Dialog Seri 10: 77
Tilmidzi: “Apakah Allah SWT telah menyempurnakan untuk Rasulullah SAW agama Islam dan meridhainya menjadi agama beliau?”
Mudariszi: “Ya! Dan Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al Maa-idah 3)
Tilmidzi: “Mengapa Allah SWT menjelaskan bahwa pada hari itu orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agama Islam dalam firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Ketika Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan agama Islam di Mekkah selama dua belas tahun, hanya seratusan orang saja yang memeluk agama Islam. Itu terjadi karena orang-orang kafir musyrik Mekkah tidak menyukai agama Islam dan mereka ingin melenyapkannya. Mereka melarang Rasulullah SAW menyampaikan Al Qur’an dan menzalimi orang-orang beriman. Allah SWT kemudian memerintahkan Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah. Di Madinah, Rasulullah SAW selain menyampaikan Al Qur’an, diperintahkan pula oleh Allah SWT untuk memerangi orang-orang kafir guna menegakkan agama Islam dan mengalahkan agama orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At Taubah 33)
Sepuluh tahun Rasulullah SAW di Madinah menyampaikan Al Qur’an dan memerangi orang-orang kafir, akhirnya beliau berhasil menegakkan agama Islam dan mengalahkan orang-orang kafir. Di Mekkah tidak ada lagi orang-orang kafir dan banyak penduduk di Jazirah Arab memeluk agama Islam. Keberhasilan itu dijelaskan firman-Nya di atas.”
Tilmidzi: “Apakah maksud dari sempurnanya agama Islam dalam firman-Nya di atas?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menerima firman-Nya itu ketika wuquf di Arafah, yaitu ketika beliau melaksanakan haji wada, seperti dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Thariq bin Syihab, bahwasanya beberapa orang Yahudi berkata: “Seandainya ayat ini diturunkan untuk kami, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari Raya.” Umar bertanya: “Ayat yang manakah itu?” Mereka menjawab: “Pada hari ini telah Ku–sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (surat Al Maa–idah ayat 3). Lalu Umar berkata: “Sesungguhnya saya lebih tahu di tempat manakah ayat itu diturunkan, ayat itu diturunkan di saat Rasulullah SAW berwuquf di Arafah.” (HR Bukhari)
Rasulullah SAW menjelaskan agama Islam itu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Bapakku, Umar bin Al Khaththab, menceritakan kepadaku: “Ketika kami sedang duduk di hadapan Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat sedikitpun bekas perjalanan padanya dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Dia duduk di hadapan Rasulullah SAW. Dia sandarkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah SAW dan dia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata: “Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah haji di Baitullah jika engkau memang telah mampu menempuh di jalannya.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Kata Umar: “Kami merasa heran kepada orang itu. Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.” Kembali orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.” Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat–Nya, kitab-kitab–Nya, para utusan–Nya, hari Akhir, dan kepada takdir, baiknya takdir dan buruknya takdir.” Orang itu berkata: “Engkau benar!” Lalu lanjutnya: “Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau menyembah (beribadah) Allah seolah-olah engkau melihat–Nya. Jika engkau tidak mampu berbuat seolah-olah melihat–Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari Kiamat.” Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah tersebut lebih tahu ketimbang orang yang bertanya.” Orang itu berkata: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari Kiamat itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu bila telah ada budak perempuan melahirkan majikannya, jika engkau telah melihat orang-orang yang tadinya miskin papa, tidak beralas kaki, telanjang, menggembalakan kambing, menjadi kaya-kaya dan berlomba-lomba memperindah bangunan.” Kemudian orang itu berlalu. Rasulullah SAW diam sejenak, lalu bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah kamu orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul–Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW bersabda: “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Muslim)
Menjalankan haji atau berhaji di Baitullah dalam sunnah Rasulullah di atas merupakan kewajiban akhir dari Islam bagi setiap umat Rasulullah. Allah SWT menyempurnakan Islam untuk Rasulullah SAW itu setelah beliau menyelesaikan pelaksanaan haji dengan wuquf di Arafah. Dan hal itulah yang dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya di atas.”
Tilmidzi: “Tapi apakah agama yang diajarkan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW dan sahabat dalam sunnah Rasulullah di atas itu adalah agama beliau yaitu agama Islam?”
Mudariszi: “Agama yang diajarkan oleh Jibril kepada Rasulullah SAW dan para sahabat dalam sunnah Rasulullah di atas itu adalah agama Rasulullah, yaitu agama Islam yang diridhai-Nya. Agama Islam terdiri dari Islam, Iman dan Ihsan, dan itu merupakan pokok-pokok agama. Pokok-pokok agama itu memiliki hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT yang wajib dijalankan oleh setiap umat Islam ketika dia menjalani hidupnya di dunia. Selain pokok-pokok agama, dalam agama Islam terdapat pula mu’amalah, yaitu amal perbuatan umat Islam ketika menjalani hidupnya dengan karunia-Nya di bumi. Mu’amalah memiliki hukum-hukum yang harus diikuti oleh setiap umat Islam ketika menjalani hidupnya. Allah SWT menetapkan hukum bagi manusia (termasuk bagi umat Islam) yang melakukan mu’amalah, karena mu’amalah itu berkaitan dengan karunia-Nya di bumi yang karunia-Nya tersebut Dia peruntukkan bagi semua orang yang hidup di dunia, yaitu untuk kebutuhan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Al Baqarah 29)
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat untuk menetap. (Az Zukhruf 10)
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. (Al Hijr 20)
Adapun contoh syariat dan hukum-hukum mu’amalah, sebagai berikut:
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahmaan 7-9)
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Asy Syu’araa’ 183)
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (Adz Dzaariyaat 19)
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raaf 32-33)
Umat Islam yang mengikuti atau melanggar syariat dan hukum-hukum agama Islam itu, maka dia berhak mendapat balasan pahala atau dosa, dan balasan baginya itu akan diberikan oleh Allah SWT di dunia atau di akhirat. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (Asy Syuura 42)
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Al Jaatsiyah 15)
Tilmidzi: “Apakah maksud dari Iman dan Ihsan yang dijelaskan sunnah Rasulullah tersebut di atas?”
Mudariszi: “Iman dalam pokok-pokok agama Islam yaitu kewajiban beriman bagi setiap umat Islam ketika menjalani hidupnya di dunia, yaitu beriman atau meyakini kebenaran dari perkara-perkara Iman yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah di atas. Setiap umat Islam dapat beriman, yaitu dengan membaca dan mempelajari Al Qur’an, dan itu seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menerima ayat-ayat Al Qur’an secara berangsur-angsur selama di Mekkah dan di Madinah, beliau membaca dan mempelajarinya dengan diajarkan oleh Allah SWT melalui Jibril. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At Takwiir 19-21)
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas. (An Najm 5-6)
Allah SWT mengajarkan dan menunjuki Rasulullah SAW tentang Islam dan Iman dengan Al Qur’an hingga beliau menjadi beriman dan beramal (berbuat) di jalan-Nya yang lurus, yaitu beramal dengan taat mengikuti perintah dan larangan (syariat agama Islam) yang Dia tetapkan. Hal itu lalu membuat Rasulullah SAW memahami Al Qur’an, Iman, Islam, agama Islam hingga beliau dapat mengajarkannya kepada umat Islam dan menunjuki mereka kepada jalan-Nya yang lurus. Hal itu dijelaskan firman-Nya ini:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy Syuura 52)
Sedangkan Ihsan dapat dipahami dari penjelasan Rasulullah dalam sunnah Rasulullah di atas.”
Tilmidzi: “Apakah umat Islam dapat memahami Al Qur’an, Iman dan menjadi beriman dengan hanya membaca dan mempelajari Al Qur’an seperti Rasulullah SAW?”
Mudariszi: “Jika Rasulullah SAW sebelumnya tidak mengetahui Al Qur’an dan Iman, lalu menjadi beriman dan berada di jalan-Nya yang lurus dengan Al Qur’an, maka setiap umat Islam juga dapat menjadi beriman dan beramal di jalan-Nya yang lurus, karena Allah SWT menjelaskan sebagai berikut:
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq 3-5)
Kalam dalam firman-Nya di atas yaitu ayat-ayat-Nya atau Al Qur’an, sehingga maksud dari perantaraan kalam itu adalah Dia mengajarkan manusia dengan atau melalui Al Qur’an. Selain itu, Allah SWT juga menjelaskan melalui firman-Nya ini:
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Rasul Muhammad) dari Allah dan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan. Dengan Kitab (Al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al Maa-idah 15-16)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa umat Islam dapat menjadi beriman dan beramal di jalan-Nya yang lurus seperti Rasulullah SAW yaitu melalui pengajaran dan petunjuk Allah dengan Al Qur’an. Jika pengajaran dan petunjuk Allah kepada Rasulullah SAW dengan Al Qur’an itu melalui Jibril, maka pengajaran dan petunjuk Allah kepada umat Islam dengan Al Qur’an itu melalui Rasulullah SAW, karena Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Rasulullah SAW (membaca sunnah Rasulullah) agar ditunjuki-Nya (diajarkan-Nya) ke jalan yang lurus, sebagai berikut:
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Kitab-Nya), dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf 158)
Tilmidzi: “Apakah ada contoh orang yang beriman dan ditunjuki-Nya kepada jalan lurus dengan membaca Al Qur’an dan sunnah Rasulullah (mengikuti Rasulullah SAW)?”
Mudariszi: “Ketika Allah SWT mengajarkan Al Qur’an, Iman dan Islam kepada Rasulullah SAW melalui Jibril, Dia berfirman:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. (Al ‘Ankabuut 45)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW ketika itu hanya mengetahui shalat (Islam), sedangkan Iman belum sempurna dipahaminya. Shalat membantu Rasulullah SAW dalam memahami Iman, karena shalat menyembah Allah SWT itu merupakan bagian dari Iman, yaitu beriman kepada-Nya. Setiap menerima ayat-ayat Al Qur’an berikut penjelasannya dari Jibril, Rasulullah SAW lalu menjelaskannya kepada sahabat dan memerintahkan sahabat untuk mencatatnya. Ada dua catatan pada sahabat, yaitu catatan atas ayat-ayat Al Qur’an dan catatan atas penjelasan dari ucapan dan perbuatan Rasulullah atas ayat-ayat Al Qur’an. Penjelasan Rasulullah atas Al Qur’an itulah hikmah-hikmah Al Qur’an atau As Sunnah atau sunnah Rasulullah. As Sunnah (sunnah Rasulullah) merupakan pengajaran Rasulullah atas Al Qur’an, Iman, Islam, agama Islam bagi para sahabat. Dan pengajaran Rasulullah itu merupakan perintah Allah kepada beliau melalui firman-Nya ini:
Dia-lah yang mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Jumu’ah 2-3)
As Sunnah (sunnah Rasulullah) telah membuat para sahabat mengetahui (memahami) Al Qur’an dan agama Islam yang tidak mereka ketahui sebelumnya, sehingga mereka lalu menjadi beriman dan beramal (berbuat) di jalan-Nya yang lurus seperti Rasulullah SAW. Itu berarti mereka telah ditunjuki (diajarkan) oleh Allah SWT dengan Al Qur’an melalui Rasulullah SAW karena mereka mengikuti beliau (As Sunnah). Hal itu dijelaskan pula oleh Allah SWT melalui firman-Nya ini:
Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan supaya kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al Baqarah 150-152)
Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah 231)
Tilmidzi: “Sahabat dapat beriman dan beramal seperti Rasulullah SAW karena mereka bersama beliau, apakah umat Islam yang lahir setelah mereka dapat seperti mereka?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau senang jika bisa bertemu dengan saudara-saudaranya, yaitu seperti yang dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah datang ke pekuburan, beliau bersabda: “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin; dan kami, insya Allah, akan menyusulmu. Aku senang andaikata bisa bertemu dengan saudara-saudaraku.” Para sahabat bertanya: “Bukankah kami saudara-saudara anda ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kamu adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang tidak datang sesudahku.” (HR Muslim)
Saudara-saudara Rasulullah yang ingin dijumpai oleh beliau itu lahir (hidup) setelah puluhan tahun atau ratusan tahun atau ribuan tahun dari masa para sahabat. Keinginan Rasulullah itu menunjukkan beliau senang dengan saudara-saudaranya seperti beliau senang dengan para sahabat beliau. Itu berarti iman dan amalan saudara-saudara beliau tersebut tidak berbeda dengan iman dan amalan sahabat-sahabat beliau, yaitu sama-sama beriman dan beramal di jalan-Nya yang lurus. Itu menunjukkan umat Islam yang lahir setelah masa para sahabat dapat memahami Al Qur’an, Iman, Islam, agama Islam dengan membaca dan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah hingga mereka beriman dan beramal di jalan-Nya yang lurus seperti sahabat-sahabat Rasulullah.”
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW menjelaskan hikmah dari semua ayat-ayat Al Qur’an?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW tidak menjelaskan hikmah dari setiap ayat Al Qur’an, karena ayat-ayat Al Qur’an dijadikan-Nya sebagai berikut:
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah), itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain). (Ali ‘Imran 7)
Dan Rasulullah SAW menjelaskan firman-Nya itu, sebagai berikut:
Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW membaca firman Allah: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (surat Ali Imran ayat 7). Setelah membaca firman tersebut Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamai oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.” (HR Muslim)
Tilmidzi: “Perkara apa sajakah yang dijelaskan dalam Al Qur’an?”
Mudariszi: “Al Qur’an mengandung penjelasan tentang Allah SWT dan semua ciptaan-Nya di semesta alam, tentang kehidupan dunia dan akhirat, tentang manusia yang diciptakan-Nya sebagai khalifah di bumi, tentang musuh-musuh manusia, tentang hukum-hukum untuk semua makhluk termasuk untuk manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi. Allah SWT menghendaki agar manusia tidak mempermainkan syariat dan hukum-hukum agama Allah ketika mereka menjalani hidupnya di dunia, karena itu akan berakibat kepada dirinya dan kepada tempatnya di kehidupan akhirat, yaitu kehidupan setelah kematiannya di dunia. Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. (Al Baqarah 231)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisaa’ 13-14)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al Ahzab 36)
Tilmidzi: “Mengapa umat Islam diperintahkan oleh Allah SWT untuk taat mengikuti syariat dan hukum-hukum agama Islam?”
Mudariszi: “Manusia (setiap orang) akan kembali kepada Allah SWT melalui kematiannya di dunia. Allah SWT akan membalas perbuatan manusia di dunia itu di hari kiamat, yaitu dengan menempatkannya di surga atau di neraka. Manusia akan tinggal di surga atau di neraka dengan kekal yaitu di kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al Mu’min 39)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al ‘Ankabuut 64)
Firman-Nya di atas menunjukkan bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan yang kekal, kehidupan yang sebenarnya bagi manusia. Kehidupan dunia yang sementara itu hanya dijadikan oleh Allah SWT sebagai tempat untuk menguji manusia melalui perbuatannya. Allah SWT menguji manusia dengan menjadikannya sebagai khalifah (pemimpin) yang dijalaninya dalam kehidupan dunia dengan karunia-Nya di bumi dan dengan syariat agama-Nya yang berupa perintah dan larangan. Allah SWT berfirman:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir 39)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk 2)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 7)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). (Al Insaan 2)
Allah SWT menguji manusia melalui perbuatannya yaitu sebagai berikut:
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). (Al Anbiyaa’ 35)
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai cobaan. (Al Hajj 53)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. (Al Baqarah 155)
Ujian-Nya di dunia tersebut akan menghasilkan perbuatan manusia, dimana perbuatan manusia itu akan dihisab dan dibalas oleh Allah SWT pada hari kiamat. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Al Anbiyaa’ 47)
Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al Mu’minuun 102-103)
Tilmidzi: “Bagaimana umat Islam menjalankan syariat dan hukum-hukum agama sedangkan manusia dijadikan-Nya berbeda-beda?”
Mudariszi: “Allah SWT menjadikan manusia di dunia berbeda-beda, yaitu ada yang laki-laki atau perempuan, ada yang normal atau cacat, ada yang kaya atau miskin, ada yang pandai atau bodoh. Agama Islam yang terdiri dari pokok-pokok agama dan mu’amalah (yang berkaitan dengan karunia-Nya di bumi) itu memiliki syariat dan hukum-hukum agama bagi setiap umat Islam yang hidup di dunia. Karena manusia itu berbeda-beda dan Dia menghendaki manusia mengikuti syariat dan hukum-hukum agama ketika menjalani hidupnya, maka Allah SWT yang menjadikan manusia sebagai khalifah atau pemimpin itu lalu ditetapkan-Nya memiliki tanggung jawab ketika dia memimpin atau menjalani hidupnya di dunia, yaitu sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau bersabda: “SeDtiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggauta keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungan jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta suruhannya, dan dia juga akan dimintai pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat, setiap kamu adalah pemimpin. Setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kamu pimpin.” (HR Muslim)
Pemimpin dengan tanggung jawabnya seperti yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah di atas itu lalu dijelaskan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam, yaitu dengan beliau menjadi pemimpin umat Islam, pemimpin perang, pemimpin pemerintahan negeri Islam, pemimpin harta negeri Islam, pemimpin keluarga dan harta keluarga, pemimpin persaudaraan umat manusia di negeri Islam dan pemimpin dirinya (memelihara dirinya kepada kebaikan). Tanggung jawab Rasulullah sebagai pemimpin negara berbeda dengan tanggung jawab beliau sebagai pemimpin keluarga. Penjelasan dan perbuatan Rasulullah (As Sunnah) sebagai pemimpin-pemimpin itu lalu menjadi bagian dari hukum-hukum agama Islam. Sehingga, walaupun Allah SWT menetapkan keputusan-Nya bagi setiap pemimpin (umat manusia) yaitu sebagai berikut:
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al Maa-idah 44)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Al Maa-idah 45)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al Maa-idah 47)
Maka hukum-hukum agama yang berkaitan dengan mu’amalah bagi pemimpin negara itu tidak berlaku seluruhnya bagi pemimpin keluarga atau pemimpin harta. Pemimpin apapun yang dijadikan oleh Allah SWT bagi seseorang dan bagi orang-orang lain (termasuk orang-orang yang dipimpin oleh pemimpinnya) itu hanya ujian daripada-Nya. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut:
Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (Al An’aam 165)
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. (Al Furqaan 20)
Karena hanya ujian daripada-Nya, maka pemberian-Nya kepada setiap pemimpin itu bukan menjadi yang utama bagi manusia; yang utama bagi manusia yaitu ketakwaan (ketaatan mengikuti syariat agama Islam) pemimpin itu ketika dia memimpin orang-orang yang dipimpinnya. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Al Hujuraat 13)
Tilmidzi: “Apakah Rasulullah SAW juga mengajarkan manusia tentang ilmu dunia yang berkaitan dengan karunia-Nya di bumi?”
Mudariszi: “Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT kepada manusia untuk menjelaskan Al Qur’an dan agama Islam. Rasulullah SAW tidak diperintahkan-Nya untuk menjelaskan (mengajarkan) ilmu dunia yang berkaitan dengan karunia-Nya di bumi yang merupakan kebutuhan hidup manusia. Hal itu dijelaskan sunnah Rasulullah ini:
Dari Musa bin Thalhah dari Ayahnya, dia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma.” Beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Mereka sedang mengawinkan mayang (serbuk) kurma, yaitu mengawinkan serbuk laki-laki dengan serbuk perempuan.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku kira pekerjaan itu tidak ada faedahnya.” Setelah diberitahu sabda beliau tersebut, mereka lalu menghentikannya. Kemudian Rasulullah SAW diberitahu tentang pekerjaan tersebut, beliau bersabda: “Jika pekerjaan itu bermanfaat bagi mereka, maka kerjakanlah. Sesungguhnya itu hanya perkiraanku saja. Kalian jangan mengikuti perkiraan itu. Tetapi jika aku berbicara tentang Allah, maka ikutilah. Sesungguhnya aku tidak mungkin berdusta mengenai Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.” (HR Muslim)
Dari Rafi bin Khadij, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW tiba di Madinah.” Orang-orang sedang merawat pohon kurma. Mereka tengah mengawinkan kurma. Melihat itu beliau bertanya: “Apa yang sedang mereka kerjakan?” Yang ditanya menjawab: “Kami biasa mengerjakannya.” Lalu beliau bersabda: “Barangkali kalau kalian tidak mengerjakannya, hal itu akan lebih baik.” Mereka lalu meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun hasil kebun kurma mereka menjadi berkurang. Kemudian mereka menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Jika aku memerintahkan tentang urusan agama kalian, maka ikutilah. Tetapi kalau aku memerintahkan kepada kalian tentang urusan kehidupan dunia, maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim)
Walaupun demikian, manusia dapat mempelajari karunia-Nya itu, karena Dia menciptakan segala sesuatu di semesta alam ini sebagai berikut:
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al Furqaan 2)
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan. (Adz Dzaariyaat 49)
Penciptaan segala sesuatu dengan beraturan dan rapi itu menunjukkan segala sesuatu itu dapat diketahui dengan dipelajarinya. Segala sesuatu itu termasuk makhluk-makhluk di langit dan di bumi yang semuanya berkaitan dengan karunia-Nya di bumi yang menjadi kebutuhan hidup manusia di dunia. Dengan demikian, manusia dapat mempelajari karunia-Nya tersebut meskipun mereka harus melalui percobaan yang berkali-kali.”
Wallahu a’lam.