Apakah Rasulullah SAW Masih Berperang Setelah Beliau Haji?

Dialog Seri 10: 78

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW masih menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam ke negeri-negeri lain setelah melakukan haji Wada?”

 

Mudariszi: “Setelah haji Wada dan bulan-bulan haram, Rasulullah SAW lalu menjalankan perintah Allah ini:

 

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At Taubah 5-6)

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah 29)

 

Rasulullah SAW menjalankan perintah Allah itu dengan memerangi semua orang kafir hingga mereka keluar dari Mekkah dan semua suku atau negeri di Jazirah Arab tunduk kepada beliau sebagai pemimpin pemerintahan Islam melalui suatu perjanjian dengan menggunakan peraturan (syariat) Islam. Sejak saat itu kebanyakan penduduk di Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.”

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam ke negeri di luar Jazirah Arab?”

 

Mudariszi: “Setelah semua penduduk negeri di Jazirah Arab menerima Al Qur’an dan agama Islam, Rasulullah SAW lalu menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam ke penduduk Tabuk di negeri Syam. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dari Saad bin Abu Waqqash, bahwasanya Rasulullah SAW keluar ke Tabuk dan beliau mengangkat Ali sebagai wakilnya (tetap di Madinah). Lalu ia berkata: Apakah engkau meninggalkan saya di te­ngah anak-anak dan orang-orang perempuan? Maka beliau bersabda: “Tidakkah kamu ridha bahwa kamu terhadapku bagaikan kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja sesudahku tidak ada Nabi lagi.” (HR Bukhari)

 

Rasulullah SAW mengatakan Ali seperti Nabi Harun dalam sunnah Rasulullah di atas, yaitu Nabi Harun yang ditugaskan oleh Nabi Musa untuk memimpin kaumnya ketika beliau menghadap Allah SWT untuk menerima Taurat. Rasulullah SAW ingin agar Ali sebagai pengganti beliau di Madinah dan agar beliau melaksanakan perintah-Nya ini:

 

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At Taubah 122)

 

Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW ke Tabuk membawa pasukan perang?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW membawa pasukan perang ke Tabuk guna melindungi diri dan memenangi peperangan jika beliau diperangi oleh orang-orang kafir. Orang-orang kafir selalunya tidak menyukai agama Islam, itu dijelaskan firman-Nya ini:

 

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)

 

Ketidak sukaan orang-orang kafir kepada agama Islam itu dapat menimbulkan perang, sedangkan Allah SWT ketika itu berkehendak untuk menegakkan agama Islam untuk manusia (termasuk untuk yang lahir kemudian) agar mereka selamat hidup di dunia dan di akhirat. Karena itu Allah SWT memerintahkan dan mengizinkan Rasulullah SAW untuk memerangi mereka jika diperangi hingga agama Islam menang dan tegak. Rasulullah SAW berperang melawan orang-orang kafir guna menegakkan agama Islam itu adalah berjihad di jalan-Nya dengan hartanya dan jiwanya (nyawanya). Berperang itu sangat dekat dengan melayangnya nyawa seseorang.”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang beriman dalam pasukan Rasulullah itu termasuk berjihad di jalan-Nya guna menegakkan agama Islam?”

 

Mudariszi: “Orang-orang beriman dalam pasukan Rasululah itu adalah orang-orang yang membantu Rasulullah SAW dalam berperang melawan orang-orang kafir, sehingga mereka termasuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dengan hartanya dan jiwanya (nyawanya) guna menegakkan agama Islam. Allah SWT bersama mereka dan akan memberikan balasan yang besar kepada mereka. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (At Taubah 123)

 

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 88-89)

 

Orang-orang beriman itu ikut berjihad menolong Rasulullah SAW karena mereka mengikuti perintah-Nya ini:

 

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang yang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At Taubah 40)

 

Dari Anas, katanya: Saya mendapatkan cerita dari Abu Bakar, katanya: Adalah saya bersama Rasulullah SAW di dalam gua, lantas saya melihat bekas-bekas telapak kaki orang-orang musyrik. Saya berkata: Wahai Rasulullah, andaikan salah seorang dari mereka meng­arahkan penglihatannya kepada telapak kakinya tentulah mereka sudah bisa melihat kita.” Rasulullah SAW bersabda: Apa anggapanmu dengan dua orang, Allahlah pihak yang ketiga.” (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menyeru orang-orang beriman agar membantu Rasulullah SAW dalam melaksanakan perintah-Nya itu?”

 

Mudariszi: “Perjalanan ke Tabuk yang jauh dan keadaan cuaca yang ketika itu sangat panas membuat sebagian umat Islam tidak melaksanakan perintah-Nya tersebut dengan segera, itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abu Musa, ia berkata: Para temanku mengutusku kepada Rasulullah SAW, saya minta kepada beliau akan sesuatu yang menjadi beban mereka karena mereka bersama beliau di dalam tentara yang menga­lami kesulitan, yaitu Perang Tabuk. (HR Bukhari)

 

Dari Kaab bin Malik, katanya: Saya tidak tertinggal dari Rasulullah SAW dalam perang yang beliau lakukan selain Perang Tabuk. Demi Allah, sebelumnya tidak pernah ada dua kendaraan berkumpul di tempatku. Dan Rasulullah SAW menginginkan untuk menyembunyikan perang selainnya sehingga perang yang dilaku­kan Rasulullah SAW terjadi pada waktu yang sangat panas dan menempuh perjalanan yang jauh, dan mendapat kebinasaan dan permusuhan yang banyak. Lalu jelaslah bagi kaum muslimin tentang urusan mereka agar mereka mempersiapkan seperti persiapan perang mereka.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT yang mengetahui isi hati orang-orang beriman itu lalu memerintahkannya sebagai berikut:

 

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (At Taubah 38-39)

 

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (At Taubah 41)

 

Perintah Allah di atas itu membuat orang-orang beriman lalu menyegerakan persiapan dan kemudian berangkat bersama Rasulullah SAW menuju ke Tabuk.”

 

Tilmidzi: “Apakah pasukan Rasulullah itu hanya dari penduduk Madinah?”

 

Mudariszi: “Rasulullah SAW ke Tabuk membawa pasukan yang besar karena beliau akan berhadapan dengan penduduk yang dikuasai oleh kerajaan Romawi. Pasukan Rasulullah itu terdiri dari penduduk Madinah dan penduduk negeri-negeri (suku-suku) di Jazirah Arab, dan itu mengikuti perintah-Nya ini:

 

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang), dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpakan kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (At Taubah 120-121)

 

Tilmidzi: “Apakah ada yang tidak mau mengikuti perintah Allah tersebut?”

 

Mudariszi: “Sebagian penduduk tidak mau mengikuti perintah Allah itu seperti dijelaskan firman-Nya ini:

 

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (At Taubah 42)

 

Mereka itu bukan orang-orang yang beriman, mereka adalah orang-orang munafik. Jika mereka beriman, maka mereka tidak akan meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk tidak ikut berperang karena berbagai alasan. Mereka itu dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. (At Taubah 45-46)

 

Di antara orang-orang munafik itu ada yang meminta kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (At Taubah 49)

 

Mereka meminta kepada Rasululah SAW (dalam firman-Nya di atas) agar tidak dijerumuskan ke dalam fitnah karena tidak ikut berperang. Padahal mereka sendiri yang membuat dirinya terjerumus ke dalam fitnah karena permintaan mereka. Mereka menyadari bahwa mereka berbeda dengan kebanyakan penduduk yang ikut Rasulullah SAW ke Tabuk, yaitu orang-orang yang dijelaskan oleh Allah SWT sebagai berikut:

 

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (At Taubah 44)

 

Karena itu Allah SWT lalu menegur Rasulullah SAW, sebagai berikut:

 

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (At Taubah 43)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik menanggapi perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk berperang dan berjihad di jalan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagian beriman dan berjihad). (At Taubah 86-87)

 

Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang. (At Taubah 83)

 

Tilmidzi: “Bagaimana jika orang-orang munafik itu ikut berperang?”

 

Mudariszi: “Jika orang-orang munafik itu ikut Rasulullah SAW ke Tabuk, maka Allah SWT menjelaskan tentang mereka sebagai berikut:

 

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (At Taubah 47-48)

 

Contoh orang-orang munafik suka membuat kekacauan dalam perang, yaitu ketika di perang Uhud dan di perang Azab (perang Khandaq).”

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik itu menghasut penduduk lain agar tidak ikut ke Tabuk?”

 

Mudariszi: “Ya! Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.(At Taubah 81)

 

Ucapan orang-orang munafik itu membuktikan mereka tidak mau membantu Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam, mereka tidak mau berjihad di jalan-Nya. Itu merupakan bukti kuat bahwa mereka tidak mau mengikuti Allah SWT atau perintah-Nya, sehingga itu membuat Allah SWT menjadi murka kepada mereka dan lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (At Taubah 81-82)

 

Tilmidzi: “Bagaimana orang-orang munafik itu terhadap orang-orang tua (uzur) yang tidak ikut ke Tabuk?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan uzur, yaitu orang-orang Arab Badwi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. (At Taubah 90)

 

Tilmidzi: “Siapa sajakah yang diizinkan oleh Allah SWT untuk tidak ikut berperang di jalan-Nya?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (At Taubah 91-92)

 

Allah SWT lalu menjelaskan orang-orang munafik yang meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk tidak ikut ke Tabuk itu, sebagai berikut:

 

Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (At Taubah 93)

 

Tilmidzi: “Apakah orang-orang munafik yang kaya itu tidak juga mau memberikan sebagian hartanya guna menolong orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan-Nya?”

 

Mudariszi: “Orang-orang munafik itu orang-orang yang sangat kikir, mereka tidak mau memberikan hartanya untuk membantu Rasulullah SAW dan orang-orang beriman ketika berjihad di jalan-Nya. Karena itu Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. (At Taubah 53)

 

Dan Allah SWT lalu memperingatkan Rasulullah SAW sebagai berikut:

 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir. (At Taubah 54-55)

 

Tilmidzi: “Bagaimana reaksi orang-orang munafik itu setelah Rasulullah SAW dan pasukannya kembali ke Madinah dengan selamat?”

 

Mudariszi: “Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:

 

Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)”, dan mereka berpaling dengan rasa gembira. (At Taubah 50)

 

Allah SWT lalu memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada mereka sebagai berikut:

 

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu. (At Taubah 51-52)

 

Setelah mengetahui Rasulullah SAW dan pasukannya kembali dengan selamat, orang-orang munafik itu lalu mendatangi beliau guna menjelaskan alasan-alasan mereka tidak ikut ke Tabuk. Mereka menjelaskan kepada Rasulullah SAW dengan bersumpah atas nama Allah. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Kaab bin Malik dari ayahnya, katanya: Ketika Rasulullah SAW menyebutkan orang-orang yang mendustakan Rasulullah SAW dari orang-orang yang tidak ikut berperang dan mereka mengajukan alasan yang batil, maka me­reka disebut-sebut dengan seburuk apa yang telah disebutkan oleh sese­orang. Allah Taala berfirman: Mereka (orang-orang munafik) menge­mukakan uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: Janganlah kamu mengemukakan uzur, kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami di antara perkabaran-perkabaran (rahasiarahasia)mu. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemu­dian kamu dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (surat At Taubah ayat 94). (HR Bukhari)

 

Dari Kaab bin Malik, dia berkata: Pagi-pagi Rasulullah SAW tiba. Apabila datang dari bepergian, beliau masuk masjid. Beliau shalat dua rakaat kemudian duduk dengan orang banyak dan ketika beliau melakukan demikian, datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang. Mulailah mereka mengemukakan alasan kepada beliau dan mereka bersumpah. Mereka ada delapan puluh lebih. Rasulullah menerima terus keterangan mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka, dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah Taala.” (HR Bukhari)

 

Allah SWT lalu memutuskan perkara orang-orang munafik tersebut sebagai berikut:

 

Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. (At Taubah 96)

 

Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Allah SWT tidak memaafkan (mengampuni) orang-orang munafik tersebut sekalipun Rasulullah SAW telah memohon ampunan kepada-Nya bagi mereka.”

 

Tilmidzi: “Apakah di antara orang-orang beriman itu ada yang tidak ikut Rasulullah SAW ke Tabuk?”

 

Mudariszi: “Ada tiga orang beriman yang tidak ikut ke Tabuk tanpa alasan yang benar, dan hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Kaab bin Malik, dia berkata: Saya menyiapkan satu hari atau dua hari setelah itu, kemudian saya menyusul mereka. Saya berangkat pagi-pagi setelah mereka berpisah agar saya bersiap-siap. Lalu saya pulang, namun saya tidak menyiapkan sesuatu. Senantiasalah hal itu padaku sehingga mereka bersegera dan perang telah berjalan. Saya bermaksud berangkat untuk menyusul mereka, barangkali saya dapat melakukan, namun hal itu tidak ditakdirkan atasku. Maka apabila saya keluar kepada orang banyak setelah berangkatnya Ra­sulullah SAW, lalu saya berkeliling di kalangan mereka, namun menyusahkan saya karena yang saya lihat hanyalah seorang laki-laki tercela karena nifaq atau seorang laki-laki yang diterima udzurnya oleh Allah Taala karena lemah, sedang Rasulullah SAW tidak ingat kepadaku sehingga beliau sampai ke Tabuk. (HR Bukhari)

 

Dari Kaab bin Malik, dia berkata: Apakah ada seorang yang me­nerima ini? Mereka menjawab: Ya, dua orang laki-laki yang berkata seperti apa yang kamu katakan.” Beliau bersabda kepada keduanya se­perti apa yang disabdakan kepadamu. Saya bertanya: Siapakah dua orang itu? Mereka menjawab: Murarah bin Rabi Al Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi. Mereka menyebutkan kepadaku dua orang shaleh yang telah ikut perang Badar, dan pada diri orang itu terdapat suri tauladan. Ketika mereka menyebutkan keduanya kepadaku, maka saya berlalu. Dan Rasulullah SAW melarang kaum muslimin untuk membicarakan kami tiga orang di antara yang tidak ikut berperang bersama beliau. Orang-orang menjauhi kami dan menjadi berubah kepadaku sehingga bumi menging­kari diriku. Apakah yang saya ketahui. Kami diam atas yang demikian itu selama lima puluh malam. Adapun dua orang temanku, tinggal dan duduk di rumahnya sambil menangis. (HR Bukhari)

 

Tilmidzi: “Apakah Allah SWT mengampuni ketiga sahabat itu?”

 

Mudariszi: “Ketiga sahabat itu menjelaskan kepada Rasulullah SAW alasan tidak ikut ke Tabuk dengan jujur agar diampuni oleh Allah SWT. Mereka tidak ingin seperti orang-orang munafik yang tidak jujur dalam memberikan alasan (keterangan) hingga tidak diridhai-Nya dan tidak diampuni-Nya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdullah bin Kaab bin Malik, katanya: Saya men­dengar Kaab bin Malik ketika tidak ikut Perang Tabuk: Demi Allah, Allah tidaklah memberi nikmat kepadaku suatu nikmat setelah Allah memberikan petunjuk kepadaku yang lebih besar dari kejujuranku ter­hadap Rasulullah SAW, yaitu saya tidak bakal mendustakannya lagi se­hingga saya rusak sebagaimana rusaknya orang-orang yang telah mendus­takan (beliau) ketika wahyu diturunkan:Kelak mereka akan bersum­pah kepadamu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada me­reka supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari me­reka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (surat At Taubah ayat 95). (HR Bukhari)

 

Dari Kaab bin Malik, dia berkata: Lalu saya datang kepada beliau. Ketika saya memberi salam kepada beliau, beliau tersenyum dengan senyum marah (baca: sinis). Kemudian beliau bersabda: Marilah.” Saya datang berjalan sehingga saya duduk di hadapan beliau. Beliau bersabda kepadaku: Apakah yang menyebabkan kamu tidak ikut, bukankah engkau telah menjual punggungmu? Saya menjawab: Ya, demi Allah wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saya duduk pada selain engkau dari penduduk dunia, niscaya berpendapat bahwa saya akan terlepas dari kemarahannya karena udzur (alasan). Saya telah diberi ke­mampuan berdebat, tetapi saya dan Allah telah mengetahui. Jika saya menceritakan kepada engkau dengan cerita dusta yang karenanya engkau menjadi ridha kepadaku, niscaya Allah membuat eng­kau marah. Namun jika saya bercerita kepada engkau dengan cerita yang benar, niscaya engkau mendapatkan sesuatu padaku. Sesungguhnya di dalam hal itu saya mengharapkan ampunan dari Allah. Tidak! Demi Allah, saya tidak mempunyai udzur. Demi Allah, saya tidak pernah sekuat dan semudah ketika saya mundur dari engkau.” Rasulullah SAW bersabda: Adapun ini benar, maka berdirilah kamu sehingga Allah memberi keputusan kepadamu.” Lalu saya berdiri.” (HR Bukhari)

 

Setelah menjelaskan kepada Rasulullah SAW dengan jujur dan menjalani hukuman dari Allah SWT, ketiga sahabat itu lalu diampuni-Nya. Itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:

 

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Kaab bin Malik dari ayahnya, katanya: Saya mendengar ayahku yaitu Kaab bin Malik, katanya: Sehingga ketika Rasulullah SAW melaksanakan shalat Shubuh beliau mengumumkan pemberian ampunan Allah kepada kami. Adalah Rasulullah SAW ketika gembira, wajahnya menjadi bersinar hingga seolah-olah ia adalah potongan rembulan. Adalah kami tiga orang yang tidak ikut ber­perang yang telah diterima dari mereka yang mengajukan alasan ketika Allah telah menurunkan taubat kepada kami. (HR Bukhari)

 

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Kaab bin Malik, bahwa Abdullah bin Kaab bin Malik, dan ia adalah orang yang menuntun Kaab bin Malik, berkata: Saya mendengar Kaab bin Malik bercerita ketika ia tidak ikut berperang pada peperangan Tabuk: Demi Allah, saya tidak mengetahui orang yang lebih dicoba Allah dalam mempercayai kejujuran ucapan lebih baik daripada apa yang telah menimpaku, sesuatu yang saya tidak sengaja sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah SAW sampai kepada hariku ini sebagai satu kebohongan. Dan Allah menurunkan (wahyu-Nya) kepada Rasul-Nya:Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (surat At Taubah ayat 117-119). (HR Bukhari)

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply