Apakah Sumpah Setia Para Sahabat Rasulullah Itu Suatu Kemenangan?

Dialog Seri 10: 67

 

Tilmidzi: “Bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat keluar dari Mekkah setelah melakukan thawaf dan sa’i?”

 

Mudariszi: “Ketika Rasulullah SAW ingin keluar dari Mekkah, sebagian kerabat beliau di Mekkah ingin mengikuti beliau ke Madinah, beliau lalu memutuskan sebagai berikut:

 

Dari Barra, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW beribadah Umrah pada bulan Dzul Qadah, penduduk (kafir) Makkah enggan mem­biarkan beliau masuk ke Makkah, sampai beliau melaporkan kepada mereka untuk tinggal disana selama tiga hari. Ketika mereka menulis surat, maka mereka menulis: Ini adalah sesuatu yang dilaporkan oleh Muhammad Utusan Allah.” Mereka berkata: Kami tidak mengakui (kenabian) ini kepadamu. Seandainya kami mengetahui bahwa engkau adalah Utusan Allah, niscaya kami tidak menghalangimu sedikitpun. Tetapi engkau adalah Muhammad bin Abdullah.” Maka beliau bersabda: Saya adalah Utusan Allah dan saya adalah Muhammad bin Abdullah.” Kemudian beliau bersabda kepada Ali: Hapus­lah kata-kata Utusan Allah (dari surat itu). Ali berkata: Tidak, Demi Allah, saya tidak akan menghapusmu selamanya.” Maka Rasulullah SAW mengambil surat itu, padahal beliau tidak dapat menulis dengan baik, lalu beliau menulis: Ini adalah sesuatu yang dilaporkan oleh Muhammad bin Abdullah, beliau tidak memasukkan senjata ke Makkah melainkan pedang di dalam beberapa geribah. Dan beliau tidak akan keluar dari penduduk Makkah dengan membawa seseorang, jika orang itu hendak mengikutinya. Dan beliau tidak akan menghalangi seseorangpun di antara para sahabatnya, jika orang itu hendak tinggal disana.” Ketika beliau memasuki Makkah dan batas waktu telah lewat, mereka datang kepada Ali dan berkata: Katakanlah kepada temanmu, keluarlah dari (tempat) kami, karena sesungguhnya batas waktu telah lewat.” Maka Rasulullah SAW keluar, kemudian seorang puteri Hamzah mengikuti beliau seraya berseru: Wahai pamanku, wahai pamanku.” Lalu Ali mengulurkan tangan kepadanya dan memegang tangannya (puteri Hamzah). Ali berkata kepada Fathimah: Ambillah puteri pamanmu.” Fathimah menggendongnya, lalu Ali, Zaid dan Jafar bertengkar tentang puteri Hamzah itu. Ali berkata: Saya yang mengambil dia, dan dia adalah puteri pamanku.” Jafar berkata: Puteri pamanku dan bibinya dari garis Ibu ada di bawah tanggung jawabku.” Dan Zaid berkata: Puteri saudara lelakiku.” Maka Rasulullah SAW memutuskan dia (diserahkan) kepada bibinya dari garis Ibu, dan beliau bersabda: Bibi dari garis Ibu menempati kedudukan Ibu.” Dan beliau bersabda kepada Ali: Kamu adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.” Beliau bersabda kepada Jafar: Kamu menyerupai rupa dan perangaiku.” Dan beliau bersabda kepada Zaid: Kamu adalah saudara dan hambaku.” Ali berkata: Hendaklah engkau memperisteri puteri Hamzah.” Beliau menjawab: Dia adalah puteri saudara lelakiku satu susuan.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW akan umrah lagi di tahun depan?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan akan melakukan umrah lagi di tahun depan setelah beliau dihalang-halangi oleh kaum kafir Mekkah di tahun tersebut, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah SAW keluar untuk beribadah Umrah, lalu orang-orang kafir Quraisy menghalangi di antara be­liau dan Baitullah. Maka beliau menyembelih binatang Hadya (kurban)nya dan mencukur kepalanya di Hudaibiyah. Dan beliau melaporkan kepada mereka untuk beribadah Umrah pada tahun depan. Beliau tidak membawa senjata untuk (memerangi) mereka melainkan beberapa pedang (di dalam sarungnya), dan beliau tidak tinggal disana (Makkah) melainkan apa yang mereka sukai. Lalu beliau beribadah Umrah pada tahun depan, beliau masuk kesana sebagaimana apa yang telah beliau sepakati dengan mereka. Ketika beliau tinggal disana selama tiga hari, maka mereka menyuruh beliau untuk keluar, lalu beliau keluar. (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW mengatakan akan berumrah lagi di tahun depan karena kesepakatan dengan kaum kafir Mekkah dan juga karena mimpi beliau yang dijelaskan firman-Nya ini:

 

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Al Fath 27)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menerima wahyu-wahyu-Nya yang lain ketika bermimpi di Hudaibiyah?”

 

Mudariszi: “Ya! Yaitu wahyu-wahyu-Nya kepada Rasulullah SAW tentang kemenangan beliau dan para sahabat yang bersumpah setia kepada beliau di bawah pohon yang ketika itu mereka merasa kecewa dengan beliau karena menyetujui perjanjian dengan kaum kafir musyrik Mekkah. Para sahabat tidak menyukai perjanjian itu karena merugikan orang-orang beriman. Kekecewaan para sahabat itu membuat Rasulullah SAW susah hati karena tidak dapat menerangkan kepada mereka kecuali dengan hanya mengatakan beliau adalah Rasul-Nya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Wail, dia berkata: Pada hari peristiwa perdamaian Hudaibiyah, Sahel bin Hunaif berdiri dan berkata: Wahai manusia! Perhatikanlah dirimu sendiri. Sesungguhnya kita telah ber­sama Rasulullah SAW pada hari peristiwa Hudaibiyah ini. Seandainya kita berpendapat untuk memilih berperang, niscaya itulah yang akan kita lakukan. Itu pernah terjadi saat Rasulullah berdamai dengan kaum musyrik. Lalu datang Umar bin Al Khaththab. Dia langsung menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak kebenaran dan orang-orang musyrik itu di pihak kebatilan? Rasulullah SAW menjawab: Tentu. Umar bertanya: Bukankah per­tempuran yang kita lakukan jaminannya adalah surga, sementara pertempuran yang mereka lakukan balasannya adalah neraka? Rasulullah SAW kembali menjawab: Tentu. Umar bertanya lagi: Kalau begitu apa yang bisa kita berikan pada agama kita? Sebaiknya kita tarik kem­bali saja perjanjian damai tersebut. Kita perangi saja mereka, dan biarlah Allah yang menentukan nasib kita dan nasib mereka. Rasullul­lah SAW bersabda: Wahai putera Al Khaththab, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku untuk selamanya. Merasa kurang puas dengan jawaban Rasulullah SAW tersebut, maka dengan rasa tidak sabar dan kecewa, Umar lalu menemui Abu Bakar dan berkata: Wahai Abu Bakar! Bukankah kita ini di pihak kebenaran dan mereka itu di pihak kebatilan? Abu Bakar menjawab: Tentu. Umar bertanya: Bukankah kalau kita berperang jaminannya adalah surga dan kalau mereka berperang balasannya ada­lah neraka? Abu Bakar menjawab: Tentu. Umar bertanya lagi: Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk agama kita? Sebaiknya kita tarik kembali saja perjanjian damai itu. Kita perangi mereka, dan biarlah Allah yang akan menentukan nasib kita dan nasib mereka. Seperti halnya Rasulullah SAW, Abu Bakar juga menjawab sama: Wahai putera Al Khaththab, sesungguhnya beliau itu adalah utusan Allah. Percayalah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan beliau. (HR Muslim)

 

Kekecewaan sahabat itu akhirnya menyulitkan dirinya sendiri, karena diketahuinya pula bahwa Rasulullah SAW dalam keadaan yang sulit, dan itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Aslam, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berjalan pada sebahagian perjalanannya di malam hari, sedang Umar bin Khath­thab bersama beliau. Lalu Umar bin Khaththab bertanya kepada beliau tentang sesuatu, namun Rasulullah SAW tidak menjawabnya. Kemudian ia bertanya kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya. Umar bin Khaththab berkata: Ibumu kehilangan kamu wahai Umar, kamu telah meringik-ringik bertanya kepada Rasulullah SAW tiga kali, semuanya ti­dak mendapat jawaban.” Umar berkata: Maka saya menggerakkan unta­ku, kemudian saya maju ke hadapan orang-orang muslim. Dan saya takut akan turun ayat Quran tentang diriku, maka saya tidak henti-henti mendengarkan seseorang yang menyeru kepadaku.” Umar berkata: Lalu sa­ya berkata: Sungguh saya takut akan turun ayat Quran tentang diriku. (HR Bukhari)

 

Tapi Allah SWT kemudian menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah dan beliau lalu mengabarkan wahyu-Nya itu kepada sahabatnya tersebut dan para sahabat lainnya, sebagai berikut:

 

Dari Abu Wail, dia berkata:Selan­jutnya Al Qur’an menurunkan berita kemenangan kepada Rasulullah SAW (surat Al Fath). Lalu beliau menyuruh mengirimkan berita yang menggembirakan itu kepada Umar untuk dibacanya. Betapa senangnya hati Umar demi membaca khabar berita yang sangat membahagiakan tersebut. Dengan hati riang maka berlalulah Umar.” (HR Muslim)

 

Dari Aslam, ia berkata: Dan Umar datang kepada Rasulullah SAW, lalu mengucapkan salam kepadanya. Beliau bersabda: Sungguh semalam telah diturunkan sebuah surah kepadaku, sungguh surah itu lebih aku sukai dari pada apa (bumi) yang disinari matahari.” Kemudian beliau membaca ayat: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (surat Al Fath ayat 1). (HR Bukhari)

 

Sunnah Rasulullah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memutuskan perjanjian dengan kaum kafir Mekkah karena petunjuk Allah yang hanya diketahui oleh beliau saja. Jika Rasulullah SAW tidak menyetujui syarat perjanjian dari kaum kafir Mekkah, maka akan dapat terjadi  peperangan atau pembunuhan di kota Mekkah, padahal Allah SWT tidak menghendaki hal itu terjadi. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. (Al Fath 25)

 

Tilmidzi: “Apakah kemenangan itu adalah kemenangan para sahabat yang bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon?”

 

Mudariszi: “Ya! Dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Anas, tentang ayat: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (surat Al Fath ayat 1). Ia (Anas) berkata: (Kemenangan itu) ialah Hudaibiyah.” Teman-temannya ber­kata: Sedap lagi baik akibatnya, maka apakah yang diperuntukkan kami? Lalu Allah menurunkan ayat: “Supaya Dia memasukkan orang-orang mumin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ….” (surat Al Fath ayat 5).” (HR Bukhari)

 

Dari Qatadah, sesungguhnya Anas bin Malik berce­rita kepada mereka, katanya: Ketika turun ayat 1 surat Al Fath: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu, sampai pada firman (ayat 5 surat Al Fath): Dan yang demi­kian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah. Hal itu memang ada kaitannya dengan Hudaibiyah. Semula mereka memang merasa sangat sedih bercampur gelisah. Tetapi di Hudaibiyah itulah Ra­sulullah SAW sempat menyembelih hewan kurban. Beliau bersabda: Sesungguhnya ada satu ayat yang diturunkan kepadaku yang lebih aku sukai ketimbang seluruh dunia. (HR Muslim)

 

Dari Barra, ia berkata: Kalian menghitung penaklukan itu sebagai penaklukan Makkah. Dan sungguh telah terjadi penaklukan Mak­kah, padahal kami menghitung penaklukan itu sebagai Baiatir Ridhwan pada hari perang Hudaibiyah.” (HR Bukhari)

 

Adapun wahyu-wahyu-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang merupakan kemenangan Rasulullah SAW dan para sahabat yang bersumpah setia kepada beliau di bawah pohon hingga membuat beliau dan para sahabat menjadi senang dan melupakan kekecewaan mereka, yaitu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah. (Al Fath 1-5)

 

Adapun bagi orang-orang kafir dan orang-orang munafik baik laki-laki atau perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah SWT sehingga mereka kafir kepada-Nya, kepada ayat-ayat-Nya (Al Qur’an) dan kepada Rasulullah SAW, maka mereka ditetapkan oleh-Nya sebagai berikut:

 

Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (Al Fath 6)

 

Allah SWT kemudian menjelaskan tanda-tanda kemenangan Rasulullah SAW dan para sahabat di Hudaibiyah yang tidak diketahui oleh para sahabat ketika itu adalah sebagai berikut:

 

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa, dan adalah mereka berhak dengan kalimat-takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Fath 26)

 

Tilmidzi: “Kemenangan yang bagaimanakah yang dicapai oleh para sahabat Rasulullah tersebut?”

 

Mudariszi: “Para sahabat yang bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon di Hudaibiyah itu telah berperang melawan orang-orang kafir sejak mereka diusir dari Mekkah hingga hijrah ke Madinah. Kaum kafir Mekkah telah berkali-kali memerangi Rasulullah SAW dan orang-orang beriman termasuk memerangi mereka di Madinah. Terakhir, kaum kafir Mekkah menghalang-halangi Rasulullah SAW yang ingin melakukan umrah di Mekkah, ditambah lagi dengan Rasulullah SAW yang menyetujui perjanjian dengan kaum kafir Mekkah yang merugikan orang-orang beriman. Semua itu menjadikan para sahabat makin kecewa, marah dan ingin memerangi kaum kafir tersebut. Tetapi bagi Allah SWT, kekecewaan para sahabat itu merupakan bukti keteguhan hati (iman) mereka kepada agama Islam dan kebencian mereka terhadap orang-orang kafir. Perjanjian Rasulullah SAW dengan orang-orang kafir Mekkah itu hanyalah ujian bagi para sahabat, dan itu tidak berbeda dengan ujian-ujian yang dihadapinya ketika berperang di Badar, di Uhud, di Khandaq, di Khaibar dan di kampung-kampung kaum Yahudi. Kesungguhan, ketaatan dan kesabaran para sahabat yang berjuang termasuk berperang di jalan-Nya membela Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam itu menghendaki Allah SWT memberikan kemenangan kepada mereka. Sehingga ketika mereka bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon, maka Allah SWT berfirman:

 

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al Fath 10)

 

Allah SWT ridha kepada para sahabat yang berjanji setia kepada-Nya melalui janji mereka kepada Rasulullah SAW di bawah pohon itu menghendaki Dia lalu berjanji akan memberikan kemenangan kepada mereka, yaitu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Fath 18-21)

 

Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah), kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (hukum Allah yang telah ditetapkan-Nya). (Al Fath 22-23)

 

Ridha dan janji Allah kepada para sahabat yang bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon itu berkaitan dengan tujuan Allah SWT mengutus Rasulullah SAW yang menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam, yaitu sebagai berikut:

 

Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath 8-9)

 

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Al Fath 28)

 

Karena itu Rasulullah SAW lalu menjelaskan tentang para sahabat yang bersumpah setia kepada beliau di bawah pohon itu sebagai berikut:

 

Dari Jabir, dia berkata: Pada hari peristiwa Hu­daibiyah kami berjumlah seribu empat ratus orang. Rasulullah SAW ber­sabda kepada kami: Pada hari ini kalian adalah penghuni bumi yang terbaik.” (HR Muslim)

 

Ridha dan janji Allah kepada para sahabat yang bersumpah setia kepada Rasulullah SAW di bawah pohon itulah yang membuat para sahabat menjadi senang karena mereka rupanya telah memenangkan perang di Hudaibiyah, padahal mereka berfikir telah dikalahkan oleh orang-orang kafir Mekkah karena Rasulullah SAW menyetujui perjanjian tersebut.”

 

Tilmidzi: “Apakah setelah itu Rasulullah SAW kembali ke Madinah?”

 

Mudariszi: “Ya! Dalam perjalanan, Rasulullah SAW dihadang oleh kaum musyrik, tetapi beliau menawarkan perdamaian, sehingga kaum musyrik itu mundur dan tidak ingin melakukan kejahatan terhadap Rasulullah SAW. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya delapan puluh orang dari penduduk Makkah turun dari gunung Tanim untuk menemui Rasulullah SAW. Mereka bersenjata semua dan bermaksud hendak mengecoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Namun Rasulullah SAW malah menawarkan perdamaian kepada mereka, sehingga merasa malu sendiri. Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firmanNya: Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka. (surat Al Fath ayat 24). (HR Muslim)

 

Dari Iyas bin Salamah dari ayahnya, dia mengata­kan: Ketika sudah ada hubungan damai antara kami dengan penduduk Mak­kah sehingga kami sudah bisa saling berbaur, satu hari aku menuju ke sebuah pohon untuk beristirahat di bawahnya. Saat sedang enak­enaknya berbaring itulah, mendadak datang empat orang musyrik dari penduduk Makkah. Mereka lalu mempergunjingkan diri Rasulullah SAW sehingga membuat aku merasa benci terhadap mereka. Aku lalu pindah ke sebuah pohon yang lain. Aku lihat ke empat orang musyrik Madinah itu sama menggantungkan senjatanya lalu mereka pun ber­baring. Pada waktu itulah tiba-tiba ada suara orang memanggil dari dasar jurang: Wahai orang-orang Muhajirin! Ibnu Zunaim telah ter­bunuh! Seketika itu aku cabut pedangku kemudian aku bawa kepada keempat orang musyrik yang tengah tidur itu. Aku ambil senjata-senjata mereka. Setelah senjata-senjata tersebut bisa aku kuasai, kemudian aku katakan kepada mereka yang sudah mulai terbangun: Demi Allah, siapa di antara kalian yang berani mengangkat kepalanya, maka dia akan aku hantam kepalanya itu.” Kemudian aku suruh mereka bangkit berdiri dan aku giring mereka kepada Rasulullah SAW. Pada saat itu pula pamanku Amir juga tengah menggiring seorang lelaki Quraisy bernama Mikraz untuk dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Lelaki ter­sebut dibiarkan naik seekor kuda yang ternyata diikuti oleh sekitar tujuh puluh orang musyrik dari anak buahnya. Sejenak Rasulullah SAW memandang mereka dan bersabda: Tinggalkan saja mereka. Dan mereka akan menanggung kezaliman sejak awal sampai akhir. Rasulullah SAW akhirnya memaafkan mereka. Lalu Allah menurunkan firman­Nya: Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka. (surat Al Fath ayat 24). Kemudian kami pulang bersama ke Madinah dengan membawa kemenangan.” (HR Muslim)

 

Adapun firman-Nya yang Dia turunkan itu adalah sebagai berikut:

 

Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Fath 24)

 

Perdamaian yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW kepada orang-orang kafir yang menghadang beliau hingga orang-orang kafir itu menerima tawaran beliau dan tidak terjadi peperangan, menunjukkan bahwa itu merupakan kemenangan bagi Rasulullah SAW dan para sahabat, dan kemenangan itu dari Allah SWT.”

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan tentang Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang bersumpah setia di bawah pohon di Hudaibiyah itu dalam Al Qur’an?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang Rasulullah SAW dan para sahabat yang bersumpah setia di bawah pohon di Hudaibiyah itu bukan saja dalam Al Qur’an tapi juga dalam Taurat, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah berikut ini:

 

Dari Abdullah bin Amer bin Al Ash, katanya: Bahwa­sanya ayat yang terdapat di dalam Al Qur’an ini:Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita dan pemberi peringatan.” (surat Al Fath ayat 8). Allah berfirman di dalam Kitab Taurat: Wahai Nabi sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pelindung bagi orang-orang yang buta huruf, engkau hamba-Ku dan utusanKu. Saya memberimu nama Al Mutawakkil (orang yang diserahi) tidak sebagai orang yang kasar dalam perkataan dan keras hati dan tidak pula sebagai orang berbicara keras di pasar. Dan tidak menolak perkara yang buruk dengan perkara yang buruk, akan tetapi memberi ampun dan memberikan maaf dan ia tidak akan diwakafkan Allah sehingga dia sudah menegakkan agama yang bengkok dengan ucapan: Tidak ada Tuhan selain Allah, sehingga ia mampu membuka mata yang buta dan telinga yang tuli serta hati yang tertutup.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT menjelaskan tentang para sahabat yang bersumpah setia di bawah pohon di Hudaibiyah dan yang membantu Rasulullah SAW dalam menegakkan dan menguatkan agama-Nya (agama Islam), memenangkan agama-Nya terhadap semua agama serta membesarkan-Nya di muka bumi, di dalam Al Qur’an, Taurat dan Injil, yaitu sebagai berikut:

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Fath 29)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply