musyrik) itu dengan tombak, sehingga saya membunuhnya. Ketika kami tiba, maka berita itu telah sampai kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bertanya: “Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illallaahu?” Saya berkata: “Ia hanya melindungi diri.” Maka beliau senantiasa mengulang-ulang kalimat (pertanyaan) itu.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW marah kepada utusannya tersebut karena beliau diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia dengan salah satu tugas beliau adalah sebagai berikut:
Abu Hurairah menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucap Laa Ilaaha Illallaah. Barangsiapa telah mengucap Laa Ilaaha Illallaah, maka dia melindungi harta dan dirinya dariku, kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungannya pada Allah.” (HR Muslim)
Dari Jabir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucap Laa Ilaaha Illallaah. Apabila mereka mengucap Laa Ilaaha Illallaah, maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungan mereka ada pada Allah.” Kemudian beliau membaca (surat Al Ghasyiyah ayat 21–22): “Sesungguhnya engkau hanyalah orang yang memberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (HR Muslim)
Kemarahan Rasulullah SAW kepada utusannya karena tanggung jawab beliau kepada Allah SWT itu telah membuat perasaan utusan tersebut menjadi sebagai berikut:
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: “Rasulullah SAW lalu bertanya: “Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illallaahu?” Saya berkata: “Ia hanya melindungi diri.” Maka beliau senantiasa mengulang-ulang kalimat (pertanyaan) itu, sehingga saya berangan-angan bahwa tidak seyogyanya saya masuk Islam sebelum hari itu.” (HR Bukhari)
Dengan demikian, dari semua peperangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW dan para sahabat (dari sejak perang Badar) ketika menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama Islam (agama-Nya), maka diperoleh pengalaman dan hikmah yang banyak dan berbeda-beda. Semua itu menjadi pelajaran agama dalam berperang bagi para sahabat dan umat Islam yang membantu Rasulullah SAW ketika menyampaikan Al Qur’an dan menegakkan agama Islam kepada manusia di setiap negeri di dunia.”
Wallahu a’lam.