Apakah Penduduk Di Jazirah Arab Memeluk Agama Islam?

Dialog Seri 10: 71

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW tetap menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia setelah menaklukkan Mekkah?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW tetap menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam kepada umat manusia sekalipun telah menaklukkan kota Mekkah. Penduduk Mekkah dan penduduk negeri-negeri di sekitar Mekkah lalu memeluk agama Islam. Hal itu memudahkan Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam ke Yaman, atau penduduk Yaman mendatangi Rasulullah SAW untuk mengetahui dan belajar Al Qur’an dan agama Islam. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Musa, ia berkata: Saya dan saudara laki-lakiku datang dari Yaman, lalu kami menanti sesaat. Kami hanya berkeyakinan bahwa Abdullah bin Masud dan Ibunya adalah termasuk keluarga (Rasulullah SAW), karena seringnya mereka masuk dan tinggal ke (rumah) beliau.” (HR Bukhari)

 

Dari Imran bin Hushain, ia berkata: Orangorang Bani Tamim datang kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: Terimalah berita gembira, wahai Bani Tamim.” Mereka berkata: Adapun jika engkau menyampaikan berita gembira kepada kami, maka berilah kami. Maka wajah Rasulullah SAW berubah (masam). Lalu beberapa orang penduduk Yaman datang, lalu Rasulullah SAW bersabda: Terimalah berita gembira, karena Bani Tamim tidak menerimanya.” Mereka menjawab: Sungguh kami menerima, wahai Rasulullah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Penduduk Ya­man telah datang kepadamu, mereka adalah orang-orang yang paling lembut dan lunak hatinya. Pengetahuan hukum agama dan kebijaksanaan itu (dikaitkan dengan) orang-orang Yaman.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mengirim utusannya ke Yaman guna mengajarkan Al Qur’an dan Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Rasulullah SAW lalu mengirim utusannya ke Yaman untuk mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada penduduk Yaman. Sebagian penduduk Yaman ketika itu adalah Ahli Kitab, dan hal tersebut dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada Muadz bin Jabal di saat beliau mengutusnya ke Yaman: Sesungguhnya kamu akan datang kepada sebuah kaum Ahlil Kitab. Ketika kamu datang kepada mereka, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka tunduk kepadamu akan demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada mereka setiap sehari dan semalam. Apabila mereka tunduk ke­padamu akan demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu dikembalikan kepada orang-orang fakirnya. Apabila mereka tunduk kepadamu pada yang demikian itu, maka berhati-hatilah terhadap harta benda mereka yang berharga. Dan takutlah terhadap doa orang yang dianiaya, karena sesungguhnya tiada tabir (penghalang) antara dia dan Allah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Burdah dan ayahnya ia berkata: “Rasulullah SAW pernah mengutus kakeknya, yakni Abu Musa dan Muadz ke Yaman, lalu beliau bersabda: Mudahkanlah dan jangan menyulitkan, sampaikanlah berita gembira dan janganlah menjadikan orang lari dan salinglah menyetujui.” Lalu Abu Musa berkata: Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di tanah wila­yah kami terdapat minuman yang terbuat dari gandum yakni minuman Mizr, dan minuman yang terbuat dari madu yakni Bitu.” Maka beliau bersabda: Setiap yang memabukkan adalah haram.” Mereka berdua berangkat, lalu Muadz bertanya kepada Abu Musa: Bagaimanakah kamu membaca Al Quran? Ia menjawab: Sambil berdiri, duduk dan sambil menunggang untaku, dan saya membacanya sedikit demi sedikit.” Muadz berkata: Adapun saya tidur dan bangun, maka saya mencari pahala untuk tidurku sebagaimana saya mencari pahala untuk shalat malamku.” Dan ia membuat tenda, lalu mereka berdua saling berkunjung. Kemudian Muadz mengunjungi Abu Musa, tiba-tiba ada seorang lelaki diikat, maka ia bertanya: Apakah ini? Abu Musa menjawab: Seorang Yahudi yang telah memeluk agama Islam kemudian ia murtad.” Lalu Muadz berkata: Sungguh saya akan memenggal batang lehernya.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada perang ketika agama Islam ditegakkan di Yaman?”

 

Mudariszi: “Ketika itu di Yaman terdapat sebuah bangunan yang menyerupai Ka’bah. Tujuan dibangunnya bangunan itu untuk menarik orang-orang agar tidak lagi berkunjung ke Ka’bah. Setelah mendengar berita itu, Rasulullah SAW memerintahkan utusannya untuk menghancurkan bangunan tersebut. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Jarir, ia berkata: Pada masa Jahiliyah ada sebuah rumah yang disebut dengan Dzul Khalashah, Kabah Yamaniyah atau Kabah Syamiyah. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Tidak dapatkah kamu menenangkan hatiku dari Dzil Khalashah? Maka saya keluar secepatnya bersama seratus lima puluh orang penunggang kuda, lalu kami meng­hancurkan rumah (Dzil Khalashah) itu dan kami membunuh siapa saja yang kami jumpai di dekat rumah itu. Selanjutnya saya datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukannya kepada beliau, lalu beliau mendokan kami dan kabilah Ahmas.” (HR Bukhari)

 

Dari Jarir, ia berkata: Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Tidak dapatkah kamu menenangkan hatiku dari Dzil Khalashah? Saya menjawab: Ya.” Lalu saya berangkat bersama seratus lima puluh orang penunggang kuda dari kabilah Ahmas, mereka adalah orang-orang yang terampil berkuda, sedangkan saya belum tangguh menunggang kuda. Saya menuturkan hal tersebut kepada Rasulullah SAW, lalu beliau menepukkan tangannya pada dadaku, sehingga saya melihat bekas tangannya di da­daku. Dan beliau bersabda: Wahai Allah, tangguhkanlah dia dan jadi­kanlah dia orang yang memberi petunjuk dan yang diberi petunjuk.” Jarir berkata: Maka saya tidak pernah terjatuh dari kuda sesudah itu.” Jarir berkata: Dzul Khalashah adalah sebuah rumah di Yaman milik kabilah Khatsam dan Bajilah, di dalamnya terdapat beberapa berhala yang disembah, rumah itu disebut dengan Kabah.” Jarir berkata: Ia (Jarir) datang kesana, lalu ia membakarnya dengan api dan menghancurkan­nya.” Jarir berkata: Dan ketika Jarir tiba di Yaman, maka ada seorang laki-laki sedang mengundi nasib dengan anak panah. Lalu dikatakan kepada laki-laki itu: Sesungguhnya utusan Rasulullah SAW berada di sini. Seandainya ia mampu atas kamu, maka ia memenggal batang leher­mu.” Jarir berkata: Pada saat laki-laki itu memukulkan anak panah, tibatiba Jarir berdiri di dekatnya. Lalu berkata: Sungguh kamu akan mematahkan anak panah itu dan kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, ataukah saya akan memenggal batang lehermu? Jarir berkata: Lalu laki-laki itu mematahkan anak panahnya dan bersaksi.” Kemudian Jarir mengutus seorang laki-laki dari kabilah Ahmas yang diberi gelar nama Abu Arthat kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan berita gembira akan hal tersebut. Ketika ia datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: Wahai Rasulullah. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, saya tidak datang (kepadamu) sampai saya meninggalkan rumah itu ba­gaikan unta kudisan.” Jarir berkata: Lalu Rasulullah SAW mendoakan berkah atas kuda kabilah Ahmas dan beberapa orang lelakinya lima kali.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW tidak menyukai Bani Tamim?”

 

Mudariszi: “Suatu waktu Rasulullah SAW didatangi oleh sejumlah orang dari Bani Tamim dan beliau menyeru kepada mereka sebagai berikut:

 

Dari Imran bin Hushain, ia berkata: Sekawanan orang dari Bani Tamim datang kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: Terima­lah berita gembira, wahai Bani Tamim.” Mereka menjawab: Wahai Ra­sulullah, sungguh engkau telah menyampaikan berita gembira, maka berilah kami.” Maka hal itu menampakkan (masam) pada wajah beliau. Ke­mudian datanglah sekawanan orang dari Yaman, lalu beliau bersabda: Terimalah berita gembira, karena Bani Tamim tidak menerimanya.” Me­reka menjawab: Sungguh kami menerima, wahai Rasulullah.” (HR Bukhari)

 

Jawaban Bani Tamim yang tidak disukai oleh Rasulullah SAW (dalam sunnah Rasulullah di atas) itu bukan berarti Rasulullah SAW tidak menyukai Bani Tamim; beliau tidak menyukai hanya dalam perkara itu saja. Rasulullah SAW menjelaskan Bani Tamim itu sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya senantiasa menyukai Bani Tamim setelah saya mendengar tiga hal dari Rasulullah SAW yang beliau menyabdakannya perihal mereka: Mereka adalah ummatku yang paling keras terhadap Dajjal.” Dan ada seorang hamba wanita yang tertawan di sisi Aisyah, lalu beliau bersabda: Bebaskanlah dia, karena sesungguh­nya dia adalah termasuk putera Nabi Ismail.” Dan beberapa sedekah mereka datang, lalu beliau bersabda: Ini adalah sedekah suatu kaum atau kaumku.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada kaum lain yang mendatangi Rasulullah SAW?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh, utusan dari kabilah Abdil Qais yang mendatangi Rasulullah SAW untuk belajar Al Qur’an dan agama Islam, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Utusan kabilah Abdil Qais datang kepada Rasulullah SAW lalu mereka berkata: Wahai Rasulullah, se­sungguhnya kami, yakni kabilah ini adalah dari Bani Rabiah. Dan ssungguhnya di antara kami dan engkau terhalang oleh orang-orang kafir kabilah Mudhar, maka kami tidak dapat sampai dengan selamat kepa­damu kecuali dalam bulan haram. Maka perintahkanlah kepada kami beberapa hal yang kami akan melakukannya dan mengajak orang-orang sesudah kami untuk (melakukan)nya.” Beliau bersabda: Aku memerin­tahkan kamu dengan empat hal dan melarangmu dan empat hal, yaitu beriman kepada Allah yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (dan beliau memadukan tangannya menjadi satu), mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan menyerahkan seperlima dan harta yang kamu rampas karena untuk Allah. Dan aku melarangmu dan empat hal, yaitu tempat arak terbuat dan labu, tempat arak terbuat dari pohon kurma, tem­payan hijau tempat arak dan tempat arak yang dilumuri ter.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Shalat Jumat yang pertama kali dilaksanakan sesudah shalat Jumat yang dilaksanakan di masjid Rasulullah, adalah di masjid kabilah Abdil Qais di Juwatsa, yakni sebuah desa di Bahrain.” (HR Bukhari)

 

Demikian pula dengan negeri Najran yang mengutus utusannya kepada Rasulullah SAW, hingga beliau lalu mengirim utusannya ke negeri Najran untuk mengajarkan Al Qur’an dan agama Islam kepada penduduknya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Hudzaifah, ia berkata: Seorang pemimpin permusyawa­ratan dan seorang kepala, yakni dua orang pembesar Najran datang kepada Rasulullah SAW untuk mengutuk beliau.” Hudzaifah berkata: Sa­lah seorang dari keduanya berkata kepada temannya: Janganlah kamu lakukan. Demi Allah, jika ia seorang Nabi lalu ia mengutuk kita, niscaya kita tidak beruntung dan juga anak cucu kita sesudah kita. Lalu keduanya berkata: Kami akan memberimu apa saja yang kamu minta kepada kami, kirimkanlah seorang laki-laki yang terpercaya bersama kami, dan janganlah kamu kirimkan bersama kami selain orang yang terpercaya.” Lalu beliau bersabda: Sungguh aku akan mengirimkan seorang laki-laki yang benar-benar terpercaya bersamamu.” Kemudian sahabat-sahabat Rasulullah SAW menampakkan diri kepada beliau, lalu beliau bersabda: “Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah.” Ketika ia berdiri, Rasulullah SAW bersabda: Ini adalah orang terpercaya dari ummat (Islam) ini.” (HR Bukhari)

 

Dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Setiap ummat itu memi­liki orang terpercaya, dan orang terpercaya dari ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” (HR Bukhari)

 

Juga kabilah Daus yang mengutus utusannya kepada Rasulullah SAW, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Thufail bin Amr datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: Sungguh kabilah Daus telah binasa, ia durhaka dan enggan, maka berdoalah kepada Allah atas (keburukan) mereka.” Lalu beliau bersabda: Wahai Allah, tunjukkanlah kabilah Daus dan datangkanlah mereka.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah ada yang datang kepada Rasulullah SAW dengan meminta selain dari belajar Al Qur’an dan belajar agama Islam?”

 

Mudariszi: “Ya! Yaitu datangnya pembohong dari Yaman yang ingin agar dia sebagai pengganti Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Musailimah Al Kadzdzab datang di Madinah, lalu ia singgah di rumah seorang puteri Harits. Dan di bawah tanggung jawabnyalah seorang puteri Harits bin Kuraiz, yaitu Ummu Abdullah bin Amir. Lalu Rasulullah SAW datang kepadanya bersama Tsabit bin Qais bin Syammas, ia adalah seorang yang disebut sebagai juru bicara Ra­sulullah SAW. Di tangan Rasulullah SAW terdapat sebuah tongkat, lalu beliau bediri di dekat Musailimah dan berbicara dengannya. Kemudian Musailimah berkata kepada beliau: Jika engkau menghendaki, maka engkau membiarkan di antara kami dan urusan (kenabian), kemudian engkau menjadikan urusan (kenabian) itu untuk kami sesudahmu.” Maka Rasulullah SAW bersabda: Seandainya kamu minta tongkat ini kepadaku, ma­ka aku tidak akan memberikannya padamu. Sesungguhnya aku meyakini bahwa kamu adalah orang yang diperlihatkan kepadaku dalam mimpi. Ini adalah Tsabit bin Qais akan memberi jawaban kepadamu tentang diriku.” Lalu Rasulullah SAW berpaling.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Musailimah Al Kadzdzab tiba (di Madinah) pada masa Rasulullah SAW, berkata: Jika Muhammad membuat urusan (kenabian) untukku sesudah dia, maka saya mengikutinya.” Ia datang di Madinah bersama orang banyak dari kaumnya. Lalu Rasulullah SAW datang kepadanya bersama Tsabit bin Qais bin Syammas, sedangkan di tangan Rasulullah SAW terdapat sepotong pelepah kurma, sehingga beliau berdiri di dekat Musailimah bersama teman-temannya. Lalu beliau bersabda: Seandainya kamu minta kepadaku akan potongan (pelepah kurma) ini, niscaya aku tidak memberikannya padamu, dan kamu tidak akan melampaui hukum Allah. Apabila kamu berpaling (tidak mentaatiku), pasti Allah akan membinasakanmu. Sesungguhnya aku meyakini bahwa kamu adalah orang yang diper­lihatkan kepadaku dalam (mimpi). Ini adalah Tsabit akan memberi ja­waban kepadamu tentang diriku.” Kemudian beliau berpaling darinya. Ibnu Abbas berkata: Saya bertanya tentang sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya kamu, aku yakini sebagai orang yang diperlihatkan kepadaku dalam (mimpi).” (HR Bukhari)

 

Adapun mimpi Rasulullah SWT tersebut, dijelaskan sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata:Lalu Abu Hurairah memberitahukan kepadaku bahwasa­nya Rasulullah SAW bersabda: Di saat aku sedang tidur, aku melihat (dalam mimpi) dua gelang emas di kedua tanganku. Urusan kedua gelang itu menyusahkanku, lalu aku mendapatkan wahyu dalam tidur(ku) agar aku meniup keduanya. Maka aku meniup, lalu kedua gelang itu terbang. Maka aku mentawilkan kedua gelang itu adalah dua orang pendusta yang akan keluar sesudahku, salah satunya adalah Al Ansiy dan yang lainnya adalah Musailimah.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Disaat aku sedang tidur, dibawa kepadaku beberapa perbendaharaan bumi. Lalu diletakkanlah dua gelang emas pada kedua telapak tanganku, lalu keduanya menjadi (urusan) besar atas diriku. Kemudian aku mendapat wahyu agar meniup keduanya, maka aku meniupnya, lalu keduanya lenyap. Maka aku mentawilkan kedua gelang itu adalah dua orang pendusta yang mana aku berada di antara keduanya, yaitu pembesar negeri Shanaa (Al ‘Ansiy) dan pembesar negeri Yamamah (Musailimah).” (HR Bukhari)

 

Kedua orang itu lalu dibunuh setelah Rasulullah SAW wafat. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Rajaal Utharidly, ia berkata: Dahulu kami me­nyembah batu. Ketika kami menemukan sebuah batu yang lebih baik daripadanya, maka kami membuang batu itu dan mengambil yang lainnya. Ketika kami tidak menemukan batu, maka kami mengumpulkan gumpalan tanah. Kemudian kami datang membawa kambing, lalu memerah susunya di atas gumpalan tanah itu, kemudian kami mengitarinya. Ketika telah memasuki bulan Rajab, kami berkata: (Kami) melepaskan mata lembing, kami tidak akan membiarkan sebuah lembingpun yang di (ujung)nya ada besinya, dan tidak (rnembiarkan) sebuab anak panahpun yang di (ujung)nya ada besinya, melainkan kami melepaskannya dan membuangnya pada bulan Rajab.” Abu Raja berkata: Pada masa Rasulullah SAW diutus, saya adalah seorang pemuda yang menggembalakan unta untuk keluargaku. Ketika kami mendengar kemasyhuran beliau, kami lari menuju api, yakni menuju Musailimah al Kadzdzab.” (HR Bukhari)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Pernah dituturkan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda: Di saat aku tidur, aku diperlihatkan (dalam mim­pi) bahwa ada dua gelang emas diletakkan di kedua tanganku, lalu aku disusahkan oleh (urusan) kedua gelang itu dan aku membencinya. Selanjutnya aku mendapat izin, maka aku meniupnya, lalu kedua gelang itu terbang. Maka aku mentawilkan kedua gelang itu adalah dua orang pen­dusta yang akan keluar.” Ubaidullah berkata: Salah satunya adalah Al Ansiy yang dibunuh oleh Fairuz di Yaman, dan yang lainnya adalah Musailimah Al Kadzdzab.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW mengirim pasukannya kepada kaum yang masih kafir di Jazirah Arab?”

 

Mudariszi: “Ya! Contoh, Rasulullah SAW mengutus pasukannya ke Nejd. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW mengirimkan (pasukan ber)kuda ke arah Nejd, lalu pasukan tersebut datang membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Lalu mereka mengikatnya pada sebuah tiang masjid. Kemudian Rasulullah SAW keluar kepadanya dan bertanya: Apakah yang kamu miliki wahai Tsumamah? Ia menjawab: Yang aku miliki adalah kebaikan, wahai Muhammad! Jika engkau membunuhku, maka engkau membunuh sese­orang yang mempunyai darah. Dan jika engkau memberi kesenangan, maka engkau memberi kesenangan kepada seseorang yang bersyukur. Dan jika engkau menghendaki harta, maka mintalah dari dia apa yang engkau kehendaki.” Maka Tsumamah dibiarkan hingga esok harinya, kemudian beliau bertanya kepadanya: Apakah yang kamu miliki wahai Tsumamah? Ia menjawab: Apa saja yang sudah aku katakan kepadamu, jika engkau memberi kesenangan, maka engkau memberi kesenangan ke­pada seseorang yang bersyukur.” Maka beliau membiarkannya hingga esok lusanya, lalu beliau bertanya: Apakah yang kamu miliki, wahai Tsumamah? Ia menjawab: Yang aku miliki adalah apa yang sudah aku katakan kepadamu.” Beliau bersabda: Lepaskanlah Tsumamah.” Lalu ia pergi ke sebuah kebun kurma dan mandi, kemudian ia masuk ke masjid dan berkata: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Wahai Muhammad, demi Allah, tiada satu wajahpun dipermukaan bumi yang paling aku benci daripada wajahmu, namun (sekarang) wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tiada satu agamapun yang paling aku benci daripada agamamu, namun (sekarang) agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, tiada satu negeripun yang paling aku benci daripada negerimu, namun (sekarang) negerimu menjadi negeri yang paling aku cintai. Sesungguhnya (pasukan ber)kudamu menangkapku, padahal aku menghendaki umrah, maka bagaimanakah pendapatmu? Lalu Ra­sulullah SAW menyampaikan berita gernbira kepadanya dan beliau me­nyuruhnya berumrah. Ketika ia tiba di Makkah, seseorang berkata kepadanya: Kamu telah berganti agama? Ia menjawab: “Tidak, Demi Allah, tetapi aku masuk Islam bersama Muhammad Rasulullah SAW. Dan Demi Allah, tidak ada satu biji gandumpun yang akan datang kepadamu dari Yamamah sehingga Rasulullah SAW mengizinkannya.” (HR Bukhari)

 

Selain itu, Rasulullah SAW mengirim pasukannya untuk mengintai kafilah kaum Quraisy, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW mengutus kami tiga ratus orang penunggang kuda, sedang pimpinan kami adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Kami mengintai kafilah orang Quraisy, lalu kami menetap di pantai selama setengah bulan. Kami tertimpa kelaparan yang sangat, sehingga kami memakan daun salam, maka pasukan tentara itu disebut dengan pasukan daun salam. Lalu kami mendapatkan seekor binatang yang terdampar oleh arus laut yang dinSmakan ikan Anbar, lalu kami memakannya selama setengah bulan. Dan kami mem­buat minyak dari lemaknya, sehingga tubuh kami kembali kuat dan ge­muk. Lalu Abu Ubaidah mengambil tulang rusuknya dan menegakkan­nya, kemudian ia menuju kepada seorang lelaki yang paling tinggi yang menyertainya.” Pada saat lain Sufyan berkata: Sebuah tulang rusuknya, lalu ia menegakkannya. Dan ia membawa seorang lelaki beserta untanya, lalu lewat di bawah tulang rusuk tersebut.” Jabir berkata: Ada seorang laki-laki di antara kaum itu menyembelih tiga ekor unta, kemudian ia menyembelih tiga ekor unta lagi, kemudian ia menyembelih tiga ekor lagi. Pada akhirnya Abu Ubaidah melarangnya.” (HR Bukhari)

 

Dari Jabir, ia berkata: Kami berperang, yakni para pasuk­an daun salam, sedang Abu Ubaidah diangkat sebagai pemimpinnya. La­lu kami tertimpa kelaparan yang sangat, lalu arus laut mendamparkan bangkai ikan besar yang kami belum pernah melihatnya seperti itu yang dinamakan ikan Anbar, lalu kami memakannya selama setengah bulan. Abu Ubaidah mengambil sebuah tulang (rusuk)nya, kemudian seorang penunggang berada di bawahnya.” Jabir berkata: Abu Ubaidah berkata: Makanlah kalian.” Ketika kami tiba di Madinah, kami menuturkan hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: Makanlah rezki yang dikeluarkan oleh Allah, berikanlah makanan kepada kami, jika (makanan) itu masih ada padamu.” Lalu sebahagian dari mereka datang kepada beliau dengan membawa sebuah anggauta tubuh ikan, lalu beliau memakannya.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW juga mengirim pasukannya ke Dzatis Salasil, negeri Baliy, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Urwah, dia berkata: “Dzatis Salasil adalah negeri Baliy, Udzrah dan Bani Al Qain.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Utsman, bahwasanya Rasulullah SAW mengutus Amr bin Ash untuk memimpin pasukan perang Dzatis Salasil. (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply