Dialog Seri 10: 74
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menyeru orang-orang Yahudi agar beriman kepada Al Qur’an?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT menyeru orang-orang Yahudi agar beriman kepada Al Qur’an yang Dia turunkan kepada Rasulullah SAW, dan hal tersebut dijelaskan firman-Nya ini:
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Aku-lah kamu harus bertakwa. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir? (Al Baqarah 40-44)
Orang-orang Yahudi adalah anak cucu keturunan Bani Israil, yaitu kaum yang diseru oleh Allah SWT dalam firman-Nya di atas. Allah SWT mengulang kembali seruan-Nya kepada mereka sebagai berikut:
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (An Nisaa’ 47)
Orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu (dalam firman-Nya di atas) yaitu Bani Israil terdahulu yang kafir, hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (Al A’raaf 163)
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al Baqarah 65)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru orang-orang Yahudi untuk beriman kepada Al Qur’an?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa untuk manusia termasuk untuk Bani Israil. Tapi sebagian ayat-ayat Taurat itu lalu disembunyikan dan dirubah oleh Bani Israil yang kafir setelah Nabi Musa wafat. Perubahan Taurat itu membuat agama-Nya yang dijelaskan oleh Nabi Musa menjadi berubah, sehingga terjadi perselisihan di antara umat Nabi Musa. Kebanyakan umat Nabi Musa menjadi tidak beragama dengan agama-Nya yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa, dan anak cucu umat Nabi Musa yang lahir kemudian cenderung akan tidak beragama dengan agama-Nya yang benar pula dan menjadi sesat. Allah SWT tidak menghendaki hal itu terus terjadi, karena itu Dia menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk diimani oleh orang-orang Yahudi, dimana Dia menjelaskan bahwa Al Qur’an itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Al Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (An Naml 76)
Tilmidzi: “Apakah tujuan dari Bani Israil yang kafir itu menyembunyikan atau merubah ayat-ayat Taurat?”
Mudariszi “Tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan dan kesenangan di dunia. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya”, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran 187)
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (Al Baqarah 79)
Nabi-Nabi dari Bani Israil yang diutus oleh Allah SWT kepada Bani Israil telah memperingatkan mereka untuk tidak menyembunyikan dan merubah ayat-ayat Taurat, karena ayat-ayat-Nya itu untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tapi Bani Israil tetap melakukannya. Allah SWT berfirman:
Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (Al Maa-idah 13)
Bani Israil tetap menyembunyikan dan merubah ayat-ayat Allah dalam Taurat meskipun telah diancam-Nya dengan balasan sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka. (Al Baqarah 174-175)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (Al Baqarah 159)
Akibat perbuatan Bani Israil yang kafir itu, umat Nabi Musa yang lahir kemudian menjadi tidak mengetahui kebenaran Taurat itu lagi, sehingga mereka tidak beragama dengan agama-Nya yang benar dan menjadi sesat. Allah SWT tidak menghendaki keadaan itu terus berlanjut, sehingga Dia lalu mengutus Rasulullah SAW dengan diberikan Al Qur’an untuk dijelaskan kepada Bani Israil atau orang-orang Yahudi tersebut.”
Tilmidzi: “Apakah kaum Yahudi di Madinah itu menerima seruan Allah dan seruan Rasulullah tersebut?”
Mudariszi: “Kebanyakan orang-orang Yahudi di Madinah menolak untuk beriman kepada Al Qur’an. Contoh, Rasulullah SAW menyampaikan seruan Allah tersebut kepada mereka, tapi mereka lalu mengatakan sebagai berikut:
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” (Al An’aam 91)
Allah SWT kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan Bapak-Bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan. (Al An’aam 91)
Contoh lain, Rasulullah SAW menyeru mereka agar beriman kepada Al Qur’an, tapi mereka lalu mengatakan sebagai berikut:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” (Al Baqarah 91)
Dan Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh Nabi-Nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Al Baqarah 91)
Mereka meminta kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. (An Nisaa’ 153)
Permintaan mereka itu sudah pasti tidak dapat dipenuhi oleh Rasulullah SAW, sehingga Dia menjelaskan kepada beliau sebagai berikut:
Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. (An Nisaa’ 153)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu tidak mau beriman kepada Al Qur’an, dan mereka tidak berbeda dengan Bani Israil terdahulu yang kafir.”
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menyeru orang-orang Yahudi itu agar beriman kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Allah SWT juga menyeru orang-orang Yahudi itu agar beriman kepada Rasulullah SAW, dan beliau menyampaikan seruan-Nya tersebut kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
(Kami terangkan yang demikian itu) supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. (Al Hadiid 29)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang Yahudi itu beriman kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Kebanyakan dari orang-orang (kaum) Yahudi itu tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW. Mereka mengatakan terhadap seruan-Nya itu sebagai berikut:
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api.” (Ali ‘Imran 183)
Allah SWT kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali ‘Imran 183)
Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al Baqarah 87)
Padahal orang-orang Yahudi selalu meminta kepada Allah SWT untuk didatangkan Rasul bagi mereka sebelum kedatangan Rasulullah SAW dan Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. (Al Baqarah 89)
Tapi setelah datang Rasulullah SAW dengan Al Qur’an, mereka lalu mengingkarinya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Al Baqarah 89)
Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (Al Baqarah 101)
Tilmidzi: “Apakah yang menyebabkan orang-orang Yahudi itu tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Karena mereka dengki kepada Rasulullah SAW, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (An Nisaa’ 54)
Mereka menginginkan Nabi (Rasul) yang sesuai dengan keinginan mereka, dan mereka merasa bahwa mereka yang lebih berhak menetapkan Nabi daripada Allah SWT. Karena itu Allah SWT lalu menjelaskan sebagai berikut:
Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali ‘Imran 74)
Tilmidzi: “Jika orang-orang Yahudi itu tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, apakah mereka telah kafir kepada Allah SWT?”
Mudariszi: “Ya! Dengan orang-orang Yahudi itu tidak mau beriman kepada Al Qur’an dan Rasulullah SAW, maka mereka berarti tidak mau beriman kepada Allah SWT, karena Dia yang menurunkan Al Qur’an dan Dia yang mengutus Rasulullah SAW. Dengan mereka tidak mau beriman kepada Allah SWT, mereka berarti telah kafir kepada-Nya. Mereka menjadi kafir karena mereka telah mengingkari Allah SWT, mendustakan ayat-ayat-Nya dan mendurhakai perintah-Nya. Karena itu Allah SWT menetapkan balasan bagi mereka sebagai berikut:
Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (Al Baqarah 90)
Tilmidzi: “Bagaimana hubungan orang-orang Yahudi itu dengan orang-orang beriman di Madinah?”
Mudariszi: “Kaum Yahudi yang tidak mau beriman itu tidak berbeda dengan orang-orang munafik. Contoh, mereka berbohong dengan keimanannya, yaitu sebagai berikut:
Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Al Maa-idah 61)
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman”, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mu’min) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu, tidakkah kamu mengerti?” (Al Baqarah 76)
Allah SWT menjelaskan tujuan mereka berbohong dengan keimanannya itu, sebagai berikut:
Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu.” (Ali ‘Imran 72-73)
Mereka suka mengolok-olok perintah shalat dari Allah SWT, hingga Dia kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” Katakanlah: “Apakah akan aku beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al Maa-idah 58-60)
Allah SWT lalu menjelaskan kepada Rasulullah SAW tentang apa yang dibuat oleh orang-orang Yahudi tersebut yang tidak berbeda dengan Bani Israil terdahulu yang kafir, melalui firman-Nya berikut ini:
Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah; dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.” Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al Maa-idah 41)
Dan Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Ali ‘Imran 73)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang Yahudi di Madinah itu juga menyembunyikan dan merubah ayat-ayat Taurat?”
Mudariszi: “Ya! Contohnya seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah”, sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (An Nisaa’ 46)
Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab, dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (Ali ‘Imran 78)
Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (Al Baqarah 78)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang Yahudi itu tidak takut kepada Allah SWT?”
Mudariszi: “Perbuatan orang-orang Yahudi seperti tersebut di atas itu menunjukkan mereka tidak ada rasa takut sedikitpun kepada Allah SWT. Berikut ini contoh bagaimana mereka mengatakan tentang Allah SWT:
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (Al Maa-idah 64)
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” (Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (Al ‘Imran 181-182)
Mereka tidak berbeda dengan Bani Israil terdahulu yang membunuh Nabi-Nabi mereka sendiri (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan tanpa rasa takut dan tanpa rasa akan terjadi sesuatu terhadap diri mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka Rasul-Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al Maa-idah 70-71)
Tilmidzi: “Jika demikian, bagaimana pendapat orang-orang Yahudi (Bani Israil) terhadap kehidupan akhirat?”
Mudariszi: “Orang-orang Yahudi itu mengatakan tentang mereka dalam kehidupan akhirat sebagai berikut:
Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” (Al Baqarah 80)
Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (Ali ‘Imran 24)
Mereka mengatakan seperti di atas karena mereka menganggap sebagai kekasih Allah dan surga hanya untuk mereka saja. Karena itu Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:
Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.” Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (Al Baqarah 94-95)
Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. (Al Jumu’ah 6-7)
Tilmidzi: “Bagaimana hubungan orang-orang Yahudi itu dengan orang-orang kafir musyrik?”
Mudariszi: “Orang-orang Yahudi di Madinah seharusnya lebih dekat dengan orang-orang beriman, karena keduanya sama-sama menerima ayat-ayat-Nya (kitab-Nya) dan agama-Nya yang dijelaskan oleh Rasul-Rasul-Nya. Agama-Nya melarang umat Rasul untuk berkawan dan meminta tolong kepada orang-orang kafir musyrik. Tapi, orang-orang Yahudi lebih dekat dengan orang-orang kafir musyrik, karena mereka tidak menyukai Rasulullah SAW dan agama Islam. Hal itu membuat Dia murka kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa-idah 80-81)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (syaitan), dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah yang dikutuki Allah. (An Nisaa’ 51-52)
Mereka membantu orang-orang musyrik yang memerangi Rasulullah SAW, hingga Allah SWT mengusir mereka dari Madinah. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar, dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. (Al Hasyr 2)
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Al Ahzab 26)
Selain membantu orang-orang kafir musyrik yang memerangi Rasulullah SAW, orang-orang Yahudi itu juga menghina Allah SWT dan Rasulullah SAW. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan orang-orang beriman untuk membunuh pemuka kaum Yahudi tersebut, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Amr, dia berkata: “Aku pernah mendengar Jabir mengatakan: “Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab bin Al Asyraf? Soalnya dia benar-benar telah berani menyakiti Allah dan Rasul–Nya.” Maka berkatalah Muhammad bin Maslamah: “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan suka apabila aku yang akan membunuhnya?” Rasulullah SAW bersabda: “Baiklah.” (HR Muslim)
Dari Barra bin Azib, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus sejumlah orang laki-laki kepada Abu Rafi, yaitu seorang Yahudi. Beliau menjadikan Abdullah bin Atik sebagai pemimpin mereka. Abu Rafi menyakiti Rasulullah SAW dan memberi bantuan untuk melawan beliau, ia berada di benteng miliknya di daerah Hijaz.” (HR Bukhari)
Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang Yahudi itu memutuskan perkara-perkara di antara mereka?”
Mudariszi: “Allah SWT telah menetapkan bagi umat Nabi Musa bahwa mereka wajib memutuskan perkara-perkara di antara mereka dengan menggunakan hukum (syariat) agama-Nya yang dijelaskan dalam Taurat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al Maa-idah 44)
Tapi karena Taurat telah berubah yang kebanyakannnya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum, maka orang-orang Yahudi selalu berselisih dalam memutuskan perkara mereka. Karena itu mereka meminta keputusannya kepada Rasulullah SAW. Allah SWT kemudian menurunkan firman-Nya berikut ini:
Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. (Al Maa-idah 43)
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan kepada Rasulullah SAW ketika memutuskan perkara orang-orang Yahudi tersebut, sebagai berikut:
Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta keputusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (Al Maa-idah 42)
Tetapi tidak mudah memutuskan perkara orang-orang Yahudi, karena mereka suka berbohong ketika diadili dan tetap berlaku curang setelah diputuskan dengan mengikuti Taurat. Contoh keputusan Rasulullah SAW dengan Taurat karena beliau diminta untuk memutuskan perkara orang Yahudi, yaitu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya ia berkata: “Sesungguhnya orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW, mereka lalu menyebutkan kepada beliau bahwa seorang lelaki dari mereka (orang Yahudi) dan seorang perempuan dari pihak mereka juga berzina. Rasulullah SAW lalu berkata kepada mereka: “Apa yang kalian temukan di dalam kitab Taurat dalam urusan rajam?” Mereka menjawab: “Kami mempermalukan mereka dan menderanya.” Abdullah bin Salam berkata: “Kalian bohong, sesungguhnya dalam Taurat terdapat hukum rajam.” Maka bawalah Taurat, lalu mereka membukanya, lantas salah seorang dari mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam, namun ia membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya. Abdullah bin Salam berkata kepadanya: “Angkatlah tanganmu.” Lelaki itu lalu mengangkatnya, tiba-tiba di dalamnya terdapat ayat rajam. Mereka berkata: “Ia benar hai Muhammad, di dalamnya terdapat ayat rajam.” Rasulullah SAW lalu perintah kepada dua orang yang berzina untuk dirajam, lalu keduanya dirajam. Saya lalu melihat seorang lelaki yang membungkuk menjaga (melindungi) wanita itu dari batu.” (HR Bukhari)
Karena itu Allah SW menjelaskan tentang orang-orang Yahudi (Bani Israil) tersebut sebagai berikut:
Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (Ali ‘Imran 23)
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah mungkin anak cucu kaum Yahudi yang lahir kemudian akan beragama dengan agama-Nya yang benar?”
Mudariszi: “Perbuatan orang-orang Yahudi seperti yang dijelaskan di atas yang tidak berbeda dengan perbuatan Bani Israil terdahulu yang kafir, akan membuat anak cucu mereka yang lahir kemudian menjadi sulit untuk beragama dengan agama-Nya yang benar. Anak cucu mereka itu cenderung akan mengikuti orang tuanya hingga menjadi sesat. Al Qur’an dan Rasulullah SAW akan menambah kekafiran bagi mereka dan anak cucunya. Hingga Allah SWT lalu memutuskan ketetapan-Nya bagi mereka dan anak cucu mereka sampai kiamat, sebagai berikut:
Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (Al Maa-idah 64)
Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 137)
Wallahu a’lam.