Dialog Seri 10: 80
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT murka kepada orang-orang munafik karena mereka menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus?”
Mudariszi: “Ya! Orang-orang munafik itu tidak menyukai agama-Nya yaitu agama Islam karena agama-Nya memiliki syariat (peraturan) yang tidak sesuai dengan keinginan mereka yang menyukai kesenangan (kehidupan) dunia. Mereka lalu ingin merubah syariat agama itu dengan membantah dan memperdebatkan ayat-ayat Al Qur’an. Perbuatan mereka itu menghendaki Allah SWT murka kepada mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras. (Asy Syuura 16)
(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (Al Mu’min 35)
Mereka merasa mengetahui agama Islam dan merasa lebih pandai dari Allah SWT, padahal mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengerti agama Islam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (An Nisaa’ 78)
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al Hasyr 14)
Ucapan orang-orang munafik dalam membantah dan memperdebatkan ayat-ayat Al Qur’an (di atas) merupakan salah satu perbuatan mereka dalam menghalang-halangi manusia dari agama Islam (agama-Nya) dan dari jalan-Nya yang lurus. Contoh perbuatan mereka lainnya dalam menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus, yaitu sebagai berikut:
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisaa’ 61)
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al Munaafiquun 2)
Tilmidzi: “Apakah jalan Allah itu?”
Mudariszi: “Jalan Allah itu adalah jalan-Nya yang lurus, yaitu seperti yang dijelaskan firman-Nya ini:
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 6-7)
Jalan-Nya yang lurus itu merupakan jalan-Nya yang dijelaskan dalam agama Islam dengan syariatnya. Dengan demikian, karena orang-orang munafik itu tidak menyukai agama Islam, maka mereka tidak mengikuti jalan-Nya yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia, tapi mengikuti jalan yang sesat yaitu jalan yang dimurkai-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad 28)
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil, dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. (Muhammad 3)
Tilmidzi: “Apakah dengan demikian orang-orang munafik tersebut telah menjadi kafir?”
Mudariszi: “Allah SWT menurunkan Al Qur’an dan mengutus Rasulullah SAW yang menjelaskan agama Islam adalah untuk keselamatan manusia ketika hidup di dunia dan di akhirat. Tapi orang-orang munafik itu tidak menyukai agama-Nya (Islam) dan mereka menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya. Perbuatan mereka itu adalah perbuatan yang menentang Allah SWT. Akibat dari perbuatannya itu, mereka lalu menjadi kafir sekalipun mereka beragama Islam. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Faathir 39)
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munaafiquun 3)
Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad 23-24)
Tilmidzi: “Apakah dengan demikian orang-orang munafik tersebut tidak dapat bertaubat lagi?”
Mudariszi: “Dengan Allah SWT mengunci mati hati orang-orang munafik (seperti dalam firman-Nya di atas), maka mereka menjadi kafir dan tidak dapat bertaubat lagi karena mereka tidak akan ditunjuki-Nya. Akibatnya mereka menjalani hidupnya di dunia dengan mengikuti jalan yang sesat atau jalan yang dimurkai-Nya. Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al A’raaf 186)
Mereka terombang-ambing dalam keragu-raguannya ketika menjalani hidupnya di antara kemunafikan (kekafiran) dan keimanan karena mereka masih memeluk agama Islam. Allah SWT berfirman:
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An Nisaa 143)
Mereka menjalani hidupnya dengan terombang-ambing seperti dijelaskan firman-Nya di atas itu yang membuat mereka tidak dapat bertaubat lagi.”
Tilmidzi: “Apakah petunjuk Allah itu?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan petunjuk-Nya itu sebagai berikut:
Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taubah 115)
Petunjuk Allah adalah petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus yang Dia jelaskan melalui Al Qur’an dan Rasulullah SAW (As Sunnah). Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (Al An’aam 55)
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah, dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Tapi orang-orang munafik itu tidak menyukai agama Islam, sehingga mereka meninggalkan atau tidak mau membaca Al Qur’an dan As Sunnah yang menjelaskan agama-Nya dan jalan-Nya yang lurus. Dan karena itu pula mereka tidak ditunjuki-Nya kepada jalan yang lurus ketika menjalani hidupnya di dunia.”
Tilmidzi: “Apakah dengan demikian orang-orang munafik itu akan selalu berbuat maksiat atau berbuat dosa?”
Mudariszi: “Karena hatinya dikunci mati dan tidak ditunjuki-Nya, maka orang-orang munafik itu menjadi tidak dilindungi-Nya dari syaitan. Akibatnya mereka selalu didatangi oleh syaitan-syaitan yang menyuruh mereka untuk berbuat maksiat dan jahat atau berbuat dosa. Allah SWT menjelaskan itu sebagai berikut:
Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh? (Maryam 83)
Perbuatan mereka yang selalu ke arah kejahatan (maksiat) karena mengikuti bisikan syaitan itu yang membuat dosa mereka bertambah-tambah. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali ‘Imran 178)
Perbuatan mereka yang berdosa itu yang membawa mereka ke neraka dengan sebagian dari mereka akan menetap di neraka yang paling bawah (dasar). Allah SWT berfirman:
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal. (At Taubah 68)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An Nisaa’ 145)
Tilmidzi: “Apakah dengan demikian orang-orang munafik itu tidak akan diampuni oleh Allah SWT?”
Mudariszi: “Ya! Allah SWT tidak akan mengampuni orang-orang munafik yang menghalang-halangi manusia dari agama-Nya dan jalan-Nya, dan hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Al Munaafiquun 6)
Kamu memohon ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka 70 (tujuh puluh) kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At Taubah 80)
Bahkan Allah SWT melarang orang-orang beriman menyembahyangkan jenazah orang-orang munafik itu dan melarang untuk tertarik kepada harta benda mereka. Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At Taubah 84)
Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir. (At Taubah 85)
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang munafik?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (Muhammad 30)
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al Munaafiquun 4)
Rasulullah SAW menjelaskan ciri-ciri orang munafik itu sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ada empat pekerti yang barangsiapa ketempatan empat pekerti itu, maka dia adalah orang munafik yang murni (sangat dekat sifatnya dengan orang munafik). Dan barangsiapa padanya terdapat salah satu tabiat di antara empat itu, berarti padanya ada satu tabiat di antara kemunafikan sampai dia mau meninggalkannya, yaitu: apabila berbicara, berbohong; apabila melakukan persetujuan, berkhianat; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila bertikai, menyimpang.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu menyukai harta dunia?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran 14)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa pada diri manusia terdapat rasa suka atau rasa cinta terhadap sesuatu yang bagus (indah) yang ada di dunia dan terdapat pula rasa ingin memiliki yang bagus (indah) tersebut ketika mereka hidup di dunia. Keinginannya itu hanya dapat dicapainya melalui perbuatannya. Tapi, agar manusia selamat hidup di dunia dan kembali kepada-Nya di surga, Allah SWT lalu menyeru manusia sebagai berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 77)
Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan. (Al An’aam 126-127)
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ 175)
Orang-orang munafik tidak berbeda dengan orang lain yang menyukai kesenangan dunia. Tapi mereka menjalani hidupnya terhadap kesenangan dunia itu dengan tidak mengikuti seruan-Nya, mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti hawa nafsunya, dan itulah yang menjadikan mereka mencintai kesenangan (kehidupan) dunia.”
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru manusia seperti dalam firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Seruan Allah kepada manusia itu karena manusia ketika menjalani hidupnya di dunia dipengaruhi oleh Iblis (syaitan) yang ingin menyesatkan manusia dari agama-Nya dan dari jalan-Nya yang lurus. Dan itu telah dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.” (Al Israa’ 62)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al A’raaf 16-17)
Allah SWT telah memperingatkan pula manusia sebagai berikut:
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir 5-6)
Orang-orang munafik yang tidak menyukai agama Islam dan menyukai kesenangan dunia itu telah memudahkan syaitan dalam menghasut dan menyesatkan mereka, yaitu menghasut mereka agar mencapai kesenangannya di dunia tersebut dengan jalan yang sesat (bukan jalan-Nya yang lurus).”
Tilmidzi: “Jika demikian, apakah syaitan membuat umat Islam menjadi munafik itu dengan menggunakan kesenangan dunia?”
Mudariszi: “Ya! Syaitan menggoda manusia dari sejak kanak-kanak dengan kesenangan yang ada di dunia, agar kesenangan dunia itu disukainya dan tertanam di hatinya. Umat Islam yang menyukai kesenangan dunia akan memudahkan syaitan dalam melalaikannya dengan kehidupannya itu dan lalu menghasutnya agar meninggalkan Allah SWT, Al Qur’an dan agama Islam hingga dia akan selalu berbuat keji dan mungkar atau berbuat dosa. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Muhammad 25)
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (At Taubah 67)
Akibat perbuatan buruknya itu hingga dia melupakan Allah SWT, Al Qur’an dan agama Islam, maka Allah SWT lalu menjadikannya sebagai berikut:
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (At Taubah 77)
Contoh orang-orang munafik yang tidak mengetahui syariat agama Islam, dijelaskan firman-Nya ini:
Orang-orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 97)
Perbuatan dosa mereka yang berkali-kali itu menjadikan mereka menjalani hidupnya dengan mengikuti jalan yang dimurkai-Nya (jalan yang sesat) dan bukan mengikuti jalan-Nya yang lurus. Contoh seperti firman-Nya ini:
Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengatuhi. (At Taubah 98)
Tilmidzi: “Tapi bukankah dengan manusia menyukai kesenangan dunia dan adanya Iblis (syaitan) yang menyesatkan manusia, berarti manusia cenderung akan berbuat dosa dari sejak akil balig?”
Mudariszi: “Dengan manusia ditetapkan dan diberikan oleh Allah SWT ketika menjalani hidupnya di dunia, maka manusia cenderung akan berbuat dosa dari sejak akil balignya. Tapi Allah SWT telah pula menetapkan bagi manusia, yaitu dia dapat bertaubat kepada-Nya karena ketika dia berbuat dosa, maka waktu itu dia tidak beriman. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat dan lagi Maha Penyayang? (At Taubah 104)
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berzina ketika dia sedang berzina dalam keadaan beriman; tidak mencuri ketika dia mencuri dalam keadaan beriman; tidak meminum khamr ketika dia meminumnya dalam keadaan beriman. Dan taubat boleh disampaikan sesudah itu.” (HR Muslim)
Manusia berbuat dosa dan bertaubat itu merupakan ujian Allah bagi manusia ketika menjalani hidupnya. Tapi orang-orang munafik tidak mengetahui hal tersebut karena mereka tidak menyukai agama Islam atau tidak membaca Al Qur’an. Akibatnya mereka tidak bertaubat dan cenderung berbuat maksiat atau dosa terus menerus. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (At Taubah 126)
Contoh orang-orang munafik yang tidak juga bertaubat-taubat itu dijelaskan firman-Nya ini:
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu ada orang-orang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (At Taubah 101)
Orang-orang munafik itu bukan saja tidak mau bertaubat tapi bahkan menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan jalan-Nya, seperti dijelaskan firman-Nya ini:
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (At Taubah 107)
Hingga Allah SWT lalu peringatkan Rasulullah SAW dan orang-orang beriman sebagai berikut:
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 108-110)
Tilmidzi: “Bagaimana Allah SWT menerima orang-orang munafik yang mengakui dosanya dan bertaubat?”
Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan tentang umat Islam yang berbuat kemunafikan lalu bertaubat, kemudian mengulang kemunafikannya dan kembali bertaubat, hingga mencampur baurkan perbuatan baiknya dengan perbuatan buruknya, sebagai berikut:
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah 102)
Allah SWT menerima taubat orang-orang munafik itu sekalipun mereka telah berulang kali berbuat kemunafikannya, karena mereka tidak menghalang-halangi manusia dari agama Islam dan dari jalan-Nya yang lurus. Allah SWT menerima taubat mereka itu sebagai berikut:
Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 106)
Rasulullah SAW menjelaskan azab-Nya di akhirat bagi umat Islam yang berbuat kemunafikan dan bertaubat berulang kali, tapi lalu berhenti dari kemunafikannya itu, sebagai berikut:
Dari Samurah bin Jundub, katanya: “Rasulullah SAW bersabda kepada kami: “Ada dua orang yang datang kepadaku pada malam hari. Keduanya membangunkan saya dan membawa saya sampai ke kota yang dibangun dengan bata emas dan bata perak. Kami ditemui oleh orang-orang yang separuh kejadian mereka seganteng yang kamu lihat, dan separuh kejadian mereka seburuk apa yang pernah kamu lihat. Keduanya berkata kepada mereka: “Pergilah dan masuklah ke dalam sunga itu!” Maka mereka masuk di dalamnya. Kemudian mereka kernbali kepada kami, lalu hilanglah keburukan itu dari mereka. Maka mereka menjadi dalam sebaik-baik rupa. Keduanya berkata kepadaku: “Ini adalah surga Aden, ini adalah tempat tinggalmu.” Keduanya berkata: “Adapun kaum yang separuh dari mereka baik dan separuh dari mereka buruk, karena mereka mencampurkan amal shaleh dan yang lain amal buruk namun mereka diampuni oleh Allah.” (HR Bukhari)
Allah SWT dan Rasulullah SAW lalu menyeru umat Islam yang berhenti dari berbuat kemunafikan meskipun di masa tuanya, sebagai berikut:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At Taghaabun 16)
Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (Al Mu’minuun 62)
Dari Aisyah, ia berkata: “Apabila Rasulullah menyuruh mereka, maka beliau menyuruh untuk beramal sesuai dengan kemampuan.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah dan seseorang tidak akan sangat menguatkan agama kecuali ia mengalahkannya, maka berlaku pertengahanlah, mendekatkan dirilah, berilah khabar gembira dan mohonkan pertolongan pagi, sore dan sedikit pada akhir malam.” (HR Bukhari)
Seruan Allah dan Rasulullah di atas itu bagi orang-orang munafik yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, karena tidak mudah untuk dapat langsung meninggalkan kebiasaan perbuatan buruknya ketika mereka bertaubat dan memperbaiki dirinya.”
Wallahu a’lam.